Dimuat Kompas Jawa Barat rubrik Anjungan,

Sabtu 26 April 2008

 

 

"Siger Tengah", Jalan Politik Sunda?

 

Dalam Kamus Basa Sunda RA Danadibrata, siger diartikan sebagai sejenis
mahkota untuk perhiasan kepala pengantin atau wayang wong. Ini merupakan
simbol bagi seseorang yang tengah melaksanakan upacara sakral, hidup menyatu
dengan pasangan. Ini juga berarti meletakkan kearifan, kehormatan, dan sikap
bijak sebagai hal pokok yang harus dijunjung tinggi.

 

Oleh Jamaludin Wiartakusumah

 

 

Makna umum siger tengah dalam kehidupan sehari-hari adalah memosisikan sikap
diri untuk berada di tengah. Dalam politik, itu berarti berada di tengah
konstelasi atau katakanlah pertarungan tarik-menarik kepentingan beragai
pihak. Berada di tengah tentu saja menjaga sikap untuk menjaga keseimbangan
dan jarak dengan semua pihak.

            Makna lain ungkapan itu adalah sikap moderat dan demokratis.
Sikap ini bukanlah sikap netral bila netral diartikan tidak ikut campur atau
tidak berpihak, yang berarti berada di luar atau tidak terlibat pelbagai
masalah yang ada. Berada di tengah tidak untuk menjadi yang paling enak,
tetapi yang paling mampu mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Dalam
konteks lain, berada di tengah juga memungkinkan mengambil sikap dan
kebijakan terbaik yang dihasilkan dari pertentangan atau gagasan yang
muncul.

            Sejarah perjuangan politik republik telah menampatkan
Sunda-geografis dan manusianya- langsung di tengah kancah perjuangan. Dan,
ketika republik ini merdeka, ia menjadi latar bagi berbagai peristiwa
politik di Ibu Kota. Barangkali karena memosisisikan diri siger tengah,
kehadiran tokoh Sunda berbeda gaungnya dengan politisi dari wilayah budaya
lain. Uniknya, ketika muncul, mereka mampu menghasilkan keputusan gemilang
meskipun kemudian tidak banyak yang nabeuh.

            Misalnya, di tengah sidang untuk menentukan siapa yang pantas
menjadi Presiden RI pertama, Otto Iskandardinata langsung menyebut nama Ir.
Soekarno dan semua peserta rapat setuju. Ketika Ir. H. Djuanda mulai menjadi
perdana menteri, Indonesia sedang muriang dan hareudang. Muncul
pembangkangan dan pemberontakan daerah akibat kebijakan Jakarta yang
dianggap merugikan daerah.

            Dengan pendekatan khas siger tengah, pemberontakan dapat
dipadamkan, tetapi tanpa memarginalkan pelakunya. Hal ini justeru kemudian
dilakukan rezim Orde Baru pada mereka yang mencoba mengoreksinya. Siger
tengah juga dapat berarti terus keukeuh berada di tengah perjuangannya.

            Contoh yang akan terus dikenang adalah Ali Sadikin karena
keukeuh dengan sikapnya demi Jakarta, dan lalu Indonesia, yang lebih baik.
Ayip Rosidi pun keukeuh memperjuangan bahasa ibu Nusantara harus hidup layak
di kampung halaman masing-masing.

            

Trias Politika Sunda

            Sikap siger tengah tecermin dalam pola pembuatan kebijakan model
Sunda lama. Dalam naskah Sunda kuno terdapat tiga elemen utama suatu negara
atau pemerintahan, yaitu rama, resi dan prabu. Rama adalah ayah atau
orangtua yang dalam konteks nasional sangat boleh jadi semacam tokoh yang
populer disebut "guru bangsa". Resi adalah penasihan spiritual atau tokoh
yang memikirkan segi moral atau etika dari suatu kebijakan yang akan dibuat,
sedangkan prabu adalah pelaksana kebijakan atau eksekutif.

