Kang Nur di Ottawa,
Saya tidak tahu, apakah saya ini wong Banten atau bukan. Jika yang
dimaksud pengertian secara genealogis, saya bukanlah wong Banten. Saya
tidak memiliki garis keturunan atau hubungan darah dengan mereka yang
lahir atau mempunyai nenek-moyang di Banten.
Saya lahir di Jawa Timur, lalu sekitar tujuh tahun tinggal indekos di
Yogyakarta, kemudian berpindah-pindah dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung
pada tahun-tahun berikutnya. Persentuhan saya dengan Banten bermula dari
bulan September 2003 dan, belum cukup dua tahun, harus balik lagi ke
Jakarta per Agustus 2005.
Selama hampir dua tahun di Banten itu, saya menyimak soal polemik
siapakah yang disebut atau berhak menyandang status wong Banten. Banyak
pendapat soal itu. Ada satu pendapat yang menyatakan, pengertian wong
Banten tidak bisa hanya ditilik dari sisi genealogis. Pendapat itu
mengemukakan, label wong Banten juga bisa dilekatkan pada mereka yang
berpikir, bertindak, atau apa pun namanya yang menunjukkan kedekatan
emosional dengan Banten.
Atas pengertian itulah saya memaknai diri. Dalam waktu sangat singkat
itu, hingga sekarang saya masih merasakan adanya kedekatan (paling tidak
secara emosional) pada Banten. Saat pamitan dengan teman-teman, saya
sampaikan kepada mereka bahwa Banten sudah seperti kampung halaman dan
tanah kelahiran saya kedua. Dan, insya Allah, jika tidak ada aral saya
mungkin juga akan tinggal di wilayah Tangerang yang notabene juga Banten.
Soal apakah saya ini wong Banten atau bukan, wallahu a'lam bishshawab.
Begitu, Kang Nur...
Soal tulisan-tulisan saya tentang Banten di Kompas, jujur saja, saya
merasa masih jauh dari apa yang bisa kita gali tentang Banten. Banyak hal
yang belum sempat saya gali dari keunikan Banten dan masyarakatnya.
Dengan waktu sesingkat itu, saya berupaya untuk mengangkat sisi-sisi
Banten (positif dan negatifnya) ke permukaan. Waktu pertama berangkat ke
Banten, buku Sartono "Pemberontakan Petani Banten 1888" termasuk bekal
utama saya. Beberapa kali saya kutip analisa dan pemikiran Sartono saat
menulis artikel tentang Banten. Buku itu, bahkan, tidak saya kembalikan
ke perpustakaan kantor hingga akhir masa tugas saya. Semacam "kitab suci"
begitulah kira-kira, selain tentu saja "Max Havelaar" (maaf kalau saya
salah tulis) edisi Bahasa Inggris.
Seperti teman-teman wartawan di Banten lainnya, saya berharap, tulisan-
tulisan saya bisa ikut mengawal Provinsi Banten yang baru seumuran anak
balita. Saat bertugas di Banten itu pula, saya berusaha mengangkat
sosok "orang-orang biasa" untuk tulisan profil (sekarang rubrik "Sosok"
pada halaman 16), seperti penjaga Cagar Alam Pulau Dua, penjual duren di
Baros, kiyai di Caringin, pengamen di dekat Taman Sari, dan lain-lain.
Sebenarnya masih banyak "les peuples" yang layak diangkat, tentu saja
dalam pandangan subjektif saya.
Pandeglang sendiri, bagi saya, sangat menarik diamati. Sebuah kabupaten
yang diklaim warganya sebagai daerah santri, tetapi belakangan banyak
mengalami pergeseran gaya hidup ala metropolis (fitness center, karaoke,
pusat kebugaran, dan lain-lain). Gedung bioskop yang belum ada, tetapi
VCD-VCD (termasuk yang hot kiranya he..he..he..) sudah merambah hingga
beberapa sudut Cibaliung atau Sumur. Dalam konteks klaim daerah santri
itulah, saya sempat membayangkan adanya "histoire" ketika kasus VCD
Shinta mencuat ke permukaan. Namun, bayangan itu bertolak belakang dengan
kenyataan. Malah, proses politik berikutnya semakin menjungkirbalikkan
bayangan saya tadi.
Okelah, Kang Nur sebenarnya juga bisa sharing gagasan atau ide dengan
menuliskannya ke media massa, termasuk Kompas. Begitu juga dengan teman-
teman lainnya. Maaf kalau saya menulis terlalu panjang lebar sesuatu yang
personal. Saya tunggu tulisannya... dan met sukses di Ottawa.
Salam,
SAM di Palmerah.
-----Original Message-----
From: nur iswan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Tue, 21 Feb 2006 09:23:05 -0500 (EST)
Subject: [WongBanten] bung syamsul hadi,
> salam,
> saya baru tahu jika sampeyan wong banten tah. saya
> cuma menikmati tulisan2nya di kompas. bpk saya yg
> tinggal di pandeglang, sejak dahulu kala, langganan
> kompas. saat sy di ottawa, skrg, saya msh menikmati
> kompasi secara internet saja.
>
> soal plagiarism, hukumannya memang harus buat org
> kapok. Kompas, jk telah mengambil policy spt itu. Hrs
> kita dukung. Sebenarnya syah-syah saja kita mengutip
> pendapat orang, hanya saja tetap atau wajib
> mencantumkan nama sumber drmn tulisan tsb berasal.
> Misalkan, ..........(triyana, 2005)
>
>
> --- Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> > Maaf, kalau saya menulis di luar tema pokok yang
> > sedang dibicarakan: soal
> > gerakan komunis di Indonesia. Bukannya saya tidak
> > tertarik pada tema itu,
> > tetapi saya sudah sangat menikmati perbincangan
> > hangat seputar PKI, G 30
> > S, dan polemik apakah mereka pejuang atau
> > pengkhianat.
> >
> > Di sini, saya tertarik pada ungkapan Kang Boni yang
> > merasa artikelnya
> > diplagiat oleh Endang Suryadinata melalui tulisannya
> > "85 Tahun Sartono
> > Mengabdi" di Harian Kompas edisi Sabtu, 18 Februari
> > 2006 hal. 6.
> > Kebetulan saya membaca artikel di rubrik Opini itu,
> > sebagaimana saya
> > selalu berusaha menyimak setiap publikasi tentang
> > Banten.
> >
> > Saya mendukung jika Kang Boni menulis ke Kompas, apa
> > pun bentuknya, soal
> > tuduhan plagiat itu. Jika tuduhan itu benar, ini
> > bukan kali pertama
> > Kompas memuat tulisan yang ternyata berupa hasil
> > plagiat dari penulis
> > lain. Sudah berkali-kali hal itu terjadi dan, sesuai
> > tradisi, jika
> > tuduhan plagiat terbukti, biasanya penulis yang
> > memlagiat itu langsung di-
> > "black list". Dengan kata lain, tulisan yang dikirim
> > berikutnya oleh
> > penulis yang sama tidak akan dimuat lagi.
> >
> > Saya memahami, tidak mudah bagi editor yang
> > bersangkutan untuk mendeteksi
> > sebuah tulisan itu, apakah plagiat atau bukan.
> > Apalagi, mereka harus
> > menyeleksi tulisan artikel yang dalam sehari di
> > Kompas bisa mencapai 100
> > buah sebelum memilih tiga di antaranya yang akan
> > dimuat. Pengaduan Kang
> > Boni akan membantu mereka dalam mendeteksi para
> > penulis dari sisi
> > moralitasnya.
> >
> > Well, selain membaca artikel Endang di Kompas, saya
> > juga membaca artikel
> > Kang Boni tentang Sartono di Fajar Banten yang
> > di-posting dalam milis
> > ini. Saya cermati, meski ada beberapa bagian dalam
> > tulisan Endang yang
> > tidak terdapat dalam tulisan Kang Boni (begitu juga
> > sebaliknya), memang
> > ada beberapa tema yang sama, misalnya soal moto
> > "tanaman pisang" Sartono,
> > catatan karya akademisnya, metode sejarah seperti
> > dilakukan Goubert
> > hingga istilah "les peuples sans histoire", konteks
> > global dari relevansi
> > pemikiran sejarah Sartono, dan lain-lain.
> >
> > Saya bisa memahami, betapa tidak nyamannya tulisan
> > diplagiat orang lain.
> > Saat bertugas di Banten, saya juga pernah mengalami
> > dua berita saya
> > dijiplak wartawan lain. Setelah dijiplak dan dibalik
> > struktur tulisannya,
> > berita hasil jiplakan itu dimuat di halaman depan
> > koran nasional tempat
> > rekan wartawan tadi bekerja. Tentu saja, pemuatan
> > berita jiplakan itu
> > dimuat beberapa hari setelah dimuat di Kompas. Itu
> > pun lolos dari
> > pantauan editor yang bersangkutan.
> >
> > Bagaimana saya tahu itu berita jiplakan? Ya, selain
> > dari peristiwanya
> > sama (padahal, saya liputan eksklusif), kalimat
> > hingga kutipan yang
> > muncul persis sama dengan berita yang saya tulis.
> > Hampir semua wartawan
> > sepakat, andaikata toh liputan dilakukan
> > bersama-sama, sangat kecil
> > kemungkinan dua berita yang ditulis dua wartawan
> > berbeda sama persis
> > kutipannya.
> >
> > Saya ungkap masalah itu dalam sebuah milis, dan
> > penulisnya mengakui hal
> > itu. Lebih jauh bukan pengakuan yang saya inginkan,
> > tetapi bagaimana
> > saat itu menciptakan kondisi atmosfir jurnalistik di
> > Banten yang lebih
> > sehat. Mungkin sama seperti yang Kang Boni harapkan.
> > Oleh karena itu,
> > pengaduan Kang Boni mungkin sangat ditunggu teman di
> > Desk Opini Kompas.
> >
> > Salam,
> > SAM
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Date: Mon, 20 Feb 2006 23:29:33 +0000 (GMT)
> > Subject: Re: Balasan: Re: [WongBanten] Tentang
> > peristiwa 1965
> >
> > > Hmmmmm baiklah,
> > >
> > > Sorry baru nyemplung ikut diskusi. Saya lagi
> > bete karena artikel saya
> > > diplagiat di Kompas hari sabtu kemarin oleh Endang
> > Suryadinata. Jadi
> > > saya bener-bener bete dan baru beres mengirim
> > surat protes baik kepada
> > > saudari Endang maupun ke Kompas sendiri.
> > >
> > > But anyway, soal gestapu 65 di Banten. Saya
> > menghargai dan
> > > mengapresiasi usaha kawan Hafiz Azhari dari KP2SI
> > yang mengumpulkan
> > > cerita2 lisan ini. Sebagai upaya untuk
> > mengklarifikasikan sejarah yang
> > > pada masa Orba dimanipulasi lewat monoversinya,
> > upaya yang dilakukan
> > > Hafiz and the genk menjadi bagian mempruralistikan
> > sejarah Indonesia.
> > >
> > > Pertanyaan dari SP Saprudin akan saya jawab:
> > >
> > > Sobsi memang onderbouw PKI. Dan itu wajar,
> > sebagaimana Pemuda
> > > Pancasila yang mendukung Golkar atau Banser yang
> > berafiliasi dengan NU.
> > > Tampaknya Anda belum memahami betul apa yang
> > terjadi pada tahun 1965.
> > > Dan itu wajar, karena selama ini, selama Orba
> > khususnya, kita selalu
> > > membaca dan menerima pelajaran bahwa pada Kamis
> > malam, tanggal 30
> > > September (dan kemudian masuk tanggal 1 Oktober)
> > 1965, telah terjadi
> > > penculikan yang berakhir pada pembunuhan enam
> > jenderal dan satu perwira
> > > pertama AD. Pada versi Orba dikatakan bahwa dalang
> > semua itu adalah PKI
> > > yang bermaksud melakukan kudeta. Dan sejarah stop
> > sampai di sana. Tidak
> > > ada yang lain. Nah, itulah yang selama ini kita
> > terima.
> > >
> > > Dalam sejarah versi Orba yang terlanjur
> > dipercayai banyak orang, tak
> > > tertulis sedikitpun, saya ulangi, tak sedikitpun
> > ditulis kisah tentang
> > > pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di
> > berbagai daerah di
> > > Indonesia pada kurun tahun 1965-1966 (saya
> > menemukan ini terjadi hingga
> > > tahun 1969). Padahal angka korban pembunuhan cukup
> > fantanstis: menurut
> > > Sarwo Edhie Wibowo, mertua SBY yang juga memimpin
> > langsung operasi, ada
> > > 3 juta yang terbunuh, lalu menurut Kopkamtib ada 1
> > juta, Soedomo bilang
> > > ada 450 ribu, dll lagi (baca saja dalam bukunya si
> > Kikiek, Palu Arit di
> > > Ladang Tebu, KPG, 2000).
> > >
> > > Nah, fakta seperti inilah yang selama ini kita
> > tidak pernah ketahui.
> > > Kalaupun diketahui belakangan, komentar yang
> > muncul adalah: biarin aje
> > > modar, toh mereka itu kan PEKAI, nggak percaya
> > Tuhan. Sikap
> > > mewajarkan pembunuhan massal ini merupakan hasil
> > dari stigmatisasi PKI
> > > yang telah berlangsung selama 30 tahun lebih. Ini
> > amatlah salah. Salah
> > > besar!
> > >
> > > Dan jika sekarang ada penelitian yang
> > mengungkapkan perihal
> > > pembunuhan massal maka itu perlu didukung. Karena
> > bagaimanapun
> > > peristiwa pada 1965 itu tidak hanya berhenti pada
> > pembunuhan jenderal2
> > > saja. Lagipula peristiwa yang terjadi pada malam
> > 30 September 1965 itu
> > > masih jadi perdebatan panjang: apakah itu kudeta
> > ataukah hanya aksi
> > > sebagian kelompok di dalam AD yang tidak puas
> > terhadap atasannya. Untuk
> > > masalah ini saya tidak mau ngocoblak
> > panjang-panjang, silahkan saja
> > > baca buku-buku tentang peristiwa 65 yang sekarang
> > sudah banyak beredar.
> >
> === message truncated ===
>
>
>
> Tetap Semangat Mencintai Banten!
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/