ieu aya tulisan wartawan Kompas dina rubrikna Politika. ceuk manehna, kuduna na mah nu 
pang pantesna jadi calon presiden teh Agus Wirahadikusumah dibanding dua jendral 
lainna. hanjakal kabujeng dipundut ku nu kawasa......

kungsi panggih jeung hiji perwira piisukeun rek sidang sarjana, ngobrolkeun soal 
tangtara, manehna nyarita kieu,"hanjakalnya, jenderal nu saroleh teh enggal dipundut 
kunu kawasa....". harita keur nyaritkeun yen kuring boga babaturan bapana letjen, Nana 
Narundana, asana kungsi jadi pangdam wirabuana jeung iskandar muda. 



"Operasi Jakarta"

Budiarto Shambazy 

Bulan Mei 2004 ini patut dijadikan sebagai kesempatan untuk mengenang seorang reformis 
sejati dalam diri TNI, yakni almarhum Letnan Jenderal Agus Wirahadikusumah. Lima tahun 
lalu di Kampus Universitas Indonesia, Depok, 24 Mei 1999, Agus yang akrab dipanggil 
AWK itu menjadi bintang panggung. 

Petang hari itu AWK tampil sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Mencari Format 
Hubungan Sipil-Militer Indonesia yang diadakan oleh Jurusan Politik FISIP Universitas 
Indonesia (UI). AWK menjadi bintang panggung karena secara mengejutkan membongkar 
borok ABRI yang disebutnya ikut bertanggung jawab atas dosa-dosa Orde Baru.

Ia bilang, Indonesia jangan terjerumus ke dalam era "Orbaba" atau Orde Baru yang Baru. 
Menurut AWK, "ABRI terbukti sudah banyak melakukan penyimpangan. Ada 60 dosa besar 
yang dilakukan ABRI sehingga kita semua terpuruk."

Suatu malam di rumahnya di Bulak Rantai, akhir tahun 1999, kedua mata AWK tiba-tiba 
berkaca-kaca. Ia minta maaf kepada rakyat atas kesalahan-kesalahan ABRI di masa Orde 
Baru.

Kalau AWK masih ada, dia layak tampil sebagai salah satu calon presiden yang berlatar 
belakang militer, selain Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Jangan-jangan, 
jajak-jajak pendapat akan menunjukkan bahwa AWK jauh lebih pantas menjadi presiden 
ketimbang dua jenderal purnawirawan lainnya.

Pernyataan-pernyataan AWK itu membuang jauh-jauh asumsi yang mengatakan bahwa sipil 
telah gagal dalam mencapai cita-cita Reformasi. Salah juga pandangan yang mengatakan 
bahwa rakyat menghendaki kepemimpinan yang kuat yang selalu diasosiasikan sebagai 
calon-calon presiden dari kalangan TNI.

Akan tetapi, nanti dulu! Sekarang kita membutuhkan kembali kehadiran strong leader 
karena rakyat sudah tak lagi merasakan keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan 
sehari-hari.

Buktinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berada di ambang kehancuran. 
Terorisme mengintai di mana-mana. Di mana-mana terjadi demonstrasi yang mengganggu, 
kriminalitas meningkat drastis, dan lain-lain.

Namun, tunggu dulu! Yang terjadi bukanlah kaum sipil gagal dalam pelaksanaan reformasi 
secara tuntas. Dua presiden sipil, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati 
Soekarnoputri, bukan gagal. Soalnya, sejak tahun 1998 mereka ibaratnya ketiban pulung 
karena terbeban begitu banyak masalah yang diwariskan Orde Baru.

Oleh sebab itu, muncullah kesan belakangan ini bahwa pertarungan di antara calon-calon 
presiden pada 5 Juli mendatang telah mengerucut ke arah kompetisi kaum sipil versus 
kelompok militer. Jika merujuk pada asumsi bahwa kedua-dua golongan itu gagal, berarti 
pemilihan presiden diikuti calon-calon yang kalahan.

Ah, pemimpin sipil seperti Megawati jangan diberikan kesempatan lagi menjadi presiden 
karena gagal. Apalagi Gus Dur, pemimpin sipil yang terbukti terlibat skandal 
Buloggate. Atau Amien Rais, atau Siswono Yudo Husodo, atau berderet tokoh sipil 
lainnya. Mereka tidak patut!

Lalu ada pilihan calon-calon presiden yang mantan militer, Wiranto maupun Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY). Dua-duanya pun ibarat berada dalam kesalahan sejarah dalam 
upaya menjadi presiden karena munculnya kekhawatiran bahwa mereka akan seperti 
Jenderal (Purn) Soeharto. Itu kekhawatiran yang wajar karena masih banyak yang trauma 
dengan Orde Baru sebagai rezim yang berpura-pura demokratis yang sebenarnya bergaya 
militeristis, seperti musang berbulu domba.

Bagaimana kita tidak trauma? Dulu seorang kapten atau mayor di tingkat kodam di Ibu 
Kota memiliki kekuasaan yang begitu besar dalam pengawasan pers nasional. Saking 
hebatnya, sang perwira itu tinggal mengangkat telepon saja untuk melarang pemuatan 
berita-berita yang ia nilai tidak boleh disiarkan.

Soeharto boleh saja berulang-ulang mengatakan, kita negara yang sudah demokratis 
karena menyelenggarakan pemilu dalam sistem yang dia sebut Demokrasi Pancasila. 
Padahal, demokrasi semu ini bertujuan membungkam kebebasan berpendapat dan berekspresi 
dengan menciutkan jumlah partai, membredel pers, atau menangkap oposisi tanpa proses 
hukum.

Tentu saja SBY dan Wiranto bukanlah Soeharto. Dan tidak ada salahnya jika sebagian 
rakyat merindukan kembali terciptanya stabilitas politik yang diidentikkan dengan 
kehadiran seorang strong leader.

Namun, mengambil hikmah dari wawancara dengan Presiden Cile Ricardo Lagos di harian 
ini, edisi Jumat lalu, menjadi wajar juga jika sebagian rakyat Indonesia berkeinginan 
agar presiden terpilih bukan dari kalangan eks militer. Fair enough kan?

Apa pun, sipil atau militer, yang lebih berbahaya adalah kekhawatiran bahwa 
"demokrasi" yang kita agung-agungkan dewasa ini berada dalam ancaman besar dari 
kekuatan-kekuatan yang justru antidemokrasi. Mereka justru berlomba-lomba memanfaatkan 
"demokrasi" itu untuk konsolidasi kekuatan.

Jika belajar dari Cile, mungkin ada baiknya mengenang kembali kepemimpinan sipil ala 
Presiden Cile Salvador Allende dan rezim militer pimpinan Presiden Augusto Pinochet. 
Dua-duanya sebenarnya sama, yakni menerapkan demokrasi semu dengan menjalankan taktik 
politik bernama "bermain-main dengan legitimasi".

Presiden Allende melihat, tak mungkin lagi tetap berkuasa melalui revolusi atau 
reformasi atau yang sejenisnya. Dengan partai ala Golkar di zaman Orde Baru, dia 
melanggengkan kekuasaan yang represif seperti Soeharto.

Sementara Pinochet berkuasa setelah melancarkan kudeta untuk menggulingkan Presiden 
Allende pada tahun 1973. Juga seperti Soeharto, Pinochet terlebih dulu menumpas 
oposisi, lalu memilih jalan demokrasi yang semu ala Demokrasi Pancasila.

Dari pengalaman Cile terlihat bahwa bukan tak mungkin Orde Baru dan kekuatan-kekuatan 
fasis, sipil, atau militer, mendompleng demokrasi hanya untuk "bermain-main dengan 
legitimasi" melalui pemilu maupun pemilihan presiden. Sama dengan taktik-taktik 
politik Allende maupun Pinochet, mereka beramai-ramai berusaha mencapai puncak 
kekuasaan dengan segala cara hitam, putih, bahkan abu-abu.

Setelah sampai ke puncak, taktik politik itu setiap kali akan mengasari atau 
memvulgarkan kekuasaan itu. Pengasaran itu sebetulnya sudah terjadi ketika semua tokoh 
yang berbau Orde Baru dengan nekat tampil di wilayah politik publik tanpa mempunyai 
rasa malu.

Fasisme jenis ini disebut dengan "clerico-fascis". Walaupun penampilannya sedemikian 
santun dan bersih, di dalamnya terkandung magma fasisme yang antidemokrasi.

Bermain-main dengan legitimasi, setelah sampai ke puncak lalu memvulgarkannya. Itulah 
yang dilakukan Presiden Allende, yang didongkel Pinochet lewat kudeta bernama sandi 
"Operasi Jakarta". (e-mail: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] )




 

 

Mj

http://geocities.com/mangjamal



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/0EHolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke