Salam kenal juga mba Dewi, saya senang lihat tulisan-tulisannya mba Dewi. Betul 
mba, berbagi ilmu - berbagi pengalaman itu memang wajib hukumnya di milis..:)

Serius lagi...:), idealnya memang saat kita berkomunikasi langsung atau melalui 
tulisan seperti di milis itu bisa saling mencerahkan melalui ilmu atau 
pengalaman yang dialami atau dipunyai anggota-anggotanya. Tapi, dunia ini kan 
penuh keragaman, termasuk anggota-anggota milis. Misalnya ada orang yang merasa 
punya ilmu atau pengalaman banyak sekali dan memandang rendah anggota lainnya, 
ada yang senang ngomentari banyak postingan yang masuk tapi tidak jelas 
maunya-asal komen aja, ada yang kalau ditanya malah muter gak karuan - entah 
memang tidak tahu jawabannya atau memang tidak mau berbagi, kalau tidak mau 
berbagi dan memandang yang lain lebih rendah, ngapain juga ikutan milis seperti 
WM ya? Masuk saja milis satu arah yang modelnya bikin satu tulisan lalu dikirim 
ke moderatornya, bukan milis WM yang penuh dengan dialog antar anggotanya.

Dulu saya juga suka nunggu kalau nanya di milis, tapi lama-lama harus pasang 
keikhlasan juga. Artinya jika kita menuliskan sesuatu di milis yang menurut 
kita bagus atau menarik dan ingin ditanggapi yang lain supaya kita tambah 
pinter tapi ternyata tidak ditanggapi, ya sudah... belum rezekinya. Begitu juga 
ketika kita menanggapi tulisan atau pendapat orang lain dan kita bertanya tapi 
tidak ditanggapi, ya sudah ...belum rezekinya aja..:)

salam maniez..;)
Aisha
--------
>From : Dewi Candraningrum
Mbak Aisha, salam kenal. iya tuh. dulu saya tanya bang Jano ttg relasi 
konstruksi kultural-politis-teologis antara "poligami" dan "pembunuhan husein", 
tak dijawab. kasian yah. yang nanya sampai nunggu terus nih. berbulan-bulan 
lagi. Bukankah berbagi ilmu itu wajib yah. biar sesama saudara tercerahkan.

salam saya mbak,
dewi
---"Aisha" <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
Mba Dewi,
Dulu sebelum memakai nama Jano Ko, bapak ini memakai nama Sutiyoso. Dulu juga 
saya pikir ada hubunganya dengan wayang, saya pikir janaka, tapi kalau tidak 
salah dulu penjelasannya blio itu dari bahasa Jawa, dua kata jano dan kata ko, 
lupa lagi penjelasannya, maaf banyak lupa, mudah-mudahan tidak kena 
alzheimer..;)

Jika mba Dewi bertanya minta penjelasan pak Jano, ingat-ingat komentar mas Dwi 
tentang janokoisme, misalnya jika ada yang bertanya akan ditanya balik atau 
kalau dijawab malah tidak nyambung, atau mungkin seperti nasib teman kita 
lainnya di milis ini yang dari dulu tanya tentang blasphemy, gak dijawab-jawab. 
Tapi siapa tahu, sekarang pak jano mau mencerahkan, ayo pak Jano, silahkan 
menjawab..:)

salam
Aisha
-------
>From : Dewi Candraningrum
Janaka, ada debu Sanskrit dalam namamu, konon Janaka adalah raja Mithila yang 
cerdas dan adiluhung dalam
kitab2 suci leluhur. Upanishad, Vedas, Shastras. Nama sanskrit yang indah dan 
penuh makna. Berputrikan Sita.

Jejak sungai, sang Hindi, yang mengalir dalam nama Janaka, amatlah magis.

Janaka, sebelum saya melihat "keindahan Islam versi Janaka" itu, mohon hamba 
diberi pencerahan, apa hubungan "global warming" dan "the veil"? Relasi 
logisnya bagaimana?

kiranya, mendapat pencerahan,
dewi

p.s.: 
mengapa tak ganti nama jadi "Abu" siapa gitu? Janaka kan penyangga "Shastra", 
Kitab Tertinggi dalam Hindu.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke