Yahudi, nasrani dan islam itu satu rumpun bertemu pada nenek moyang Nabi 
Ibrahim. Maka al qur'an banyak membenarkan atau mengamandemen kitab-kitab 
pendahulunya seperti taurat, zabur dan injil, banyak kisah-kisah figur tokoh 
atau tradisi di kalayangan yahudi dan nasrani yang juga dikisahkan dan 
dianjurkan dalam qur'an. Namun untuk nama Tuhan, Alqur'an lebih memilih nama 
Allah bukan Yahwe atau elohim yang populer di kalangan Yahudi. Mengapa lebih 
memilih Allah, mungkin karena Yahwe lebih sektarian lebih primordial atau lebih 
dekat ke bangsa israel saja, sementara nama Allah lebih universal, apalagi 
disebut sebagai rahmatan lil'alamin (bukan hanya untuk bangsa arab saja) begitu 
pula Elohim dari segi kebahasaan ditemukan banyak ambigunya, karena kadang 
dipakai untuk pengertian jamak (plural).

Benar ya mbak Mia ??, koreksi dong kalau keliru. 

--- Pada Rab, 10/2/10, aldiy <[email protected]> menulis:

Dari: aldiy <[email protected]>
Judul: [wanita-muslimah] Re: tentang al-ilah
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 10 Februari, 2010, 12:42 PM







 



  


    
      
      
      Yah, ustadz Chodjim dimaafkan karena insist on al-ilah....: -)



Kalau kita telaah antropologi bahasa (filologi), dan bisa juga disumberkan dari 
komunitas2 tua di dunia,  bentuk yang tertua untuk sebutan untuk Dia adalah 
yang semacam 'the, al, el, sang, yang', seperti itulah.  



Artinya 'al' yang itu mengacu pada sesuatu itu yang di luar jangkauan kita. 
Tuhan langit, agama samawi, itulah konsep yang berevolusi sejak 5000-an tahun 
lalu, sesuai dengan perkembangan etimologi kita.



Tapi sebelumnya, malah 'the...' itu tabu untuk disebut.  Yang sering disebut 
adalah representasinya di bumi ini..dewi Sri, misalnya.  Penyimpangan dari sini 
adalah pantheism, dimana aspek bumi jadi berkelindan dengan 'el..', padahal kan 
bumi adalah ciptaan seperti manusia juga. Bilqis, termasuk penganut generasi 
terakhir dari periode tabu ini.



Jadi kalo merunut etimologi historis, konsep primer adalah itu tabu untuk 
disebutkan, kemudian disebut dengan sang...the.. .el...dsb. ..kemudian menjadi 
nama tunggal Allah, Yahweh.  



salam

Mia



--- In wanita-muslimah@ yahoogroups. com, Abdul Muiz <mui...@...> wrote:

>

> nah Allah vs Thaghut, itulah makanya istilah "kafir" itu menjadi generik. 
> Orang islam itu beriman kepada Allah, sekaligus kafir kepada thaghut. Orang 
> Kafir itu beriman kepada thaghuut, sekaligus kafir kepada Allah.

> 

> Tetapi orang kafir yang beriman kepada Thaghuut tidak bisa disebut mukmin 
> lho. Karena Allah tidak pernah menyebut demikian.

> 

> --- Pada Rab, 10/2/10, Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ ...> menulis:

> 

> Dari: Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ ...>

> Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI 
> MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI



> Kepada: wanita-muslimah@ yahoogroups. com

> Tanggal: Rabu, 10 Februari, 2010, 9:46 AM>       

>       

>       Hal itu terjadi karena secara konsep kan "laa ilaha illa..." sudah di 
> mutlak di-unik kan secara sistem nilai.

> 

> Jadi TIDAK ADA KASUS untuk menyebut hal itu kecuali dengan sebutan "thagut" 
> bukan? 

> 

> 

> 

> Bagaimana dari sisi bahasanya, 

> 

> jika kita ingin bercerita perilaku yang mengacu pada dua sembahan tertentu, 
> mis. Lat dan Uzza, bukankah "al-ilaahan" ?

> 

> 

> 

> ----- Original Message ----- 

> 

>   From: Abdul Muiz 

> 

>   To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

>   Sent: Wednesday, February 10, 2010 9:29 AM

> 

>   Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT 
> MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> sebenarnya yang unik itu bukan "al" (Bahasa Arab) atau "the" (bahasa Inggris) 
> karena memang fungsinya sebagai definit article kata sandang tertentu (isim 
> makrifat), unik itu karena satu-satunya isim dalam qamus arab yang tidak 
> mengenal bentuk dua dan jamak ya "Allah" saja, gak ada yang lain. Kalau kata 
> al kitab vs al kitabaan dan al kutub, al madrasah al madrasataan dan al 
> madrasaat, al ustadz vs al ustadzaan dan al asaatidz ya tidak unik, karena 
> memang definit article itu fungsinya memang menunjuk obyek tertentu bukan 
> yang lain.

> 

> 

> 

> Saya juga pernah menyimak ada orang berkata, "tidak ada itu Allah-Allah 
> an.... bla bla bla..... kalau ini jelas rancu (paling tidak menurut saya 
> pribadi, mungkin bagi yang berucap merasa tidak rancu).

> 

> 

> 

> --- Pada Rab, 10/2/10, Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ gmail.com> 
> menulis:

> 

> 

> 

> Dari: Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ gmail.com>

> 

>   Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT 
> MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

>   Kepada: wanita-muslimah@ yahoogroups. com

> 

>   Tanggal: Rabu, 10 Februari, 2010, 8:53 AM

> 

> 

> 

> Ustadz Mu'iz yss.,

> 

> 

> 

> IMHO, bagi yang berangkat dari dua suku kata, keunikan yang hanya ada kata 
> "tunggal", gak ada bentuk "dua"-nya atau "jamak"-nya berangkat dari suku "al" 
> itu sendiri yang definitif. Jadi keunikannya, malah berangkat dari kaidah 
> bahasa Arab, seperti yang ustadz Chodjim bilang. 

> 

> 

> 

> Sebagai ilustrasi, misalkan dalam bahasa Inggris, 

> 

> 

> 

> "The God" itu ya hanya ada bentuk tunggalnya "tuhan" tertentu/definitif. "The 
> Gods" punya makna berbeda sekali yang tetap tunggal ( "satu kumpulan tuhan" 
> tertentu/definitif, bukan kumpulan "The God"). 

> 

> 

> 

> "The Chair", "satu kursi yang itu"; "The two Chairs", "satu kumpulan (dua) 
> kursi yang itu".

> 

> 

> 

> Saya melihat, bahwa awalnya, sesuai dengan konsep Tuhan yang abstrak, orang 
> mengacu Tuhan tertentu, spesifik, The God, dari "al"-"ilah" ~ "Allah". Namun 
> sejalan dengan waktu dan kebiasaan, kata "Allah" dengan sendirinya menjadi 
> "isim/noun" yang memiliki arti spesifik yang 'coined' dalam Al-Quran sebagai 
> nama "The God". 

> 

> 

> 

> Ustadz Chodjim, IMHO, berusaha mengembalikan kepengertian awal.

> 

> 

> 

> Jika terjemahan "laa ilaah illallah" diberikan sebagai "tiada tuhan selain 
> Allah", dan Allah di sini sebagai "nama", bagi setiap orang "nama" ini akan 
> bermakna macam-macam sesuai yang ada dikepalanya dan itu membawa 
> kemudaratannya sendiri-sendiri. 

> 

> 

> 

> Sedangkan jika terjemahan "laa ilaah illallah" adalah "tiada tuhan selain 
> Tuhan" (bukan "tiada tuhan selain tuhan") hal itu bisa dilihat tidak rancu. 
> Kata "tuhan" yang pertama bermakna tidak definitif, artinya segala sesuatu 
> yang dianggap tuhan dan yang dipertuhankan. Sedangkan kata "Tuhan" yang kedua 
> bermakna NAMA definitif dari yang pantas dianggap tuhan. Dan "Tuhan (sejati)" 
> itu bagi orang Indonesia, bermakna sama dengan "Allah" juga

> 

> 

> 

> Mungkin lebih enak ditafsirkan saja, "tiada tuhan selain Tuhan sejati, yang 
> Maha Tunggal, Maha Pengasih, dst...", 

> 

> 

> 

> tapi tetep saja kurang pas sebetulnya.. . karena bicara Allah swt itu kan 
> panjang...

> 

> 

> 

> Bahwa secara praktis, mmg lebih mudah mengenalkan "tiada tuhan selain Allah", 
> tapi secara hakikat, saya pribadi melihat yang kedua lebih baik.

> 

> 

> 

> Wallahua'lam bishowab

> 

> 

> 

> Ary

> 

> 

> 

> ----- Original Message ----- 

> 

> 

> 

> From: Abdul Muiz 

> 

> 

> 

> To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

> 

> 

> Sent: Wednesday, February 10, 2010 8:09 AM

> 

> 

> 

> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT 
> MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> Mbak Lina, Mas Ary dkk sekalian :

> 

> 

> 

> al haqqu min rabbik = kebenaran itu dari Tuhanmu,

> 

> 

> 

> Sebenarnya apa yang disampaikan pak Chodjim itu benar dan tidak salah, dan 
> kalau saya menilai pak Chodjim benar bukan berarti saya mendapatkan mandat 
> dari Sang Maha Benar, tetapi hanya sekedar menilai benar menurut pemahaman 
> saya pribadi dan tentu saja "kebenaran" yang saya katakan itu bersifat 
> relatif.

> 

> 

> 

> saya menemukan dua referensi menarik tentang "Allah" :

> 

> 

> 

> 1) Wikipedia, telah memaparkan apa adanya tentang term "Allah" yakni adanya 
> silang pendapat mengenai apakah "Allah" itu terdiri dari beberapa suku kata 
> ataukah tidak ?. Hanya Wikipedia berani menghakimi salah satu pendapat yang 
> ada, bahwa yang mengatakan "Allah" terdiri dari suku kata "Al" dan "ilah" 
> adalah keliru, karena bertentangan dengan kaidah bahasa Arab.

> 

> 

> 

> 2) M Quraish Shihab dalam bukunya "Menyingkap Tabir Ilahi, Asmaaul husna 
> dalam Perspektif Al Qur'an" juga memaparkan silang pendapat mengenai apakah 
> "Allah" itu terdiri dari beberapa suku kata ataukah tidak ? bedanya dengan 
> Wikipedia, Quraish Shihab menilai perbedaan kedua pendapat tersebut tidak ada 
> yang salah alias benar.

> 

> 

> 

> Jadi baik yang mengatakan "Allah" itu tidak memiliki akar kata maupun yang 
> mengatakan "Allah" memiliki akar kata "Al" dan "Ilah" sama-sama mengakui term 
> "Allah" tidak memiliki bentuk mutsanna (duo) maupun jamak (plural), inilah 
> yang saya katakan unik, di qamus arab, isim yang tidak mengenal mutsanna 
> maupun jamak ya cuma "Allah", selain ini tidak ada. Karena itu firman Allah 
> "laa ilaah illallah" amat tepat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia 
> dengan "tidak ada tuhan kecuali Allah" justru rancu apabila diterjemahkan 
> "tidak ada tuhan kecuali TUHAN".

> 

> 

> 

> Maka mau setuju dengan pendapat yang mana ya terserah saja (wallahu 'alam).

> 

> 

> 

> Wassalam

> 

> 

> 

> Abdul Mu'iz

> 

> 

> 

> --- Pada Sel, 9/2/10, Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ gmail.com> 
> menulis:

> 

> 

> 

> Dari: Ary Setijadi Prihatmanto <ary.setijadi@ gmail.com>

> 

> 

> 

> Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI 
> MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> Kepada: wanita-muslimah@ yahoogroups. com

> 

> 

> 

> Tanggal: Selasa, 9 Februari, 2010, 4:07 PM

> 

> 

> 

> Gak papa mbak, silahkan milih.. bebas... 

> 

> 

> 

> Asal jangan bilang yang milih pilihan berbeda itu mungkar... hahahahahahahaha

> 

> 

> 

> Saya kira itu yang ustadz Chodjim ingin tekankan...

> 

> 

> 

> karena gak ada rujukan absolutnya, ya silahkan dilihat isi argumennya.. .

> 

> 

> 

> ----- Original Message ----- 

> 

> 

> 

> From: Lina 

> 

> 

> 

> To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

> 

> 

> Sent: Tuesday, February 09, 2010 3:56 PM

> 

> 

> 

> Subject: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI 
> MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> Terimakasih mas Aset,

> 

> 

> 

> Kalo memang begitu yg dimaksud pak Chodjim saya bisa mengerti. Karena Ilmu 
> Bahasa, sama seperti ilmu2 lainnya Ilmu Sosial, Ilmu Ekonomi, Ilmu 
> Biologi..gak ada yg bisa tanyakan rujukannya selain penguasaan akan ilmu itu 
> sendiri atau disiplin ilmu itu sendiri.

> 

> 

> 

> Tapi jelas2 disitu pak Chodjim menuliskan berkali kali 'rujukan dari 
> Rasulullah'.

> 

> 

> 

> Kalau untuk penguasaan materi yg sedang didiskusikan, saya juga sepakat bahwa 
> sama kuatnya. Tapi kalau saya harus memilih, saya akan memilih...:- )

> 

> 

> 

> wassalam,

> 

> 

> 

> --- In wanita-muslimah@ yahoogroups. com, "Ary Setijadi Prihatmanto" 
> <ary.setijadi@ ...> wrote:

> 

> 

> 

> >

> 

> 

> 

> > Yang saya tangkap, BUKAN harus ada rujukan dari Rasul mbak.

> 

> 

> 

> > Tapi, jika TIDAK ADA rujukan, lalu mengapa di-PASTI-kan kebenarannya?

> 

> 

> 

> > Jadi tinggal berargumen gitu lho... toh kekuatannya sama...

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > ----- Original Message ----- 

> 

> 

> 

> > From: Lina 

> 

> 

> 

> > To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

> 

> 

> > Sent: Tuesday, February 09, 2010 2:34 PM

> 

> 

> 

> > Subject: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI 
> > MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > Terimakasih Pak Chodjim,

> 

> 

> 

> > Saya membaca disini tidak ada yang mengklaim kebenaran dan menyalahkan 
> > orang lain. Sekedar ada beda pendapat ttg kaidah bahasa tp bukan pada 
> > perbedaan akidah...:-) . 

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > Apakah dalam 'mempelajari kaidah bahasa arab (ilmu ttg bahasa)' harus ada 
> > rujukan dari Rasulullah SAW (sunnah or hadist)? Kok buat saya aneh ya 
> > kdengarannya.

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > Soalnya kalau memang harus pake rujukan2 sunah or hadist Nabi, sebetulnya 
> > Mas MUiz bisa juga bertanya 'apa rujukan hadist Nabi buat pendapat Pak 
> > Chodjim'. Saya yakin gak ada juga, kan? Jadi yaa..soal kaidah bahasa, gak 
> > usah pake rujukan Hadist Nabi segala. Yaa pake ilmu bahasa aja.

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > Ini masalahnya asal kata bahasa arab, kan?

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > wassalam.

> 

> 

> 

> > 

> 

> 

> 

> > --- In wanita-muslimah@ yahoogroups. com, "Achmad Chodjim" <chodjim@> wrote:

> 

> 

> 

> > >

> 

> 

> 

> > > Begini Teh Lina, kalau memang tidak ada rujukannya dari Rasulullah, 
> > > mengapa kita memastikan diri kebenarannya? Mengapa kita menyalahkan orang 
> > > lain yang mengurai berdasarkan kaidah bahasa Arab itu sendiri?

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > Bagi saya, kata "Allah" itu hanyalah sebutan agung bagi Dia yang 
> > > menciptakan alam semesta. Dia-lah "al-ilaah" itu, satu-satunya ilaah. 
> > > Dengan memahami demikian, kita tidak terjerumus pada pengucapan kata 
> > > "allaah" sebagai produk pikiran manusia. Kita tarik benang merahnya, 
> > > yaitu Dia yang bisa disebut apa saja sebagai al-asmaa al-husnaa. Dari 
> > > al-asmaa al-husnaa itulah kita akan menghayati kebenaran al-ahaad dan 
> > > al-waahid. Dan, itulah al-ilaah alias allaah.

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > Wassalam,

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > chodjim

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > ----- Original Message ----- 

> 

> 

> 

> > > From: Lina 

> 

> 

> 

> > > To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

> 

> 

> > > Sent: Sunday, February 07, 2010 9:07 PM

> 

> 

> 

> > > Subject: [wanita-muslimah] Re: Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT 
> > > MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > Saya senang mengaji disini tentang ini bersama sama orang2 ini...:-). 
> > > Saya mencoba menelusuri dari awal smp akhir. Ada pertanyaan saya disini.

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > Dalam kontkes ini, mempelajar kata per kata bahasa arab (Tata bahasa 
> > > Arab), apakah perlu rujukan dari Rasulullah SAW (=sunnah dan hadist 
> > > Rasul)?.

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > wassalam,

> 

> 

> 

> > > 

> 

> 

> 

> > > --- In wanita-muslimah@ yahoogroups. com, "Achmad Chodjim" <chodjim@> 
> > > wrote:

> 

> 

> 

> > > >

> 

> 

> 

> > > > Lebih dari sekadar baik, Mas Muiz.

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > Mas, siapa yang menetapkan kebenaran demikian itu? Adakah rujukannya 
> > > > dari Rasulullah sendiri?

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > Terima kasih.

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > Wassalam,

> 

> 

> 

> > > > chodjim 

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > ----- Original Message ----- 

> 

> 

> 

> > > > From: Abdul Muiz 

> 

> 

> 

> > > > To: wanita-muslimah@ yahoogroups. com 

> 

> 

> 

> > > > Sent: Sunday, February 07, 2010 6:57 PM

> 

> 

> 

> > > > Subject: Re: [wanita-muslimah] Fw:i SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT 
> > > > MENJADI MODAL UNTUK SALING MEMAHAMI DAN TIDAK LAGI SALING MENCACI

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > apa kabar pak Chodjim,

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > memang betul kata "Allah" itu unik karena satu-satunya isim (noun) 
> > > > dalam bahasa arab yang tidak mengenal bentuk mufrad (singular) mutsanna 
> > > > (bentuk dua) maupun jamak (plural). Maka khusus untuk kata "Allah" ya 
> > > > tidak dikenal adanya fathatain (ALLAHAN), dhammatain (ALLAHUN), maupun 
> > > > kasratain (ALLAHIN).

> 

> 

> 

> > > > 

> 

> 

> 

> > > > Wassalam

> 

> 

> 

> > > > Abdul Mu'iz

> 

> 

> 

> Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke 
> Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger .yahoo.com/ 
> invite/

> 

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

> 

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

> 

> 

> 

> Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke 
> Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger .yahoo.com/ 
> invite/

> 

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

> 

> 

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

> 

> 

> 

> 

> 

>     

>      

> 

>     

>     

> 

> 

>  

> 

> 

> 

>   

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>       Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser 
> ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 

> http://downloads. yahoo.com/ id/internetexplo rer

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

>





    
     

    
    


 



  






      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke