Laylat ar-Ragha’ib, Malam Permintaan yang Keramat
Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani
dalam Mercy Oceans Secrets of the Heart
Bismillahir Rohmaanir Rohim
Kita memohon dukungan dari guru kita Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani qs dan
kita memohon pula dukungan dari Allah dan Rasulullah saw. Malam ini adalah
malam yang sangat berharga. Laylat al-Ragha’ib, “Malam Permintaan yang
Keramat,” yang merupakan salah satu malam yang paling penting dalam sejarah
Islam dan bagi seluruh ummat manusia. Ini adalah malam di mana Rasulullah di
transfer dari ayahnya kepada rahim ibunya dan jatuh pada hari Jum’at pertama di
bulan Rajab. Semua yang kalian minta di malam ini akan dikabulkan oleh Allah
demi kemuliaan Nabi Muhammad saw .
Bangsa Arab dan negri-negri Islam lainnya merayakan malam ini dengan
memanjatkan segala do’a kepada Rasulullah, mengingat kembali riwayat hidup
beliau dan mengingat Allah dalam hati, dengan mengunjungi masjid dan tinggal di
sana sampai terbit fajar. Mereka tidak tidur. Sayangnya, di negara ini, tidak
ada yang tahu—khususnya para Muslim—bahwa malam yang paling berharga ini telah
tiba.
Bagaimana Allah swt mendukungmu di negara ini, bagaimana Islam akan tersebar di
negara ini, jika bahkan para Muslimnya saja tidak mengetahui kapan jatuhnya
malam yang sangat berharga ini? Ini adalah malam di mana kalian harus
mengisinya dengan membaca al-Qur’an, mengucapkan Nama-Nama Allah , membaca
riwayat hidup Nabi Muhammad saw, bershalawat kepadanya, dan bermunajat kepada
Allahv. Tiada yang mengetahuinya.
Lihatlah semua masjid, bahkan tidak ada yang berbicara mengenai malam ini.
Bahkan tidak ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah bulan Rajab dan kalian
harus berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Siapa yang berpuasa? Sangat sedikit
orang yang berpuasa dan mengingatnya. Di antara mayoritas Muslim, tidak ada
yang berpikir, tetapi tetap saja mereka ingin menyebarkan Islam di mana-mana.
Bagaimana ini akan terjadi bila kita, ummat Muslim tidak memulainya dengan diri
kita sendiri sebelum berpaling kepada orang lain.
Kita memohon kepada Allah agar mengubah hati ummat Muslim yang mengabaikan
puasa di bulan Rajab dan membuat mereka menghargai bulan ini sebagaimana
layaknya. Di negara kami, dengan seizin Syaikh, kita tidak tidur di bulan ini.
Tadi malam Maulana Syaikh Nazhim merayakan malam ini di Nikosia bersama 500
orang, dengan melakukan shalat, dzikir, memberi ceramah, lalu menyuruh
orang-orang agar pulang ke rumahnya masing-masing untuk melakukan segala macam
shalat dan berdo’a hingga fajar.
Di sini, bahkan tidak ada orang yang berpikir bahwa malam ini berbeda dengan
malam-malam lainnya. Sesungguhnya jika bukan karena malam ini, Islam tidak akan
pernah ada. Cahaya yang telah diciptakan Allah dalam diri Sayyidina Adam AS
terletak di dahi, dan Adam u bertanya kepada Tuhannya, ketika Dia
menciptakannya dan menempatkan ruh ke dalam tubuhnya, “Wahai Tuhanku, lampu apa
ini, cahayanya selalu bersinar di dahiku?”
Dia berkata, “Wahai Adam as, cahaya itu adalah cahaya Nabi dan Rasul-Ku yang
tercinta, cahaya hamba-Ku Muhammad saw. Dari cahaya itu Aku telah menciptakan
kamu. Aku telah menciptakan dia lebih dahulu sebelum Aku menciptakan kamu, dan
Aku tempatkan cahaya itu di kepalamu. Cahaya itu diteruskan kepada Nuh as, dari
Nuh as kepada Ibrahim as, dan dari Ibrahim as kepada Isma’il as, dan seterusnya
sampai pada Rasulullah saw.
Jika bukan untuk Rasulullah saw, Allah tidak akan menciptakan seluruh alam
semesta ini. Ketika Dia memerintahkan kalam untuk menulis, LA ILAHA ILLALLAH,
tidak ada Tuhan selain Allah , kalam itu menulis selama 70.000 tahun dalam
ukuran Allah . Wa ‘inna yawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,”
“Sehari di sisi Tuhanmu adalah 1.000 tahun menurut perhitunganmu” (al-Hajj 47).
Bayangkan rentang waktu selama 70.000 tahun surgawi, akan setara dengan
25.550.000.000 tahun menurut perhitungan manusia, jadi selama itu kalam
menulis.
Ketika kalam selesai menulis, dia berhenti. Allah berkata kepada kalam itu,
“Wahai kalam, tulislah Muhammadun rasulullah.” Kemudian kalam itu menulis lagi
selama 70.000 tahun. Lalu kalam itu bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah orang
yang terhormat ini, Muhammad yang Engkau tempatkan Namamu bersama namanya?” Dan
Allah berfirman, “Ikhsa’ ya qalam, lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min
khalqi,” “Diam, wahai kalam! Jika bukan untuk Muhammad saw, Aku tidak akan
menciptakan seorang pun.”
Tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis kalimat LA ILAHA
ILLALLAH, dan tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis
MUHAMMADUN RASULULLAH. Masa itu disebut “azal” dalam bahasa Arab, berarti
pra-keabadian, suatu masa yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah.
Nama Rasulullah e sudah ada pada saat itu. Dan jika nama itu berada di sana,
apakah kamu pikir dia tidak berada di sana? Bila kamu memberi nama kepada
seseorang, maka orang itu harus ada, paling tidak secara spiritual.
Oleh sebab itu, apa pun sanjungan yang kamu berikan kepada Rasulullah saw, apa
pun pujian yang kamu berikan, kalian masih tetap menganggapnya remeh. Salah
satu Wali besar berkata, “Berikan kemuliaan kepada Rasulullah saw dan pujilah
dia, tetapi jangan katakan kepadanya sebagaimana orang Kristen berkata tentang
Rasul mereka.” Hal ini berarti jangan katakan bahwa beliau adalah Tuhan. Hanya
Allah Tuhan kita, yang lain adalah budak.
Ini adalah keyakinan para Sufi. Pengikut Sufi percaya bahwa Allah Maha Esa, dan
segala sesuatu adalah hamba-Nya. Jangan berpikir bahwa para Sufi sejati
mempunyai iman yang berbeda. Sufi sejati mengetahui bahwa hamba adalah hamba
dan Allah adalah Tuhan.
Para pembaharu memproklamasikan dirinya sebagai Sufi, namun mereka meninggalkan
toilet tanpa mengetahui bagaimana cara membersihkan diri mereka! Ini tidak bisa
dianggap sebagai Sufi sejati, mereka tidak bisa dianggap apapun! Para pengikut
Sufi harus menjaga syari’at Rasulullah, mereka harus tetap menjaga seluruh
kondisi dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, mereka percaya
bahwa Allah Maha Penyayang kepada setiap orang. Ini adalah Rahmat dari Allah.
Tetapi walaupun Allah Maha Penyayang, kita harus menunjukkan rasa terima kasih
kita, dengan menyembah-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya
kepada kita.
Itulah alasan mengapa Allah swt menuntut penyembahan kita. Atau apakah kamu
pikir bahwa alasan kita menyembah-Nya adalah untuk menambah Kebesaran-Nya?
Ibadah kita murni merupakan ukuran rasa terima kasih karena Allah swt telah
menciptakan kita dan memberi kita kemuliaan semacam itu.
Jangan berpikir bahwa para Sufi dapat menerima pandangan yang mengatakan bahwa
Sufisme bertentangan dengan syari’at? Ini tidak pernah menjadi masalah, dan
tidak akan menjadi masalah. Dari Rasulullah saw, Sayyidina Abu Bakar
ash-Shiddiq ra, Sayyidina ‘Ali ra dan seluruh guru Sufi, semuanya menghormati
dan menjaga syari’at sepenuhnya. Yang kami maksud adalah guru Sufi sejati,
bukan anak-anak yang memproklamirkan dirinya sebagai guru Sufi dan membawa
seluruh khuza’balat, ide-ide bodoh dan omong kosong diberikan kepada sufisme.
Apakah Sufisme seperti ini? Sufisme berarti bahwa kalian tidak mengangkat
kepalamu dari posisi sujud. Kalian lihat, mereka tidak memelihara janggut,
tidak memakai turban, tidak memperhatikan sunnah Rasulullah saw, dan tetap
mengaku sebagai guru Sufi dan berbicara mengenai Jalaluddin ar-Rumi qs atau
Muhyiddin ibnu al-‘Arabi qs, atau Abu Yazid al-Bistami qs. Abu Yazid al-Bistami
qs, Muhyiddin ibnu al-‘Arabi qs dan Jalaluddin ar-Rumi qs menyangkal mereka!
Para Awliya ini tidak menerima mereka karena mereka akan bertentangan dengan
syari’at.
Guru Sufi yang palsu bahkan mengaku bahwa kita tidak perlu berwudhu. Bagaimana
mungkin wudhu tidak diperlukan? Salah satu Nama Rasulullah saw adalah Nabi dari
“orang-orang yang bercahaya", al-ghurr al-mujjalin. “Orang pertama yang akan
kupanggil menghadapku untuk masuk ke dalam surga dan bertemu dengan Allah di
surga dan tetap bersamaku adalah mereka yang anggota tubuhnya bercahaya seperti
cahaya matahari karena dibasuh dengan wudhu” (Bukhari-Muslim).
Setiap orang di antara kalian yang selalu menjaga wudhunya akan termasuk
orang-orang yang beruntung itu. Ketika Abu Huraira ra ditanya mengapa beliau
membasuh anggota tubuhnya dengan air melebihi yang diperlukan, beliau menjawab
bahwa beliau ingin seluruh anggota tubuhnya bersinar pada hari itu. Lalu
bagaimana mungkin—orang yang mengaku Sufi—berkata bahwa wudhu tidak diperlukan?
Mereka mengaku bahwa mereka melakukan wudhu dengan cara menghirup, lalu
mengeluarkan semua kotoran mereka.
Ini lebih baik dilakukan di kamar mandi, bukan di masjid. Kalian hanya bisa
masuk ke masjid setelah melakukan wudhu! Tidak ada satu pun yang dapat
membersihkan kalian kecuali dengan wudhu. Kami membantah apa yang mereka
katakan. Mereka yang mengaku Sufi itu bukan Sufi sejati tetapi sesungguhnya
menentang sufisme, dan merekalah yang memberi citra buruk kepada sufisme.
Rasulullah bertanya kepada Sayyidina Bilal , “Wahai Bilal, Aku mendengar
langkahmu di surga. Apa yang kamu lakukan (untuk mendapat penghargaan semacam
ini)?” Bilal ra menjawab, “Wahai Rasulku tercinta, setiap kali aku berwudhu
baik di siang hari maupun ketika aku bangun di tengah malam untuk berwudhu
(setelah pergi ke kamar kecil), aku melakukan shalat wudhu minimal dua rakaat “
(Bukhari-Muslim).
Kita tidak meringankan tubuh kita seperti halnya binatang, tanpa membersihkan
diri, kemudian kita melangkah ke dalam masjid dan berkata bahwa kita akan
melakukan shalat. Kita tidak mengatakan hal ini kepada Muslim yang baru, tetapi
kepada Muslim yang telah lama. Kita mendiskusikan hal ini dengan terbuka
karena, “la haya’a fid din,” “tidak perlu malu dalam urusan agama” (hadits).
Rasulullah saw bersabda, “Aku takut ummatku nanti akan melakukan shalat tanpa
membersihkan diri setelah mereka membuang urin.” (hadits, Rasulullah e suatu
ketika melewati dua kuburan, kedua orang yang dimakamkan di sana telah disiksa.
Beliau bersabda…’Salah satu di antara mereka tidak pernah melakukan tindakan
untuk mencegah dirinya dikubur dengan urinnya sendiri’ dan seterusnya.”
(Bukhari, Jana’iz ch.80).
Banyak orang di sini yang pergi ke kamar kecil dan keluar tanpa membersihkan
diri mereka, kemudian melakukan wudhu dan shalat, hal ini tidak dapat diterima.
Dalam kasus ini shalatnya tidak diterima. Kalian harus menyiram dan
membersihkan dirimu ketika kamu membuang urin. Jika kalian tidak membersihkan
dirimu, kalian tidak bisa melakukan shalat. Saya ulangi bahwa ini adalah untuk
orang yang sudah lama menjadi Muslim, bukan untuk yang baru menjadi Muslim.
Kalian harus membersihkan diri sebelum kalian melakukan shalat. Bagaimana
kalian akan berdiri (dalam shalat) menghadap Allah dan berharap agar shalatmu
diterima? Shalatmu tidak akan diterima, meskipun itu lebih baik daripada
tidak—di bandingkan dengan orang yang tidak shalat sama sekali.
Setiap orang harus membersihkan dirinya baik secara fisik maupun spiritual.
Tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Aku telah membersihkan diriku secara
spiritual.” Untuk para pemula, lupakan, tetapi bagi kita, kita harus datang
untuk shalat dalam keadaan bersih, baik di masjid maupun di rumah. Kalian harus
sangat berhati-hati dalam masalah ini. Jangan membuang urin sembarangan
sebagaimana yang dilakukan oleh anjing, keledai, atau monyet, tanpa merasa malu
karena Syaikh tidak melihatmu. Jika Syaikh tidak melihatmu, kedua malaikat di
pundakmu bisa melihatmu. Jika mereka pun tidak melihatmu, Allah melihatmu.
Tidakkah kalian merasa malu terhadap hal ini? Pergilah ke kamar kecil di
bandara atau di pom bensin di Amerika, di sana, tidak ada orang yang merasa
malu berpakaian tidak selayaknya, berdiri dan membuang air seperti anjing…
apakah ini yang dinamakan hormat dan adab? Kalian harus berada dalam ruangan
tersendiri agar tidak ada orang yang bisa melihatmu. Itulah adab yang diajarkan
oleh Islam. Islam mengajarkan kalian untuk selalu menghormati orang, termasuk
dirimu sendiri.
Sayyidina ‘Ali ra, semoga Allah mengangkat derajatnya, tidak pernah selama
hidupnya melihat bagian-bagian tubuhnya yang sifatnya pribadi. Itulah sebabnya
beliau menerima kehormatan yang begitu tinggi, penghargaan yang kita ucapkan
setelah menyebutkan namanya, “karramallahu wajhahu”, yang secara harfiah
berarti, “Semoga Allah memuliakan wajahnya.” Beliau tidak pernah membiarkan
matanya melihat bagian tubuh pribadinya. Bagaimana dengan kita dewasa ini? Kita
meninggalkan bagian tubuh pribadi kita, lalu mencari kepunyaan orang lain dan
bahkan menggambarkannya!
Di televisi, mereka mengajarkan setiap orang termasuk anak-anak bagaimana cara
berkencan dan bagaimana cara melihat bagian tubuh pribadi masing-masing.
Peradaban macam apa ini? Ini adalah suatu kebodohan. Kehidupan binatang lebih
baik daripada seperti ini. Kita terlalu banyak melakukan dosa. Kita memerlukan
jalan yang aman dan cepat untuk mencapai Tuhan kita. Kita harus mengetahui
bahwa Malam Permintaan Yang Keramat ini adalah salah satu jalan untuk
mendekati-Nya. Ke mana pun kita memandang, kita temukan diri kita dalam keadaan
berdosa, itulah sebabnya kalian harus mencari tempat di mana orang-orang
membuat suatu pertemuan demi Allah, mereka mengingat Allah dan mengingat
Rasulullah, sehingga kalian dapat mendekati-Nya dengan cepat. Oleh sebab itu
jangan melewatkan pertemuan semacam itu.
Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Faatiha
Catatan :
Insya Allah, Kamis 3 Juli 2008 kita memasuki Bulan Rajab, bada ashar. Maka
dimulailah amalan2 Rajab yang sangat besar nilainya. BUlan Rajab adalah
bulannya Allah, dimana Rasulullah saw sering berpuasa satu bulan penuh dibulan
Rajab ini, dan mengerjakan banyak amalan, ibadah yang terkait dalam bulan
rajab.
IkKuti acara Salat Laylatul Raghaib, Tgl 3 Juli 2008, Bada Isya Jam 19.30 di
Jl. Mandala Selatan 16, Tomang, Jakarta Barat. Terbuka Untuk Umum
Dapatkan Buku Panduan Amalan Rajab dan Buku Saku, dimana terdapat Doa yang
diucapkan oleh Perampok tersebut. Doa ini demikian dalam isinya, dan sangat
besar manfaatnya, untuk merubah kita menjadi jauh lebih baik.
NEW RELEASE, BEST SELLER ( EDISI COPY )
JUDUL BUKU : RAJAB TARA AL-AJAB
HARGA : Rp. 15.000
TEBAL : 81 HALAMAN
DAFTAR ISI :
Pelajaran Bulan Suci Rajab, Kendalikan Egomu
Adab Bulan Rajab
Adab Harian antara Magrib dan Isya di Bulan Rajab
Doa Rajab
Doa Agung
Hizbul Wiqayya
Adab Laylat al-Raghaib
Adab Laylat al-Israa’
Ibadah Khusus Pada Hari-Hari Besar Rajab
Laylat ar-Ragha’ib, Malam Permintaan yang Keramat
Shalat Sunnat di Bulan Rajab
Rajab, Tingkatan Para Wali
Bulan Rajab, Berdagang Selagi Bisa
Dzikir di Bulan Rajab
Rajab Tara al-‘Ajab
Mata Rantai Emas Naqshbandi Haqqani
JUDUL : LAYLATUL QADAR, KUMPULAN CERAMAH RAMADAN
HARGA : Rp. 15.000
TEBAL : 103 HALAMAN
DAFTAR ISI :
Laylatul Qadr
Laylatul Qadr, Allah Tidak Tidur
Suhbat di Akhir Ramadhan
Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan
Allah Sang Pencipta, Azhimat Ramadhan
Syukur, Sadaqah & Rizki Di Bulan Ramadhan
Sholat Tarawih, Apakah Anda Sudah Beribadah Terlalu Banyak?
Berpuasalah! Lapar Akan meruntuhkan Kesombongan Ego
Mengapa Orang Tidak Merasa Damai?
Mengenai Ramadan
Makna Ramadan
Pahala Dzikir di Bulan Ramadhan
Dzikir Ramadhan Tajalli kebahagiaan
Tata Cara Sholat Sunah Tarawih
Adab Itikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan
Doa Menyambut Datangnya Bulan Ramadan
Pembukaan Rahasia Al-Quran oleh Sayyidina Mahdi as pada 10 Hari Terakhir
Ramadhan Berita Gembira tentang Sayyidina Mahdi 'alayhissalam pada 10 Hari
Terakhir Ramadhan
Ramadan Adalah Bulan Paling Suci
JUDUL : EMPAT KARAKTER KESEMPURNAAN
HARGA : Rp. 15.000
TEBAL : 118 HALAMAN
DAFTAR ISI :
Sayyidina 'Ali ra: Empat Karakter Kesempurnaan
Tafakur, Mendekat Kehadirat Ilahi
Islam Membersihkan Kalian dari Virus Setani!
Hatimu Harus Bersama Tuhan-mu!
Tuhan-ku, Jangan Tinggalkan Aku Bersama Egoku Walau Hanya Sekejab Mata
Pelajari, Ketahui dan Praktekkan!
Adab-adab Kenabian: Duduk-duduk di Tempat Umum
Kirimkan S.O.S. Kepada Allah!
Jalan yang Selamat adalah Jalan Nabi Muhammad saw
Setan dan Mata-matanya Ketakutan!
Pengertian Rabithah
Mata Rantai Emas Naqshbandi Haqqani
New Release Buku-Buku Sufi Terbitan Rabbani Sufi Institut Indonesia
bisa didapatkan di www.mevlanasufi.blogspot.com & www.rumisuficafe.blogspot.com
Contact Pemesanan Buku:
Arief Hamdani, 08881335003, 0816830748 atau Email
[EMAIL PROTECTED]
[Non-text portions of this message have been removed]