ikut beropini. Saya pribadi berdoa, semoga yang memimpin serang saat ini dapat membawa misi PAS (Perubahan, Adil, Sejahtera)sesuai dgn jargon kampanyenya kemaren.Sekalipun begitu, angin PAS yang didengungkan tidak sekuat ketika kampanye dulu, RAPBD serang(sekarang sudah APBD)-dari analisis beberapa cendekiawan lokal yang dimuat di RB, mengatakan: RAPBD masih memihak pada para pengusaha atau 'Wong Gede', keberpihakan pada rakyat kecil masih minim. saya pun baca dari koran RB, tanggapan fraksi2 DPRD yang ada menyoroti RAPBD ini, kecuali PKS, dan lebih mengejutkan lagi Golkar pun ternyata mendukung, padahal setelah kekalahan Bunyamin-praktis Golkar memposisikan sbg oposisi (paling tidak itu pernyataan2 politik yang saya baca di RB), dan secara pribadi saya bertanya2 Whats Up ?! Saya cuma menduga, ini (mungkin) mirip dengan yang terjadi di Pusat. Setelah Kalla naik, Golkar pun (akhirnya) menjadi pendukung pemerintah, jadi kalau gitu sama dong-Pilkada serang dimenangkan oleh Golkar ! toh taufik pun sebelumnya memang orang Golkar dan aktif di Golkar. selebihnya dipikir oleh logika anda sendiri saja.
Saya hanya menyayangkan PKS, yang memposisikan sbg partai pendukung pemerintah. Entah karena mengejar target 2009 (lazimnya dalam dunia politik, 3 tahun sesudah pemilu adalah masa mendulang emas-dgn bahasa vulgar ngumpulin proyek, ngisi kas, setelah itu 2 tahun menjelang pemilu baru car-muk lagi sama rakyat), atau alasan lainnya (dalam ukuran normatif) ingin berdakwah di pemerintah secara langsung. dengan memakai dalil, meminimkan mudharat, dengan menjadi pelaku langsung. trus saya bertanya, emang siapa manusia PKS? apakah benar2 tahan banting? atau dibanting tahan? apakah sanggup tetap menjadi ikan tawar, di laut yang asin? padahal lautnya pun sudah lama tercemari oleh LIMBAH?, apakah masih tetap hidup jika laut pun sudah tercemari oleh Limbah? Begitu Kang Nur, Itulah perspektif pandangan saya sebagai rakyat jelata, perubahan masih menjadi mimpi, Keadilan apalagi.., Sejahtera, hanya ada dalam kamus para birokrat dan mucikari politik saja, dan satu hari nanti, kita semua akan sampai pada kondisi "AKU SUDAH BOSAN TAKUT, SUDAH BOSAN PUTUS ASA,-Pramoedya Ananta Toer. seperti yang terjadi di Iran, Kuba, dll. Rakyat lah yang turun ke jalan. Sekalipun begitu, kita sama2 berdoa, semoga semua mendapat taufik hidayah Alloh. dan kayaknya memang di TV kita harus sering dibuat program film fiksi, semodel AZAB ILAHI, atau RAHASIA ILAHI, dll...biar kepikiran kalau mati nati kayak gimana, hehehe...(udah ah, mikirin orang lain aja, mikir sendiri aja masih susah) Howgh ! JK ..... -----Original Message----- From: nur iswan [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, December 16, 2005 10:43 PM To: [email protected] Subject: [WongBanten] Pers Lokal dan "Org Kuat" Banten kang iman, penjelasan sampeyan ttg pers lokal banten menambah pengethaun saya. Jika sy sd mudik ke Banten, saya sering memimpikan kapan banten punya pers lokal yg kuat. Di negara maju, pers lokalnya kuat sekali, dan saya ingin pers lokal di banten juga kuat..... saya berempati dengan perjuangan kang iman memperkuat pers lokal, skrg bekerja di RB atau FB kang. Saya ingin komentar sedikit ttg "Org Kuat Banten". Namanya memang cukup legendaris, bahkan sejak saya kecil, Haji Kasan, org tua saya menyebutnya begitu termasuk jawara yg lumayan ditakuti tapi bukan disegani. Hebatnya, dia survive terus melewati beberapa era pemerintahan. Ia tak tergulung oleh derasnya reformasi ya..., malah sejak reformasi ia makin berjaya. beberapa bupati di banten, mampu dipengaruhinya untuk tdk mengatakan mampu di-control-nya. Sbgn besar wong banten, mungkin sebenarnya gelisah juga melihat fenomena org kuat ini. tapi, tak tahu bgmn harus mengurangi perannya. Tapi, belajar dr pak harto, begitu kuatnya, tapi toh pada akhirnya tak bisa berlangsung lama untuk kemudian mundur, dan dikondisikan untuk mau mundur. Sekarang, melalui pilkada, wong banten bisa menghentikan dominasi porg kuat ini. Saya tak tahu lbh pasti, mungkin teman2 di banten punya info yg valid. Mungkin, ia akan berusaha keras untuk menaikan Ibu hj, atut, putri mahkotanya bukan? Juni-juli kemarin saya mudik. ditengah-tengah itu, saya ngobrol dg keluarga besar sy ttg politik di banten. terutama pemilihan bupati di pdg dan serang. anggoata keluarga yg tinggal di banten, akhirnya memilih untuk mendukung pak taufik nuriman, utk melawan bupati incumbent yg disinyalir didukung pak h kasan. Jawara dihadapkan dg tentara, agak berimbang, begitu fikiran mereka. Jadi calonnya harus yg punya otot dan otak. akhirnya, nuriman menang. Tp sy tkd tahu apakah performa pak taufik nuriman membawa maslahat atau mudharat. Mnrt saya p[ak taufik ini juga hrs dikawal dg kritik. ada info tentang kiprah bupati serang skrg? siapa mau berbagi, juga kiprah pak haji dimyati bpt pandegalng yg baru menang? pdhl satu periode mememinpin pdg, ia dianggap kurang berhasil, tp kok bisa tetap menang ya? --- Iman Rosyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bung (sebaiknya saya panggil akang ya) Thamrin, > > Rupanya akang pernah berkerja di Pers Daerah > Kompas. Mungkin karena kesibukan masing-masing, > kita tidak sempat berkenalan lebih dekat, atau > memang waktu kita tidak dipertemukan oleh Yang Maha > Kuasa. Tapi saya bersyukur bahwa Akang memiliki > apresiasi terhadap niatan baik yang dilakukan pers > lokal di Banten, terutama Radar Banten. > > Sekadar bercerita tentang saya (maaf bukan untuk > show), saya kembali ke Banten tahun 2001 dengan > predikat wartawan harian sore Sinar Harapan yang > betempat tinggal di Kota Serang. Selama itu saya > menyaksikan perilaku pers di sini, baik merupakan > representasi dari kebijakan perusahaannya atau > perilaku orang-orangnya (wartawan), sehingga saya > melontarkan tanggapan yang singkat kepada Kang > Thamrin seperti yang sudah akang baca. > > Akang menyebut nama almarhum Valens Doys. Dia > adalah guru saya dan inisial im (indonesia muda) > adalah pemberiannya. Dia mengajarkan soal penulisan > yang menggunakan diskripsi dan narasi (bertutur) > tanpa mengomentari fakta-fakta. Mathias Pandu > (Padang) adalah sejawat senior saya di Kompas. > Sedangkan Zairil Asril juga sejawat saya yang beda > 2-3 tahun dari saya. Satu lagi Her Suganda, senior > Kompas di Bandung yang mengajarkan saya bagaimana > menggali sebuah berita yang belandaskan > kaidah-kaidah investigasi (penyelidikan) yang pola > kerjanya hampir mirip dengan intel. > > Jika dibandingkan dengan apa yang diajarkan mereka > bagaimana mengelola sebuah media dan nilai-nilai > yang harus dijalankan, tentu saja pers lokal di > Banten masih jauh dari kondisi-kondisi yang > diharapkan. > > Tentu saja, saya (maaf) tidak diam melihat > perkembangan yang mengarahkan ke hal-hal hitam > dalam dunia kewartawanan. Tetapi kelompok dominan > (sering disebut Kelompok Rawu yang dipimpin Chasan > Sochib, ayah Atut Chosiyah, Plt Gubernur Banten) > terlalu kuat dan menjadi kelompok penekan yang > acapkali membuat para kuli tinta di Banten tidak > bisa memilih, meski sekadar bersikap. > > Kelompok ini dalam prakteknya melalui > tangan-tangan orang kepercayaan Wawan, adik Atut > dan anak Chasan melakukan tekanan-tekanan jika ada > wartawan yang menulis berita yang tidak berkenan > dengan kelompok mereka. Tekanan itu bermacam-macam > mulai dari teror, telepon hingga pemukulan. > Kemudian, semuanya diselesaikan dalam bentuk materi, > terutama uang. Kelompok wartawan pun mencoba > menyelesaikan persoalan itu melalui jalur hukum > seperti mendatangi kepolisian, kejaksaan dan yang > berkaitan dengan hal itu. Lagi-lagi, mereka berhasil > menyelesaikannya dengan uang. > > Jika Akang Thamrin cermati 2 harian lokal di > Banten, maka salah satunya (maaf tidak menyebut > nama) sangat mendukung Kelompok Rawu. Bahkan > sejumlah wartawan mengetahui, ketika akan cetak, > print out harian itu diperiksa dulu oleh orang > kepercayaan kelompok ini. Padahal orang ini tidak > tercatat sebagai staf redaksi, redaktur atau > pimpinan. Tapi dia mampu mencabut dan menentukan > berita apa saja yang boleh turun di harian itu. > Luar biasaa! > > Terhadap sebagian wartawan yang medianya terbit di > Jakarta (nasional) tekanan pun dilakukan. Ada yang > berhasil menggunakan cara uang, ada juga yang > berhasil dengan mengajak berfoya-foya melalui > perempuan nakal dan minuman keras. Atau memberikan > bantuan pada saat-saat si wartawan terjepit dengan > masalah ekonomi. Pada akhirnya, mereka tak memiliki > pilihan, selain mengikuti kemauan kelompok dominan > itu. > > Kang Thamrin, saya pun pernah mencoba untuk > "bermain" di lokal, menjadi Pemred Komunitas, > sebuah tabloid yang terbit mingguan. Saya memangku > jabatan itu sejak Oktober 2005. Dari sebuah tabloid > yang nyaris punah, tabloid itu bisa bangkit dengan > gaya pemberitaan yang lebih independen, menulis > dengan gaya apa adanya. > > Namun saya terpaksa mengundurkan diri dari tabloid > itu sejak tanggal 15 Desember 2005. Alasannya, > selain pendiri tabloid itu tidak berniat baik untuk > membangun mekanisme dan sistem, juga orang paling > dekat dari pimpinan Kelompok Rawu akan masuk dengan > membawa modal yang cukup besar. Pendiri tabloid itu > sudah mengisyaratkannya, dan saya sudah menolaknya, > tapi tidak digubris. Karena itu, saya mengundurkan > diri. > > Begitulah Kang Thamrin, kondisi pers lokal di > Banten. > > salam, > Iman Nur Rosyadi > > > > > machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Kang Iman yang baik. > > > Saya tidak memuja-muja Radar Banten, namun ketika > seseorang telah > berani memulai sebuah sikap untuk hidup lebih > baik, saat itu kita > harus memberikan apresiasi terhadap sikap > tersebut. > > Langkah menolak THR yang dilakukan Radar Banten > adalah sebuah titik > awal tercipnyanya budaya pers yang bersih di > Banten. > > Saya bukan Tuhan yang tahu apakah semua wartawan > Radar Banten ataupun > wartawan lainnya menolak dan atau menerima amplop > dari sumbernya. > Namun apapun ini adalah sebuah langkah awal yang > baik. > > Saya memang tidak pernah bekerja di Kompas seperti > Kang Iman dulu. > Namun dulu Almarhum Om Valens Doy, Zaili Asril, Om > Matias Pandu juga > sempat membagi kebanggaannya, kepada anak-anaknya > di Pers Daerah > Kompas Gramedia, mungkin Kang Iman ingat, betapa > kita bangga, bisa > menolak pemerian dari narasumber, meski gajian > masih jauh, dan uang > di dompet hanya cukup untuk pergi ke kantor. > > > Semoga kebanggaan terhadap profesi yang tidak bisa > dibeli siapapun, > ada pada teman-teman di Banten. Kalau sapu yang > digunakannya kotor, > bagaimana kita bisa berharap, lantainya akan > bersih. Karena itu > sekali lagi, ini adalah sebuah apresiasi terhadap > rekan-rekan yang > memulai budaya bersih. > > Salam > > > > Machsus Thamrin > > > > > > Tetap Semangat Mencintai Banten! > > > > SPONSORED LINKS > > Indonesia visa > Indonesia phone card > Indonesia calling card > > Indonesia travel > Bali indonesia > Indonesia > > > --------------------------------- > YAHOO! GROUPS LINKS > > > Visit your group "wongbanten" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email > to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the > Yahoo! Terms of Service. > > > --------------------------------- > > > > > === message truncated === Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