            Ketiganya berada dalam posisi sejajar dan setiap kebijakan yang
dibuat merupakan keputusan bersama. Ketiga elemen ini tampaknya senantiasa
menghasilkan kebijakan yang mengacu pada sikap tengah, yaitu untuk kemajuan
sebanyak mungkin penduduk di sebanyak mungkin wilayah. Kebijakan itu lahir
dari tengah yang menyebar luas ke segala penjuru.

            Dalam alam demokratis sekarang, peran ketiga elemen itu dapat
diakomodasi oleh pemerintahan tingkat apa pun. Caranya, antara lain,  setiap
kebijakan penting yang dibuat, selain merupakan hasil kompromi perwakilan
rakyat dan gubernur, juga adalah hasil masukan dari dua kategori kualitas
(rama dan resi). Tentu saja dalam pengertian modern mereka adalah para pakar
di bidang yang terkait dengan arah atau spesifikasi kebijakan yang dibuat.
Model ini tampaknya sudah mulai berjalan meskipun masih bermuatan
kepentingan politik tertentu.

            Dari segi pelaksanaan barangkali model ini menyita waktu, tetapi
manajemen waktu yang ketat dan semangat Sangkuriang akan menghasilkan
kebijakan yang benar-benar matang. Sebab, kebijakan yang gurung-gusuh dan
tambal sulam sering tidak cukup menyelesaikan masalah. Lihatlah program
bantuan langsung tunai (BLT). Kita melihat di televisi, orang-orang kurang
mampu-sebagian besar orang tua- berdesakan antre di depan loket. Sebagian
sampai pingsan. Pendekatan siger tengah adalah mengirimkan BLT melalui
petugas yang mengantarkan kepada setiap penduduk di setiap wilayah, bukan
penduduk yang harus berimpitan antre. Dengan begitu, martabat manusia
Indonesia yang kurang beruntung secara ekonomi pun tetap dijaga.

            

Wibawa Pemerintah

Bila dengan ganti gubernur masalah yang dihadapi masih tetap itu-itu juga,
apalagi dengan kuantitas dan kualitas yang sama atau malah lebih buruk,
miliran rupiah uang rakyat yang dihabiskan untuk penyelenggaraan "pesta
demokrasi" tersebut menjadi cenderung mubazir. Dalam hal ini perlu juga
hitungan dagang. Dana miliaran rupiah yang dipakai untuk memilih pemimpin,
siapapun yang terpilih, tidak hanya membuat "balik modal", tetapi harus
dapat menghasilkan kondisi rakyat yang lebih baik.

            Saya kira visi Jawa Barat ke depan tidak harus muluk seperti
menjadi provinsi termaju. Kemajuan seharusnya sudah sesuai standar
pencapaian karena tugas manajemen adalah membuat kemajuan, bukan hanya tugas
rutin birokrasi. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan mesin
kemajuan yang lebih canggih dan dapat mengolah elemen yang ada untuk
meningkatkan kesejahteraan warga. Mesin kemajuan itu adalah penguatan budaya
atau pembangunan mental manusia. Bagian penting atau tengah dari pembangunan
adalah membangun manusianya dengan dukungan teladan pejabat.

            Kewibawaan pemerintah model siger tengah tidak didukung
fasilitas mahal model feodal, sementara rakyat di pelosok harus menjalani
hidup dengan susah payah. Kewibawaan pemerintah siger tengah yang demokratis
berada pada kebijakan yang mampu membuat rakyat sejahtera, meningkatkan
kualitas hidup dan  generasi muda memperoleh pendidikan bermutu untuk
menjamin masa depan bangsa.

            Sikap siger tengah juga harus menjadi dasar sikap politik warga
Jawa Barat yang sesungguhnya sebangun dengan sistem politik demokrasi dengan
karakter pemimpin dan aparat yang akomodatif serta membela kepentingan orang
banyak, dengan konsekuensi mampu melahirkan kesejahteraan untuk semua. Bila
mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pernah melontarkan semboyan
it's economy, stupid! Barangkali di Jawa Barat semboyan itu adalah hudang,
euy!

 

Jamaludin Wiartakusumah

Dosen Desain Itenas Bandung

 

 

Kirim email ke