Kami dari AWAK mohon maaf.
Press Realease dari AWAK tentang "Road Show Pemutaran Film Makodim" in,
Tadinya akan dimuat bersambung di Radar Banten edisi Senin dan Selasa.
Tapi, dalam rapat redaksi diputuskan untuk tidak dimuat.

Kami mohon maaf. Sekali lagi, press release ini tidak pernah dimuat di
Radar Bante. Jadi, pres release ini disebarkannya ke beberapa milis,
sbagai bentuk dari kebebasan berpendapat.

Tetap semangat
Jubir AWAK
Gola Gong

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Heri Hendrayana H
Sent: Sunday, October 02, 2005 10:17 PM
To: WONG BANTEN; Rumah Dunia; Pena Lingkar; Mega; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; “Mahdiduri”; “Chavchay Syaifullah”;
milisrumahdunia; POJOK TEATER; PENYAIR; KORAN SASTRA; PUBLIKSENI; “Aris
Kurniawan”; “Moh Wan Anwar”; Grasindo; mizan; darmizan; “Herdi Wibawa”;
akur kafi; gip; gipkeluarga wanita; herli; pasar buku; “Asep GP”; Dar
Rudnyckyj; masaaki; Al-Kautsar; Mujahid; bantenraya indopos;
fajarbanten1 banten1; fajarbanten2 banten2; indrafajar kusuma; 1001
Buku; bandung heritage; Diponegoro; fatrah; fanmizan; gagasmedia fxrudi;
gagasmedia; gramedia guntoro; grya; aryaduta; “Halim HD”; irwan; Indika;
katarsis; lia; lppm; marisa; ninuk; obor; Opinikompas kompas; Bening
Publishing; Puspaswara; paras; “Ibnu PS Megananda”; remon agus; lintas
seni; [EMAIL PROTECTED]; Silvia; Taufik; toyota; dhea utami
Subject: [WongBanten] Roadshow film dok Makodim

Road Show Pemutaran Film Dokumenter Makodim:
BELAJAR MENGHARGAI SEJARAH LOKAL DAN ISAK TANGIS SEUSAI MENONTON
- Radar Bante, Senin 3/10/05
 
Serang berumur ke-479 pada 8 Oktober nanti. Kado pahit diberikan Pemkab 
Serang kepada masyarakatnya, yaitu musnahnya gedung Makodim 0602. Puncak

pemberian kado pahit itu 11 September, saat Komisaris PT MMS, Wismoyo 
Arismunandar meletakkan batu pertama pertanda pembangunan mal Serang 
dimulai.  

IRONI
Kado pahit itu melibatkan Zakaria Kasimin dari Balai Pelestarian 
Peninggalan Purbakala (BP3S) Serang. Dialah yang merekomendasikan gedung

itu dihancurkan. “Bobot sejarahnya jauh di bawah candi Borobudur,” 
katanya. 

Ironisnya, Zakaria termasuk pengumpul data buku “Ragam Pusaka Budaya 
Banten” (BP3S-Krakatau Steel, 2005). Disebutkan di buku itu, gedung 
Makodim sebagai benda cagar budaya berarsitektur Indis, tiang-tiang 
silindris di bagian depan, jendela besar di samping kanan-kiri, dan 
pernah difungsikan sebagai hotel Vos. Juga pada 1945 terjadi peristiwa 
heroik, yaitu penurunan bendera Jepang  oleh laskar pejuang wanita 
Banten. Foto gedung Makodim dipasang. Bahkan foto saat AWAK (Aliansi 
warga Kota) berdemonstrasi Juni lalu, menentang pembangunan mal di lahan

gedung Makodim, dipasang di halaman terahir buku itu.

PUTAR FILM
Kini gedung Makodim sudah musnah.  Kado pahit itu harus kita teguk. Tapi

perjuangan AWAK belum berhenti. Ibarat Jendral Sudirman  bergerilya 
melawan penjajah dengan bambu runcing, AWAK bergerilya dari sekolah dan 
kampus, memutar film dokumenter Makodim. “Banten ada karena para 
pejuang!” Gola Gong, juru bicara AWAK menjelaskan.

Pemutaran pertama di STIKOM Wangsa Jaya, Sabtu (17/9). Para mahasiswa 
terhenyak. “Para pemimpin dan tokoh masyarakat di Serang sangat 
keterlaluan. Mereka tidak menghargai sejarah lokal, tetesan darah, dan 
nyawa para pejuang Banten,” kata Friss, mahasiswa.  

Jack La Mota, sutradara dari Imaji Film  berharap, setelah menonton film

ini generasi muda di Banten tidak lagi terjerat budaya permisif, semua 
yang salah dibiarkan saja.  Sedangkan Heri Erlangga S.Sos MPd, Ketua 
STIKOM Wangsajaya mengaku trenyuh melihat gedung Makodim rata. “Semoga 
dengan film ini, kita bisa belajar menghargai perjuangan para pahlawan.”

Pemutaran kedua dilakukan di SMAK PGRI, Jl.Kepandean Serang, Kamis 
(22/9). Sebelum pemutaran film, Edi, guru Sejarah, memamerkan materi 
bagunan Makodim yang tersisa. Ada bata, genteng, dan beton. “Materialnya

sudah sangat tua, tapi dibuang begitu saja. Saya yakin, BP3S tidak 
menyelamatkan 8 pilar silindris itu!”

Seusai pemutaran, di wajah para pelajar terlukis rasa marah, kecewa, dan

sedih. Ada juga pelajar membacakan puisi dadakan, yang menyatakan 
kekecewaannya, karena para pemimpin di Serang tidak menghargai sejarah 
daerahnya sendiri!

TITIP
Bung Karno mengatakan, “Bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah

para pahlawannya!” Dengan hilangnya gedung Makodim 0602 di titik nol 
kilometer Serang, apakah berarti masyarakat Banten tidak menghargai jasa

para pahlawannya.

Itu yang tergambar selama AWAK (Aliansi Warga Kota) Serang dan Imaji 
Film melakukan road show pemutaran film dokumeter Makodim ke sekolah dan

kampus. Setelah di STIKOM Wangsa Jaya dan SMAK PGRI, pemutaran ketiga di

auditorim FISIP Untirta Serang, Kamis (29/9). Anak-anak HIMAKOM 
(Himpunan Mahasiswa Komunikasi) yang punya gawe.   M. Jaiz, Ketua 
Jurusan mendukung acara ini. “Saya sedih menontonnya. Dan film dokumeter

ini bisa jadi referensi seratus tahun kemudian.”

Pada pemutaran di Untirta dihadiri tiga pejuang laskar wanita Banten, 
yang  bernaung di Wirawati Catur Panca; Hj. Oyok, Hj. Emilia, dan Hj. 
Sulastri. Beberapa aktivis AWAK hadir; Yhanu Setiawan(Clean Community), 
Ibnu PS Megananda (Lampu Kegelapan), Alfaris (majalah Katarsis), dan 
Masyarakat Café Ide.

“Saya marah dan dongkol,” itu pendapat yang dilontarkan Hj. Emilia 
ketika acara pemutaran film dibuka performance art oleh Toto ST Radik. 
Penyair kelahiran Singarajan mengibaratkan dirinya sebagai bupati Seran 
yang mengumbar janji saat kampanye, tapi langsung kena penyakit amnesia 
setelah duduk di kursi bupati. 

Usai pemutaran film, ada diskusi bersama Jack Lamota (sutradara dari 
Imaji film), Gola Gong (jubir AWAK), dan Teguh Iman Prasetya SE, MSi 
(dosen FISIP Untirta). Dipandu Aji Setiakarya, tergambar suasana haru 
saat Hj. Oyok menangis mengungkapkan kekeewaannya, karena para pemimpin 
Serang membiarkan gedung Makodim rata dengan tanah. “Saya titip, jangan 
ada gedung bersejarah lainnya yang hilang.” Pejuang tua itu menyebut 
gubernuran, gedung Juang, Makorem, dan Polres.

Herwan FR, dosen sastra dan Bahasa Indonesia mengungkapkan 
kesannya, “Kok, kayaknya kita ditipu mereka, ya!” Hal itu dibenarkan 
Gola Gong. Bahkan para mahasiswa juga sepakat, bahwa para pemimpin 
Serang sudah menipu rakyatnya.

SIAP
Isak tangis belum juga reda. Film dokumenter Makodim diputar di SMA 
Unggulan atau SMA Cahaya Madani Banten Boarding School, Pandeglang, para

pelajar dengan spontan mengatakan kemarahan dan kekesalannya. Seorang 
siswi asal Ciruas mengusap air matanya berkali-kali. “Para pemimpin 
Serang itu tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan Banten!” katanya 
menangis.

Aroma kekecewaan dan kemarahan tergambar jelas. Suasana  bahkan sangat 
mencekam, ketika teriakan jihad dan “Allahu Akbar” menggema. “Kami siap 
mempertahankan gedung-gedung bersejarah yang masih ada!” kata seorang 
siswa marah. Kini yang harus kita lakukan adalah, menghancurkan budaya 
permisif di masyarakat kita, yang serba memperbolehkan apa saja. Tidak 
peduli apakah itu salah atau tidak.

*** 




Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links



 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke