Kang Saprudin,
Ohh jadi begitu toh... Saya ini terkadang bingung dengan orang-orang Acheh ini.
Saya mau cerita nih (bukan untuk show off), saya sempat ikut sebuah workshop yang diadakan di Universiteit van Amsterdam di Belanda. Workshop tersebut tentang pembelian kapal perang Belanda oleh RI. Hadir di sana dua aktivis yang - waktu itu tahun 2004- paling dicari pemerintah (saya tak perlu sebutkan namanya). Salah satunya teman Acheh itu. Dia mengatakan bahwa permasalahan sesungguhnya di Acheh itu bukan masalah syariat Islam, tapi ini lebih berkenaan dengan kehendak orang Acheh untuk menentukan nasibnya sendiri.
Menurut Anda sendiri sebagai keturunan Acheh bagaimana memandang masalah ini.
Dan ternyata memang secara tidak langsung (atau mungkin langsung) tsunami telah membawa hikmah tersendiri: perdamaian.
Tapi saya masih pesimis
bahwa isu kemerdekaan tidak akan dilontarkan lagi oleh aktivis Acheh. Jujur, saya sendiri kurang setuju dengan ide separatis, namun kalau melihat keadaan bangsa Acheh, logis juga membiarkan mereka menentukan nasibnya sendiri. Kalau itu memang membuat mereka lebih baik.
tabik,
Bonnie Triyana
SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum wr. wb.Maaf ya Bung Boni atas kelancangan saya dalam mimbar bebas milis wongbanten ini.Masalah debat dengan orang Acheh itu sangat fundamental sekali. Dimulai perdebatan masalah seputar Dauh Beureuh yang memberontak kepada pemerintah R.I. jaman Soekarno hingga melahirkan sosok Hasan Tiro. Perdebatan melebar dan panjang hingga sekarang hampir 4 tahun.Komunitas Acheh yang terkumpul dalam GAM itu tetap berpendirian, bahwa Acheh adalah bangsa tersendiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan R.I. Bahkan orang Acheh selalu mempermasalahkan keabsahan kemerdekaan R.I. yang diploklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Bukan itu saja, bahwa bangsa Acheh (mereka menamakan demikian) menganggap bahwa Acheh sedang dijajah oleh orang jawa.Nah mengenai Drs. Ahmad Sudirman, Lc, salah satu alumni UNISBA. Pada waktu pemerintahan Soeharto dia menimba ilmu di Kairo Mesir. Di mesir dia sering menulis artikel yang selalu menyudutkan pemerintahan Soeharto. Hingga akhirnya Ahmad Sudirman itu dicopot kewarganegaraannya oleh pemerintah R.I., dan Ahmad Sudirman mencari suaka politik dan akhirnya menclok di Eropah dan menjadi salah satu warga negara Swedia.Ahmad Sudirman adalah orang pasundan (Sumedang), namun sekarang dia gigih bersama GAM di Swedia memperjuangkan kemerdekaan Acheh.Mengenai saya selaku warga NKRI tentunya ikut bicara dan menyanggah segala argumen-argumen GAM yang tetap ngeyel ingin lepas dari Indonesia.Itulah gambaran sekilas polemik saya dengan Ahmad Sudirman itu.Wassalamualaikum wr. wb.Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> menulis:Kang Saprudin yang baik,Saya temukan polemik ini. Saya tidak mengerti Anda sedang berdebat apa dengan orang Acheh ini? Sampe rame begini?Kebetulan, ketika saya di Amsterdam tahun lalu, saya berteman dengan seorang aktivis Acheh yang sekarang telah menjadi warga negara Belanda (dia dikejer-kejer RI karena ikut sebagai delegasi GAM di perundingan Tokyo beberapa tahun lalu. Akhirnya minta asylum pada Belanda). Saya sering ngobrol dan diskusi tentang masalah Acheh. Dia sering menyebut-nyebut nama Ahmad Sudirman. Apakah Anda kenal pada Ahmad Sudirman itu?Kebetulan saya membaca polemik Anda dengannya.Thanks atas infonya.tabik,Bonnie Triyana=======================================================Stockholm, 1 Agustus 2005Bismillaahirrahmaanirrahiim.Assalamu'alaikum wr wbr.OTAK SAPRUDIN SUDAH LOYO, AKHIRNYA HANYA SANGGUP MENGATAKAN: ITU ORANG BERPENGETAHUAN SUUAhmad SudirmanStockholm - SWEDIA.KARENA OTAK SURYA PASAI SAPRUDIN SUDAH LOYO, MAKA AKHIRNYA HANYA SANGGUP MENGATAKAN: ITU ORANG BERPENGETAHUAN SUUIngatan otak anda terhadap sejarah cukup kuat, namun itu hanya sebatas ingatan yang tertulis dalam lembaran-lembaran kertas. Namun keabsahan sejarah yang tertulis itu belum tentu objektif dengan kejadian-kejadian masa lampau. Kalau kamu bisa menjamin keabsahan sejarah yang kamu kuasai tentang tekad GAM ingin memisahkan Aceh dari NKRI, kenapa kamu tidak membawanya ke mahkamah internasional untuk mencari solusi pembenaran. Cuman debat kusir, dan adu argumentasi, tapi outputnya tidak menghasilkan apa-apa. Perdebatan yang kian hari kian meluas, dan tidak memberikan satupun kontribusi yang dapat dijadikan acuan, bahkan validitas dari akar permasalahanpun menjadi buruam. Kamu bisa berargumentasi berdasarkan penalaran dari hasil penelaahan sejarah dari sudut pandang yang berbeda dengan orang lain. Saya akui kehebatan kamu, namun sayang kehebatan kamu cuman mendatangkan masalah. (SP Saprudin, [EMAIL PROTECTED] , Mon, 1 Aug 2005 15:12:45 +0700 (ICT))Baiklah Surya Pasai Saprudin di Jakarta, Indonesia.Saprudin, kalau kalian hanya sebatas mengatakan: Namun keabsahan sejarah yang tertulis itu belum tentu objektif dengan kejadian-kejadian masa lampau. Itu tandanya, kalian Saprudin, memang tidak mengerti dan tidak paham tentang fakta, bukti, dan dasar hukum yang dijadikan jalur pondasi berdirinya RI yang dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Mengapa ?Sudah jelas, itu fakta, bukti, dan dasar hukum yang dijadikan sebagai jalur pondasi berdiri, tumbuh dan berkembangnya RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua, tertuang dalam setiap periode jalur tumbuh dan berkembangnya RI. Perjanjian demi perjanjian telah dijalankan. Pertempuran demi pertempuran telah berkobar. Pergumulan demi pergumulan dalam bidang diplomasi dan politik telah dilakukan. Itu semua terekam dalam jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.Masalahnya sekarang, kalian Saprudin tidak mengerti dan tidak paham apa yang telah dijadikan sebagai jalur pondasi berdirinya RI dihubungkan dengan Negara-Negara dan Daerah-Daerah diluar RI, Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Bagaimana absahnya Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947, Perjanjian Renville 17 Januari 1948, Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949, Perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949, KMB 2 November 1949, penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RIS 27 Desember 1949.Nah, karena keminiman dan ketidaktahuan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat inilah, mengapa itu Saprudin dengan seenak perutnya sendiri menyatakan: Namun keabsahan sejarah yang tertulis itu belum tentu objektif dengan kejadian-kejadian masa lampauBagaimana bisa dikatakan belum tentu objektif, padahal itu dasar hukum yang dijadikan berdirinya RI, sudah tertera dan diakui dunia internasional melalui Perjanjian demi Perjanjian.Selanjutnya, Saprudin menulis: Kalau kamu bisa menjamin keabsahan sejarah yang kamu kuasai tentang tekad GAM ingin memisahkan Aceh dari NKRI, kenapa kamu tidak membawanya ke mahkamah internasional untuk mencari solusi pembenaran.Saprudin, itu masalah konflik Acheh ini pernah dibahas oleh Ahmad Sudirman agar diajukan ke Mahkamah Internasional, seperti masalah Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Tetapi, mana berani itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan ke Mahkamah Internasional tentang masalah Acheh ini. Baru saja merundingkan untuk damai di Helsinki, itu pihak RI, terutama dari kalangan PDIP dan Megawati serta Abdurrahman Wahid, sudah mencak-mencak seperti cacing kepanasan. Dengan alasan masalah Acheh sudah diinternasionalisasikan, masalah partai politik lokal bertentangan dengan UUD 1945 dan hanya menjurus kepada kedaerahan dan idiologi saja.Jadi, ini baru saja penyelesaiannya melalui jalur politis, yang dipasilitasi oleh badan ketiga, dalam hal ini Presiden Martti Ahitsaari dari Finlandia, dengan didukung oleh negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, dan juga oleh negara-negara anggota ASEAN. Itu Megawati, Abdurrahman dan jenderal-jenderal TNI sudah putar-putar seperti cacing kepanasan.Oleh karena itu, mana berani dan mana mau itu pihak RI, dalam hal ini kaum PDIP, Megawati dan Abdurrahman Wahid siap bergumul di medan Mahkamah Internasional untuk memperjuangkan tanah Acheh. Belum apa-apa orang-orang itu sudah mencret. Paling alasannya, mudah saja, itu masalah Acheh adalah masalah domestik, titik.Memang, di mimbar bebas ini perdebatan tentang Acheh makin meluas, bukan hanya Acheh, melainkan juga Papua. Ahmad Sudirman mendukung penuh perjuangan bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri. Ahmad Sudirman mendukung penuh perjuangan bangsa Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri dengan melalui penentuan pendapat rakyat (Ascertainment of the wishes of the people) yang diikuti oleh seluruh bangsa Papua di Papua, sesuai dengan hasil Perjanjian New York 15 Agustus 1962. Bukan pepera model mbah Soekarno yang dijalankan pada bulan 14 Juli- 4 Agustus 1969, dengan hanya memilih 1026 wakil-wakil dari delapan Kabupaten untuk didudukkan dalam Dewan Musyawarah Pepera. Dan anggota Dewan Musyawarah Pepera inilah yang memutuskan gabung kedalam RI atau merdeka.Nah pepera model mbah Soekarno inilah yang tidak sesuai dengan aturan internasional tentang penentuan pendapat rakyat atau plebisit atau referendum. Dan pepera model mbah Soekarno inilah yang digugat kembali oleh bangsa Papua dan juga oleh anggota-anggota Kongres Amerika atau DPR Amerika Serikat.Jadi, apa yang dibicarakan di mimbar bebas ini telah memberikan kontribusinya untuk dijadikan acuan dalam penyelesaian damai di Acheh. Sehingga salah satunya melahirkan perundingan Helsinki. Begitu juga tentang pepera di Papua, dimana solusinya melalui pepera yang diikuti oleh seluruh bangsa Papua, sebagaimana yang diinginkan oleh seluruh bangsa Papua Barat dan anggota-anggota Kongres Amerika Serikat.Nah, apa yang telah dibicarakan di mimbar bebas ini, akhirnya sampai kepada penyelesaian damai Acheh, melalui jalur perundingan Helsinki, dan telah disepakati. Tinggal penandatanganan pada tanggal 15 Agustus 2005, dan pelaksanaannya dilapangan dari hasil kesepakatan yang dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding Helsinki 15 Agustus 2005, akan dimonitor oleh tim monitoring dari Uni Eropa dan ASEAN.Jadi, apa yang dibicarakan di mimbar bebas ini tentang Acheh, menghasilkan perdamaian di Acheh. Bukan menyebabkan timbulnya masalah.Dan apa yang dikatakan Saprudin: Kamu bisa berargumentasi berdasarkan penalaran dari hasil penelaahan sejarah dari sudut pandang yang berbeda dengan orang lain. Saya akui kehebatan kamu, namun sayang kehebatan kamu cuman mendatangkan masalah..Jelas, tidak menimbulkan masalah apa yang telah dijelaskan Ahmad sudirman di mimbar bebas ini, malahan sebaliknya, menghasilkan perdamaian di Acheh. Dan sekaligus bangsa Acheh jadi mengetahui akar utama timbulnya konflik Acheh dan bagaimana untuk penyelesaian konflik Acheh yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad ini.Karena itu kalau kalian Saprudin menyatakan: Kalau saya sebut kamu adalah orang yang berpengetahuan "suu".Jelas, itu yang kalian Saprudin katakan adalah hasil perasan ampas pikiran yang keluar dari otak yang telah dipenuhi oleh mitos-mitos Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat buatan mbah Soekarno saja.Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman----------Date: Mon, 1 Aug 2005 15:12:45 +0700 (ICT)From: SP Saprudin [EMAIL PROTECTED]Subject: Balasan: MR. Ahmad, menurut anda, apa solusinya ???To: Agoosh Yoosran <[EMAIL PROTECTED]>, Ahmad Sudirman [EMAIL PROTECTED]Cc: warwick aceh <[EMAIL PROTECTED]>, Mathius Dharminta <[EMAIL PROTECTED]>, SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]>, Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]>, muba zr [EMAIL PROTECTED]Assalamualaikum wr. wb.Ingatan otak anda terhadap sejarah cukup kuat, namun itu hanya sebatas ingatan yang tertulis dalam lembaran-lembaran kertas. Namun keabsahan sejarah yang tertulis itu belum tentu objektif dengan kejadian-kejadian masa lampau.Kalau kamu bisa menjamin keabsahan sejarah yang kamu kuasai tentang tekad GAM ingin memisahkan Aceh dari NKRI, kenapa kamu tidak membawanya ke mahkamah internasional untuk mencari solusi pembenaran.Cuman debat kusir, dan adu argumentasi, tapi outputnya tidak menghasilkan apa-apa.Perdebatan yang kian hari kian meluas, dan tidak memberikan satupun kontribusi yang dapat dijadikan acuan, bahkan validitas dari akar permasalahanpun menjadi buruam.Kamu bisa berargumentasi berdasarkan penalaran dari hasil penelaahan sejarah dari sudut pandang yang berbeda dengan orang lain. Saya akui kehebatan kamu, namun sayang kehebatan kamu cuman mendatangkan masalah.Kalau saya sebut kamu adalah orang yang berpengetahuan "suu".Betul, kamu adalah anak bangsa yang terbuang dari negerinya.Wassalamualaikum wr. wb.Saprudin[EMAIL PROTECTED]Jakarta, Indonesia----------Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.comSend instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Tetap Semangat Mencintai Banten!
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "wongbanten" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
Kirim email ke
