|
Kade tah ka akang-akang sareng teteh-teteh....
talingakeun tuang putra
teh....hehehehe....
ieu aya seratan rerencangan ngeunaan wandi eh..,
wandu maksad teh alias waria
mudah2an aya manfaatna, punten teu
disundakeun.......!
========
MENGAPA AKU BEGINI? oleh: Dekap Mega Lembayung Sepi Hari Jumat, adalah hari yang penuh kemujuran untuk beberapa orang. Tetapi tidak bagi Joko Wiyatno Suwito. Karena dia harus berurusan dengan aparat kepolisian, atas tuduhan penggunaan narkoba. Mungkin ada yang bertanya, siapakah pemilik nama Joko ini? Karena nama ini tidak banyak yang mengenal. Tetapi bila melihat wajah dan sosok lengkapnya, semua publik pasti akan bisa mengenali, bahwa dia adalah salah seorang selebritis dunia video klip musik dan lagu. Siapa yang tak ingat seorang waria yang berdandan cantik, menari-nari ikuti irama lagu yang dibawakan kelompok pemusik Naif di televisi? Dialah Jeanny Stavia atau Avi, yang saat kecilnya dipanggil Joko, yang langsung melejit menjadi model video klip sejak menjadi latar belakang lagu Posesif-nya Naif. Kejadian sial itu telah lama berlalu, tepatnya September tahun silam. Terjerumusnya dengan narkoba, tak lain dari kelemahannya sebagai manusia biasa. Tetapi menjadi waria, yang pasti bukanlah keinginannya. Begitupun lahir ke bumi ini. Menjadi waria, Avi tidaklah sendirian. Khususnya di tanah air, ada beberapa nama yang telah kita kenal antaranya adalah Vivian, Dorce Gamala, Tata Dado dan Ade Juwita. Ada juga yang lain seperti Tezy (Srimulat), Susi Naryo (Surya Group) dan Didiek (Ninik Towok). Tetapi ketiga nama terakhir ini tidak bisa dikelompokkan sebagai waria, mereka adalah laki-laki normal, yang berdandan menjadi wanita hanya karena tuntutan profesi sebagai pelawak dan penari saja. Semua nama waria di atas adalah yang sudah dikenal di dunia selebritis. Sedangkan yang tidak, masih banyak berada di antara kita. Tengoklah sekali-kali ke kawasan taman lawang dan perempatan lampu merah ibukota. Kita akan disambut lambaian tangan selamat datang dengan busana penggoda iman dan 'kicrikan' lagu oom-oom-sini-dong. Bila ada operasi 'kamtibmas', waria-waria ini akan berlarian bubar. Ada yang ditangkap, ditahan dan dikenakan denda. Tak jarang ada yang hilang, setelah bersembunyi di tepi sungai Ciliwung. Beberapa hari berikutnya baru 'ditemukan' di harian Poskota, dengan berita telah menjadi mayat karena tenggelam. Tidak semua dari mereka berani tampil secara terbuka di depan umum. Bagi yang pemalu biasanya mengucilkan diri di tengah keluarganya sendiri. Waria, wanita pria atau she-male (bhs. inggris), adalah seseorang secara fisik lelaki tetapi berkejiwaan wanita. Mulai dari tingkah laku sampai hasrat seksualnya adalah wanita. Mereka juga akan jatuh hati kepada laki-laki normal. Mungkin tak banyak di antara kita yang menyempatkan sedikit waktu untuk sekedar berpikir tentang keberadaan waria. Kita tak pernah melirik mereka karena mungkin saja di lingkungan terdekat, kawan, saudara dan anggota keluarga kita tidak ada yang berperilaku seperti ini. Selain itu beban hidup sehari-hari yang makin sulit dan apalagi kecemasan akan suhu politik semakin memanas menjelang pemilihan presiden RI tahun 2004 ini. Membuat keperdulian terhadap waria semakin minim saja. Dan juga untuk apa lagi mesti memikirkan masalah kelainan gender mereka, sementara memikirkan diri sendiri saja sudah begitu repotnya. Tapi tak ada salahnya, bila kita mencoba menyapa keberadaan mereka lewat tulisan ini. Sekedar mengingatkan bahwa di planet ini tidak hanya yang normal saja menghirup zat asam. Masih ada lainnya, yang juga hidup bersama-sama. Kembali lagi mengenai waria, ada yang berpendapat kelainan perilaku ini disebabkan karena pembawaan sejak lahir, lingkungan atau keinginan orang tuanya. Pembawaan sejak lahir dimaksudkan adalah kelainan genetika. Dimana mestinya seorang laki-laki memiliki sepasang kromosom XY, tetapi kelebihan satu kromosom X, sehingga menjadi tiga kromosom XXY. Kromosom adalah rantai struktur dalam inti sel, pembentuk kelamin. Kromosom X ini merupakan pembawa sifat perempuan. Karena adanya kelebihan satu kromosom X ini membuat anak laki-laki cenderung bertingkah laku seperti wanita. Kelainan genetika secara medis bisa disebabkan antara lain karena masalah kesehatan sang ibu saat mengandung. Bila selama mengandung sang ibu dalam keadaan tidak sehat, maka bayi dalam kandungan akan menjadi tidak sehat juga, baik secara fisik maupun jiwanya. Atau karena konsumsi obat yang mengandung zat hormonal. Obat jenis ini, bila diminum oleh seorang ibu hamil, akan terkonsumsi juga oleh janinnya. Akibatnya akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan jiwa sang bayi kelak. Tetapi di kalangan masyarakat awam, lebih banyak berpendapat bahwa hal ini sudah menjadi takdirnya Tuhan. Untuk yang disebabkan karena pengaruh lingkungan, yaitu seorang anak laki-laki, yang sejak bayi hingga besar melulu berada di lingkungan yang didominasi oleh perempuan. Selama pertumbuhannya, si pengasuh tidak terlalu perduli dengan perkembangan jiwa si anak laki-laki kecil ini. Si anak anak laki-laki kecil yang diperlakukan sama dengan anak-anak perempuan lainnya, akibatnya pada saat dewasa berkelakuan kewanita-wanitaan. Sedangkan karena faktor orang tua, dapat dijelaskan sebagai berikut, orang tua yang sangat berharap sekali memiliki anak perempuan, ternyata yang didapat adalah laki-laki. Tidak menerima kenyataan, si orang tua mendandani bayi laki-laki ini layaknya perempuan saja. Sehingga tak heran bila kelak dewasa sang anak laki-laki semula ganteng menjadi cantik dan lemah gemulai atau waria. Dari ketiga penyebab di atas, yang paling dominan adalah karena kelainan genetika. Sedangkan kedua penyebab terakhir, tidak berpengaruh besar, sepanjang tidak ada kelainan kromosom yang dimiliki bayi laki-laki. Lalu dimanakah tempat waria ini di masyarakat? Karena sangatlah tersiksa, bila kita menjadi mereka. Ingin bergaul ke kelompok wanita, cibiran yang akan diterima. Begitu juga bila ingin bergabung ke laki-laki. Tak jarang pelecehan yang akan dialami. Tetapi dalam salah satu agama, sepertinya ada ketentuan buat waria. Bagi waria yang beragama Islam, ketika sholat berjamaah, bila tidak salah posisinya adalah berada di belakang wanita. Penulis tidak ingat betul, ketentuan ini tepatnya bersumber dari hadis mana. Juga dalam matematika, waria ini bisa dilihat keberadaannya. Terutama dalam diagram venn, waria adalah irisan himpunan laki-laki dan himpunan perempuan. Memang tidak ada hubungannya matematika dengan masyarakat. Ini hanyalah sekedar menggambarkan keberadaan mereka, yang biar bagaimanapun sungguh tidak nyaman. Dibilang lelaki tetapi janggal, karena gerakannya lemah gemulai. Disebut perempuan, membuat kaget ketika bicara, karena suaranya bariton, bahkan tak jarang ada yang 'ngebas'. Suara yang hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Kemudian adakah mereka memiliki hasrat seksual? Tentu saja ada. Binatang bersel satu yang hermaphrodite (berkelamin ganda) saja mempunyai, apalagi manusia. Hanya saja timbul pertanyaan, bagaimana caranya? Mungkin anda bisa membayangkan sendiri. Atau cukup dengan analogi pedang dan sarung. Dimana sebagai pedangnya adalah laki-laki, sedangkan sarungnya adalah wanita. Pedang dan sarung adalah pasangan yang saling melengkapi. Sebuah pedang yang nyata, apalagi bila tajam akan berbahaya bila tak diberikan sarung. Bisa melukai benda-benda lembut yang didekatnya. Lebih berbahaya lagi bila pedang tersebut pandai 'merayu'. Maka berhati-hatilah dalam menggunakan atau menghadapi pedang yang 'pandai' ini. Lalu bagaimana bila ada pedang yang tidak menyukai sarung, tetapi menyukai sesama pedang, sebagaimana halnya waria? Inilah yang merepotkan. Kadang timbul juga pertanyaan, akankah terjadi permainanan anggar?. Mungkin jawabannya iya dan mungkin tidak, entahlah. Hanya saja yang pasti si pedang aneh ini adalah pedang lemah dan berperilaku seperti sarung, artinya laki-laki yang bersifat kewanita-wanitaan atau waria. Untuk menjadi sarungpun, dengan cara yang aneh juga tentunya. Pedang lemah menjadi sarungnya pedang kuat. Memang ganjil dan aneh. Tetapi mereka tetap saja bisa menikmati keganjilan ini. Tak perduli entah bahagia atau tidak dalam menikmatinya. Bagi mereka, bahagia sejati ataupun semu, sudah tak ada bedanya dengan lembaran duka hidup yang berkepanjangan. Walaupun demikian, tak jarang yang terpaksa melakukan modifikasi. Memodifikasi bentuk pedangnya untuk menjadi sebuah sarung ('sarung-palsu') ala kadarnya. Atau lebih tepatnya melakukan operasi bedah plastik pada kelamin laki-lakinya. Modifikasi atau operasi ini, tentulah memerlukan biaya yang tak sedikit. Bagi yang terbentur dengan masalah biaya, biasanya mereka memanfaatkan pepatah 'tak ada rotan akarpun jadi'. Artinya mendayagunakan bagian tubuhnya yang lain untuk menjadi sarung. Sangat tidak dianjurkan sekali oleh banyak pakar kesehatan sex sebetulnya. Mungkinkah mereka bisa kembali normal? Menurut beberapa ahli psikologi, ada yang menjawab bisa. Tergantung dari diri yang bersangkutan serta dukungan kuat lingkungan sekitarnya. Terutama peran orang tua, sangat penting dalam hal ini. Bila melihat ada perilaku ganjil saat balita, yaitu bayi laki-lakinya senang bermain boneka dan alat-alat rias, maka harus segera melakukan antisipasi. Tindakan antisipasi antara lain dengan mengalihkan perhatiannya ke jenis permainan laki-laki, seperti bola, robot, mobil-mobilan dan lain-lain yang dilakukan dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Lalu bagaimana bila si anak laki-laki yang telah dewasa ini masih tetap bersikeras bahwa merasa lebih mantap menjadi perempuan saja dibanding dengan menjadi laki-laki?. Tentunya kita tidak dapat berbuat banyak akan keinginannya itu. Kita hanya bisa kembali mengingatkan dengan analogi pedang dan sarung tadi. Bila masih belum mampu juga mengubah keinginannya, kita serahkan kembali kepada kedewasaan dirinya sendiri dan tidak lupa menitipkan pesan untuk memakai 'alat pelindung' agar 'sarung-palsu' atau 'akar' (bagian tubuh lain)-nya tidak terluka karena 'pedang'. Berikut adalah contoh beberapa nama mereka yang terlahir laki-laki yang tetap berkeinginan menjadi perempuan dan lalu melakukan operasi kelamin antara lain Vivian atau Vivi Rubianto (model) , Dorce Gamalama (artis), Boy George (pemusik), Amanda Lear (artis), Mianne Bagger (pegolf) dan lain-lain. Nama yang disebutkan terakhir adalah pemain golf laki-laki kelahiran tahun 1966, di Kopenhagen, Denmark, lalu melakukan operasi kelamin tahun 1995 dan bulan Maret tahun ini mengikuti turnamen golf wanita Australia Terbuka. Masalah waria ini terkadang menimbulkan pertanyaan yang sedikit melebar. Samakah mereka dengan perilaku seksual yang meyimpang lainnya seperti 'lesbian' (perempuan yang suka dengan perempuan) dan 'gay' (lelaki yang suka dengan lelaki)? Ada yang mengatakan berbeda. Karena waria, secara keseluruhan jiwanya berperilaku wanita sementara fisiknya adalah laki-laki. Sedangkan lesbian atau gay adalah murni penyimpangan kelainan seksual. Kedua kelompok terakhir ini adalah mereka secara fisik dan jiwanya normal sebagai lelaki maupun wanita, tetapi berkeinginan berhubungan seks dengan sejenis. Dalam hal ini penulis tidak ingin membahas lebih dalam. Tetapi bila ada yang tertarik untuk mengulasnya, akan menjadi lebih baik lagi dan menambah wawasan kita semuanya. Sebetulnya masih banyak lagi yang bisa dituliskan tentang hitam-putihnya kehidupan waria. Tapi tidak cukup sekedar darah dan air mata menjadi tintanya. Lalu kemanakah mereka harus mengadu? Mungkin ini membutuhkan perjalanan yang panjang, untuk mendapatkan jawaban pertanyaan ini. Beberapa dari mereka hanya bisa mengadu pada buku harian. Buku harian adalah teman hidup mereka yang paling jujur dan setia. Setia mendengar jerit tangis hidup. Diungkapkan lewat coretan-coretan puisi. Sehingga menjadi ironi ketika mereka menulis puisi, karena ke-waria-an itu sendiri adalah 'puisi' kehidupan. Tapi biar bagaimanapun puisi telah banyak menampung kegalauan hati waria. Betapa bergunanya puisi. Negarawan besar, mendiang JF. Kennedy, mengatakan, bila politik telah kotor maka puisilah yang akan membersihkan. Untuk soal waria, puisi memang tak akan bisa mencegah lahirnya mereka, tetapi setidaknya puisi telah mampu menjadi tempatnya berteduh. Mungkin puisi di bawah ini sangat baik untuk direnungkan, bahwa betapa pentingnya mengenal gender atau jenis kelamin. "Belajar Tentang Gender" oleh : Holly Devor Bagaimana terciptanya anak lelaki? Ambil bayi yang baru lahir, Rengkuh dan ayunkan, guncang dan doronglah, Biarkan lebih banyak sendirian, dan jangan pernah bicara lembut padanya Bagaimana terciptanya anak perempuan? Ambil bayi yang baru lahir, Timang dan nyanyikan, dekap dan buailah Dan jangan biarkan terlantar Apa yang menjadikan anak lelaki? Cakaran dan kesakitan, kengerian yang tak terlihat Tempaan kehidupan keras, Kesendirian mendarah daging, Apa yang menjadikan anak perempuan? Pertanyaan dan mimpi, rahasia tak terungkap, Kepercayaan berkembang dan terkhianati, Menanti kehidupan terbentang luas Apapun makna puisi di atas, tak bisa menghilangkan kenangan, saat si Avi cantik berlari-lari di dalam layar kaca dan diiringi penggalan lirik lagu Posesif - Naif seperti berikut : "Mengapa aku begini, jangan kau mempertanyakan !! Bila ku mati, kau juga mati walau tak ada cinta, sehidup semati" Syair lirik lagu ini seakan mengingatkan, bahwa tidak perlu lagi mempertanyakan mengapa waria harus ada. Karena kalau mereka mati, mungkin kitapun ikut mati. ---------*****---------
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
|
- [UrangSunda] Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia Medis Mohamad Irfan
- [UrangSunda] Re: Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia... Puspita Widyamulya
- Re: [UrangSunda] Fenomena Dunia Medis-->Ng... Mohamad Irfan
- Re: [UrangSunda] Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia... Sarabunis
- Re: [UrangSunda] Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia... Icho
- Re: [UrangSunda] Trans-Seksual,hiji Fenomena D... Mohamad Irfan
- [UrangSunda] Re: Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia... o_arahman
- RE: [UrangSunda] Trans-Seksual,hiji Fenomena Dunia... Ani Puspita

