Kalau dalam terjemahan Depag, ayat pertama diartikan, "Karena kebiasan orang2 Quraish".
Bagi penulis, terjemahan Depag ini sulit untuk dimengeri. Yang mudah dimengeti bagaimana? "Li" dapat diartikan "untuk". Sedangkan "Iilafi" dapat diartikan menundukkan atau mengatasi. Bukan dalam arti menundukkan pandangan, tapi mirip kalau kita melihat anak2 kita tunduk pada orang tuanya maka kita akan menjadi senang. Sehingga ayat pertama tersebut dapat diartikan, "Untuk menyenangkan bangsa Quraish". Terjemahan ini juga masih membingungkan. Sehingga kita perlu membuka tafsir surat sebelumnya (surat al-Fil). Dalam surat al-Fil diceritakan kota Mekkah yang diserang tentara Gajah yang dipimpin Abrahah. Akhirnya tentara Gajah dikalahkan oleh pasukan Ababil. Kemenangan ini membuat kota Mekkah menjadi aman kembali sehingga menyenangkan bangsa Quraish pada waktu itu. Dengan demikian terasa nyambung terjemahan ayat pertama al-Quraish tersebut. Karena hal ini, ada yang berpendapat al-Fil dan al-Quraish ini sebenarnya merupakan satu surat. Apa kesenangan bangsa Quraish? Yaitu melakukan perjalanan di musim dingin maupun di musim panas. Pada saat musim panas mereka ke tempat yang lebih dingin yaitu ke utara (Palestina). Hal ini mirip dengan orang Yogya ketika musim panas mereka ke Kali Urang. Sedangkan pada musim dingin, bangsa Quraish melakukan perjalanan ke daerah yang lebih panas yaitu ke selatan (Yaman). Sehingga ni'mat Alah adalah rasa aman dan mereka dapat melakukan perjalanan yang merupakan kebiasaan mereka tersebut. Perjalanan yang aman akan terasa sangat ni'mat. Sangat beda dgn kondisi bangsa Indonesia saat ini, perjalanan udara orang khawatir (kasus Adam Air), perjalanan laut juga khawatir (kasus KM Senopati), kereta api banyak yang anjlok. Sehingga bangsa Indonesia saat ini merasa tidak aman dan kehilangan keni'matan dalam perjalanan. Lalu arti ayat berikutnya adalah "hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan mereka yang memiliki Ka'bah". Jadi ada ni'mat maka ada konsekuensi yaitu harus menyembah Tuhan. Arti ayat selanjutnya adalah, "(Tuhan) yang memberi makan pada saat mereka lapar dan memberi rasa aman pada mereka". Bahasa Qur'an sangat simpel dan logis sehingga tidak perlu penjelasan yang bertele-tele. Seperti ketika ada pertanyaan, "Siapa ibumu?" jawabannya mudah, "Dia adalah yang menyusui saya". Atau siapa Bapakmu? Dia adalah yang menggendong saya waktu saya masih kecil. Atau ketika ada tamu, kemudian anak kita merasa asing sehingga tidak mau bersalaman, kemudian ketika dijelaskan, "ini... Om yang dulu kasih kamu jajan".. langsung anak kita mendekat dan salaman. Demikian juga bahasa Qur'an.
