ARTIKEL
Sabtu, 23 Oktober 2004

Nuansa Islam Dalam Kesenian Sunda
Oleh GANJAR KURNIA

MENURUT Ayatrohaedi (1986), masuknya Islam ke tanah Sunda diperkirakan
berlangsung pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Besar kemungkinan
bahwa tokoh Prabu Siliwangi tersebut adalah Prabu Niskala Wastukancana
anak Prabu Maharaja (memerintah 1350-1370) yang berkuasa cukup lama
yaitu dari tahun 1371-1475.

Selanjutnya, kata Ayatrohaedi (1995), sejak saat itu, terlebih-lebih
sejak Sunan Gunung Djati menguasai Banten (1525) dan Kalapa (1527),
boleh dikatakan bahwa masyarakat di daerah pusat kekuasaan sudah
bercirikan keislaman. Sedangkan masyarakat pedalaman yang jauh dari
pusat kekuasaan masih tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan
mereka yang lama.

Karena pusat-pusat kekuasaan sudah sepenuhnya bercorak Islam,
sementara khazanah-khazanah lama tersimpan di kabuyutan-kabuyutan
terpencil, sejak abad ke-19 jika orang berbicara mengenai masyarakat
Sunda, maka salah satu ciri khasnya adalah Islam (Ayatrohaedi, 1988).

Di dalam pandangan Saini KM (1995), bisa diterimanya Islam dengan baik
di tatar Sunda karena di antara keduanya, yaitu Islam dan Sunda
mempunyai persamaan paradigmatik yang bercirikan Platonik. Islam
memandang dan memahami dunia sebagai ungkapan azas-azas mutlak dan
terekam dalam wahyu Allah. Sedangkan kebudayaan Sunda lama meletakkan
nilai-nilai mutlak yang kemudian diwujudkan dalam adat beserta
berbagai upacaranya.

Melihat rentang waktu yang lama (sampai saat ini kurang lebih sudah
630 tahun), dan di antara keduanya banyak persamaan, sungguh wajar
apabila Islam sudah berurat-berakar di dalam masyarakat Sunda termasuk
memengaruhi kegiatan berkeseniannya. Kesadaran "manunggalnya" Islam
dengan Sunda pernah mencuat pada Musyawarah Masyarakat II di Bandung
pada tahun 1967. Endang Saefudin Anshari, yang bukan orang Sunda
pituin, menyatakan tesisnya tentang Sunda-Islam dan Islam-Sunda.
Terlepas dari perdebatan yang terjadi (bahkan sampai sekarang),
kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini, sebagian besar orang
Sunda memeluk agama Islam, sehingga sedikit banyak Islam telah menjadi
salah satu ciri jati dirinya.

Kesenian Sunda

Akulturasi Islam dengan Sunda dapat terlihat dari beberapa jenis
kesenian yang ada di tatar Sunda. Selain sebagai hasil dari interaksi,
akulturasi ini terjadi karena pada awalnya dan bahkan hingga saat ini,
kesenian seringkali digunakan sebagai sarana penyebaran syiar Islam.
Strategi seperti ini terutama dilakukan oleh para wali pada awal-awal
penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pengaruh Islam terhadap kesenian Sunda
ini di antaranya dapat dilihat dari aspek tulis-menulis, cerita, seni
arsitektur, seni musik, seni pertunjukan, sastra, seni suara, dsb.

Dari aspek tulis-menulis, di luar aksara Sunda (kaganga), huruf Jawa
(hanacaraka), huruf latin, di tatar Sunda ditemukan pula tulisan
beraksara pegon (huruf Arab gundul). Tulisan-tulisan yang beraksara
Pegon ini di antaranya dapat terlihat pada wawacan, surat-menyurat,
tafsir, silsilah, dsb. Berkaitan dengan kegiatan tulis-menulis ini
(termasuk gambar), ditemukan pula beberapa mushaf Alquran yang
mempunyai corak khas Sunda, bahkan sekarang ini lebih dikembangkan
lagi menjadi Alquran Mushaf Sundawi. Selain daripada itu ada pula seni
menulis indah yang biasa disebut "khot" atau kaligrafi yang di
antaranya dapat terlihat di masjid-masjid atau lukisan kaca.

Untuk bidang sastra, beberapa wawacan di antaranya bercerita tentang
hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Sebagai contoh, Wawacan Carios
Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Kean Santang, Wawacan Syeh
Abdul Kodir Jaelani, dsb. Bentuk-bentuk karya sastra lain yang terkait
dengan "Islam" dapat dilihat pula pada hasil karya Haji Hasan Mustofa.
Untuk yang lebih mutakhir di antaranya, "Pahlawan ti Pasantren" (Ki
Umbara dan SA Hikmat), "Jiad Ajengan" (Usep Romli HM), "Dongeng Enteng
ti Pasantren" (RAF), dsb.

Selain itu, sudah sejak awal ada upaya-upaya untuk membuat tafsir atau
terjemahan Alquran ke dalam bahasa Sunda. Upaya yang paling mutakhir
adalah apa yang dilakukan oleh Drs. Hidayat Suryalaga dengan membuat
terjemahan Alquran dalam bentuk dangding yang disebut Nur Hidayahan.
Sekarang ini, terjemahan Nur Hidayahan sudah biasa "dihaleuangkeun" di
dalam tembang Cianjuran.

Apabila di dalam Islam dikenal seni membaca Alquran (qiro'ah) di tatar
Sunda ada beberapa lagu-lagu Islami yang dikumandangkan dengan
mengandalkan keindahan suara pula. Contohnya dapat terlihat pada
beluk, seni terbang, dan juga Cigawiran/Pagerageungan.

Seni lain yang mengaitkan sastra dan lagu di antaranya adalah
lagu-lagu "pupujian" atau biasa juga disebut "nadhom". Salah satu
"nadhom" yang cukup terkenal adalah "Anak Adam". Cuplikannya, "Anak
Adam urang di dunya ngumbara//Umur urang di dunya teh moal lila//Anak
Adam umur urang teh ngurangan//Saban poe saban peuting di kurangan."

Untuk seni musik selama ini ada kesan bahwa musik yang "islami" itu
hanyalah yang menggunakan "genjring" dengan menyanyikan lagu-lagu
berbahasa arab (tagoni) atau lagu-lagu bernapaskan Islam. Di luar itu
sebenarnya banyak seni musik lain yang juga bernuansa Islam, dengan
salah satu cirinya adalah mengiringi lagu-lagu yang menggunakan bahasa
Arab sebagai pujian (salawat) kepada Nabi Muhammad saw. Beberapa jenis
kesenian yang menggunakan lagu-lagu salawat Nabi adalah badeng di
Ciamis, benjang yang menggunakan lagu-lagu dari rudat, seperti
asrokol, badatmala, serta rudat sendiri (seni bela diri di mana setiap
gerakannya diiringi dengan lagu-lagu salawat).

Untuk seni pertunjukan yang berbentuk helaran, di antaranya adalah
seni burokan di Cirebon. Kesenian bentuk badawang ini, konon diilhami
oleh burok yang di gunakan Nabi Muhammad ketika Mikraj ke Sidratul
Muntaha.

Beberapa pertunjukan kesenian yang bernuansa islami tersebut di
antaranya dipergelarkan pada saat kejadian vital, terutama pada saat
kelahiran. Empat puluh hari setelah seorang anak lahir, selain
dilakukan marhaba dengan membaca (baca: melagukan) barzanzi, ada pula
yang nanggap beluk dengan lakon wawacan Nabi Paras. Pembacaan wawacan
dengan cara dilagukan ini, di beberapa tempat dilakukan pula pada saat
acara muludan.

Adaptasi budaya

Adaptasi orang Sunda terhadap Islam di dalam kesenian ini, terlihat
pula dari adanya upaya-upaya untuk memberikan nuansa Sunda kepada
Islam itu sendiri. Untuk bangunan mesjid misalnya, di tatar Sunda pada
awalnya banyak yang tidak mengikuti gaya arsitektur mesjid yang umum
(gaya Timur Tengah) seperti dalam bentuk kubah (momolo), pintu masuk,
mihrab, dsb. Di tatar Sunda sendiri banyak bentuk masjid yang khas
sesuai dengan gaya arsitektur setempat. Di antaranya bentuk bangunan
Masjid Agung Bandung zaman dulu âyang terkenal dengan "bale
nyungcung"-nya.

Untuk bidang tarik suara, upaya untuk membumikan Islam di tatar Sunda
dapat terdengar dari irama lagu surat Alikhlas pada acara tahlilan
atau ketika melafazkan "wa'fu anna waghfirlana warhamna"âjuga pada
tahlilan. Kedua irama lagu tersebut, jelas-jelas tidak termasuk ke
dalam qiroah sab'ah dan tidak ditemukan di daerah-daerah lain. Hal
yang sama dapat terdengar pula pada irama lagu takbiran (walilat) atau
irama azan yang bernuansa beluk.

Kebalikan dari itu, ada pula upaya-upaya untuk "mengislamkan"
berbagai kesenian Sunda. Untuk tembang Cianjuran, di antaranya ada
yang melakukan perubahan rumpaka dari "Pun ampun ka Sang Rumuhun//Ka
Batara nu ngayuga//Ka Batari nu ngajagi" menjadi "Pun ampun ka nu Yang
Agung//Ka Pangeran (Ka Allah) anu Ngayuga//Ka Gusti anu ngajagi (Ka
Gusti Robbul Idzati)."

Pada ngarajah atau sawer, nuansa Islam terdengar di antaranya dengan
diucapkannya "Astaghfirullohal 'adzim" pada bubuka sawer dan "Amin Ya
Robbal Alamin mugi Gusti nangtayungan" pada akhir lagu (rajah dan
sawer).

Ngadulag juga bisa disebut sebagai proses pembumian Islam di tatar
Sunda dan di Indonesia pada umumnya, karena di daerah asalnya Islam,
tidak ditemukan ditemukan bedug dan kohkol.

Khotimah

Apa yang dikemukakan di atas, bisa jadi hanyalah sebagian kecil saja
dari berbagai kesenian Sunda yang bernuansa Islam. Sudah barang tentu
masih banyak lagi, seperti misalnya "seni" main bola api yang ada di
pesantren-pesantren, jangjawokan, dsb. Sebagai kekayaan budaya,
jenis-jenis kesenian tersebut idealnya dapat terus dipertahankan atau
minimal bisa diinventarisasi. Hanya saja, agar tidak memunculkan
kesalahfahaman interpretasi yang bisa menjurus kepada stigmatisasi
(misalnya bidah atau bahkan musyrik), perlu kiranya dibuat kesepakatan
di dalam pemilahan, mana yang masuk ke dalam ranah kesenian dan mana
yang masuk ke ranah ritual keagamaan. Wallahu'alam.***

Penulis, Penikmat kesenian, tinggal di Paris.

-- 
kumi


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke