Hatur nuhun kang kana tanggapan emailna.
Abdi urang Sunda pituin, tapi punten abdi badi nyerat ku bahasa Indonesia...
Saya 'menemukan' identitas bahwa saya orang Sunda justeru ketika sekolah di tanah  Jawa.  Saya belajar sejarah dan ilmu sosial-humaniora lain, berinteraksi dengan kawan-kawan dari hampir semua etnis di Indonesia. Dari sanalah saya menemukan wacana 'Sunda' dalam bentuk dan pengertian yang paling telanjang. Dan saya coba teorisasikan pengalaman saya itu ke dalam skripsi saya yang alhamdulillah lulus Agustus 2005. Dalam skripsi itu saya mencoba meneorisasikan apa yang saya sebut 'Islam-Sunda'. Tapi email sekarang ini tampaknya bukan waktu yang tepat untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang hal itu.

Tapi point-nya adalah: pertanyaan saya adalah semacam oto-kritik. Saya coba refleksikan kenapa orang Sunda tidak pernah menduduki tempapt yang memadai dalam wacana ke-Indonesia-an. Ini adalah tafsir saya. Artikulasi tentang Sunda amat terbatas, kadang berwatak inward-looking. Mengapa kita merasa sedih, bahkan marah, ketika ada orang yang bertanya tentang eksistensi Sunda pada hari ini?

Sakitu heula kang,
nuhun,

Amin
 


Blab-away for as little as 1ยข/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice.


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke