Dinten Minggu kamari aya demo dipayuneun Istana Nagara jeung di 
Surabaya, Solo jeung semarang nu nuntut Khilafah Islamiyah nu 
diluluguan ku Hizbut Thahrir (HT). Demo ieu dikomentaran ku Ketua 
MPR anu mantan Presiden PKS sapertos nu diwartakeun ku Tempo 
Interaktif :

Ketua MPR : Hentikan Polemik Pemerintahan Islam
Senin, 25 Oktober 2004 | 06:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Ketua MPR dan mantan Presiden Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), Hidayat Nurwahid, menegaskan jangan berpolemik
mengamandemen UUD 1945 untuk menghadirkan pemerintahan Islam 
(Khilafah Islamiyah)."Kita sudah lelah dengan polemik, akan lebih 
bijak jika berkonsentrasi untuk melaksanakan ajaran agama,"kata 
Nurwahid.

Pernyataan Ketua MPR itu berkaitan dengan aksi ribuan pengikut Hizbut
Thahrir di depan Istana Negara di Jakarta dan tiga kota lainnya : 
Solo, Semarang dan Surabaya, Ahad (24/10), yang menuntut 
diwujudkannya pemerintahan Islam.


Menurut Ketua MPR, yang lebih penting adalah agar seluruh masyarakat
Indonesia melaksanakan ajaran agama seperti dalam pasal 29 UUD 
1945. "Jika
agama dilaksanakan oleh semua umat beragama pada tingkat moral dan 
etos
kerja saya kira akan membawa dampak positif bagi moral 
bangsa,"katanya.

Hidayat Nurwahid khawatir, polemik tentang pemerintahan Islam, malah
menyebabkan orang mengabaikan ajaran agama dan korupsi merajalela, 
dekadensi
moral di mana-mana, orang menghabiskan harapan mereka dengan 
berjudi. "itu
semua tidak dibenarkan agama,"ujarnya.

Jika Hizbut Thahrir konsisten dengan logika menuntut Khilafah 
Islamiyah,
menurut Ketua MPR, harus disampaikan kepada anggota DPR/DPD untuk 
diajukan
amandemen UUD 1945 kepada MPR. "Itu juga harus disetujui sekitar 1/3 
anggota
MPR"kata Hidayat Nurwahid.




Senin, 25 Oktober 2004 NASIONAL

HTI Tuntut Penegakan Syariat Islam
a.. Gelar Demo di Gladag

SYARIAT ISLAM : Seorang bocah dengan ikat kepala terlihat dalam
aksi para aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HT) Solo di bundaran 
Gladag,
kemarin. Ratusan aktivis itu menuntut formalisasi syariat Islam di
Indonesia.(79)

SOLO - Ratusan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Solo menggelar
aksi di bundaran Gladag, Minggu (24/10) sore. Mereka menuntut adanya
formalisasi syariat Islam di Indonesia karena belakangan ini ada 
upaya dari
berbagai pihak untuk menjauhkan umat Islam Indonesia dari syariat 
Islam.

Dalam aksinya, massa mengusung beberapa tulisan, di antaranya
''Tegakkan Syariat Islam di Indonesia'', ''Negara adalah Pelayan 
Umat'', dan
''Stop Penjualan Aset-aset Negara''. Beberapa peserta demo juga 
mengenakan
bandana warna hitam bertuliskan ''Tolak Sistem Sekuler'' dan ''Stop
Kapitalisasi Pendidikan''.

''Penerapan syariat Islam adalah kewajiban atas kaum muslim sekaligus
merupakan konsekuensi dan tanda keimanan mereka terhadap Islam. 
Sebaliknya,
bila ada penolakan, itu merupakan pembangkangan kewajiban, dan dapat
menghapuskan keimanan seorang Islam,'' kata Tindyo Prasetyo ST, 
humas HTI
Solo, saat aksi.

Aksi tersebut diharapkan bisa menyadarkan umat Islam akan pentingnya
mengatur seluruh aspek kehidupan dengan syariat Islam berdasarkan 
Alquran
dan al hadis. ''Kami ingin membangun kesadaran berpolitik umat Islam 
bahwa
persoalan-persoalan yang dihadapi hanya bisa diatasi dengan cara 
mengganti
sistem sekuler dengan syariat Islam. Umat Islam juga butuh institusi 
yang
bisa menjalankan syariat Islam.''

Kewajiban

Setiap muslim, jelas dia, tidak dapat menghindarkan diri dari
kewajiban menjalankan syariat Islam. Sebagaimana kewajiban 
menjalankan
shalat, zakat, dan beribadah haji, seorang muslim juga wajib 
menerapkan
syariat Islam secara keseluruhan.

Merebaknya kemaksiatan di beberapa tempat, salah satunya disebabkan
oleh banyaknya penyimpangan syariat Islam oleh umat Islam sendiri. 
Karena
itu, penerapan syariat Islam berdampak langsung terhadap baik 
buruknya
kondisi umat manusia. ''Setiap penyimpangan syariat pasti akan 
menimbulkan
kerusakan, kemudaratan, dan kesengsaraan.''

Dalam aksi tersebut, beberapa tokoh Islam dari berbagai elemen juga
ikut melakukan orasi, di antaranya ustad Kholid Hasan (Pondok 
Pesantren Al
Islam Gumuk, Mangkubumen), Drs Warsito Adnan (Front Pemuda Islam 
Surakarta),
Ustad Shalih Ibrahim (Majelis Mujahidin Indonesia), dan Ustad 
Muhammad
Anshari (HTI).

''Sangat jelas dan gamblang bahwa cara memperbaiki kondisi umat Islam
yang buruk dalam berbagai aspek kehidupannya akibat penerapan sistem
kapitalis yang sekularistik yang dipaksakan para penjajah terdahulu 
adalah
dengan menerapkan kembali syariat Islam.''

Hukum Islam

Sementara di Surabaya, sekitar 800 aktivis HTI Daerah Surabaya,
kemarin juga menggelar aksi damai untuk mendesak Presiden Susilo 
Bambang
Yudhoyono (SBY) menerapkan sistem syariah (hukum) Islam. ''Tuntutan 
kami
cukup wajar, karena 87 persen lebih rakyat Indonesia, adalah umat 
Islam.
Apalagi sistem sekuler sudah terbukti gagal," kata Ust Saifuddin 
Zuhri,
salah seorang orator dalam aksi di Taman Bungkul Surabaya (TBS) itu.

Menurut dia, kegagalan sistem sekuler terlihat dari banyaknya angka
kriminalitas, penderita HIV/AIDS, pengangguran, dan sebagainya.
(G13,ant-69n)






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke