Dear all,

Kalo di australia yang saya dengar,kalo kita gakpunya duit buat sekolah,bisa 
pinjem dulu ke Government lalu bisa nyaur dibayar nyicil setelah lulus dapet 
kerjaan.

Idenya bagus bisa ditiru di indonesia gak yah?

Salam dari Hobart,
=========================================
WIDODO SETIYO PRANOWO
Research Center for Maritime Territories 
& Non-Living Resources
Agency for Marine & Fisheries Research
Ministry of Marine Affairs & Fisheries
The Republic of Indonesia
Jl. MT Haryono Kav 52 - 53
Phone  : +62-21-7918-0303 ext.2366
Fax    : +62-21-7919-1202
Cell Ph: +62-815-601-2187
Jakarta 12770
INDONESIA
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
        [EMAIL PROTECTED]
        [EMAIL PROTECTED]
=========================================

-----------------------------------------
> > On Wed, 28 Jul 2004 [EMAIL PROTECTED] wrote:
> >
> > > Diterima di ITB Malah Kebingungan
> > >
> > > PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum lega,
> sebab
> > > setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran rekaman atau nyanyi
> dan
> > > dapat uang dari berbagai sumber. Tidak demikian halnya dengan pemenang
> > > Olimpiade Biologi Internasional. Usai mendapat 'penghargaan' dari 
Dirjen
> > > Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Departemen Pendidikan
> Nasional
> > > (Depdiknas) sebesar Rp5 juta per orang, mereka tambah miris dengan masa
> > > depan mereka sendiri. Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan
> ataupun
> > > tawaran model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
> > >
> > > Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari duit
> untuk
> > > kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono, pemenang
> medali
> > > perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur
> > > (Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima masuk di Institut
> Teknologi
> > > Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui ujian saringan masuk yang
> > > diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. Untuk meringankan siswa yang
> > > orang tuanya petani itu, Mulyono mendapat dispensasi tidak harus
> membayar
> > > uang masuk yang besarnya sekitar Rp45 juta, tetapi untuk biaya kuliah
> serta
> > > biaya hidup selama di Bandung masih tetap menjadi pikirannya. "Ya,
> itulah
> > > yang mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan uang,"
> > > katanya lirih.
> > >
> > > Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang diselenggarakan di
> > > Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari sponsor agar dirinya
> > > bisa memperoleh dana bagi kelangsungan sekolahnya kelak. Mulyono sempat
> > > bingung menghadapi uang kuliah yang besarnya Rp1,7 juta per semester,
> belum
> > > lagi biaya hidup di Bandung yang berdasarkan pemantauannya lebih dari
> > > Rp400.000 sebulan. "Tanpa adanya beasiswa atau sponsor, mustahil saya
> bisa
> > > kuliah di sana," kata Mulyono.
> > >
> > > Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama dengan
> > > Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa dalam
> > > Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa depannya. Darmi
> > > mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
> melalui
> > > jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Namun, sebelum berangkat ke
> > > Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa
> > > terbelakang dengan cara ikut olimpiade sains, Darmi sempat bingung
> karena
> > > ia diwajibkan membayar uang pangkal dari Universitas Udayana sebesar
> Rp11
> > > juta.
> > >
> > > Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan uang
> > > 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah, masih
> kurang
> > > Rp6 juta lagi." Terbayang di hadapannya, orang tuanya yang guru SMA,
> harus
> > > berusaha keras menyediakan kekurangan biaya tersebut, belum lagi biaya
> > > semester yang harus dibayarnya serta biaya hidup di Denpasar kelak bila
> ia
> > > belajar di Universitas Udayana. Letak Denpasar sangat jauh dari 
kediaman
> > > orang tuanya di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja.
> > > Artinya, selama menuntut ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena
> tidak
> > > ada famili di sana.
> > >
> > > Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu besar,
> tetapi
> > > mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains Cuma sebesar
> itu.
> > > Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai anak bangsanya yang
> > > telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, kapan bangsa ini 
mulai
> > > menghargai orang cerdas dan pintar?
> > >
> > > Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004).
> > >
> > >
> > > ***************************
> > >
> > > AFI Versus IPA
> > > Oleh : Ade Armando (Dosen UI dan Pengamat Media)
> > >
> > > Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau,
> > > Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto?
> > >
> > > Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan
> > > berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media
> massa.
> > > Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat
> > > kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time
> siaran
> > > televisi dan radio kita.
> > >
> > > Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya,
> pemberitaan
> > > soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
> > >
> > > Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua 
siswa
> > > SMA membawa Indonesia menempati peringkat
> > > lima besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea
> Selatan,
> > > yang baru berakhir Kamis lalu.
> > >
> > > Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya
> berada
> > > di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti
> AS,
> > > Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk
> kategori
> > > total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman
> lainnya
> > > merebut medali perak dan perunggu.
> > >
> > > Tapi, begitulah Indonesia.
> > >
> > > Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu 
pengetahuan
> > > tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil,
> diajarkan
> > > untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar.
> > >
> > > Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun
> > > mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu
> > > kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa
> ini.
> > >
> > > Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah
> > > menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa
> > > menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.
> > >
> > > Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama
> > > untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan
> dan
> > > teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer)
> dalam
> > > jumlah 'secukupnya' saja.
> > >
> > > Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda
> yang
> > > cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita
> > > memerlukan lebih banyak lagi orang pintar.
> > >
> > > Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi.
> Akibatnya,
> > > media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait 
dengan
> > > 'keunggulan otak'.
> > >
> > > Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai
> > > 'kepintaran'.
> > >
> > > Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan
> > > ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan
> > > berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber 
daya
> > > manusia unggul di negara ini dipinggirkan.
> > >
> > > Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya
> juga
> > > tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan 
mengembangkan
> > > kualitas brainware ini.
> > >
> > > Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat
> > > dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet 
pihak
> > > asing.
> > >
> > > Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah
> > > universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade
> > > Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS).
> > >
> > > Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon 
ilmuwan
> > > terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari
> mengiming-imingi
> > > beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia,
> > > hanya mengamati mereka dari jauh.
> > >
> > > Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma
> > > pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> > -------------------------------------------------------------------------
-
> > > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2257
> > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> > >
> > >
> >
> >
> > -------------------------------------------------------------------------
-
> > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2258
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> >
> 
> --------------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2261
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id




--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2262
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke