astagfirullah kang dugi ka kiutuna nya, kuring mah ngan bisa ngadungakeun mugia para pajabat sing aya nu malikiran nasib rayatna. emh... ----- Original Message ----- From: "mh" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, October 05, 2004 9:46 AM Subject: [Urang Sunda] garut sedih kingkin
> > baraya, aya warta ti pr poe ieu ngeunaan garut. cenah > di garut angka 'bunuh diri' kawilang pangpunjulna. > umumna kasang tukangna alatan ekonomi. duh nepi ka > kituna lembur kuring. salengkepna mangga geura pada > lenyepan. > > salam, > mh > ------------------- > PR. ARTIKEL. Selasa, 05 Oktober 2004 > > Tingginya Angka Bunuh Diri di Garut > Oleh DENI YUDIAWAN > > SEMINGGU lalu tersiar kabar tentang tewasnya seorang > ibu rumah tangga serta seorang buruh tani di Kecamatan > Leles, Kabupaten Garut yang ditemukan tak bernyawa > setelah menggantung lehernya pada tiang rumah. Dengan > hanya berselang tiga hari, kedua peristiwa tragis itu > terjadi di dua tempat berbeda di Kecamatan Leles. > Namun berita tentang peristiwa ini seakan hilang > diterpa isu pemilihan presiden yang gaungnya menggema > hingga ke pelosok terpencil sekalipun. > > Seorang ibu rumah tangga tewas tergantung dengan > menggunakan tali pramuka di dalam kamarnya, Jumat > (24/9) pagi. Korban yang diidentifikasi bernama Dede > binti Ardi (37) itu ditemukan tewas tergantung oleh > suaminya, Ujang Supriatna (44). Berdasarkan keterangan > anak korban, Diah (20), ibunya sempat berbicara pada > dirinya sebelum tega menghabisi nyawanya sendiri di > tiang plafon kamarnya itu. Menurut pengakuan Diah, > ibunya merasa tak tahan terhadap impitan ekonomi > keluarga yang tengah dililit utang. Penghasilan > suaminya sebagai tukang jahit dirasa masih belum cukup > untuk menambal kebutuhan keluarganya. > > Tiga hari sebelumnya, Dase bin Emuh (60), seorang > buruh tani warga Desa Cangkuang, Kecamatan Leles > ditemukan tewas tergantung di rumahnya. Jenazah korban > pertama kali ditemukan oleh anaknya, Abo, yang merasa > heran karena hingga petang hari Dase tidak juga turun > ke sawah. Abo sebelumnya mengetuk pintu rumah ayahnya, > namun tidak juga ada jawaban. Akhirnya ia mencoba > membuka kaca nako untuk melepas kunci pintu dari > dalam. Saat dicari ke dalam kamar, Abo tidak juga > menemukan ayahnya. Ia terkejut ketika masuk ke dapur, > ayahnya ternyata telah tewas tergantung dengan kain > selendang warna kuning pada palang atap dapur. Motif > kematian Dase hingga saat masih dalam penyelidikan > polisi. > > Dari dua kejadian di atas, mungkinkah sekira 2 juta > masyarakat Garut sudah "terbiasa" dengan adanya kasus > bunuh diri yang kerap terjadi di daerahnya? Atau > mungkin bunuh diri sudah menjadi suatu "gaya hidup" > tersendiri untuk mengakhiri semua penderitaan yang > mendera anggota masyarakat Garut? Siapa pun boleh > berpendapat berbeda berkaitan dengan masalah tersebut, > yang jelas fakta yang telah berbicara banyak berkaitan > dengan peristiwa bunuh diri tersebut. > > Boleh jadi, kasus upaya bunuh diri yang ada di Garut > merupakan yang paling tinggi dibandingkan daerah > lainnya di Jabar. Berdasarkan data yang dikumpulkan > "PR" dalam 18 bulan terakhir, terdapat 18 kali kasus > upaya bunuh diri yang terjadi di Garut. Dengan kata > lain, satu orang melakukan upaya bunuh diri di Garut > dalam satu bulan. Tiga korban dalam kasus bunuh diri > ini dapat terselamatkan, termasuk kasus bunuh diri > yang menjadi isu nasional yang menimpa Haryanto, siswa > kelas 6 SD Muarasanding Garut Kota. Bermacam motif > melatarbelakangi upaya bunuh diri yang dilakukan oleh > korban. Namun tak sedikit juga yang hanya menyisakan > sebuah tanda tanya besar bagi anggota keluarga maupun > masyarakat sekitar karena sebelumnya tak terlihat > tanda-tanda mengisyarakatkan korban akan berbuat nekat > mengakhiri hidupnya. Apalagi dilakukan dengan jalan > yang tidak diridai-Nya. > > Uniknya, dari kedelapan belas kasus bunuh diri, tak > terlihat adanya suatu modus yang dapat ditarik secara > gamblang. Bila dilihat dari faktor usia, sangat > beragam mulai dari anak-anak sampai orang tua berumur > 60 tahunan. Pelaku upaya bunuh diri yang paling kecil > dialami Haryanto yang berhasil diselamatkan orang > tuanya tahun lalu. Namun nasib berbeda dialami Nurdin > yang berumur tak jauh berbeda dengan Haryanto. Nurdin > ditemukan tewas tergantung di tiang plafon dapur rumah > kakaknya dengan motif yang belum jelas awal Februari > tahun ini. > > Tak hanya anak-anak, tren upaya bunuh diri juga > dilakukan orang tua. Sebagai contoh nyata Zainal > Abidin (60) dari Malangbong serta Dase bin Emuh (60) > dari Leles menunjukkan bahwa rasa frustrasi tak > mengenal usia. Tentu saja korban dari kelas umur ABG > yang terkenal sangat labil jiwanya juga banyak > ditemukan. Nasib yang sedikit beruntung dialami Jesika > (16), siswi salah satu SMA di Tarogong itu berhasil > diselamatkan setelah menenggak cairan antinyamuk di > rumah kakeknya karena tak kuat terhadap kesulitan > ekonomi yang menimpa keluarganya. > > Lalu, apakah semua faktor upaya bunuh diri ini hanya > bersumber dari keterbatasan ekonomi? Jawabannya, bisa > ya tapi bisa juga tidak. Keadaan fisik beberapa rumah > korban bunuh diri ditemukan sangat layak dengan segala > perabotan rumah tangga yang bisa dibilang cukup mampu. > Namun tak disangkal sebagian besar dalam kasus ini > memang berawal dari kesulitan ekonomi selain > penderitaan hidup yang dialami korban seperti didera > penyakit yang membelenggu korban. > > Faktor kekuatan pengetahuan agama juga boleh dikatakan > bukan yang menjadi penyebab utama. Contohnya, bocah > Nurdin justru dikenal sebagai anak yang rajin mengaji > bersama rekan-rekannya di surau pinggir rumahnya. > Tetapi di usia belianya, Nurdin justru tega menghabisi > nyawanya sendiri. Bahkan, Ahmad Ridwan Rifai (19) > seorang muazin di salah satu masjid di Muarasanding > Garut Kota rela mengorbankan nyawanya secara sia-sia > di ujung tali yang digantung pada atap rumahnya hanya > karena putus cinta. > > Patut dicatat, dari 18 kasus upaya bunuh diri ini > sekira 80 persennya dilakukan dengan cara menggantung > diri. Mungkin gantung diri adalah cara yang paling > mudah serta paling "cepat" untuk mengakhiri > penderitaan hidup? > > Fenomena kasus bunuh diri juga menunjukkan kurangnya > fasilitas pelayanan bagi penderita tekanan jiwa di > Garut hingga memilih bunuh diri sebagai satu-satunya > alternatif dalam mengakhiri penderitaannya. Berbagai > ahli kejiwaan menilai bahwa upaya bunuh diri bersumber > dari suatu masalah yang dipendam oleh si korban. > Keadaan itu biasanya diperparah dengan adanya > halusinasi yang diderita si korban. Masyarakat umum > banyak menyebutnya sebagai stress atau depresi. > > Akar timbulnya depresi yang berada di kalangan > masyarakat kota kecil seperti Garut mungkin saja > berbeda dengan tren stress yang kerap muncul di > kota-kota besar. Namun hal budaya, sosial, serta > religi sangat berkaitan erat dengan timbulnya gejala > bunuh diri di mana pun. Pola hubungan si korban dengan > keluarga maupun lingkungan masyarakat sekitarnya > sangat berpengaruh banyak terhadap kecenderungan bunuh > diri. Terlalu mementingkan faktor material > dibandingkan imaterial di kalangan masyarakat juga > merupakan salah satu penyebeb utama kasus ini. Semua > itu juga berhubungan erat dengan lemahnya iman yang > dimiliki si korban dalam pemahamannya terhadap agama > yang dianut. > > ** > > SATU hal yang menjadi tanda tanya besar saat ini > yaitu, tanggung jawab siapa terjadinya fenomena bunuh > diri tersebut? Masyarakatkah, pemerintah, atau bahkan > alim ulamakah? > > Banyak orang berpikir bahwa pemerintah kini hanya > mementingkan pembangunan secara fisik di daerah Garut > dibandingkan pembangunan mentalnya. Penataan > perkotaan, perbaikan infrastruktur, serta berbagai > pembangunan yang saat ini dititikberatkan untuk > menggenjot pendapatan asli daerah di era otonomi ini > sepertinya menjadi hal utama dalam setiap program > kerja pemerintah. Coba bandingkan antara anggaran > pendidikan agama misalnya dengan anggaran pembangunan > infrastruktur dalam APBD tahun ini yang terkesan > sangat jauh. > > Selain itu, hadirnya para wakil rakyat yang sekira 75 > persen adalah wajah baru, bisa jadi merupakan satu > titik terang dalam upaya mengubah fenomena mengerikan > ini. Kini mereka tak hanya dituntut dapat mewujudkan > aspirasi sekira dua juta masyarakat Garut dalam > mengubah nasib mereka, namun juga dituntut untuk dapat > menjadi contoh teladan bagi warganya. Kini para > anggota dewan yang terhormat itu tak bisa lagi > bertopang dagu sambil ungkang-ungkang kaki di kursi > yang ditebusnya dengan jutaan rupiah, melainkan harus > berpikir keras terhadap "tren baru" di masyarakat > Garut tersebut. Dua bulan mereka berleha-leha, > kemungkinan dua nyawa juga akan melayang karena bunuh > diri. > > Para anggota dewan mungkin tak sendiri karena Garut > dikenal sebagai gudangnya alim ulama terkenal lengkap > dengan pesantrennya yang disegani di pelosok > nusantara. Merebaknya kasus bunuh diri di Garut juga > merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi para alim > ulama. Peran mereka dalam membina mental dan iman umat > akan semakin berat tatkala bunuh diri menjadi salah > satu gaya hidup di masyarakatnya. > > Mungkinkah peran MUI Kabupaten Garut yang menjadi > representasi sekian ratus ulama di Garut ini juga > belum optimal? Data tingginya angka bunuh diri boleh > jadi merupakan tamparan keras bagi MUI yang mengemban > tugas mulia sebagai pengawal iman masyarakat. > Paradigma MUI Kabupaten Garut yang dinilai masyarakat > terlalu banyak berpolitik sepertinya harus diubah > dengan pendekatan yang lebih komprehensif terhadap > umatnya. Oktober ini, MUI akan menggelar musyawarah > daerahnya. Tentulah akan sangat tak manusiawi jika > saja mereka tak mengagendakan upaya mereka dalam > meredam angka bunuh diri di umatnya sendiri. > > Di luar unsur pemerintah serta para pemuka masyarakat > di Garut, tentulah peran keluarga yang paling banyak > disalahkan dalam kasus ini. Bukannya memberikan > dorongan moril kepada pihak keluarga korban bunuh diri > -- yang berhasil terselamatkan atau tidak -- namun > justru mereka sering dicap yang paling bersalah dalam > kasus ini. Mereka juga divonis tak mampu mendidik > anggota keluarganya untuk berkomunikasi. Seorang ibu > dari korban bunuh diri yang berhasil terselamatkan > beberapa bulan lalu sambil menangis berkata lugas, > "Apa yang telah saya perbuat? Saya mendidik anak saya > dengan baik selama ini, baik pendidikan sekolahnya > maupun pendidikan agamanya. Saya akui memang keluarga > kami sangat kekurangan dalam segi ekonomi, tetapi tak > harus diakhiri dengan kejadian ini. Saya tak habis > pikir mengapa anak saya rela melakukan semua ini..." > tutur sang ibu yang ditemui "PR" di RSU dr. Slamet > Garut. Sementara ibunya menangis, sang anak yang sudah > sadar namun masih terkulai lemas hanya ikut menitikkan > air matanya tanpa sepatah kata pun keluar dari > mulutnya. Lalu, salah siapakah semua ini?*** > > Penulis wartawan HU "Pikiran Rakyat" di Garut. > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > > Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

