Milih pemimpin juga seperti pilih  AFI :)

----- Original Message -----
From: "Ariawan Djoko R" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, July 29, 2004 4:11 PM
Subject: Re: [UNDIP] Beda Nasib Juara AFI vs Juara IPTEK (Cermin Indonesia
Raya)


> Iya Pak/Bu kasihan memang nasib Ilmu Pengetahuan di Negeri ini.
> Saya jadi teringat pada teman saya dari UNDIP yang minta dukungan untuk
> INDONESIA MODEL karena ada salah satu MAHASISWA UNDIP yang waktu itu
> berhasil lolos.
>
>
> On Wed, 28 Jul 2004 [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > Diterima di ITB Malah Kebingungan
> >
> > PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega,
sebab
> > setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman atau nyanyi
dan
> > dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya dengan pemenang
> > Olimpiade Biologi Internasional. Usai mendapat 'penghargaan' dari Dirjen
> > Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Departemen Pendidikan
Nasional
> > (Depdiknas) sebesar Rp5 juta per orang, mereka tambah miris dengan masa
> > depan mereka sendiri. Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan
ataupun
> > tawaran model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
> >
> > Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit
untuk
> > kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono, pemenang
medali
> > perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur
> > (Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut
Teknologi
> > Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang
> > diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa yang
> > orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus
membayar
> > uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk biaya kuliah
serta
> > biaya hidup selama di Bandung masih tetap menjadi pikirannya. "Ya,
itulah
> > yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan uang,"
> > katanya lirih.
> >
> > Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang diselenggarakan di
> > Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya
> > bisa memperoleh dana bagi kelangsungan sekolahnya kelak. Mulyono sempat
> > bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp1,7 juta per semester,
belum
> > lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan pemantauannya lebih dari
> > Rp400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa atau sponsor, mustahil saya
bisa
> > kuliah di sana," kata Mulyono.
> >
> > Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama dengan
> > Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa dalam
> > Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya. Darmi
> > mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
melalui
> > jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke
> > Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa
> > terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat bingung
karena
> > ia diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana sebesar
Rp11
> > juta.
> >
> > Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan uang
> > 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah, masih
kurang
> > Rp6 juta lagi." Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA,
harus
> > berusaha keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya
> > semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak bila
ia
> > belajar di Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh dari kediaman
> > orang tuanya di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja.
> > Artinya, selama menuntut ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena
tidak
> > ada famili di sana.
> >
> > Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar,
tetapi
> > mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma sebesar
itu.
> > Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak bangsanya yang
> > telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, kapan bangsa ini mulai
> > menghargai orang cerdas dan pintar?
> >
> > Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004).
> >
> >
> > ***************************
> >
> > AFI Versus IPA
> > Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)
> >
> > Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau,
> > Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?
> >
> > Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan
> > berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media
massa.
> > Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat
> > kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time
siaran
> > televisi dan radio kita.
> >
> > Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya,
pemberitaan
> > soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
> >
> > Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa
> > SMA membawa Indonesia menempati peringkat
> > lima besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea
Selatan,
> > yang baru berakhir Kamis lalu.
> >
> > Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya
berada
> > di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti
AS,
> > Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk
kategori
> > total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman
lainnya
> > merebut medali perak dan perunggu.
> >
> > Tapi, begitulah Indonesia.
> >
> > Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan
> > tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil,
diajarkan
> > untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar.
> >
> > Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun
> > mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu
> > kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa
ini.
> >
> > Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah
> > menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa
> > menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.
> >
> > Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama
> > untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan
dan
> > teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer)
dalam
> > jumlah 'secukupnya' saja.
> >
> > Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda
yang
> > cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita
> > memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.
> >
> > Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi.
Akibatnya,
> > media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan
> > 'keunggulan otak'.
> >
> > Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai
> > 'kepintaran'.
> >
> > Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan
> > ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan
> > berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya
> > manusia unggul di negara ini dipinggirkan.
> >
> > Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya
juga
> > tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan
> > kualitas brainware ini.
> >
> > Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat
> > dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak
> > asing.
> >
> > Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah
> > universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade
> > Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).
> >
> > Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan
> > terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari
mengiming-imingi
> > beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia,
> > hanya mengamati mereka dari jauh.
> >
> > Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma
> > pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
> --------------------------------------------------------------------------
> > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2257
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> >
> >
>
>
> --------------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2258
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
>


--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2261
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke