baraya, aya warta ti pr poe ieu ngeunaan garut. cenah di garut angka 'bunuh diri' kawilang pangpunjulna. umumna kasang tukangna alatan ekonomi. duh nepi ka kituna lembur kuring. salengkepna mangga geura pada lenyepan.
salam, mh ------------------- PR. ARTIKEL. Selasa, 05 Oktober 2004 Tingginya Angka Bunuh Diri di Garut Oleh DENI YUDIAWAN SEMINGGU lalu tersiar kabar tentang tewasnya seorang ibu rumah tangga serta seorang buruh tani di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut yang ditemukan tak bernyawa setelah menggantung lehernya pada tiang rumah. Dengan hanya berselang tiga hari, kedua peristiwa tragis itu terjadi di dua tempat berbeda di Kecamatan Leles. Namun berita tentang peristiwa ini seakan hilang diterpa isu pemilihan presiden yang gaungnya menggema hingga ke pelosok terpencil sekalipun. Seorang ibu rumah tangga tewas tergantung dengan menggunakan tali pramuka di dalam kamarnya, Jumat (24/9) pagi. Korban yang diidentifikasi bernama Dede binti Ardi (37) itu ditemukan tewas tergantung oleh suaminya, Ujang Supriatna (44). Berdasarkan keterangan anak korban, Diah (20), ibunya sempat berbicara pada dirinya sebelum tega menghabisi nyawanya sendiri di tiang plafon kamarnya itu. Menurut pengakuan Diah, ibunya merasa tak tahan terhadap impitan ekonomi keluarga yang tengah dililit utang. Penghasilan suaminya sebagai tukang jahit dirasa masih belum cukup untuk menambal kebutuhan keluarganya. Tiga hari sebelumnya, Dase bin Emuh (60), seorang buruh tani warga Desa Cangkuang, Kecamatan Leles ditemukan tewas tergantung di rumahnya. Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh anaknya, Abo, yang merasa heran karena hingga petang hari Dase tidak juga turun ke sawah. Abo sebelumnya mengetuk pintu rumah ayahnya, namun tidak juga ada jawaban. Akhirnya ia mencoba membuka kaca nako untuk melepas kunci pintu dari dalam. Saat dicari ke dalam kamar, Abo tidak juga menemukan ayahnya. Ia terkejut ketika masuk ke dapur, ayahnya ternyata telah tewas tergantung dengan kain selendang warna kuning pada palang atap dapur. Motif kematian Dase hingga saat masih dalam penyelidikan polisi. Dari dua kejadian di atas, mungkinkah sekira 2 juta masyarakat Garut sudah "terbiasa" dengan adanya kasus bunuh diri yang kerap terjadi di daerahnya? Atau mungkin bunuh diri sudah menjadi suatu "gaya hidup" tersendiri untuk mengakhiri semua penderitaan yang mendera anggota masyarakat Garut? Siapa pun boleh berpendapat berbeda berkaitan dengan masalah tersebut, yang jelas fakta yang telah berbicara banyak berkaitan dengan peristiwa bunuh diri tersebut. Boleh jadi, kasus upaya bunuh diri yang ada di Garut merupakan yang paling tinggi dibandingkan daerah lainnya di Jabar. Berdasarkan data yang dikumpulkan "PR" dalam 18 bulan terakhir, terdapat 18 kali kasus upaya bunuh diri yang terjadi di Garut. Dengan kata lain, satu orang melakukan upaya bunuh diri di Garut dalam satu bulan. Tiga korban dalam kasus bunuh diri ini dapat terselamatkan, termasuk kasus bunuh diri yang menjadi isu nasional yang menimpa Haryanto, siswa kelas 6 SD Muarasanding Garut Kota. Bermacam motif melatarbelakangi upaya bunuh diri yang dilakukan oleh korban. Namun tak sedikit juga yang hanya menyisakan sebuah tanda tanya besar bagi anggota keluarga maupun masyarakat sekitar karena sebelumnya tak terlihat tanda-tanda mengisyarakatkan korban akan berbuat nekat mengakhiri hidupnya. Apalagi dilakukan dengan jalan yang tidak diridai-Nya. Uniknya, dari kedelapan belas kasus bunuh diri, tak terlihat adanya suatu modus yang dapat ditarik secara gamblang. Bila dilihat dari faktor usia, sangat beragam mulai dari anak-anak sampai orang tua berumur 60 tahunan. Pelaku upaya bunuh diri yang paling kecil dialami Haryanto yang berhasil diselamatkan orang tuanya tahun lalu. Namun nasib berbeda dialami Nurdin yang berumur tak jauh berbeda dengan Haryanto. Nurdin ditemukan tewas tergantung di tiang plafon dapur rumah kakaknya dengan motif yang belum jelas awal Februari tahun ini. Tak hanya anak-anak, tren upaya bunuh diri juga dilakukan orang tua. Sebagai contoh nyata Zainal Abidin (60) dari Malangbong serta Dase bin Emuh (60) dari Leles menunjukkan bahwa rasa frustrasi tak mengenal usia. Tentu saja korban dari kelas umur ABG yang terkenal sangat labil jiwanya juga banyak ditemukan. Nasib yang sedikit beruntung dialami Jesika (16), siswi salah satu SMA di Tarogong itu berhasil diselamatkan setelah menenggak cairan antinyamuk di rumah kakeknya karena tak kuat terhadap kesulitan ekonomi yang menimpa keluarganya. Lalu, apakah semua faktor upaya bunuh diri ini hanya bersumber dari keterbatasan ekonomi? Jawabannya, bisa ya tapi bisa juga tidak. Keadaan fisik beberapa rumah korban bunuh diri ditemukan sangat layak dengan segala perabotan rumah tangga yang bisa dibilang cukup mampu. Namun tak disangkal sebagian besar dalam kasus ini memang berawal dari kesulitan ekonomi selain penderitaan hidup yang dialami korban seperti didera penyakit yang membelenggu korban. Faktor kekuatan pengetahuan agama juga boleh dikatakan bukan yang menjadi penyebab utama. Contohnya, bocah Nurdin justru dikenal sebagai anak yang rajin mengaji bersama rekan-rekannya di surau pinggir rumahnya. Tetapi di usia belianya, Nurdin justru tega menghabisi nyawanya sendiri. Bahkan, Ahmad Ridwan Rifai (19) seorang muazin di salah satu masjid di Muarasanding Garut Kota rela mengorbankan nyawanya secara sia-sia di ujung tali yang digantung pada atap rumahnya hanya karena putus cinta. Patut dicatat, dari 18 kasus upaya bunuh diri ini sekira 80 persennya dilakukan dengan cara menggantung diri. Mungkin gantung diri adalah cara yang paling mudah serta paling "cepat" untuk mengakhiri penderitaan hidup? Fenomena kasus bunuh diri juga menunjukkan kurangnya fasilitas pelayanan bagi penderita tekanan jiwa di Garut hingga memilih bunuh diri sebagai satu-satunya alternatif dalam mengakhiri penderitaannya. Berbagai ahli kejiwaan menilai bahwa upaya bunuh diri bersumber dari suatu masalah yang dipendam oleh si korban. Keadaan itu biasanya diperparah dengan adanya halusinasi yang diderita si korban. Masyarakat umum banyak menyebutnya sebagai stress atau depresi. Akar timbulnya depresi yang berada di kalangan masyarakat kota kecil seperti Garut mungkin saja berbeda dengan tren stress yang kerap muncul di kota-kota besar. Namun hal budaya, sosial, serta religi sangat berkaitan erat dengan timbulnya gejala bunuh diri di mana pun. Pola hubungan si korban dengan keluarga maupun lingkungan masyarakat sekitarnya sangat berpengaruh banyak terhadap kecenderungan bunuh diri. Terlalu mementingkan faktor material dibandingkan imaterial di kalangan masyarakat juga merupakan salah satu penyebeb utama kasus ini. Semua itu juga berhubungan erat dengan lemahnya iman yang dimiliki si korban dalam pemahamannya terhadap agama yang dianut. ** SATU hal yang menjadi tanda tanya besar saat ini yaitu, tanggung jawab siapa terjadinya fenomena bunuh diri tersebut? Masyarakatkah, pemerintah, atau bahkan alim ulamakah? Banyak orang berpikir bahwa pemerintah kini hanya mementingkan pembangunan secara fisik di daerah Garut dibandingkan pembangunan mentalnya. Penataan perkotaan, perbaikan infrastruktur, serta berbagai pembangunan yang saat ini dititikberatkan untuk menggenjot pendapatan asli daerah di era otonomi ini sepertinya menjadi hal utama dalam setiap program kerja pemerintah. Coba bandingkan antara anggaran pendidikan agama misalnya dengan anggaran pembangunan infrastruktur dalam APBD tahun ini yang terkesan sangat jauh. Selain itu, hadirnya para wakil rakyat yang sekira 75 persen adalah wajah baru, bisa jadi merupakan satu titik terang dalam upaya mengubah fenomena mengerikan ini. Kini mereka tak hanya dituntut dapat mewujudkan aspirasi sekira dua juta masyarakat Garut dalam mengubah nasib mereka, namun juga dituntut untuk dapat menjadi contoh teladan bagi warganya. Kini para anggota dewan yang terhormat itu tak bisa lagi bertopang dagu sambil ungkang-ungkang kaki di kursi yang ditebusnya dengan jutaan rupiah, melainkan harus berpikir keras terhadap "tren baru" di masyarakat Garut tersebut. Dua bulan mereka berleha-leha, kemungkinan dua nyawa juga akan melayang karena bunuh diri. Para anggota dewan mungkin tak sendiri karena Garut dikenal sebagai gudangnya alim ulama terkenal lengkap dengan pesantrennya yang disegani di pelosok nusantara. Merebaknya kasus bunuh diri di Garut juga merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi para alim ulama. Peran mereka dalam membina mental dan iman umat akan semakin berat tatkala bunuh diri menjadi salah satu gaya hidup di masyarakatnya. Mungkinkah peran MUI Kabupaten Garut yang menjadi representasi sekian ratus ulama di Garut ini juga belum optimal? Data tingginya angka bunuh diri boleh jadi merupakan tamparan keras bagi MUI yang mengemban tugas mulia sebagai pengawal iman masyarakat. Paradigma MUI Kabupaten Garut yang dinilai masyarakat terlalu banyak berpolitik sepertinya harus diubah dengan pendekatan yang lebih komprehensif terhadap umatnya. Oktober ini, MUI akan menggelar musyawarah daerahnya. Tentulah akan sangat tak manusiawi jika saja mereka tak mengagendakan upaya mereka dalam meredam angka bunuh diri di umatnya sendiri. Di luar unsur pemerintah serta para pemuka masyarakat di Garut, tentulah peran keluarga yang paling banyak disalahkan dalam kasus ini. Bukannya memberikan dorongan moril kepada pihak keluarga korban bunuh diri -- yang berhasil terselamatkan atau tidak -- namun justru mereka sering dicap yang paling bersalah dalam kasus ini. Mereka juga divonis tak mampu mendidik anggota keluarganya untuk berkomunikasi. Seorang ibu dari korban bunuh diri yang berhasil terselamatkan beberapa bulan lalu sambil menangis berkata lugas, "Apa yang telah saya perbuat? Saya mendidik anak saya dengan baik selama ini, baik pendidikan sekolahnya maupun pendidikan agamanya. Saya akui memang keluarga kami sangat kekurangan dalam segi ekonomi, tetapi tak harus diakhiri dengan kejadian ini. Saya tak habis pikir mengapa anak saya rela melakukan semua ini..." tutur sang ibu yang ditemui "PR" di RSU dr. Slamet Garut. Sementara ibunya menangis, sang anak yang sudah sadar namun masih terkulai lemas hanya ikut menitikkan air matanya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Lalu, salah siapakah semua ini?*** Penulis wartawan HU "Pikiran Rakyat" di Garut. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

