ti milis tatanggi.... manawi teu acan di FW.... mangga....


Majalah TEMPO Edisi. 38/IX/28 April - 04 Mei 2008

Amien Rais : Ahmadiyah Punya Hak Hidup

Karut-marut persoalan Ahmadiyah memasuki babak baru. Dua pekan lalu, 
Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat 
menerbitkan rekomendasi bahwa organisasi keagamaan yang telah ada di 
bumi Nusantara sebelum Republik berdiri itu menyimpang dari Islam 
dan diminta menghentikan kegiatannya.

Sebuah surat keputusan bersama–disiapkan oleh Jaksa Agung, Menteri 
Dalam Negeri, dan Menteri Agama—sedang digodok untuk menindaklanjuti 
rekomendasi tersebut. Ada kabar, bakal keluar larangan bagi 
Ahmadiyah menyebarkan ajarannya di Indonesia.

Di sisi lain, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung 
Nasution, dengan tegas membela Ahmadiyah. Pengacara berambut perak 
itu menyebut pelarangan Ahmadiyah melanggar Undang-Undang Nomor 39 
Tahun 1939 tentang Hak Asasi Manusia sekaligus Undang-Undang Nomor 
12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional mengenai hak 
sipil dan politik yang menjamin dan melindungi warga negara dalam 
beribadah dan berkeyakinan.

Di tengah pro-kontra yang kembali bergulir, bekas Ketua Umum 
Muhammadiyah Amien Rais menawarkan jalan tengah mengatasi persoalan 
Ahmadiyah. Ia mengusulkan agar Ahmadiyah dilarang menyebarkan 
ajarannya secara terbuka, tapi masih boleh secara tertutup. Dan hak 
hidup mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus dijaga.

Senin malam pekan lalu, di tengah kesibukannya menerima tamu dan 
bersiap menunaikan ibadah umrah, Amien Rais menerima Nugroho 
Dewanto, Grace S. Gandhi, dan Budi Riza dari Tempo di rumahnya di 
kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, untuk wawancara khusus. Berikut 
ini petikannya.

Menjelang peringatan sepuluh tahun Reformasi, salah satu komponen 
bangsa, yaitu Ahmadiyah, dianggap menyimpang dan direkomendasikan 
untuk menghentikan kegiatannya. Padahal, di masa Orde Baru saja, 
mereka bisa hidup damai.…

Di zaman Orde Lama, mereka juga bisa hidup tenang. Saya mencium ada 
kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intel untuk 
memperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat. Munculnya 
masalah Ahmadiyah seperti konflik Islam-Kristen di Ambon dulu yang 
amat mengejutkan, karena sebelumnya tidak pernah terjadi. Padahal 
hubungan harmonis antara penganut Islam dan Kristen di sana tadinya 
selalu menjadi contoh kebanggaan nasional. Ketika berkunjung ke luar 
negeri, sering kali kita menyebut bahwa Pancasila telah memungkinkan 
anak-anak bangsa yang berbeda agama bisa bekerja sama secara 
harmonis dan rukun. Tidak ada pertentangan, apalagi sampai 
konfrontasi fisik.
Mengapa Anda menyebut siluman? Bukankah organisasi yang menentang 
Ahmadiyah jelas, seperti Forum Umat Islam?

Itu kan organisasi yang muncul. Yang muncul jelas konkret. Bagian 
dari umat Islam. Tapi yang merekayasa ini harus dicari.
Apakah Anda mendapat informasi intelijen soal kelompok siluman ini?

Tidak ada sama sekali. Tapi kriminalisasi dan demonisasi Ahmadiyah 
ini sebuah rekayasa politik dan psikologi massa. Ini musibah. Umat 
Islam harus hati-hati.
Sudah berapa lama Anda mengenal Ahmadiyah?

Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak saya kecil. Ketika saya masuk 
Universitas Gadjah Mada pada 1962, saya lihat beberapa tokoh 
universitas ada yang menjadi penganut Ahmadiyah. Yang terkenal itu 
Doktor Ahmad Djojosoegito. Mereka juga punya sekolah teknik menengah 
dan sekolah menengah atas di Yogyakarta.
Selama ini masyarakat tidak ada masalah dengan mereka?

Sama sekali tidak ada. Mengapa dalam dua tahun terakhir ini 
diributkan? Kalau Ahmadiyah dikatakan menyimpang dari akidah Sunni, 
sejak lahirnya, ya, sudah menyimpang. Ahmadiyah Qadian ataupun 
Lahore menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Imam Mahdi.
Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat telah 
merekomendasikan Ahmadiyah menghentikan kegiatan mereka....

Saya menyayangkan mengapa badan itu ketika membuat rekomendasi tidak 
sekaligus melarang umat Islam melakukan kekerasan atau merusak 
masjid atau kantor milik Ahmadiyah. Perusakan itu perbuatan yang tak 
islami. Kalau ada rekomendasi itu, mungkin orang-orang yang mau 
melakukan kekerasan akan berpikir dulu. Rekomendasi itu tidak bijak 
karena tak melihat implikasi sosial, politik, psikologi, dan 
keagamaan dari yang direkomendasikan.
Sekarang pemerintah sedang menggodok surat keputusan bersama tentang 
Ahmadiyah. Apa implikasinya jika Ahmadiyah harus dilarang?

Kalau dilarang akan menjadi preseden yang luar biasa. Kapan-kapan 
kalau ada sebuah sekte muncul dan tidak sesuai dengan selera serta 
pandangan keimanan mainstream, kembali akan dihajar, dengan diktum 
sebagai aliran sesat dan ramai-ramai akan dikeroyok massa. Masalah 
ini sudah masuk ke wilayah yang amat sangat rumit dan sensitif, 
sudah karut-marut. Tapi tampaknya pemerintah seolah-olah tidak tahu.
Maksudnya?

Mengapa tiba-tiba Ahmadiyah dijadikan sasaran? Apalagi melibatkan 
aksi massa yang melibatkan ribuan orang dan well-organized. Ini 
menimbulkan tanda tanya. Saya curiga persoalan ini sengaja 
dimunculkan supaya masyarakat lupa akan persoalan kenaikan harga 
bahan pokok, dari kegagalan pemerintah mengatasi kondisi 
infrastruktur yang sudah hancur-hancuran. Supaya masyarakat lupa 
akan kenyataan bahwa pemerintah ini sudah broken government.
Anda curiga pemerintah berada di balik aksi anti-Ahmadiyah? Kalau 
benar, bukankah kekerasan ini membuat citra pemerintah menjadi jelek 
menjelang pemilihan umum?

Saya kira ini tidak langsung berhubungan dengan pemilihan umum. Tapi 
di mana pun, pemerintah yang sedang anjlok citranya karena tidak 
bisa mengatasi masalah mendasar yang dihadapi rakyatnya biasanya 
menjadi kreatif dan inovatif menciptakan isu yang tahan agak lama.
Tujuannya?

Untuk memalingkan perhatian masyarakat dari pengangguran yang 
membengkak, kelaparan, dan kesengsaraan. Dulu Bung Karno mengganyang 
Malaysia. Padahal Malaysia tidak ada salahnya. Tiap hari pawai, 
sampai lupa inflasi sudah 900 persen. Lupa bahwa di desa atau di 
kota sudah ada orang yang makan tikus bakar. Rakyat jadi asyik 
masyuk dengan konflik dan melupakan, bukan sejenak-dua jenak, tapi 
cukup lama kesusahannya. Saya bisa saja keliru, tapi saya mengamati, 
pemerintah yang bingung kadang mencari isu yang mengalihkan 
perhatian masyarakat.
Bagaimana sesungguhnya sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah?

Coba tanya ke gajah-gajahnya organisasi Islam, yaitu Nahdlatul Ulama 
dan Muhammadiyah. Saya kira mereka tak setuju dengan cara seperti 
ini. Walau di Badan Koordinasi itu ada orang Nahdlatul Ulama atau 
Muhammadiyah, kalau Hasyim Muzadi atau Din Syamsuddin ditanya, saya 
kira keduanya tak akan setuju dengan kekerasan terhadap Ahmadiyah.
Dari segi agama, bagaimana semestinya menyikapi Ahmadiyah?

Bagi orang yang membaca Al-Quran, sudah jelas sekali. Tiap anak-cucu 
Adam punya hak sepenuhnya untuk menganut agama yang dia pilih. Anak 
kecil juga hafal surat Al-Kafirun: lakum dinukum waliyadin, bagimu 
agamamu, bagiku agamaku. Ini mengajari kita semua supaya ada 
koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama berbeda. Dalam Al-
Quran juga dikatakan, "Barang siapa ingin kafir, silakan kafir. 
Barang siapa ingin beriman, silakan beriman."
Jadi tidak ada paksaan dalam beragama?

Yang paling penting, tidak ada paksaan dalam beragama. Saya membaca 
tarikh Nabi, beliau tidak pernah mengajari supaya sekte yang 
dianggap menyimpang dibasmi dengan kekerasan. Orang kafir juga harus 
dilindungi karena punya hak hidup.
Konstitusi kita juga menjamin kebebasan orang beribadah?

Ya, itu jelas sekali. Jadi Tuhan sang Maha Pemurah dan pencipta 
langit dan bumi telah menciptakan keragaman. Ya, sudah.
Secara politik, apa sebenarnya yang dikhawatirkan dari Ahmadiyah?

Ahmadiyah bukan gerakan politik. Bahkan istilah jihad di tangan 
Ahmadiyah jadi melempem. Buat mereka, jihad berarti berdakwah saja. 
Jadi keliru kalau ada yang menganggap Ahmadiyah akan mengembangkan 
negara syariah. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya 
bicara tentang ajaran Islam, akhlak, dan ekonomi.
Bagaimana profil orang Ahmadiyah?

Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan 
Madinah, juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak 
jenderal angkatan laut, darat, dan udara di Pakistan orang 
Ahmadiyah. Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang 
Ahmadiyah. Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, 
kalau mau jujur, yang menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-
orang Ahmadiyah lewat stasiun televisi dan stasiun radio.
Mungkinkah persoalan Ahmadiyah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat, 
karena ada partai yang kencang mendukung pelarangan Ahmadiyah?

Saya yakin sekali tidak akan sampai ke Dewan. Kalau mengharapkan 
Dewan memvonis Ahmadiyah, itu mission impossible.
Mengapa?

Saya agak paham peta di Dewan. Membuat semua anggota Dewan yang 
fraksinya berbeda-beda mengompori pemerintah agar melarang 
Ahmadiyah, itu tidak terbayangkan. Unthinkable. Ya, mungkin ada satu-
dua fraksi yang ingin melarang Ahmadiyah. Tapi, berdasarkan 
pengalaman saya, Dewan akan selalu kembali ke titik tengah. Tidak 
mau diajak ekstrem.
Bagaimana sebaiknya jalan tengah untuk Ahmadiyah?

Sekalipun Ahmadiyah dianggap aliran yang menyimpang dari tradisi 
Sunni, di luar mazhab Hambali, Maliki, Hanafi, Syafei, hak hidup 
mereka harus dihormati. Itu konsekuensi dari konstitusi kita. Nah, 
jalan tengahnya, Ahmadiyah dilarang menyebarkan secara terbuka 
keimanannya, secara tertutup bolehlah. Tapi, karena mereka bagian 
dari tubuh bangsa Indonesia, boleh tetap ada. Wong jadi komunis juga 
boleh, kok.
Bagaimana dengan tuntutan agar Ahmadiyah diminta keluar dari Islam?

Enggak betul itu. Yang punya Islam itu Allah. Saya meratapi mengapa 
sepertinya benang emas Quran itu dilupakan. Kalau kita kembali ke 
Quran, kita kan disuruh menyeru kepada kebenaran, kepada agama Allah 
dengan cara yang baik, kearifan, mujadalah yang indah, debat yang 
sejuk, wonderful. Tidak ada dalam Al-Quran menyuruh mengepalkan 
tinju dan memburu orang yang berbeda pendapat. Saya setuju 
pernyataan Din Syamsuddin: "Jangan paksakan Ahmadiyah keluar dari 
Islam." Sebab, mereka memang tidak mau. Mereka merasa Islam.
Bagaimana bila Ahmadiyah akhirnya dilarang, masjid-masjidnya ditutup?

Itu akan membuat Indonesia jadi negara yang sangat tidak simpatik.
Apa yang akan Anda lakukan?

Ya, saya tidak setuju saja. Wong saya cuma rakyat biasa.
Siapa yang untung dengan karut-marut persoalan Ahmadiyah?

Yang untung yang tidak senang Indonesia tenteram.

Amien Rais

Tempat dan Tanggal Lahir: Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1944

Pendidikan:


Lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah 
Mada, 1968

Student fellow di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, 1968-1969 l 
Meraih gelar master di Universitas Notre Dame, Indiana, 1974

Meraih PhD bidang ilmu politik di Universitas Chicago, 1984 l 
Mengikuti program Post-Doctoral Universitas George Washington, 
Washington, DC, 1988

Karier:


Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1995

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, 1999-2004

Menjadi salah satu kandidat presiden pada Pemilihan Umum 2004

Kirim email ke