Road Show Pemutaran Film Dokumenter Makodim: BELAJAR MENGHARGAI SEJARAH LOKAL DAN ISAK TANGIS SEUSAI MENONTON - Radar Bante, Senin 3/10/05 Serang berumur ke-479 pada 8 Oktober nanti. Kado pahit diberikan Pemkab Serang kepada masyarakatnya, yaitu musnahnya gedung Makodim 0602. Puncak pemberian kado pahit itu 11 September, saat Komisaris PT MMS, Wismoyo Arismunandar meletakkan batu pertama pertanda pembangunan mal Serang dimulai.
IRONI Kado pahit itu melibatkan Zakaria Kasimin dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3S) Serang. Dialah yang merekomendasikan gedung itu dihancurkan. Bobot sejarahnya jauh di bawah candi Borobudur, katanya. Ironisnya, Zakaria termasuk pengumpul data buku Ragam Pusaka Budaya Banten (BP3S-Krakatau Steel, 2005). Disebutkan di buku itu, gedung Makodim sebagai benda cagar budaya berarsitektur Indis, tiang-tiang silindris di bagian depan, jendela besar di samping kanan-kiri, dan pernah difungsikan sebagai hotel Vos. Juga pada 1945 terjadi peristiwa heroik, yaitu penurunan bendera Jepang oleh laskar pejuang wanita Banten. Foto gedung Makodim dipasang. Bahkan foto saat AWAK (Aliansi warga Kota) berdemonstrasi Juni lalu, menentang pembangunan mal di lahan gedung Makodim, dipasang di halaman terahir buku itu. PUTAR FILM Kini gedung Makodim sudah musnah. Kado pahit itu harus kita teguk. Tapi perjuangan AWAK belum berhenti. Ibarat Jendral Sudirman bergerilya melawan penjajah dengan bambu runcing, AWAK bergerilya dari sekolah dan kampus, memutar film dokumenter Makodim. Banten ada karena para pejuang! Gola Gong, juru bicara AWAK menjelaskan. Pemutaran pertama di STIKOM Wangsa Jaya, Sabtu (17/9). Para mahasiswa terhenyak. Para pemimpin dan tokoh masyarakat di Serang sangat keterlaluan. Mereka tidak menghargai sejarah lokal, tetesan darah, dan nyawa para pejuang Banten, kata Friss, mahasiswa. Jack La Mota, sutradara dari Imaji Film berharap, setelah menonton film ini generasi muda di Banten tidak lagi terjerat budaya permisif, semua yang salah dibiarkan saja. Sedangkan Heri Erlangga S.Sos MPd, Ketua STIKOM Wangsajaya mengaku trenyuh melihat gedung Makodim rata. Semoga dengan film ini, kita bisa belajar menghargai perjuangan para pahlawan. Pemutaran kedua dilakukan di SMAK PGRI, Jl.Kepandean Serang, Kamis (22/9). Sebelum pemutaran film, Edi, guru Sejarah, memamerkan materi bagunan Makodim yang tersisa. Ada bata, genteng, dan beton. Materialnya sudah sangat tua, tapi dibuang begitu saja. Saya yakin, BP3S tidak menyelamatkan 8 pilar silindris itu! Seusai pemutaran, di wajah para pelajar terlukis rasa marah, kecewa, dan sedih. Ada juga pelajar membacakan puisi dadakan, yang menyatakan kekecewaannya, karena para pemimpin di Serang tidak menghargai sejarah daerahnya sendiri! TITIP Bung Karno mengatakan, Bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah para pahlawannya! Dengan hilangnya gedung Makodim 0602 di titik nol kilometer Serang, apakah berarti masyarakat Banten tidak menghargai jasa para pahlawannya. Itu yang tergambar selama AWAK (Aliansi Warga Kota) Serang dan Imaji Film melakukan road show pemutaran film dokumeter Makodim ke sekolah dan kampus. Setelah di STIKOM Wangsa Jaya dan SMAK PGRI, pemutaran ketiga di auditorim FISIP Untirta Serang, Kamis (29/9). Anak-anak HIMAKOM (Himpunan Mahasiswa Komunikasi) yang punya gawe. M. Jaiz, Ketua Jurusan mendukung acara ini. Saya sedih menontonnya. Dan film dokumeter ini bisa jadi referensi seratus tahun kemudian. Pada pemutaran di Untirta dihadiri tiga pejuang laskar wanita Banten, yang bernaung di Wirawati Catur Panca; Hj. Oyok, Hj. Emilia, dan Hj. Sulastri. Beberapa aktivis AWAK hadir; Yhanu Setiawan(Clean Community), Ibnu PS Megananda (Lampu Kegelapan), Alfaris (majalah Katarsis), dan Masyarakat Café Ide. Saya marah dan dongkol, itu pendapat yang dilontarkan Hj. Emilia ketika acara pemutaran film dibuka performance art oleh Toto ST Radik. Penyair kelahiran Singarajan mengibaratkan dirinya sebagai bupati Seran yang mengumbar janji saat kampanye, tapi langsung kena penyakit amnesia setelah duduk di kursi bupati. Usai pemutaran film, ada diskusi bersama Jack Lamota (sutradara dari Imaji film), Gola Gong (jubir AWAK), dan Teguh Iman Prasetya SE, MSi (dosen FISIP Untirta). Dipandu Aji Setiakarya, tergambar suasana haru saat Hj. Oyok menangis mengungkapkan kekeewaannya, karena para pemimpin Serang membiarkan gedung Makodim rata dengan tanah. Saya titip, jangan ada gedung bersejarah lainnya yang hilang. Pejuang tua itu menyebut gubernuran, gedung Juang, Makorem, dan Polres. Herwan FR, dosen sastra dan Bahasa Indonesia mengungkapkan kesannya, Kok, kayaknya kita ditipu mereka, ya! Hal itu dibenarkan Gola Gong. Bahkan para mahasiswa juga sepakat, bahwa para pemimpin Serang sudah menipu rakyatnya. SIAP Isak tangis belum juga reda. Film dokumenter Makodim diputar di SMA Unggulan atau SMA Cahaya Madani Banten Boarding School, Pandeglang, para pelajar dengan spontan mengatakan kemarahan dan kekesalannya. Seorang siswi asal Ciruas mengusap air matanya berkali-kali. Para pemimpin Serang itu tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan Banten! katanya menangis. Aroma kekecewaan dan kemarahan tergambar jelas. Suasana bahkan sangat mencekam, ketika teriakan jihad dan Allahu Akbar menggema. Kami siap mempertahankan gedung-gedung bersejarah yang masih ada! kata seorang siswa marah. Kini yang harus kita lakukan adalah, menghancurkan budaya permisif di masyarakat kita, yang serba memperbolehkan apa saja. Tidak peduli apakah itu salah atau tidak. *** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
