Senin, 25 Oktober 2004

Jangan Biarkan Babakan Siliwangi Babak Belur
Oleh T. BACHTIAR

MEMASUKI bulan Oktober tahun ini, rasanya di langit Bandung terdapat
seribu matahari. Kini, Bandung benar-benar terpanggang matahari.
Udaranya benar-benar panas, terutama sangat dirasakan oleh para
pengguna jasa angkutan umum (angkot). Baru pukul sepuluh, panasnya
sudah tak ketulungan, apalagi pada siang hari, ketika matahari berada
di ubun-ubun.

PEMULUNG memanfaatkan barang bekas dari puing-puing Babakan Siliwangi
yang terbakar, pekan lalu. Babakan Siliwangi sebaiknya tetap
dipertahankan sebagai hutan kota yang dapat dijadikan tempat wisata
sekaligus tempat belajar mengenal alam.*HARRY SURJANA/"PR"

Bagi pengguna jasa angkutan bus kota pun sama, udara Kota Bandung saat
ini amat menyiksa. Rasakan betapa panasnya udara di shelter saat
menunggu bus kota. Bandingkan dengan ketika kita berada di Jalan
Tamansari sekitar Kebun Binatang. Betapa nyamannya, betapa ademnya
berada di bawah naungan pepohonan yang ada di sana. Bandingkan
bagaimana rasanya ketika berada di kampus ITB sekitar Jalan Ganeca
yang teduh dengan di Sasana Budaya Ganeca yang berada di lembah
Cikapundung yang dibiarkan terpanggang matahari. Rasakan pula bedanya
saat berada di Taman Cilaki siang hari dibandingkan dengan di halaman
DPRD Jawa Barat, di halaman Masjid Raya Jawa Barat, di Lapangan
Gasibu, atau di halaman supermal di jalan Gatot Subroto. Kalau bisa
merasakan perbedaannya dengan nyata, adakah suatu itikad dan tindakan
nyata untuk perbaikan Kota Bandung yang kita cintai ini ke arah yang
lebih nyaman?

Kearifan lokal

Sejak tahun 1974, saya sering jalan-jalan ke utara Bandung, dan dari
atas ketinggian pinggiran cekungan Bandung itu saya dapat leluasa
memandang hamparan persawahan atau kolam-kolam yang membentang luas di
selatan. Terlihat banyak sabuk hijau yang berkelok-kelok dari arah
utara ke selatan. Terlihat pula pulau-pulau hijau di tengah persawahan
atau hamparan kolam, itulah perkampungan. Di antara hamparan
persawahan yang seragam, kelokan sabuk hijau menjadi penanda kawasan
yang mudah dikenali. Sabuk-sabuk hijau itu adalah sungai-sungai atau
selokan yang di kiri-kanannya ditanami berbagai jenis pohon. Bukan
hanya sungai besar yang rimbun oleh pepohonan, tapi juga selokan kecil.

Di kiri-kanan sungai atau selokan itu pada umumnya ditanami pohon
cangkring, bambu haur, mangga, jambu, pisang, kelewih, atau pohon
produktif lainnya yang selalu menghijau. Sabuk-sabuk hijau itu
berselang dengan hamparan persawahan, terus berulang menjadi pola umum.

Menarik sekali. Sabuk hijau sepanjang aliran sungai di tengah-tengah
persawahan atau kolam ikan yang membentang. Polanya sama. Ini
merupakan kearifan lokal dalam menata lingkungan hidup yang amat
dibutuhkan, tapi sering dilupakan dan diabaikan.

Kearifan masyarakat ini pernah ada di Bandung, namun saat ini mulai
mengalami krisis. Di beberapa aliran sungai dan selokan, pepohonan itu
begitu cepatnya menghilang. Dulu, pesawahan yang sangat luas di
Bandung selatan dipisahkan oleh kelokan sungai, yang di kiri-kanannya
ditumbuhi pepohonan yang berjajar. Namun sekarang, pohon-pohon itu,
seperti pohon cangkring telah dibabat habis, kecuali beberapa pohon
saja yang tersisa.

Dalam keadaan krisis lingkungan di perkotaan yang mulai mengimpit,
kearifan masyarakat yang pernah ada perlu dihidupkan lagi, perlu
diaktualkan kembali, dan dicobakan untuk daerah lainnya, misalnya
diterapkan sepanjang jalur jalan di depan rumahnya, atau di
lahan-lahan kosong yang masih gersang.

Warga Bandung saat ini justru banyak yang tidak mengetahui kearifan
leluhurnya. Banyak yang beranggapan bahwa pepohonan itu sebagai
pengganggu, sebagai penghalang yang harus ditumbangkan, dimusnahkan.
Di Bandung saat ini justru banyak pembangunan yang mengorbankan
pepohonan yang berjajar di pinggir sungai, di pinggir jalan atau di
halaman bangunan. Akibatnya jalan di perkotaan kebanyakan menjadi
benar-benar panas.

Di samping itu perlu adanya ketegasan dari pemerintah dalam mengelola
pepohonan di suatu kawasan, sehingga tidak seenaknya ditebangi oleh
para pemborong yang tidak ingin rumah atau bangunan lainnya yang ia
bangun tidak terlihat dari jalan raya, atau menggantinya dengan
tanaman alakadarnya yang tidak memberikan naungan kerindangan.

Pemerintah harus menjadikan halaman perkantorannya sebagai percontohan
dalam menata lanskap halaman atau suatu kawasan terbuka. Pemerintahlah
yang harus memberikan contoh nyata bahwa betapa nyamannya kantor yang
dinaungi kerindangan pepohonan. Betapa enaknya jalan-jalan yang teduh
dinaungi pepohonan. Dengan contoh, dengan informasi, dengan tatap muka
dengan para pengusaha, biarkan mereka menyadari bahwa betapa enaknya
halaman supermal, apartemen, rumah makan, hotel, kampus, bila teduh
oleh pepohonan.

Masyarakat Bandung tempo dulu secara tradisional sudah memberikan
contoh pengelolaan lingkungan hidup di persawahan yang mereka
usahakan. Pohon cangkring berjajar di sepanjang aliran sungai, pohon
bambu haur tumbuh di gawir-gawir sungai, pohon mangga, jambu, kelewih,
berjajar di pematangnya, serta pohon pisang menghijau di bagian dalam.

Babakan Siliwangi

Sejak tahun 2002 sebenarnya Indonesia sudah memiliki Peraturan
Pemerintah No. 63 tentang Hutan Kota. Dalam PP ini dituliskan bahwa
tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah untuk kelestarian,
keserasian, dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur
lingkungan, sosial, dan budaya.

Dalam PP itu pun disebutkan fungsi hutan kota adalah untuk memperbaiki
dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika, meresapkan air,
menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, dan
mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Diuraikan pula
manfaat hutan kota, yaitu untuk keperluan pariwisata alam, rekreasi
dan atau olah raga, penelitian dan pengembangan, pendidikan,
pelestarian plasma nutfah, dan budidaya hasil hutan bukan kayu.

Kalau saja lahan-lahan hijau yang selama ini ada dibiarkan hijau,
ditata menjadi hutan kota yang dikelola dengan baik, berbagai manfaat
akan dirasakan oleh warga Bandung dan hawa Bandung akan terlunakkan.

Mengapa dan ada apa sebenarnya sehingga Pemerintah Kota Bandung begitu
kebelet ingin membangun pusat perbelanjaan di lahan-lahan terbuka
hijau yang saat ini begitu sulit untuk mendapatkannya? Apakah
masyarakat Bandung benar-benar akan menderita kusta dan kelaparan yang
berkepanjangan bila di Babakan Siliwangi tidak dibangun pusat
perbelanjaan, kafe, dan butik?

Bila kita amati, sesungguhnya untuk masyarakat Bandung dan para
wisatawan setiap akhir pekan, semua supermal, A-Walk, B-Walk, C-Walk,
cafe, dan butik yang ada saat ini sudah lebih dari cukup. Kenyataan
menunjukkan, satu mal baru dibangun dengan gaya yang memanjakan
pendatangnya, maka dua-tiga mal lainnya bangkrut karena sepi pembeli.
Ya, karena pembelinya yang rutin orangnya itu-itu juga, keluarga para
pengusaha, pegawai pemda, atau anggota DPRD. Jadi, untuk apa
mengorbankan lahan hijau hanya untuk mal, cafe, dan butik, yang, bagi
para memilik kendaraan, di manapun lokasinya, bila barang dagangan dan
pelayanannya memuaskan dan memanjakan pasti akan didatangi.

Biarkan Babakan Siliwangi sebagai lahan terbuka hijau semuanya,
menjadi hutan kota untuk tujuan pendidikan kealaman bagi
anak-cucu-cicit seuweu-siwi Siliwangi.

Bandung adalah gudangnya para arsitek lanskap. Di Bandung pula para
ahli tumbuhan, ahli pohon, ahli burung, ahli serangga, ahli olah raga,
serta ahli ekowisata berdomisili. Berilah kesempatan kepada mereka
untuk menata kawasan Babakan Siliwangi dengan baik.

Di sanalah nantinya para pelajar Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA,
bahkan para mahasiswa berlatih mengidentifikasi tumbuhan, pohon,
serangga, burung, atau sekadar berjalan-jalan di dalam hutan kota yang
dirancang dengan baik oleh ahlinya.

Di Tatar Sunda itu sangat kaya berbagai tumbuhan, pohon, burung,
serangga, dan berbagai mahluk hidup kecil-kecil yang hinggap di buah
kapundung, ngagembrong buah loa, atau berbagai jenis burung endemik
Kota Bandung serta burung migrasi yang melintas dan singgah sementara
di Bandung.

Betapa indahnya bila pelajar dan warga Kota Bandung lainnya melakukan
birdwatching, ngumpet-ngumpet mengintip di balik pohon untuk mengamati
burung, membuat sketsanya, membuat siluetnya, mengamati perilakunya,
mencatat makanannya, mencatat kawasan jelajahnya, dan mengamati dari
mana mereka mengambil makanan.

Pernahkah kita memberikan kesempatan kepada lalay untuk hinggap di
pohon buah yang kita tanam, sehingga setiap malam pohon buah-buahan
itu menjadi rumah singgah baginya? Pernahkah kita berbagi buah-buahan
dengan burung, dengan serangga, dengan cara menanam berbagai pohon
buah-buahan yang disukai berbagai jenis burung dan serangga di halaman
rumah, di taman-taman dan di hutan-hutan kota? Hewan-hewan itu sangat
berguna bagi manusia, namun sayang manusia tidak pernah berterima
kasih, padahal banyak buah-buahan yang penyerbukannya dibantu oleh
binatang tersebut.

Selama ini persepsi keliru tentang hutan kota telah menyergap hampir
semua lapisan. Padahal hutan kota bisa dijadikan tempat rekreasi dan
pendidikan kealaman yang dapat menghasilkan uang.

Saya yakin, bila diumumkan dan dikoordinasi dengan baik, di Bandung
saat ini banyak sukarelawan dan donatur yang terdiri dari para ahli
dalam bidangnya yang karena kecintaan dan kerinduan akan Bandung yang
bersahabat dan nyaman untuk menata Babakan Siliwangi sebagai pusat
pendidikan, penelitian, dan rekreasi alami bagi seluruh warga kota
yang tertata baik, rapi, tidak kumuh, modern, bersahabat, akrab,
menyenangkan, dan menguntungkan, tanpa kehadiran kondom-ini-um, tanpa
cafe atau pun butik.

Kalau dibanding-banding, berapa pemkot Bandung akan menerima pajak
setiap tahunnya dari pusat perbelanjaan, kafe, dan butik di Babakan
Siliwangi itu nanti? Kalau jelas jumlah pajaknya, pengelola pusat
pendidikan, penelitian dan rekreasi alami Babakan Siliwingi pasti akan
mampu membayar pajaknya, dengan membiarkan Babakan Siliwangi sebagai
hutan kota. Kalau ada kesediaan pengelola untuk membayar pajaknya yang
setara dengan pajak bila dibangun, apakah pemkot akan tetap kebelet
juga untuk membangunnya? Kalau ya, saya tidak paham lagi akan logika
berpikirnya.*** 

Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset
Cekungan Bandung.
                

SUPLEMEN

Suplemen Politik Hukum Agama Pendidikan

IKLAN

Iklan Mini Baris
                





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke