PREMAN PENAKUT� Suatu hari seorang preman mendekati 4 orang pemuda�yang lagi duduk dikedai nasi untuk meminta uang�secara paksa (mengompas)�mereka.� Lalu dia menggertak mereka, " SIAPA YANG BERANI DI�SINI !!!!????"� Seorang pemuda berdiri dan berkata, " SAYA BERANI�!!!!"� Preman itu menggertak sekali lagi, "AYO! SIAPA LAGI�YANG BERANI??!"� Pemuda berikutnya berdiri dan berkata, " SAYA JUGA�BERANI!!"� Preman itu mulai gentar, tapi dia terus menggertak,�"SIAPA LAGI??!"� 2 pemuda berikutnya berdiri dan berkata, "KAMI�BERANI!"� Preman itu pun ciut nyalinya dan berkata,"KALAU�BEGITU KITA ADALAH 5�ORANG PEMUDA PEMBERANI!!"�
Bindeng Suatu ketika ada dua orang bindeng/sengau yang�sedang berkelahi gara-gara� rebutan duit,lalu ada seorang bindeng lagi yang�mencoba melerai tetapi malah�ikut dipukuli juga.� Tiba-tiba polisi datang menangkap mereka kemudian�dibawa untuk diadili di�pengadilan.� Panitera : Coba tolong jelaskan duduk perkaranya� A : Nan nini pa' aya emu uit,ehh au-au ni oang�ngebut uitna nan aya adi�eosyi.� (khan gini pak,saya nemu duit..ehh tau-tau ini orang�ngerebut duitnya kan�saya jadi emosi.)� Panitera : Ohh gitu...Kalau kamu B ?� B : Uan nyitu pa'...inyi uit imang unya aya nyia aya�tuh nyang oyong.� (Bukan begitu pak...ini duit memang punya saya,dia�aja tuh yang nyolong.)� Panitera : Kalau kamu C ?� C : Ayo aya nan uma isahin aca ehh cipukung uga.� (Kalo saya kan cuma misahin aja eh dipukul juga)� Panitera : Wah,kok cerita nya bikin bingung gini.� Ok...Mungkin pak hakim�lebih baik memutuskan hukuman apa yang setimpal�untuk mereka.� Dengan wajah merah melotot hakim mengetukan palu:�"Empa'caun,empa'caun,Empa'caun....mangina aim ciuka�umum."� (Empat taun,empat taun,empat taun...menghina hakim�dimuka umum).� Bukan yg pertama dan bukan pula yg terakhir� Dua tahun sudah Moli dan Andun menikah. Suatu hari�ketika mereka sedang�bersantai Moli berkata, "Aku kemarin ketemu dengan�Mira, teman kuliahmu.� Katanya kamu dulu banyak pacarnya. Benar nggak?"� "Yaaah, nggak banyak-banyak amat kok. Itu sih�bisa-bisanya Mira aja," jawab�Andun.� "Berapa sih jumlah perempuan yang pernah mengisi�hatimu?"� "Sudahlah, itu kan masa lalu. Untuk apa�diungkit-ungkit lagi?"� "Aah, aku cuma ingin tahu aja kok. Berapa sih?"� "Nanti kamu marah?!"� "Nggak."� "Janji ya."� "Janji!!"� Andun pun mulai menghitung dengan tangannya, "Satu�... dua ... tiga ...�empat ... lima ... enam" Kemudian Andun berhenti�sebentar lalu melanjutkan�"kamu ... delapan ... sembilan ... sepuluh ...�sebelas ..." .� Pidato Kepala Desa� Dalam rangka menyambut HUT RI seorang Kepala Desa� berpidato dihadapan�warganya.� "Saudara-saudara, syukur alhamdulillah desa kita�sekarang sudah maju."� "Pembangunan sudah ada dimana-mana"� "Gedung, jembatan, taman desa, semua dibangun"� "Pabrik-pabrik juga sudah sangat banyak di desa�kita"� "Ada pabrik besi.., ada pabrik plastik.., ada pabrik�makanan.., ada�pabrik TEKTIL.."� Karena mendengar ucapan sang Kepala Desa yang salah,�Sekretaris Desa�yang duduk di sebelahnya membisiki.� "Pak, Pak. kurang "S""� Tanpa berpikir panjang sang Kepala Desa tersebut�segera melanjutkan�pidatonya dengan lantang,"....daaan pabrik Es!".� Kontan saja warga yang tahu kalau di desanya tidak�ada pabrik es tertawa�ngakak.� � Suatu hari dalam hutan rimba .......� Monyet: "Tarzan..., kenapa sih engkau aja yang pakai�celana? Kami semua�tak pakai. Ada rahasia apa sih?"� Tarzan: "Nggak ada rahasia-rahasiaan!"� Monyet: "Kita kan berkawan baik. Masak ama kita aja�ada rahasia?"� Tarzan: "Aku bilang nggak ada..., ya nggak ada!"� Monyet sungguh enggak puas dengan jawaban Tarzan.� Jadi dia pun mengajak�kawan-kawan dia ke pondok Tarzan dan mengintai untuk�mencari rahasia Tarzan.� Seperti biasa, sebelum mandi Tarzan mesti buka�celananya (itulah�satu-satunya celana dia). Begitu lihat Tarzan yang� bugil, monyet-monyetpun�ketawa sampe sakit perut. Monyet berkata, "Pantesan�aja dia pake celana.� Rupanya dia malu, sebab ekor dia ada di depan,�pendek dan buntet lagi!!!!"� � ADA TUTUPNYA� Kejadian ini terjadi pada suatu terminal bis ketika�menjelang Lebaran.� Kala itu terminal penuh sesak, sehingga untuk�berjalan pun sulit.� Seorang ibu muda, dengan susah payah akhirnya dapat�mencapai sebuah bis�yang masih kosong dan duduk di dalamnya sambil�menunggu bis diberangkatkan.� Akan tetapi tiba-tiba si ibu merasa kebelet ingin�buang air kecil, karena�terminal penuh sesak, akhirnya si ibu terpaksa pipis�ditempat duduk bis�tersebut.� Tak lama kemudian datang seorang bapak yang hendak�duduk disebelah ibu�muda tersebut. Melihat tempat duduknya basah, maka�sang bapak pun bertanya.� Bpk : Maaf bu . . , mengapa tempat duduk ini basah ?� Ibu : Oh . . maaf, ini . . anu . . , minyak wangi�saya tadi tumpah engga ada�tutupnya . . . .� Kemudian sang bapak tadi mengeluarkan sapu tangannya�dan mulai�membersihkan tempat duduk itu. Akan tetapi curiga�dengan baunya yang lain,� maka diciumnya sapu tangan itu . . . .� Akhirnya sambil tersenyum sang Bapak itu berkata :� " Wah . . . Bu, kalo minyak wangi yang seperti ini�sih, saya punya tutupnya�!" Ressa Yanuardin Widiyatmoko Traffic Management Departement PT. Televisi Transformasi Indonesia Jl. Kapt. P. Tendean Kav 12-14A Jakarta 12790 - Indonesia Telp. (021) 79177000 ext. 5145 email : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1515 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
