http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/11/25/o3.htm


Tingkatkan Subsidi Pendidikan
Drs. I Komang Sudiana  


KETIKA dideklarasikan pada tahun 1994, Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 
Sembilan Tahun ditargetkan tuntas pada tahun 2003/2004 dengan Angka Partisipasi 
Kasar (APK) SMP mencapai 95%. Namun akibat krisis ekonomi dan krisis 
multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997, target tersebut tidak 
dapat tercapai. Penuntasan wajib belajar 9 tahun mundur menjadi tahun 
2008/2009. 

Demikian pula yang terjadi di Bali, kini ratusan ribu anak usia sekolah tidak 
tertampung di sekolah formal, terutama pada jenjang pendidikan SMA/SMK dengan 
berbagai alasan. Angka Partisipasi Murni (APM) untuk tingkat SMP di Bali 
sebesar 72,71% memang melampaui rata-rata APM nasional, tetapi tidak terlalu 
membanggakan karena kantong-kantong APM rendah banyak terkonsentrasi di 
daerah-daerah pedesaan di beberapa kabupaten di Bali, seperti Karangasem, 
Buleleng, Bangli dan Klungkung (baca: Nusa Penida). Itu berarti belum terjadi 
pemerataan layanan pendidikan di propinsi yang gemerlap dengan aktivitas 
pariwisata ini.

Pendidikan Alternatif

            Sebetulnya pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Lanjutan 
Pertama Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengupayakan 
berbagai alternatif dalam mengimplementasikan program wajib belajar sembilan 
tahun, selain membangun unit sekolah baru atau ruang kelas baru. Ada beberapa 
upaya alternatif. Pertama, SMP Terbuka. Sampai saat ini SMP Terbuka masih 
merupakan salah satu pendidikan alternatif yang diharapkan mampu menampung 
tamatan SD, yang karena menghadapi berbagai kendala, seperti kondisi sosial 
ekonomi yang lemah, letak geografis yang sulit, kelangkaan transportasi dan 
keterbatasan waktu karena harus membantu orang tua bekerja sehingga mereka 
tidak mungkin mengikuti pendidikan secara reguler di SMP terdekat, meskipun 
lokasinya relatif tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Kedua, retrieval. Program ini merupakan upaya mencari siswa putus sekolah usia 
13 - 18 tahun dan yang tidak melanjutkan, kemudian membantu mereka supaya dapat 
bersekolah lagi dan memberikan dukungan sampai berhasil lulus SMP dan 
memperoleh STTB.

Ketiga, SD-SMP Satu Atap. Program terbaru ini dikembangkan seperti halnya SMP 
Terbuka, bertujuan untuk memperluas dan meratakan layanan pendidikan dasar pada 
daerah terpencil, terisolasi dan terpencar. Lulusan SD di daerah-daerah 
tersebut biasanya relatif sedikit sehingga pembangunan unit sekolah baru 
dipandang tidak efisien.

Program pendidikan alternatif yang disebutkan terakhir itu merupakan terobosan 
terbaru dalam meninggikan APM di bidang pendidikan. Sedangkan SMP Terbuka 
dirasakan masih ada kekurangan-kekurangan terutama dalam sistem pembelajarannya 
yang lebih banyak menggunakan modul dan belajar mandiri, sehingga sering 
mengalami kelesuan dalam pelaksanaannya. Untuk itu perlu dicarikan 
strategi-strategi tertentu dalam penyegaran atau penggairahan kembali. Hal ini 
dilakukan karena menyadari masih belum optimalnya kualitas pendidikan SMP 
Terbuka. Strategi penyegaran tersebut di antaranya diadakan pelatihan atau 
pembinaan pengelolanya (kepala sekolah, guru bina dan guru pamong). Mengatur 
pola pembelajaran yang intensif dengan mengaktifkan sistem guru kunjung, di 
samping kegiatan tatap muka di SMP induk secara berkala atau terjadwal. Bantuan 
tambahan biaya operasional  SMP Terbuka dari pemerintah daerah (pemkab) terus 
diharapkan, sehingga kinerja pengelola akan selalu meningkat. Itu berarti pihak 
pemkab tidak boleh menutup mata atau memandang sebelah mata terhadap keberadaan 
SMP Terbuka tersebut. Karena sesungguhnya SMP Terbuka masih sangat diperlukan 
sampai saat ini, dan tidak jarang pula lulusannya mampu bersaing dengan lulusan 
SMP reguler. 

Sebaik apa pun niat dan upaya pemerintah, tetap berpulang  pada kesadaran 
setiap orang untuk melaksanakannya. 

Penulis, guru SMPN 5 Nusa Penida


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke