[EMAIL PROTECTED] said: > Ini gila! Yang dipakai 460 mg arsen. Padahal 2 mg sudah cukup untuk bunuh orang.
ER: Inorganic Arsenic memang sangat toxic. Tapi Arsenic Trioxic (As2O3) perlu dosis sebanyak 200-300 mg untuk membunuh orang. As2o3 tersedia dalam bentuk bubuk warna putih. Kemungkinan jenis ini yang dipakai. Masuk akal kalau si pembunuh menggunakan forte-lethal dose demi memastikan kematian Munir. BTW, dari sumber mana Edwin Partogi dapat angka 460 mg? Sebelum meninggal, Munir menunjukkan gejala acute arsenic poisoning, yakni gangguan gastro intestinal yang sangat menyakitkan, muntah berak yang berat disertai colic pain. Gejala keracunan Arsen akut bisa muncul dalam waktu 30 menit setelah keracunan. Dimulai dengan perasaan mual dan nafas bau bawang. Keracunan akut arsen dengan jumlah besar bisa disertai kejang. Sebab kematian karena shock. Ditemukan Arsen dalam lambung Munir memperkuat bukti adanya keracunan akut karena Arsen. Jadi ingestion of Arsenic terjadi baru saja. Bisa terjadi di Singapore atau di Jakarta menjelang pemberangkatan. Eko Raharjo > Menurut Rachland, "Kami mendapat informasi, sebenarnya hasil autopsi itu sebelumnya sudah akan diserahkan kepada Megawati Soekarnoputri sebagai presiden waktu itu." Rachland menilai, pemerintah sebelumnya sejak awal memang tampak terkesan menghindar untuk tidak terlibat dengan kasus itu. > > Kenapa pemerintah Mega menghindar? Jangan kata mengusut, mengungkap saja tidak mau. Kalau alasannya "masa jabatan sudah hampir selesai," itu jelas tameng saja. Tinggal beberapa hari berkuasa saja Mega masih bisa mengangkat dua jenderal, bikin mutasi besar dalam Angkatan Darat, dst, kok. -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2323 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
