Ehm, UNDIP ada yang ahli gempa gak ya?
 
 
Al

Abel Pires da Silva <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
* GEMPA NIAS BAKAL PICU GEMPA LAIN YANG LEBIH DAHSYAT

Gempa Nias tanggal 28 Maret 2005 dengan skala richter 8,7 merupakan hasil picuan
gempa Aceh 26 Desember tahun lalu. Menurut Dani Hilman Antawijaya, ahli gempa dari
Intitut Teknologi Bandung, gempa Nias ini juga bakal memicu gempa lainnya yang lebih
dahsyat. Berikut keterangannya kepada Radio Nederland.


Dani Hilman [DH]: 8,7 ini yang dulu terjadi, kelihatannya, yang 1861 itu. Jadi proses
pemicuan itu sudah terjadi sekarang. Jadi kan di Sumatra dibagi ada beberapa sumber
gempa. Mulai dari yang Aceh , terus di sebelah selatannya di Nias, kemudian yang
lebih besar lagi di Mentawai. Yang di Siberut, Sipura, Pagai. Jadi tahun 2002 pernah
terjadi gempa magnitude 7,6 pada skala Richter di dekat Simeleu, dekat gempa yang
Aceh. Nah waktu itu kita malah khawatirnya, dia akan mentrigger (mempicu) gempa
Nias yang sekarang ini. Ternyata yang duluan dipicu sama yang 2002 itu yang Aceh
malah.

Setelah Aceh itu kita banyak sekali bilang masyarakat di mana-mana, pemerintah,
dalam seminar. Saya bilang kita ini kita khawatir juga setelah Aceh dia akan merembet
terus ke Selatan. Terus perkaranya dia pertama akan memicu yang 1861 dulu, yang
di Nias itu, kita memang belum tahu pasti. Karena yang di Mentawai itu dia lebih
jauh dari yang Aceh. Sehingga dia untuk dipicunya kan lebih tidak gampang. Cuma
yang di Siberut, Mentawai dia lebih matang. Yang di Nias itu lebih tidak matang.
Dia kan terakhir terjadi tahun 1861, terjadi lagi tahun 1907. Tapi dia kan dekat
sekali. Jadi saya bilang dua-duanya potensinya sama besar untuk dipicu. Tapi kita
pun kaget juga. Kita tidak menyangka pemicuannya itu akan secepat ini. Hanya beberapa
bulan setelah gempa itu.

Radio Nederland [RN]: Nah melihat kondisi betapa cepatnya gempa yang di Aceh ini
memicu gempa yang di Nias, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan patahan Sumatra
itu?

DH: Yang terjadi zona patahan di Sumatra itu sebagian besar sudah matang. Jadi dari
mulai dari daerah Bengkulu sampai yang Aceh, semuanya sudah matang. Jadi yang di
Mentawai terjadi terakhir tahun 1833. Itu sudah lama sekali sudah dua ratus tahunan
kan. Padahal siklusnya sekitar segitu juga, antara 200 sampai 300. Jadi artinya
sudah dalam siklus akhir. Terus yang di Nias pun begitu juga kan, sudah dalam siklus
akhir juga. Yang di Aceh lebih lagi, dia sudah 300 tahun tidak ada gempa. Kalau
sudah ada gempa besar itu terjadi satu kali di salah satu segmen itu, maka itu akan
menjadi trigger (pemicu), akan menjadi rentetan begitu.

RN: Rentetan dengan kata lain anda hendak berkata bahwa ini akan terus menjalar
ke arah selatan terus?

DH: Saya pikir potensinya sangat besar setelah Aceh ini, terus Nias, terus dia akan
men-trigger yang 1833 yang di Mentawai. Itu malah yang paling kita khawatirkan.
Terus juga waktu 1833 begitu juga pak. Sebetulnya yang dipicu langsung itu bukan
yang di Krakatau. Waktu itu yang langsung dipicu itu Gunung Kaba, Bukit Kaba di
Bengkulu. Jadi setelah gempa 1833 terjadi, terjadi letusan gunung api di Bukit Kaba.

RN: Jadi kalau yang sekarang ini, setelah gempa Nias yang harus diwaspadai adalah
gempa Mentawainya yah?

DH: Untuk gempanya ya. Yang segemen Mentawainya itu yang harus sangat diwaspadai
betul.

RN: Anda sebut harus sangat diwaspai kenapa?

DH: Karena gempa Mentawai itu tanpa adanya gempa Aceh sama Niaspun, dia sudah matang.
Tanpa harus dipicu, tanpa harus ditendang-tendang, dia bisa lepas sendiri. Sekarang
sudah ditendang dua kali kan. Sama Aceh, dia ketendang. Sama Nias, dia ketendang
lagi. Dia sudah dua kali dipicu.

RN: Seberapa dahsyat dalam analisa Anda gempa Mentawai ini kalau tejadi?

DH: Di Mentawai itu ada dua segmen. Yang satu segmen di Siberut, yang terakhir tahun
1650. Yang kedua itu di Sipora dan Pagai, itu yang terjadi tahun 1833 itu. Analisa
kita begitu. Jadi ada segmen A, segmen B, begitu. Kalau terjadi hanya segmen A atau
segmen B saja, besarnya paling kira-kira sama yang sekarang ini. Tapi kalau segmen
A, B itu sekaligus, dan itu sangat mungkin saya pikir karena itu sudah terjadi juga
seperti di Jepang. Segmen A lepas, kemudian B lepas, terus yang berikutnya A,B sekaligus
lepas. Itu kalau sekaligus lepas bisa sama dengan Aceh, magnitude 9.

RN: Apakah artinya Anda juga meramalkan tsunami besar kalau ini terjadi gempa Mentawai?

DH: Betul. Sebetulnya yang terjadi 8,7 yang kemarin Nias itu besar juga cuma pergerakannya
kebanyakan di bawah tanah, tidak sampai ke permukaan bawah laut sehingga tsunami
tidak besar. Tahun 1861, dengan magnitude sama, tapi tsunaminya besar sekali. Korbannya
ribuan. Jadi kalau yang Mentawai itu kalau ada tsunami ya korbannya seperti di Aceh
lagi. Masalahnya yang di Mentawai itu berhadapan langsung dengan Padang. Itu kota
besar yang sangat padat penduduknya.

RN: Kalau gempa Mentawai ini merupakan rangkaian dari gempa Aceh. Sekarang sudah
gempa Nias dan diperkirakan selanjutnya adalah memicu gempa Mentawai. Sapuan tsunaminya
ke arah mana?

DH: Terutama Padang sampai ke Bengkulu. Malah sampai ke utara itu Sibolga mungkin
kena juga.

RN: Jadi ini tahap selanjutnya yang kita harus waspada, begitu ya.

DH: Yang harus waspada karena populasi penduduk Padang sendiri itu berapa juta.
Dan evakuasinya sangat susah. Kota itu padat sekali. Pesisir barat dari Padang dengan
Bengkulu itu sangat padat. Dan mereka kebanyakan menghuni daerah pesisir itu hanya
beberapa ratus meter dari pantai.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

Kirim email ke