Itu agak menggelikan, Kang Ucu. Yang lazim terjadi, nara sumber atau 
pihak-pihak yang merasa dirugikan atau dipojokkan, biasanya 
mengintimidasi wartawan. Kalau ada wartawan mengintimidasi wartawan lain, 
ini agak janggal.. mungkin ada undangan makan malam yang tidak 
diberitahukan.. he 3x.. atau lagi saingan rebutan pacar.. (he 3x.. 
(lagi), dst.
Biasanya siaran persnya, "siaran pers lisan" dan langsung tersebar ke 
seluruh media negeri ini.
Begitu, Kang Ucu... 

Atau mungkin bisa cerita lebih detil seperti apa sih intimidasi wartawan 
ke wartawan lain karena pemberitaan? 
Menurut saya, wartawan yang diintimidasi tidak perlu merasa 
terintimidasi. Wartawan tidak punya tanggung jawab kepada wartawan lain, 
apalagi berbeda perusahaan atau media. Tanggung jawab wartawan adalah 
kepada pembaca dan bos (editor)-nya. Tidak perlu disebut lagi, so pasti 
tanggung jawab pada hati nurani, kebenaran, dan Tuhan.
Begitulah idealnya....  

-----Original Message-----
From: ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Mon, 20 Mar 2006 07:11:59 -0800 (PST)
Subject: Re: [WongBanten] siaran pers aji

> Kang Samsul Hadi, kalau ada wartawan mengintimidasi
> wartawan karena pemberitaan???
> Siapa yang harus mengadakan siaran pers???
> 
> --- Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> 
> > Dari milis tetangga
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "Bambang Wisudo" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: Mon, 20 Mar 2006 17:34:00 +0700
> > Subject: [forum-kompas] siaran pers aji
> > 
> > Siaran Pers
> > Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
> > 
> > HENTIKAN TEROR DAN INTIMIDASI TERHADAP WARTAWAN DAN
> > HARIAN KOMPAS
> > 
> > 
> > Harian Umum Kompas 1 Maret 2006 memuat berita
> > tentang sidang yang digelar
> > PN
> > Tangerang terhadap sejumlah perempuan yang didakwa
> > sebagai pelacur. Dalam
> > persidangan terungkap bahwa aparat tramtib dan
> > polisi salah menangkap
> > perempuan baik-baik yang dicurigai sebagai pelacur.
> > Razia yang dilakukan
> > polisi menandai pemberlakuan Perda Pemerintah Kota
> > Tangerang No 8/2005
> > tentang Larangan Pelacuran di wilayah Kodya
> > Tangerang. Berita ini
> > mendapat
> > perhatian dari media massa cetak termasuk reaksi
> > protes warga yang
> > menilai
> > Perda Pelacuran itu menyudutkan perempuan. Hanya
> > atas dasar kecurigaan
> > anggapan, seorang perempuan bisa dituduh menjadi
> > pelacur.
> > 
> > Berita H.U Kompas ditindaklanjuti dengan tulisan
> > feature pada 2 Maret
> > 2006
> > pada halaman 1. Tulisan itu berisi gugatan terhadap
> > keberadaan perda itu
> > dan
> > kisah tragis seorang guru SD yang dituduh sebagai
> > pelacur, divonis
> > bersalah
> > dan dipenjarakan.
> > 
> > Pemberitaan H.U Kompas tersebut membuat geram
> > Walikota Tangerang, Wahidin
> > Halim. Lewat Humas Pemkot Tangerang, wartawan Kompas
> > dipanggil, akan
> > tetapi
> > walikota tidak mau menemui. Sejak pemberitaan itu
> > sejumlah aksi
> > demonstrasi
> > mendukung Perda Larangan Pelacuran marak di
> > Tangerang dengan berbagai
> > hujatan, termasuk seruan memboikot Kompas.
> > 
> > Pada Jumat, 17 Maret 2006, ratusan massa yang
> > menamakan dirinya Aliansi
> > Masyarakat Tangerang (Almakta) mendatangi kantor
> > redaksi H.U Kompas di
> > Jalan
> > Palmerah Selatan, Jakarta Barat. Sebagian peserta
> > demo tampak membawa
> > bendera dan atribut Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
> > 
> > Massa memrotes pemberitaan di harian Kompas tanggal
> > 2,3,4 dan 8 Maret
> > 2006
> > yang dinilai tidak berimbang, tidak proporsional dan
> > cenderung kontra
> > terhadap Peraturan Daerah mengenai Pelacuran dan
> > Miras. Massa menuntut
> > H.U
> > Kompas meminta maaf pada 5 media cetak nasional,
> > merevisi pemberitaan
> > soal
> > Perda Pelacuran dan meminta wartawan Kompas di
> > Tangerang diganti. Dalam
> > berbagai orasi yang bernada keras dan mengancam,
> > sempat menyebut
> > wartawati
> > Kompas yang menulis berita Perda Laranagan Pelacuran
> > di Tangerang sebagai
> > Pelacur.
> > 
> > Aksi massa ini diramaikan orasi dan pemasangan
> > spanduk bertuliskan :
> > "Yang
> > mendukung Perda Pelacuran sama dengan
> > jablay/pelacur". Atau spanduk lain,
> > "Kompas jangan sok tahu. Masyarakat Tangerang sangat
> > mendukung Perda
> > Pelacuran".
> > 
> > Salah seorang pendemo menegaskan, "Kami akan terus
> > berdemo sampai
> > tuntutan
> > kami dikabulkan."
> > 
> > Menanggapi peristiwa tersebut, Aliansi Jurnalis
> > Independen (AJI)
> > Indonesia,
> > menyatakan :
> > 
> > 1. Apa yang diberitakan KOMPAS tentang pro-kontra
> > Perda Pelacuran di
> > wilayah
> > Tangerang merupakan produk liputan jurnalistik yang
> > bebas, seimbang,
> > profesional, dan bertanggung jawab. Demikian pula
> > aksi demo yang
> > dilakukan
> > warga Tangerang di kantor KOMPAS (17/3) merupakan
> > hak dasar warga negara
> > dalam berekspresi dan menyampaikan pendapat
> > 
> > 2. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam segala
> > bentuk ancaman,
> > intimidasi, maupun teror terhadap wartawan dan
> > kantor media KOMPAS dari
> > pihak manapun, yang mengatasnamakan rakyat maupun
> > kelompok masyarakat
> > tertentu, dan menyebut itu sebagai upaya serangan
> > terhadap kebebasan pers
> > dan kemandirian media
> > 
> > 3. Menyatakan bahwa segala bentuk ancaman,
> > intimidasi, dan teror oleh
> > siapapun, adalah bertentangan dengan hukum dan
> > menunjukkan arogansi yang
> > tidak dapat diterima dalam iklim demokrasi
> > 
> > 4. Meminta semua pihak agar saling menghormati
> > perbedaan pendapat,
> > menghindari segala pemaksaan sepihak, dan tidak
> > melakukan tindakan yang
> > bertentangan dengan demokrasi dan prinsip kebebasan
> > pers yang sudah
> > diakui
> > oleh Konsitusi tertinggi Negara RI
> > 
> > 
> > Jakarta, 19 Maret 2006
> > 
> > Koordinator Divisi Advokasi
> > Eko Maryadi
> > Kantor +62 21 5790 0489
> > Mobile +62 811 852 857
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > -Jika Anda karyawan Kompas dan mau bergabung kirim
> > e-mail ke:  
> > [EMAIL PROTECTED] Sebutkan
> > NIK/Divisi Anda!
> > -Untuk keluar/berhenti bergabung kirim e-mail kosong
> > ke:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > -Atau kirim email ke moderator: [EMAIL PROTECTED],
> > [EMAIL PROTECTED]  
> > -Jika tiba-tiba Anda tidak terima email--mungkin
> > di-bounce-- coba kirim
> > email kosong ke
> > [EMAIL PROTECTED] 
> > 
> > Milis Forum-Kompas tidak menerima attachment. Jika
> > Anda ingin mengirim
> > attachment penting, bisa dikirim melalui moderator
> > untuk diteruskan ke
> > Forum Kompas.
> > Netiket dapat dilihat di  -->
> > http://www.albion.com/netiquette/corerules.html
> > 
> > 
> > 
> >  
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> > 
> > 
> >  
> > 
> > 
> 
> 
> 
> Tetap Semangat Mencintai Banten! 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
>  



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke