Saya setuju dengan kalimat terakhir: Kupilih balon biru, dor!//Hatiku
sangat....
Selamat berkurban. ali
BALONKU ADA
, BERAPA YA?
> (SURAT TERBUKA KEPADA PARA BALONGUB BANTEN)
> Oleh Gola Gong
>
> Suatu hari saya mendapat SMS dari Wowok Hesti Prabowo, Ketua Dewan
> Kesenian Tangerang. Dia menyarankan, untuk pembelajaran politik di
> Banten, semua seniman dan budayawan menekan para bakal calon gubernur
> (balongub) Banten, agar tidak lagi menganaktirikan kesenian, kebudayaan,
> dan perpustakaan. Ini agar nasib Taman Budaya Banten dan skandal gedung
> Makodim Serang tidak terulang. Atau, Kau maju jadi balongub dan aku
> jadi balonwagub, tulisnya di SMS yang lain.
>
> CITRA MAHAL
> Saya setuju jika para balongub membuka matahatinya pada kesenian,
> kebudayaan, dan perpustakaan. Tapi, saya tidak tertarik untuk
> mencalonkan diri jadi balongub Banten. Pertama, saya tidak punya uang.
> Di mailing list wongbanten, ada bocoran tentang almarhum Ekky
> Sachrudin, Untuk jadi bupati saja butuh 1 milyar! Bagaimana jadi
> gubernur? Jika realitasnya seperti itu, saya mustahil bisa mendaftarkan
> diri. Kedua, untuk maju jadi balongub harus memiliki gerbong partai.
> Lha, saya? Partai seniman? Mbelekedebleh
! Mau merayu sebuah partai?
> Dari bisik-bisik tetangga (ini lagu milik ratu dangdut Elvy Sukaesih)
> atau rumors yang berkembang, ongkosnya mahal, bo! Milyaran gitcuh lho!
> Alasan ketiga, saya tidak mempunyai kemampuan (apalagi pengalaman).
> Keempat, ini ancaman dari Abdul Malik (Litbang Radar Banten). Kata
> Malik, Saya tidak akan memasukkan nama Gola Gong di antara ke-19
> balongub Banten lewat polling SMS 7471 JABAN (Jaring Aspirasi Banten)!
> Apa betul semahal itu ongkos yang dikeluarkan untuk sekedar jadi
> balongub Banten? Tryana Syamun (TS) rajin memasang wajahnya yang gagah
> di hampir seluruh koran lokal; membangun citranya sebagai balongub;
> menyebut dirinya sebagai Ketua Pendiri Provinsi Banten. . Satu halaman
> penuh. Full colour. Bahkan kolom di Radar Banten dan media (kampanye)
> bikinan tim suksesnya
> Berapa ratus juta uang yang sudah dikeluarkannya? Sekaya itukah TS? Atau
> beberapa rekanan bisnisnya di Jakarta seperti yang dia janjikan akan
> memboyong perusahaan nasional ke Banten jika terpilih jadi gubernur
> menyokong dana kampanyenya? Kalau betul begitu, bisa gawat, Coy! Jika TS
> terpilih, bisa-bisa para pendukung dananya meminta kembali dananya
> dengan cara jatah proyek.
> Okelah dana awal untuk membangun citra para balongub itu keluar dari
> koceknya sendiri. Bisakah selama 5 tahun menjabat gubernur, akan impas
> (hanya) dari gaji perbulannya? Kalau jadi bupati saja merogoh 1 milyar,
> berarti agar impas gaji bupati minimal Rp.20 juta/bulan. Hanya impas.
> Jika ongkos jadi gubernur lebih dari 1M, berarti gajinya harus Rp. 50
> juta? Apakah ini tidak membuka peluang korupsi?
> Begitu juga Muchtar Mandala (MM), Irsyad Djuwaeli, dan Bueti Nasir
> (BN).Walau mereka tidak seroyal TS (karena tidak kaya), tetap saja
> mengeluarkan ongkos mahal membangun citra dirinya. Di koran ini
> diberitakan, Rt Atut Chosiyah (Atut), Plt Gubernur Banten, memasang foto
> dirinya di liflet, kalender, dan spanduk kegiatan provinsi, sehingga
> Ismet Iskandar, Bupati Tangerang, menyuruh instansi terkait di
> wilayahnya untuk segera mencopot. Sedangkan Marisa hanya bisa melakukan
> safari kegiatan dan wartawan memberitakannya. Juga Marisa menulis kolom.
> DAFTAR
> Begitulah. Orang yang paling banyak duitnya, paling pintar, paling
> mampu, dan paling punya massa, dengan mengatasnamakan demi kemajuan
> Banten berlomba-lomba tampil di koran. Bahkan seperti para pelajar
> lulusan SMA, berbondong-bongong mendaftar ke partai pemenang pemilu.
> Lihat saja PBR (Partai Bintang Reformasi), yang dengan sangat percaya
> diri melakukan tes kelayakan kepada beberapa balongub (Radar Banten,
> 6/1). PKS mengumumkan menerima 4 balongub; Wahidin Halim, TS, MM, dan
> Usamah Hisyam. Sedangkan Atut dinyatakan tidak lulus oleh PKS (Radar
> Banten, 6/1). Di kubu PDIP, 6 balongub sudah mendaftar; Atut, BN,
> Suryana, Nana Atmana, Fauna Prayoga, Iman Ariyadi (IA) dan Ayip Muflich.
> Kabarnya Marissa akan menyusul.
> Lihatlah, posisi AI seperti sebuah dagelan Srimulat saja. Nama-nama yang
> entah muncul dari mana dengan sangat yakinnya mengambil formulir, seolah
> hendak melamar kerja ke perusahaan swasta, dengan spekulasi 9 juta
> rakyat Banten dipertaruhkan nasibnya. Padahal jika alasannya ingin
> membangun Banten, kenapa seorang TS yang banyak uang dan koneski
> bisnisnya mendunia, tidak sejak dulu melakukannya? Misalnya membangun
> pabrik, membuat TV lokal dan koran lokal, sehingga ribuan warga Banten
> mendapatkan pekerjaan layak.
> MM yang mantan bankir membangun bank Banten atau universitas kelas
> dunia? Perpustakaan megah dan komplet. Bahkan juga Marissa, yang tentu
> akan banyak manfaatnya jika berkonsentrasi membangun Banten lewat
> kesenian dan kebudayaan yang dikuasainya tanpa harus jadi A1 dulu. Tapi
> kemana saja mereka selama ini, ketika Banten sekarat? Kemana juga para
> balongub lainnya saat gedung Makodim Serang diratakan dengan tanah? Saya
> tidak melihat mereka mempunyai kearifan lokal seperti pernah di
> dengungkan para Sultan Banten, yang keberpihakannya pada rakyat sangat
> nyata.
>
> MEKANISME
> Sebetulnya LKSP (Lembaga Kajian Sosial Politik) FISIP Untirta dan Radar
> Banten sedang berupaya menyodorkan realitas sesungguhnya dari para
> balongub. Lewat polling SMS ke 7471 JABAN, masyarakat Banten yang
> memiliki handphone diminta partisipasi aktifnya untuk memilah dan
> memilih, mana sebetulnya balongub yang layak duduk di kursi panas A1.
> Ini pun pro-kontra. Gandung Ismanto mengkritik di koran ini, bahwa
> polling lewat SMS rentan rekayasa oleh tim sukses balongub. Itu ada
> betulnya. Tapi inilah saatnya bagi para pemilik HP (kelas menengah baru
> di Banten) menghidupkan nyawa demokrasi ke rel sehat. Jika kita memakai
> perspektif Islam dengan zakatnya, marilah kita zakatkan setiap pulsa HP
> kita ke arah SMS yang bermanfaat. Dengan Rp.20.000,- kita pijit abjad
> (dari a hingga s) yang mewakili ke-19 balongub pilihan nurani kita;
> bukan koruptor, tidak mengumbar janji, karya nyatanya jelas, berpihak
> pada rakyat, peduli pada pendidikan, kesenian, kebudayaan, etcetere,
> etcetere
. Insya Allah,
> manfaat yang kita peroleh akan melebihan nilai nominal pulsa senilai
> Rp.20.000,- tadi; berupa Banten yang gemah ripah loh jinawa aman tentrem
> kertaraharja
> Ah, tapi saya kok masih resah. Kenapa pilkadal ini membuka peluang
> korupsi atau praktek politik uang? Ada yang salah dengan demokrasi di
> negeri ini. Demokrasi yang salah kaprah. Mekanisme yang tumpang-tindih.
> Antara presidentil dan parlementer tarik-menarik. Demokrasikah atau
> otoriterkah? Kok, untuk jadi gubenur harus mendaftar ke partai?
> Kenapa logikanya tidak dibalik, partai yang menguber balongub? Jika
> kursi A1 diposisikan sebagai amanah, bukan untuk tujuan memperkaya diri
> pasti bisa. Mulailah dengan partai pemenang pemilu yang mengejar
> balongub. Tentu dengan asumsi, balongub itu punya karir cemerlang dan
> karya nyata di tatar Banten. Mulailah dari tingkatan yang paling rendah.
> Untuk jadi RW, tentu dia harus piawai saat jadi RT. Begitu seterusnya
> hingga untuk jadi bupati, camat adalah posisi dimana dia harus
> membuktikan dirinya bersih (bukan koruptor), cemerlang menyejahterakan
> warganya. Untuk gubernur, bupati akan berlomba memakmurkan rakyatnya
> dan bersih dari skandal apa pun. Jadi, karirnya punya tujuan dan
> terarah, tanpa perlu jor-joran mengeluarkan dana penggalangan opini
> publik, bahwa dirinya yang terbaik dan pantas dipilih jadi A1.
> Cobalah kita mulai dari Taufik Nuriman (Bupati Serang), Aat Syafaat
> (Walikota Cilegon), Dimyati Natakusumah (Bupati Pandeglang), Jayabaya
> (Bupati Lebak), Ismet Iskandar (Bupati Tangerang), dan Wahidin Halim
> (Kota Tangerang). Kita lihat, siapa yang kinerjanya paling baik , rakyat
> adil dan makmur sehat sentosa, dia berhak tanpa perlu mengeluarkan dana
> kampanye, maju dalam bursa pilgub. Rakyat juga berhak menunut partai
> untuk mengusug mereka. Tinggal rakyat dan balongub saja yang melakukan
> kontrak sosial. Dengan kondisi seperti itu, para bupati berlomba-lomba
> menunjukkan prestasi kerjanya. Para anak muda juga akan jelas
> cita-citanya, bahwa jika hendak jadi pemimpin setingkat camat, bupati,
> atau gubernur, bahkan presiden, mesti bersekolah dimana, dan berkarir
> dari mana. Kesan balongub yang tidak tahu diri dan ujug-ujug muncul dari
> antah berantah akan terhindarkan. Insya Allah.
> Jika tidak, mari kita nyanyikan saja lagu anak-anak yang melegenda itu:
> Balonku ada..., berapa, ya?//Rupa-rupa warnanya//Hijau, kuing, kelabu,
> merah muda, dan biru.... Kupilih balon biru, dor!//Hatiku sangat....
>
> ***
>
> *) Penulis pengarang novel dan pengelola Komunitas Rumah Dunia
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Photos
> Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays,
> whatever.
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/