Kalau memang reporternya bersikap arogan, tidak ada salahnya kita beri pelajaran, wabilkhusus oleh pemuka Baduy. Daripada banyak urusan dan bertele tele, coba saja lakukan cara penyelesaian "Ala Baduy dalam". saya kira teman teman warga Banten mafhum dan mengerti, itupun kalau cara musyawarah dan kekeluargaan sulit dilakukan.
Tunjukan kepada mereka .. "ini Banten / Baduy bung" jangan ngelunjak gitu loh......Sekali lagi, kalau memang perlu dikasih pelajaran... kasih saja... ada yg jual, berarti ada yg beli...
Wassalam.
DRH
Suka damai tapi siap berontak (kalau memang orang banten "pemberontak".. ambil istilah kang Boni)
----- Original Message -----
 
Pro :[EMAIL PROTECTED] :" "Saya seorang reporter. Jika mungkin Tuhanpun saya wawancarai". Sepenggal kalimat yang membuat saya
terhenyak. Sejauh itukah yang ada dikepala reporter
pada masa reformasi ini?"
 
weleh-weleh apa bener kang Jaya (OWNER) sejauh itu paradigma berfikir tentang konsep tuhan salah satu reporter Tran TV?
 
Cuman Tuhan yang mana (versi baduy)?
 
Membaca ini saya teringat seorang atheis orang indonesia yang tinggal lama di LA. 
"Bagi saya, agama hanyalah hiburan untuk melengkapi kebahagian manusia baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Saya menolak semua ajaranagama yang hanya memberi dan menjanjik an kebahagiaan hanya kepada mereka yang percaya, dan menghukum dengan bencana maupun neraka kepada mereka yang tidak percaya."
 
"Bagi saya Tuhan tidak pernah menghukum siapapun yang tidak percaya kepadanya, sama seperti juga saya yang tidak pernah menghukum maupun membenci siapapun yang tidak percaya kepada saya. Saya bisa membuktikan Nabi Muhammad cuma beristri satu yaitu Khadijah. Saya bisa membuktikan bahwa Khadijah keturunan Yahudi. Saya bisa membuktikan bahwa Waraqa adalah Rabbi Yahudi bukan Kristen. Saya bisa membuktikan bahwa Aisyah bukan isteri nabi Muhammad. Saya bisa membuktikan bahwa Nabi Muhammad
dibunuh Abu Bakar."
 
Pada acara tayang Jelajah di TransTV saya sempat melihat dengan jelas tayangan itu. Saya ngobrol2 lewat tlp dengan teman asal Leuwi Damar-ciboleger dia sempat bengong "Kok Bisa Yah".(dimanakah konservasi n revitalisasi kawasan2 budaya? .
 
JIKA pembangunan mensyarat kan adanya perubahan nilai-nilai budaya dan perilaku warganya, seperti teori Everett E Hagen dalam On the Theory of Social Change: How Economic Growth Begins, secara teoretis seharusnya tidak sulit melaksanakan pembangunan di kawasan Baduy. Ini karena, meski aturan-aturan adat berusaha dipertahankan, nilai budaya dan perilaku sebagian warga Baduy telah berubah (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/22/otonomi/1279433.htm)
 
Namun perubahan2 itu akankah menurunkan/menghilangkan nilai sakral dan aura magic dan dimanfaatkan orang2 yang haus dan menjadikan nilai uang.
Aing mah teu wasa ari kudu milu aturan dia (baduy.red)  
 
Salam
 
didin
 
 
 
 
 
 
 


wong banten <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ketika Tuhan Diwawancarai

"Saya seorang reporter. Jika mungkin Tuhanpun saya
wawancarai". Sepenggal kalimat yang membuat saya
terhenyak. Sejauh itukah yang ada dikepala reporter
pada masa reformasi ini?

Sepenggal kalimat dari pembicaraan penyelesaian
ma salah antara warga Baduy dengan Trans TV itu sempat
membuat saya gelisah. Perasaan bercampur aduk antara
terkejut dan kecewa. Karena pada saat itu dalam kurun
waktu kurang dari satu minggu saya berusaha menengahi
kedua belah pihak dengan mempertimbangkan kehormatan
keduanya dan dengan cara yang sangat mudah.

Ketika mendapat banyak kontak dari rekan reporter baik
reporter media cetak maupun elektronik yang ingin
meliput masalah ini, saya mempertimbangkan untuk tidak
di blow-up dahulu hingga ada titik temu.

Sebenarnya tidak mungkin jika ada seseorang yang
hendak berkunjung, tidak mengetahui adanya hukum atau
peraturan adat di Baduy. Malah dari pembicaraan
tergambar bahwa mereka mengetahui Baduy dengan
"terlalu baik" sehingga yang tergambar bahwa di Baduy
tidak boleh sembarangan karena banyak larangan dan
masih sangat mistis dan penuh dengan "magic". Apalagi
jika yang akan berkunjung itu adalah reporter yang
pasti sudah mengumpulkan data secara lebih baik.

Seperti tidak memperbolehkan mengambil gambar di area
larangan (Baduy Dalam) dan tamu tidak diperbolehkan
memasuki Baduy lewat pintu lain selain Ciboleger
adalah contoh kecil peraturan adat yang memang tidak
tertulis. "Mengapa tidak dipasang plang tanda
peringatan itu, jika memang tidak boleh masuk", protes
salah satu orang yang mengklaim dirinya sudah ratusan
kali dirinya ke Baduy sejak tahun 1970.

Baduy memang bukan Singapore walau di Singapore juga
mengenakan sangsi atau denda yang tidak sedikit bagi
yang melanggar larangan. Di Singapura juga tidak
berbicara apakah orang yang terkena denda harus
mengetahui larangan tersebut. Tahu atau tidak, sudah
pasti kena sangsi. Jika berpatokan pada prinsip dimana
bumi dipijak, disitulah langit dijunjung niscaya
masalah itu tidak akan datang.

Tapi jika masalah belum selesai kemudian melakukan
kesalahan lagi tentunya bukan hanya memb uat gusar
warga Baduy. Mereka sudah pada tingkatan marah pada
saat ini. Untuk kedua kalinya rombongan dari Jakarta
menempuh pintu alternatif untuk melakukan permohonan
maaf di Cikeusik dan kembali mengambil foto acara itu
hanya untuk sekedar bukti pada pimpinannya bahwa
mereka telah melakukan tugasnya dengan sempurna.

Betapa tidak jika masalah ini juga menyeret tokoh
Baduy Dalam yang juga terkena getahnya karena membuat
upacara perdamaian tanpa setahu kokolot yang lain.
Kemungkinan besar ia juga akan terkena hukum adat dari
warga Baduy. Ini menunjukan bahwa persoalan ini bukan
persoalan ringan jika akhirnya seorang tokoh Baduy
Dalam turut menanggung hukuman.

Bukan hanya sampai di situ saja persoalan ini karena
warga di luar Baduypun akan terkena imbasnya jika
tokoh Baduy menutup sementara daerah wisata Baduy
sehingga persoalan ini tuntas. Seperti juga mengapa
tamu tidak diperbolehkan menggunakan jalur alternatif
la in selain Ciboleger pastinya ini masalah ekonomi.
Ditutup sementara atau tamu memutar jalan, yang pasti
warga Ciboleger akan mengalami penurunan pendapatan
dari sektor penjualan cendera mata, makanan dan
minuman, jasa porter dan juga jasa parkir.

Sebenarnya sudah ada langkah yang sangat mudah dalam
penyelesaian masalah ini jika ada pihak yang
menyingkirkan keangkuhannya. Tidak ada yang sulit dan
berat dalam syarat yang diajukan warga Baduy.
Persoalan berat bagi warga Baduy ini mungkin tidak ada
apa-apanya bagi orang lain. Hanya kearifan dan
kebesaran hati yang akan membuat persoalan ini lebih
ringan untuk diselesaikan.

Dan Tuhanpun akan berkata,"Sudahkah kau mengerti Aku
serta menjalankan yang Aku anjurkan dan menjauhi
laranganKu?" Jika iya, "Aku akan mendekat padamu dan
bertanyalah padaKu." ***




Tetap Semangat Mencintai Banten!



YAHOO! GROUPS LINKS









Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin
accept no liability for any loss or damage arising
from the use of this E-Mail or attachments.

Kirim email ke