di dieu masyarakatna tiasa nyarios sunda heunteu ?
----- Original Message -----
From: "durahman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, June 22, 2004 9:32 AM
Subject: Re: [UrangSunda] Naros Pasantren Buntet


> Euh...puguh abdi teh sok isin ka diri sorangan.
> Ongkoh aya pasantren 'pipireun imah' anu sakitu..kawentar kamana2
> tapina teu terang nanaoun ngeunaan pesantren eta.
> Padahalmah nu tarebih teh pada-pada ngajugjug kadinya.
>
> Ayana teh di kec.Sindang. Jadi..mun ti arah bdg atawa jkt ti kota cirebon
> teh masih terus kawetankeun mapay-mapay jalur pantura (ulah lebet tol
> PacCi). Engke aya pertiluan (di desa kanci) Nah...akang kudu belok ka
> katuhu.  Jalur ieu teh ka arah sindang. Tah...mun tos lebet ka kec.
sindang
> mah moal sesah neanganana.
>
> Ieu kelaresan sim kuring boga artikel ngeunaan pesantren buntet, mangga;
>
> ====== begin of file =========
> Buntet Pesantren Cirebon
> Gudangnya Santri "Kanuragan"
>
> MEMASUKI Buntet Pesantren Cirebon di Desa Buntet, Kecamatan Sindanglaut,
> Kabupaten Cirebon, kita bukan menemukan sebuah keteduhan dengan pepohonan
> yang rindang, kompleks bangunan yang khas dan terkesan alami pedesaan
serta
> kelihatan nyaman untuk belajar. Masuk ke Buntet, adalah menuju ke kompleks
> perumahan yang padat, berupa bangunan sangat sederhana, dan hanya beberapa
> yang kelihatan mewah.
>
> Buntet memang pesantren terbuka. Keberadaannya tidak terkurung tembok atau
> pagar keliling, tetapi mirip sebuah perkampungan. Memang tanah seluas 10
> hektar itu, tidak dihuni santri dengan asramanya, tetapi penduduk juga
> diperkenankan menempati tanah pesantren itu. Karena itu Buntet Pesantren
> mengesankan bukan seperti sebuah pondok, tetapi mengesankan sebuah
> permukiman yang netral, dalam tata pergaulan layaknya perkampungan biasa.
> Kalau toh ada kesan bahwa itu pondok, karena di situ ada ribuan santri
> laki-laki berkopiah dan perempuan berjilbab.
>
> Jadi kesan kedamaian Buntet Pesantren bukan terletak rindangnya pepohonan
> yang mengesankan alami pedesaan dan nyaman untuk belajar, tetapi tata
> pergaulan antarpenduduk, santri dengan penduduk, adalah refleksi kelebihan
> dari pondok ini. Inilah keteladanan Buntet Pesantren yang membimbing
> santrinya langsung di tengah tata pergaulan masyarakat.
>
> Bila pondok punya gawe, seperti menjelang kedatangan Presiden Abdurrahman
> Wahid Sabtu (21/4) ini, tanpa diundang seluruh penduduk datang ke kediaman
> Kiai Haji Fuad Hasyim pimpinan Buntet Pesantren. Dengan sukarela tua,
muda,
> lelaki, perempuan dengan tugas ma-
> sing-masing, membantu kerepotan pondok menyambut kedatangan Presiden.
>
> Terlebih kedatangan Presiden saat ini bertepatan dengan ulang tahun
> berdirinya Buntet Pesantren yang ke-278, citra Buntet sebagai pesantren
yang
> terbuka, makin jelas. Selama seminggu situasi pondok ibarat pasar tiban.
> Selama seminggu itu pondok dibuka untuk pedagang. Mulai dari pedagang
> makanan, mainan anak-anak, baju, helm, kerajinan dan lainnya menjajakan
> dagangan di sepanjang jalan area pondok. Pendeknya, minggu ini situasi
> pondok mirip pasar malam yang menyedot ribuan pengunjung dari berbagai
> penjuru desa.
>
> "Pondok ini memang dibuka untuk siapa saja. Karenanya masyarakat luar
boleh
> masuk ke pondok dan mendirikan rumah di tanah pondok yang masih kosong,"
> kata Muhammad Namfal, putra tertua KH Fuad Hasyim, pimpinan Buntet
> Pesantren. Di antara perumahan itu berdiri asrama untuk sekitar 3.500
> santri, terdiri 2.500 santri putra dan sekitar 1.000 santri perempuan.
>
> "Yang berlaku di sini, setiap kiai yang sekaligus ustad, membawahi satu
> asrama. Di pesantren ini ada 25 kiai, yang otomatis membawahi 25 asrama.
> Dari 25 kiai dengan 25 asrama ini diwadahi dalam satu komando yaitu Buntet
> Pesantren. Karenanya namanya bukan Pesantren Buntet, tetapi Buntet
> Pesantren, karena membawahi 25 kiai," tegas Muhammad Namfal.
>
> ***
>
> Buntet Pesantren didirikan tahun 1723 oleh Kiai Muqoyim, yang menjadi
Kepala
> Mahkamah Agung pada Keraton Kasepuhan Cirebon. Sejak dulu pondok ini di
> samping sebagai tempat pengajaran ilmu agama Islam, juga dikenal sebagai
> pondok yang menggembleng santrinya menjadi manusia dogdeng (sakti) lewat
> pelajaran ilmu kanuragan (tenaga dalam).
>
> Puncak keterkenalan Buntet Pesantren sebagai tempat penggodogan santri
dalam
> ilmu kanuragan di saat Buntet Pesantren dipimpin Kiai Abbas Bin KH Abdul
> Jamil. Ketika Pesantren Tebu Ireng yang didirikan oleh KH Wahid Hasyim
> sekitar tahun 1925 minta pasukan pengaman dari Buntet Pesantren, KH Abbas
> sendiri datang memimpin pengamanan pendirian Pesantren Tebu Ireng.
>
> Mengapa harus mengundang pengamanan dari Buntet, karena Tebu Ireng saat
itu
> merupakan gudangnya bromocorah. Berkat pengamanan dari Buntet inilah
> Pesantren Tebu Ireng bisa berdiri hingga sekarang. Bahkan, sebagaimana
> dituturkan KH Fuad Hasyim, penelitian Presiden Abdurrahman Wahid tahun
1990
> memprediksikan KH Abbas inilah sebagai Komandan Kostrad-nya Pasukan
> Hisbullah pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
>
> Buntet Pesantren sebagai tempat santri memiliki ilmu kanuragan terkenal
> hingga sekarang. Meskipun tak semua santri boleh mengikuti ilmu ini,
tetapi
> olah kanuragan menjadi semacam mata pelajaran bagi santri. "Ya sekarang
ini
> ada 500 santri belajar ilmu kanuragan," kata Muhammad Namfal salah satu
guru
> ilmu kanuragan.
>
> Di samping mendidik santri, Buntet Pesantren juga mendidik masyarakat luar
> dalam olah kanuragan ini. "Masyarakat luar sudah ribuan jumlahnya yang
> belajar bersama kami dalam hal ilmu kanuragan di Buntet ini," kata Namfal.
>
> Pengajaran kepada masyarakat luar itu sudah berlangsung lama. "Sejak saya
> kecil pun memberikan pelajaran ilmu kanuragan kepada masyarakat luar itu
> sudah berlangsung," ujar Namfal yang berumur sekitar 30 tahun ini.
>
> Meskipun, Namfal mengakui akhir-akhir ini makin banyak orang luar yang
> mengecap ilmu kanuragan di Buntet Pesantren, bukan berarti pesantren ini
> merestui keberangkatan massa pendukung Presiden Abdurrahman Wahid
> berbondong-bondong ke Jakarta. KH Fuad Hasyim menegaskan, "Saya ini
> ditugaskan oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid) untuk mendinginkan suasana.
Jadi
> tidak mungkin saya merestui pendukung Gus Dur di Cirebon ikut ke Jakarta,
> apalagi memberi sangu ilmu kanuragan. Kalau ada yang berangkat pasti tidak
> sepengetahuan saya."
>
> Berkait dengan itu, dengan senyum sinis Muhammad Namfal menyatakan, "Bagi
> pondok pesatren umumnya latihan kanuragan, misalnya bila dibabat pedang
> tidak mempan, ditembak hanya mental, itu merupakan hal yang dijalankan
> sehari-hari, sejak dulu. Jangan-jangan latihan semacam itu yang dimaksud
> pihak aparat sebagai latihan perang. Aneh itu kenapa dipermasalahkan
> sekarang. Sejak dulu, khususnya di pondok, latihan kanuragan merupakan hal
> biasa dijalani setiap hari, kenapa baru sekarang dipergunjingkan."
>
> Dalam hal kanuragan ini, bagi santri di Buntet benar-benar dilakukan
> selektif, kendati sifatnya tetap terbuka. Menurut Fuad Hasyim, ada
beberapa
> syarat bagi santri yang
> ingin mempelajari ilmu kanuragan. Di antaranya harus mampu menciptakan
> kemantapan jiwa (istiqomah). Yang kedua adalah kebersihan hati. Artinya
> belajar ilmu ini tidak disertai dengan maksud tidak baik. Yang ketiga
> kemampuan mengendalikan emosi, sehingga tidak di sembarang tempat
> menggunakan ilmu itu.
>
> Untuk mencapai ilmu ini di samping mantra yang harus dihafal, juga harus
> disertai laku (tindakan). Di antaranya santri harus menempuh puasa. "Puasa
> ini dijalankan tergantung dari tingkatan ilmu kanuragan yang diikuti.
Tidak
> bisa seorang peserta ilmu kanuragan langsung menempuh tingkat dua belas
> misalnya, tapi harus benar-benar belajar bertahap," kata Muhammad Namfal.
>
> Karena itu puasa yang dijalani juga bertingkat-tingkat mulai dari tiga
hari,
> 21 hari, 41 hari sampai berbulan-bulan. Dalam hal berpuasa ini, juga
> dikenakan puasa mutih, sama sekali tidak makan dalam beberapa hari.
>
> Sedang ilmu yang diajarkan di antaranya ilmu brajamusti sebuah ilmu yang
> membuat orang memiliki daya pukul sampai dua ton. Ada pula ilmu lembu
> sekilan yang membuat orang dipukul tidak pernah kena walau hanya dalam
jarak
> beberapa sentimeter saja. Di samping itu ada ilmu lain di antaranya,
bandung
> bondowoso, lempung segara, lembu sekilan, girirengan, dan lainnya.
>
> ***
>
> Usia 278 tahun bagi sebuah pondok pesantren, merupakan usia yang sangat
tua.
> Kenyataan ini memang tidak bisa terjawab dengan kata-kata, selain tindakan
> nyata pesantren ini. "Keberhasilan pondok tidak hanya diukur dari
banyaknya
> santri, tingkat pendidikan yang tinggi, tetapi bagaimana seorang santri
> memiliki komitmen moral sebagai anak pesantren, di mana pun, dalam lembaga
> apa pun, dalam kedudukan apa pun," kata Fuad Hasyim.
>
> Karena itu, kata Fuad Hasyim, hasil pendidikan pondok tidak hanya bisa
> diamati satu dua tahun, tetapi mungkin bisa satu generasi. "Kelestarian
> pondok seperti ini, karena komitmen moralnya. (Thomas Pudjo Widijanto)
> Berita daerah lainnya :
>
> Pupuk Langka di Aceh, Musim Gadu Terancam
>
> Wonocatur Antisipasi Kepadatan Malioboro
>
> Anggota DPRD Mabuk Menjelang Sidang
>
> Riau Sediakan Kredit Lunak Rp 70 Milyar
>
> Lebih Buruk, Hasil Panen Maret-April
>
> Anggota Brimob Tewas Ditembak OPM di Merauke
>
> Ansor Aceh Tak Ikut-ikutan ke Jakarta
>
> Pengungsi Sampang Terancam Kelaparan
>
> Gudangnya Santri "Kanuragan"
>
> Nuriana Kemungkinan Lolos dari Tuduhan KKN
>
> Potensi yang Tak Pernah Tergarap
>
> DTW, Menyelamatkan Taman Nasional
>
> Beroda Dua, Lapangkan Tempat Parkir
>
> Banyak Kebijakan Daerah yang Mengabaikan Aspek Lingkungan
>
> DAERAH SEKILAS
>
> FOTO: TERUS DIGALI
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> � C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian Kompas
>
> MEMASUKI Buntet Pesantren Cirebon di Desa Buntet, Kecamatan Sindanglaut,
> Kabupaten Cirebon,
> ----- Original Message -----
> From: Gunawan Yusuf <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Tuesday, June 22, 2004 9:20 AM
> Subject: [UrangSunda] Naros Pasantren Buntet
>
>
> > Assalammuaikum wr wb
> >
> > Ki dulur sadaya, bade naros ngenaan "pasantren Buntet"  nu di Cirebon,
> hoyong terang Cirebon-na dimana ?, saha pamingpinna ?, saha nu
ngadegkeunna
> ?, iraha diadegkeunna ?, nguping wartos ieu pasantren gaduh peran ageung
> dina jaman revolusi, malihan mah basa keur kajantenan 10 November 1945 di
> Surabaya, tokoh Jawa Timur (ulama & TNI) nyuhunkeun restu ka ieu pasantren
> sareng ieu pasantren oge ngiring perang dina ieu kajantenan, Kang Durahman
> nu ti Cirebon, atanapi nu sanesna ?
>
>
>
>
>
> Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke