ieu tulisan kenging ngorowot ti Forum KOMPAS jawa barat, nu ku kuring
ditembalan...


  * Sabtu, 25 November 2006 *

Forum
"Ngarunjat" Eksistensi Sunda

  *Oleh Encep Dulwahab*

Pemberitaan Kompas (Jumat, 8 September 2006) menarik untuk dikupas lebih
dalam. Mengembalikan eksistensi Sunda. Demikian isi berita tersebut, yang
seolah-olah ingin mengatakan orang Sunda sudah kehilangan jati diri dan
"jenis kelaminnya" mengingat miskinnya orang Sunda yang eksis di kancah
nasional dan internasional. Mereka lebih banyak berkutat di kancah lokal
atau domestik.

Bukan hanya itu. Banyak fenomena yang menganggap orang Sunda kalah dalam hal
apa pun. Gaya hidupnya seolah-olah tidak mau maju dan tidak siap bersaing
dengan orang lain. Hal itu bisa terlihat dari Kota Bandung atau
daerah-daerah Sunda lain yang didiami penghuni luar Sunda.

Memang bukan omongan tanpa bukti yang hanya sekadar prediksi atau apriori.
Fenomena terkalahkannya orang Sunda dengan para pendatang bisa dilihat di
berbagai sektor yang berada di struktur dan fungsional pemerintahan dan
lembaga-lembaga strategis lainnya di Jawa Barat. Lebih pasnya di Kota
Bandung.

Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat terhadap
kecenderungan dan karakteristik penduduk di Jawa Barat, misalnya,
menunjukkan, penduduk migran (pendatang) yang bekerja di sektor jasa
mencapai 34,38 persen, sedangkan penduduk nonmigran (penduduk asli) hanya 18
persen.

Pada sektor industri, pekerja migran sebanyak 22,97 persen, sedangkan
penduduk nonmigran hanya 10,20 persen. Begitu pula di sektor perdagangan,
sebanyak 15,92 persen pekerjanya adalah penduduk migran dan 15,68 persen
adalah nonmigran.

Data ini menguak kenyataan, lapangan pekerjaan di sektor jasa, industri, dan
perdagangan di Jawa Barat didominasi penduduk migran. Sementara pekerjaan di
sektor pertanian, angkutan, dan lainnya lebih banyak dilakukan penduduk
asli.

Tidak hanya dalam lapangan pekerjaan, bidang politik pun ternyata tak
serta-merta menggambarkan derajat keterwakilan otomatis terhadap etnis
Sunda. Meski mayoritas dari sekitar 40 juta rakyat Jabar bersuku Sunda,
ternyata jumlah anggota DPRD Jabar tidak sampai setengahnya yang benar-benar
berasal dari etnis Sunda.

*Coba keluar *

Data-data yang menginformasikan eksistensi kesundaan membuat orang Sunda
ketir-ketir. Ironis. Penduduk asli termarjinalkan di tanahnya sendiri. Sunda
yang menjadi minoritas di tanah sendiri menjadi polemik hangat di tengah
para pencinta dan merasa orang Sunda. Padahal, biasanya wacana seperti ini
mencuat ke permukaan ketika menjelang Pemilu.

Dengan kondisi seperti ini, barulah muncul kesadaran akan pentingnya
pengakuan eksistensi diri. Di sana sini didengungkan pentingya pribumi atau
putra daerah yang menjadi tuan, jangan sebaliknya. Isu ini beriringan dengan
gencarnya otonomi dan setiap kali diselenggarakannya pemilihan pemimpin dan
wakil rakyat. Namun, fakta bicara lain. Buktinya, banyak di antara mereka
yang menjadi pejabat dan menduduki kursi adalah nonpribumi.

Bisa jadi hal ini disebabkan orang pribumi merasa cukup dengan apa yang
didapatkannya, dan bisa bertahan di daerahnya sendiri. Tidak keueng karena
di sana sini ada saudara sedaerah. Muncullah budaya kesukuannya. Sementara
kenapa orang luar lebih maju. Sebab, mereka merasa hidup di daerah orang
lain. Maka, vitalitas dan jerih payah dalam menopang hidupnya pun harus dua
kali lipat dibandingkan dengan pribumi.

Semangat inilah yang tidak dimiliki orang lokal, bukan hanya orang Sunda.
Kita tahu bagaimana kemelut yang terjadi antara suku Madura dan Dayak. Salah
satu pemicunya karena kesenjangan ekonomi. Suku Madura lebih sejahtera
dibandingkan pribumi. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Bukti lainnya lagi, orang Sunda yang berdomisili di luar daerah kesundaan
akan lebih terlihat berhasil dengan memangku berbagai jabatan. Kebanyakan di
antara orang Sunda lebih menyukai tinggal di daerahnya sendiri dibandingkan
merantau ke luar Sunda. Sebut saja orang Medan dan orang Jawa yang sukses
"beredar" di luar kekuasaan secara geografis. Maka, tidaklah heran jika
mereka lebih siap dalam mempertahankan kehidupan biar lebih survive.

Tidak salah kiranya jika orang Sunda juga keluar dari tanah kelahirannya
untuk menunjukkan bahwa orang Sunda juga bisa bersaing dengan orang lain.
Atau, anggaplah sekarang ini sedang berada di suatu daerah yang dihuni bukan
orang Sunda. Ini untuk memicu semangat agar terbiasa untuk kerja keras.
Jangan senantiasa berharap sumbangan atau pemberian bantuan dari orang lain.
Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.

*Ubah kebiasaan *

Jika mengaca pada sejarah perjalanan Kota Hiroshima dan Nagasaki, sekiranya
Jawa Barat dan orang Sunda bisa membangun kembali kejayaan dan peradaban di
kancah nasional, bahkan internasional. Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur,
tetapi bisa bangkit berkat penguatan budaya lokal dengan mengadopsi ilmu dan
pelajaran dari luar.

Jepang dan India kiranya dua negara yang kuat dalam memegang tradisi. Kita
tahu Jepang merupakan satu-satunya negara Asia yang bisa bersaing dengan
negara-negara adidaya. Dalam bidang apa pun, mereka tetap menjadi pesaing
permanen, bahkan sangat ditakuti Amerika dalam hal teknologi.

Tidak jauh berbeda juga dengan India. Meskipun secara ekonomi dan teknologi
tidak sepesat Jepang, India memiliki sesuatu yang patut dibanggakan dan
tidak sedikit di antara beberapa negara lain mengimpor produknya, apalagi
kalau bukan produksi film-filmnya.

Kedua negara ini layak kita tiru dalam penguatan budaya lokal. Meskipun otak
dan ide ke berbagai negara, prinsip dan komitmen tetap lokal. Orang berpikir
think globally, but act locally. Jadi, tirulah kemajuan-kemajuan dari luar
daerah tanpa menghilangkan atau menghapuskan kesundaan di setiap benak orang
Sunda. Sebab, itu akan menjadi penguat dalam jati diri.

Kalau dicermati, orang Sunda itu lemah dalam hal penguatan diri. Sementara
di sisi lain kuat dalam akulturasi. Ketika melihat budaya lain hebat,
langsung diadopsi dan melekat tanpa memperkuat budaya yang pernah
didapatkannya, seperti bahasa, pakaian, dan model.

Sudah langka orang Sunda memakai kostum kesundaannya, kecuali dalam acara
hajatan.

ENCEP DULWAHAB *Pengamat Budaya *

--
geocities.com/mangjamal

Kirim email ke