Bung (sebaiknya saya panggil akang ya) Thamrin,

Rupanya akang pernah berkerja di Pers Daerah Kompas. Mungkin karena kesibukan masing-masing, kita tidak sempat berkenalan lebih dekat, atau memang waktu kita tidak dipertemukan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi saya bersyukur bahwa Akang memiliki apresiasi terhadap niatan baik yang dilakukan pers lokal di Banten, terutama Radar Banten.

Sekadar bercerita tentang saya (maaf bukan untuk show), saya kembali ke Banten tahun 2001 dengan predikat wartawan harian sore Sinar Harapan yang betempat tinggal di Kota Serang. Selama itu saya menyaksikan perilaku pers di sini, baik merupakan representasi dari kebijakan perusahaannya atau perilaku orang-orangnya (wartawan), sehingga saya melontarkan tanggapan yang singkat kepada Kang Thamrin seperti yang sudah akang baca.

Akang menyebut nama almarhum Valens Doys. Dia adalah guru saya dan inisial im (indonesia muda) adalah pemberiannya. Dia mengajarkan soal penulisan yang menggunakan diskripsi dan narasi (bertutur) tanpa mengomentari fakta-fakta. Mathias Pandu (Padang) adalah sejawat senior saya di Kompas. Sedangkan Zairil Asril juga sejawat saya yang beda 2-3 tahun dari saya. Satu lagi Her Suganda, senior Kompas di Bandung yang mengajarkan saya bagaimana menggali sebuah berita yang belandaskan kaidah-kaidah investigasi (penyelidikan) yang pola kerjanya hampir mirip dengan intel.

Jika dibandingkan dengan apa yang diajarkan mereka bagaimana mengelola sebuah media dan nilai-nilai yang harus dijalankan, tentu saja pers lokal di Banten masih jauh dari kondisi-kondisi yang diharapkan.

Tentu saja, saya (maaf) tidak diam melihat perkembangan yang mengarahkan ke hal-hal hitam dalam dunia kewartawanan. Tetapi kelompok dominan (sering disebut Kelompok Rawu yang dipimpin Chasan Sochib, ayah Atut Chosiyah, Plt Gubernur Banten) terlalu kuat dan menjadi kelompok penekan yang acapkali membuat para kuli tinta di Banten tidak bisa memilih, meski sekadar bersikap.

Kelompok ini dalam prakteknya melalui tangan-tangan orang kepercayaan Wawan, adik Atut dan anak Chasan melakukan tekanan-tekanan jika ada wartawan yang menulis berita yang tidak berkenan dengan kelompok mereka. Tekanan itu bermacam-macam mulai dari teror, telepon hingga pemukulan. Kemudian, semuanya diselesaikan dalam bentuk materi, terutama uang. Kelompok wartawan pun mencoba menyelesaikan persoalan itu melalui jalur hukum seperti mendatangi kepolisian, kejaksaan dan yang berkaitan dengan hal itu. Lagi-lagi, mereka berhasil menyelesaikannya dengan uang.

Jika Akang Thamrin cermati 2 harian lokal di Banten, maka salah satunya (maaf tidak menyebut nama) sangat mendukung Kelompok Rawu. Bahkan sejumlah wartawan mengetahui, ketika akan cetak, print out harian itu diperiksa dulu oleh orang kepercayaan kelompok ini. Padahal orang ini tidak tercatat sebagai staf redaksi, redaktur atau pimpinan. Tapi dia mampu mencabut dan menentukan berita apa saja yang boleh turun di harian itu. Luar biasaa!

Terhadap sebagian wartawan yang medianya terbit di Jakarta (nasional) tekanan pun dilakukan. Ada yang berhasil menggunakan cara uang, ada juga yang berhasil dengan mengajak berfoya-foya melalui perempuan nakal dan minuman keras. Atau memberikan bantuan pada saat-saat si wartawan terjepit dengan masalah ekonomi. Pada akhirnya, mereka tak memiliki pilihan, selain mengikuti kemauan kelompok dominan itu.

Kang Thamrin, saya pun pernah mencoba untuk "bermain" di lokal, menjadi Pemred Komunitas, sebuah tabloid yang terbit mingguan. Saya memangku jabatan itu sejak Oktober 2005. Dari sebuah tabloid yang nyaris punah, tabloid itu bisa bangkit dengan gaya pemberitaan yang lebih independen, menulis dengan gaya apa adanya.

Namun saya terpaksa mengundurkan diri dari tabloid itu sejak tanggal 15 Desember 2005. Alasannya, selain pendiri tabloid itu tidak berniat baik untuk membangun mekanisme dan sistem, juga orang paling dekat dari pimpinan Kelompok Rawu akan masuk dengan membawa modal yang cukup besar. Pendiri tabloid itu sudah mengisyaratkannya, dan saya sudah menolaknya, tapi tidak digubris. Karena itu, saya mengundurkan diri.

Begitulah Kang Thamrin, kondisi pers lokal di Banten.

salam,
Iman Nur Rosyadi




machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Kang Iman yang baik.


Saya tidak memuja-muja Radar Banten, namun ketika seseorang telah
berani memulai sebuah sikap untuk hidup lebih baik, saat itu kita
harus memberikan apresiasi terhadap sikap tersebut.

Langkah menolak THR yang dilakukan Radar Banten adalah sebuah titik
awal tercipnyanya budaya pers yang bersih di Banten.

Saya bukan Tuhan yang tahu apakah semua wartawan Radar Banten ataupun
wartawan lainnya menolak dan atau menerima amplop dari sumbernya.
Namun apapun ini adalah sebuah langkah awal yang baik.

Saya memang tidak pernah bekerja di Kompas seperti Kang Iman dulu.
Namun dulu Almarhum Om Valens Doy, Zaili Asril, Om Matias Pandu juga
sempat membagi kebanggaannya, kepada anak-anaknya di Pers Daerah
Kompas Gramedia, mungkin Kang Iman ingat, betapa kita bangga, bisa
menolak pemerian dari narasumber, meski gajian masih jauh, dan uang
di dompet hanya cukup untuk pergi ke kantor.


Semoga kebanggaan terhadap profesi yang tidak bisa dibeli siapapun,
ada pada teman-teman di Banten. Kalau sapu yang digunakannya kotor,
bagaimana kita bisa berharap, lantainya akan bersih. Karena itu
sekali lagi, ini adalah sebuah apresiasi terhadap rekan-rekan yang
memulai budaya bersih.

Salam



Machsus Thamrin




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Tetap Semangat Mencintai Banten!



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke