salam, thx bang syamsul hadi atas ulasan dan
balasannya...
sebutan kang kepada saya -- menunjukan bhw sampeyan
menjunjung tinggi budaya jawa. he..he...he...yg ini
intermezo cak. maksud saya, dari semua teman dan para
senior yg saya kenal, hanya yg berasal dari jawalah yg
memanggil yg lebih muda dengan sebutan 'mas'. Saya
khawatir saja, jika sampeyan lebih seniro dr saya.
Tetapi, sebutan kang kepada saya, perlu
diapresiasi..ha..ha..ha..

gini cak, kita diskusi tentang 'my home town'.
Perasaan sampeyan dan saya, bisa kita luaskan dan
dalami. maksud saya, perasanaan dan sikap kita thd 'my
hometown' sesungguhnya merupakan representasi
indonesia dan ikatan dengan penduduknya.

saya mulai dengan sindiran teman kanada saya,
ia bule putih dari nothern ontario, 8 jam-an dr
ottawa, tempat tinggal saya dan dia sekarang. wkt saya
tanya 'where do you come from? ia jawab, 'Nothern
ontario, but ottawa is my hometown now' (krn dia sdh
lebih dari 3 thn tinggal diottawa).
bukan maksud dia, kalau dia berkata spt itu, mk ia tak
lagio cinta dengan kampungnya. Tapi, disamping ia
junjung tinggi kampungnya, ia juga junjung tinggi
tempat-tinggalnya kini.
Lain dengan sebagian org kita ya, sdh puluhan tahun
tinggal di Jakarta, tapi agak sulit menyebut Jakarta
sebagai their hometown'. Seperti saya ini, rasanya
saya masih merasa org pandeglang saja.
Ha....ha.......ha......
Lbh repot lagi nanti anak saya, krn mrk dpt darah
banten dr saya, campur dengan jawa-arab dr Ibunya.
makanya, saya ajarin dia bhs indonesia saja. paling
tidak ia akan merasa org indonesia lah.
Ha...ha...ha....

Juni-Juli lalu saya pulang. dan berdiskusi dengan
beberapa teman sd/smp. pandeglang, memang sdh banyak
berubah. juga semakin permisif. Lingkungan pandeglang
sesungguhnya lingkungan yang mengajarkan 'kesejatian'.
Tapi, belakangan anak2 sekarang telah meninggalkan
'kesejatian' dan menggantinya dengan 'kesementaraan'.
Sori cak, rodo filosofis-en-romantis nih..dan lebih
sedih lagi, spt yg sampeyan saksikan melalui proses
politik pilkada pandeglang: Dimyati yg menurut saya
gagal, celakanya terpilih lagi, dan ironisnya
memperoleh dukungan atau legitimasi moral dr pks. kok
lama2, saya perhatikan pks ini juga makin pragmatis
ya. Yg paling ideal wkt itu pasangan Mudjio dengan
wabup-nya dimyati itu...eh...malah lbh milih ke
Dimyati....kacau suracau dech....
YAch, sdh begitu keharusan sejarah, sulit juga ya....

ok, soal menulis. Sebagai mantan reporter swa, saya
agak bisa sedikit menulis. Dalam 2 minggu ini, saya
layangkan 3 atau 4 tulisan ke Redaktur Opini Kompas.
tentu saja, harapan saya dapat dimuat. Tetapi,
lagi-lagi, sebagai mantan awak redaksi dan media maka
saya sangat memahami jika pak red opini belum
menayangkan tulisan saya. he...he..he...lha wong itu
kan kebijakan redaktur opini untuk memuat atau tidak.
Tugas saya, adalah menulis dan menulis saja. Dimuat
atau belum, itu bagian dari red-opini kompas. Tapi,
saya yakin, satu ketika, tulisan saya 'layak muat' di
halaman empat. Sebagaimana dulu saya wkt nembus koran
yg lain, artikel yg kesekian-nyalah yg baru dimuat.
he...he...he...waktu itu saya menulis tentan 'munir'.

oh ya, satu tulisan saya yang tersisa di kompas (saya
kirim minggu lalu) dan belum ada khabar dimuat atau
tidak adalah tentang "Politik, Politisi dan Parpol".
Biasanya, sek-red-opini mengirim via email jika tak
dimuat dengan 'judul: pengembalian artikel'. Nah,
artikel yg terakhir ini belum tahu kita. Mungkin masih
'diperdebatkan' atau 'digodok' oleh staff red opini
ya.

tentu saja, saya akan terus mencoba menulis, spt yg
disarankan sampeyan cak. Abis, mules juga kalau tak
kita tumpahkan 'kegelisan' kita dengan menulis.
Lho, sampeyan sekrang di rubrik apa? polhuk,
nusantara, atau halaman depan cak?

keep in touch...cak,

  
--- Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Kang Nur di Ottawa,
> Saya tidak tahu, apakah saya ini wong Banten atau
> bukan. Jika yang 
> dimaksud pengertian secara genealogis, saya bukanlah
> wong Banten. Saya 
> tidak memiliki garis keturunan atau hubungan darah
> dengan mereka yang 
> lahir atau mempunyai nenek-moyang di Banten. 
> 
> Saya lahir di Jawa Timur, lalu sekitar tujuh tahun
> tinggal indekos di 
> Yogyakarta, kemudian berpindah-pindah dari Jakarta,
> Surabaya, dan Bandung 
> pada tahun-tahun berikutnya. Persentuhan saya dengan
> Banten bermula dari 
> bulan September 2003 dan, belum cukup dua tahun,
> harus balik lagi ke 
> Jakarta per Agustus 2005.
> 
> Selama hampir dua tahun di Banten itu, saya menyimak
> soal polemik 
> siapakah yang disebut atau berhak menyandang status
> wong Banten. Banyak 
> pendapat soal itu. Ada satu pendapat yang
> menyatakan, pengertian wong 
> Banten tidak bisa hanya ditilik dari sisi
> genealogis. Pendapat itu 
> mengemukakan, label wong Banten juga bisa dilekatkan
> pada mereka yang 
> berpikir, bertindak, atau apa pun namanya yang
> menunjukkan kedekatan 
> emosional dengan Banten.
> 
> Atas pengertian itulah saya memaknai diri. Dalam
> waktu sangat singkat 
> itu, hingga sekarang saya masih merasakan adanya
> kedekatan (paling tidak 
> secara emosional) pada Banten. Saat pamitan dengan
> teman-teman, saya 
> sampaikan kepada mereka bahwa Banten sudah seperti
> kampung halaman dan 
> tanah kelahiran saya kedua. Dan, insya Allah, jika
> tidak ada aral saya 
> mungkin juga akan tinggal di wilayah Tangerang yang
> notabene juga Banten.
> 
> Soal apakah saya ini wong Banten atau bukan, wallahu
> a'lam bishshawab. 
> Begitu, Kang Nur...        
>     
> Soal tulisan-tulisan saya tentang Banten di Kompas,
> jujur saja, saya 
> merasa masih jauh dari apa yang bisa kita gali
> tentang Banten. Banyak hal 
> yang belum sempat saya gali dari keunikan Banten dan
> masyarakatnya. 
> Dengan waktu sesingkat itu, saya berupaya untuk
> mengangkat sisi-sisi 
> Banten (positif dan negatifnya) ke permukaan. Waktu
> pertama berangkat ke 
> Banten, buku Sartono "Pemberontakan Petani Banten
> 1888" termasuk bekal 
> utama saya. Beberapa kali saya kutip analisa dan
> pemikiran Sartono saat 
> menulis artikel tentang Banten. Buku itu, bahkan,
> tidak saya kembalikan 
> ke perpustakaan kantor hingga akhir masa tugas saya.
> Semacam "kitab suci" 
> begitulah kira-kira, selain tentu saja "Max
> Havelaar" (maaf kalau saya 
> salah tulis) edisi Bahasa Inggris.
> 
> Seperti teman-teman wartawan di Banten lainnya, saya
> berharap, tulisan-
> tulisan saya bisa ikut mengawal Provinsi Banten yang
> baru seumuran anak 
> balita. Saat bertugas di Banten itu pula, saya
> berusaha mengangkat 
> sosok "orang-orang biasa" untuk tulisan profil
> (sekarang rubrik "Sosok" 
> pada halaman 16), seperti penjaga Cagar Alam Pulau
> Dua, penjual duren di 
> Baros, kiyai di Caringin, pengamen di dekat Taman
> Sari, dan lain-lain. 
> Sebenarnya masih banyak "les peuples" yang layak
> diangkat, tentu saja 
> dalam pandangan subjektif saya.
>         
> Pandeglang sendiri, bagi saya, sangat menarik
> diamati. Sebuah kabupaten 
> yang diklaim warganya sebagai daerah santri, tetapi
> belakangan banyak 
> mengalami pergeseran gaya hidup ala metropolis
> (fitness center, karaoke, 
> pusat kebugaran, dan lain-lain). Gedung bioskop yang
> belum ada, tetapi 
> VCD-VCD (termasuk yang hot kiranya he..he..he..)
> sudah merambah hingga 
> beberapa sudut Cibaliung atau Sumur. Dalam konteks
> klaim daerah santri 
> itulah, saya sempat membayangkan adanya "histoire"
> ketika kasus VCD 
> Shinta mencuat ke permukaan. Namun, bayangan itu
> bertolak belakang dengan 
> kenyataan. Malah, proses politik berikutnya semakin
> menjungkirbalikkan 
> bayangan saya tadi.        
> 
> Okelah, Kang Nur sebenarnya juga bisa sharing
> gagasan atau ide dengan 
> menuliskannya ke media massa, termasuk Kompas.
> Begitu juga dengan teman-
> teman lainnya. Maaf kalau saya menulis terlalu
> panjang lebar sesuatu yang 
> personal. Saya tunggu tulisannya... dan met sukses
> di Ottawa.
> 
> Salam,
> SAM di Palmerah.
> 
>  
>      
> -----Original Message-----
> From: nur iswan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Date: Tue, 21 Feb 2006 09:23:05 -0500 (EST)
> Subject: [WongBanten] bung syamsul hadi,
> 
> > salam,
> > saya baru tahu jika sampeyan wong banten tah. saya
> > cuma menikmati tulisan2nya di kompas. bpk saya yg
> > tinggal di pandeglang, sejak dahulu kala,
> langganan
> > kompas. saat sy di ottawa, skrg, saya msh
> menikmati
> > kompasi secara internet saja.
> > 
> > soal plagiarism, hukumannya memang harus buat org
> > kapok. Kompas, jk telah mengambil policy spt itu.
> Hrs
> > kita dukung. Sebenarnya syah-syah saja kita
> mengutip
> > pendapat orang, hanya saja tetap atau wajib
> > mencantumkan nama sumber drmn tulisan tsb berasal.
> > Misalkan, ..........(triyana, 2005)
> > 
> >  
> > --- Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > 
> > > Maaf, kalau saya menulis di luar tema pokok yang
> > > sedang dibicarakan: soal 
> > > gerakan komunis di Indonesia. Bukannya saya
> tidak
> > > tertarik pada tema itu, 
> > > tetapi saya sudah sangat menikmati perbincangan
> > > hangat seputar PKI, G 30 
> > > S, dan polemik apakah mereka pejuang atau
> > > pengkhianat. 
> > > 
> > > Di sini, saya tertarik pada ungkapan Kang Boni
> yang
> > > merasa artikelnya 
> > > diplagiat oleh Endang Suryadinata melalui
> tulisannya
> > > "85 Tahun Sartono 
> > > Mengabdi" di Harian Kompas edisi Sabtu, 18
> Februari
> > > 2006 hal. 6. 
> > > Kebetulan saya membaca artikel di rubrik Opini
> itu,
> > > sebagaimana saya 
> > > selalu berusaha menyimak setiap publikasi
> tentang
> > > Banten.
> > > 
> > > Saya mendukung jika Kang Boni menulis ke Kompas,
> apa
> > > pun bentuknya, soal 
> > > tuduhan plagiat itu. Jika tuduhan itu benar, ini
> > > bukan kali pertama 
> > > Kompas memuat tulisan yang ternyata berupa hasil
> > > plagiat dari penulis 
> > > lain. Sudah berkali-kali hal itu terjadi dan,
> sesuai
> > > tradisi, jika 
> > > tuduhan plagiat terbukti, biasanya penulis yang
> > > memlagiat itu langsung di-
> > > "black list". Dengan kata lain, tulisan yang
> dikirim
> > > berikutnya oleh 
> > > penulis yang sama tidak akan dimuat lagi.
> > > 
> > > Saya memahami, tidak mudah bagi editor yang
> > > bersangkutan untuk mendeteksi 
> > > sebuah tulisan itu, apakah plagiat atau bukan.
> > > Apalagi, mereka harus 
> > > menyeleksi tulisan artikel yang dalam sehari di
> > > Kompas bisa mencapai 100 
> > > buah sebelum memilih tiga di antaranya yang akan
> > > dimuat. Pengaduan Kang 
> 
=== message truncated ===



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke