Gimana cara melawannya?
Saya setuju terhadap jawaban dari Ustad Sarwat, bahwa kita sudah didominasi 
oleh pikiran-pikiran barkley si Amrik yang sudah jadi main stream thouhghts 
dunia. Beranikah kita melawan main stream thought itu?
Saya ragu...karena dampaknya adalah bisa-bisa Indonesia kena embargo atau 
diisolasi. Beranikah bangsa kita menghadapi segala konsekuensinya, jika kita 
berani melawan pemikiran-pemikiran barkley group (mafia ekonominya).
Bagi orang-orang yang sudah dicuci otaknya di barkely group (komprador asing), 
mereka tidak rela, jika kita nekad melawan pemikiran-pemikiran yang sudah jadi 
dogma dan doktrin main stream thouhgth. Apa alasan mereka, katanya buang2 
energi, biarkan yang sudah berjalan secara normal, tentram dan damai, biarkan 
dominasi si Amrik berkiprah secara kontinu..........
Menjengkelkan emang!!! 
Kita membutuhkan pemimpin yang kuat didukung oleh para  elit politik, para 
intelektual yang mampu membentuk opini publik untuk melawan dominasi pikiran 
mainstream yang menjadi aturan, dogram, doktrin dan konvensi yang sudah 
membelenggu nusantara, dan siap menanggung segala konsekuensinya. Lawan brur!!!
 
Untuk kasus FPI, saya secara pribadi menyatakan : bubarkan Ahmadiyah !!!. 
Jika ada yang mengatakan bahwa pembubaran Ahmadiyah adalah melanggar 
konstitusi. Karena negara kita bukan negara berdasarkan agama. 
Jika negara kita bukan negara berdasarkan agama, lantas negara kita berdasarkan 
apa?  Jika demikian, coba kita tengok  dan baca preambul UUD diawali dengan 
kalimat "Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa". Bukankah kalimat preambul tsb. 
mensiratkah bahwa negara kita berlandaskan agama?
Maaf Brur, itu hanya pendapat pribadi saya, jangan ditanggapi!!
Wallau'alam!


----- Pesan Asli ----
Dari: uus bustami <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 9 Juni, 2008 21:31:19
Topik: Bls: [WongBanten] Re: PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING


belum terlambat,
kita mesti cepat berbenah dan mulai bangkit 
mulailah memikirkan bagaimana caranya untuk melawan, tentu saja caranya tidak 
gedebak-gedebuk.

tapi mohon maaf kang,
postingan "PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING" ini, topik utamanya adalah 
pembelajaran bagi kita untuk bangkit melawan dominasi asing atau "pembelaan 
pada FPI" ?
saya melihat yang kedua walau lebih sedikit uraiannya, tapi lebih mendapat 
penekanan.

kemarin, di milis ini saya membaca postingan dari Anita Sofana <[EMAIL 
PROTECTED] com>  "tentang FPI, JIL dan pengalihan isu" yang katanya pengakuan 
dari  Nong Darol Mahmada (anggota JIL-katanya) , yang memaparkan bahwa ada 
skenario JIL dari Komunitas Utan Kayu dalam kerusuhan di Monas 1 Juni 2008 yang 
lalu.
saya sangsi pada pengakuan itu, karena ketika saya menonton TV, saya melihat M. 
Guntur Romli yang kita tahu dari Komunitas Utan Kayu yang ikut hadir saat 
kejadian di Monas mukanya babak belur dan harus dilarikan ke rumah sakit. Aneh, 
pihak yang bikin skenario kok ikut babak belur. malahan, Akhir-akhir ini saya 
lihat kabar, Nong Darol Mahmada "asli" mambantah menyebarkan berita seperti 
itu.  

saya melihat, dua postingan isu itu berlawanan, dan saya yakin kita semua bisa 
menilai lah.  Saya tidak pro pada JIL dan Komunitas Utan Kayu, sama seperti 
tidak pro-nya saya saat melihat perusakan-perusakan yang dilakukan oleh massa 
FPI ketika mereka beraksi.  Saya tetap menganggap mereka-mereka itu saudara 
kita sebangsa.

sayang, kita masih berkutat dalam isu-isu keagamaan seperti itu.
saya belum melihat lagi seperti dulu, isu pure tentang kebangsaan & 
ketertindasan diangkat untuk dijadikan dasar untuk "melawan" penjajahan pihak 
asing.

kita menunggu isu kebangkitan yang murni 'didalangi' oleh rakyat bangsa ini.
bangkitlah, sebelum kita hancur...!
ada ungkapan "addinu lilahi al-waton lil jami" 
saya cenderung setuju dengan ungkapan itu.

salam - UUS





----- Pesan Asli ----
Dari: ozanku <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Senin, 9 Juni, 2008 19:38:02
Topik: [WongBanten] Re: PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING


Sepertinya bukan cuma kata: TIDAK!!! yang mesti kita teriakan tapi 
juga 1 kata : LAWAN!!! mesti kita lakukan.

salam Najo.

--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Toni Iskandar <toni_wawat@ ...> 
wrote:
>
> FYI
> 
> 
> 
> 
> Pemimpin yang Takut kepada Pihak Asing
> Senin, 9 Jun 08 08:32 WIB
> Kirim teman
> Assalamualaikum wr. wb 
> Pak ustadz yang budiman, berkenaan dengan keadaan terakhir bangsa 
ini, di mana pemerintah seenaknya menaikkan BBM, membiarkan 
ahmadiyah, menangkapi lasykar dan pimpinan FPI, menghancurkan kampus-
kampus, menjual 44 BUMN, dan kebobrokan lainya.
> Pertanyaan saya, bagaimana kami sebagai rakyat kecil yang merasa 
terzalimi harus bersikap? Apakah mereka didikte oleh kekuatan asing? 
Apakah mereka takut berhadapan dengan kekuatan asing itu?
> Sebelumnya saya ucapkan terimakasih pak ustadz mau menjawab.
> Wassalamualaikum wr.wb
> Ahmad S
> Jawaban
> Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
> Tekanan pihak asing pada semua kebijakan pemerintahan kita tidak 
hanya terjadi pada hari ini. Tekanan ini adalah bagian utuh dari 
rangkaian pola dan modus penjajahan (kolonialisme) asing terhadap 
negeri Islam yang belum selesai-selesai juga sampai sekarang.
> Kalau kita berpikir bahwa tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah 
sepenuhnya merdeka, maka silahkan kecewa. Karena kenyataannya, 
kemerdekaan itu tidak bulat seutuhnya. Kemerdekaan itu hanya pada 
tataran formal dan juridis saja. Bedak dan lipstiknya memang 
merdeka. Tapi isi perutnya masih saja terjajah. Ya, pada hakikatnya 
negeri kita tercinta ini masih dijajah.
> Hanya modusnya memang beda. Belanda dan kekuatan asing itu memang 
hengkang secara fisik dari negeri ini. Tidak ada tentara asing 
berkeliaran di negeri kita. Secara formal kita punya bendera, lagu 
kebangsaan, batas wilayah, bahkan punya pemerintahan.
> Tapi, 
> Apalah artinya semua itu kalau mentalitas para penguasanya hanya 
boneka dan budak yang kerjanya setiap hari membungkukkan badannya 
kepada kekuatan asing itu?
> Apalah artinya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan kalau 
para pejabatnya sibuk menjual semua asset bangsa?
> Kelemahan kita pada hakikatnya pada mentalitas sebagian penguasa 
lokal, yang entah bagaimana caranya, seolah bekerja demi kepentingan 
asing. Entah apa motivasinya, apakah takut, ataukah karena memang 
mentalnya mental inlander. Rasanya, alasan kedua ini yang lebih 
dominan.
> Mentalitas Inlander
> Kalau kita kembali kepada sejarah bangsa ini, sejak awal mula 
penjajahan ketika dahulu VOC masuk dan merampas kekayaan alam lewat 
permainan dagang yang curang, kita sudah menyaksikan banyak pihak 
yang bermental inlander ini.
> VOC tidak akan 'sukses' menjajah negeri ini kalau tidak dibantu 
oleh para pamong dan penguasa lokal yang ikut memberi jalan masuk 
bagi para penjarah, demi sekedar mendapat keuntungan yang sangat 
kecil.
> Belanda tidak akan menjajah kita sampai 3, 5 abad kalau tidak 
karena adanya kacung-kacung lokal yang mau saja diperdaya, diperalat 
dan dijadikan kaki tangan penjajah. Mereka, para kacung itu, memang 
dibutuhkan, bahkan kalau perlu diternakkan, agar nantinya siap 
bermitra dengan para penjarah.
> Setidaknya menjadi jaminan atas langgengnya upaya kecurangan para 
penjajah. Mental-mental semacam inilah yang hari ini terjadi lagi 
sebagai pengulangan sejarah.
> Memang benar dahulu kita punya pemimpin besar sekelas Bung Karno 
yang masyhur dengan jargonnya, "Go to hell with your aid." Tapi pada 
akhirnya dia malah terjungkal oleh konspirasi kekuatan asing.
> Mafia Berkeley
> Salah satu sumber masalah buat negeri kita ini adalah adanya mafia 
di level para penentu kebijakan poitik dan ekonomi. Di antaranya 
yang disebut dengan mafia Berkeley.
> Mafia ini memang diciptakan oleh para penjarah di Amerika berupa 
pusat pendidikan dan perguruan tinggi. Antara lain Universitas 
Berkeley, Cornell, MIT (Massachusette Institute of Technology), 
Harvard dan lainnya. Berbagai perguruan tinggi yang menjadi favorite 
ini ternyata merupakan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-
ilmu liberal. Termasuk menjadi pusat untuk meng-Amerika- kan para 
mahasiswa yang datang ke negeri itu (termasuk Indonesia) dan 
menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika yang setia.
> Bahkan sebenarnya menurut David Ransom, bebagai perguruan tinggi 
itu pada hakikatnya hanya kedok saja. Isinya tidak lain adalah wadah 
bagi CIA untuk melakukan cuci otak. Luar biasa bukan?
> Para mahasiswa jebolan Berkeley dan yang lainnya, setelah mendapat 
gelar Phd dan sejenisnya, kemudian pulang negeri kita dan berkerumun 
di sekitar pusat kekuasaan dan menguasai berbagai Fakultas Ekonomi. 
Tujuannya, selain menjadi penyambung lidah Amerika, memelintir cara 
berpikir bangsa, juga mengambil alih kebijasanaan negara dalam 
masalah ekonomi.
> Mafia ini kemudian duduk menjadi pejabat yang paling menentukan 
arah langkah kebijakan ekonomi di negeri ini. Semua jabatan menteri 
di bidang perekonomian dikuasai, siapa pun yang jadi presidennya. 
Jabatan Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Bapenas, Penanaman 
Modal Asing, Menteri Perindustrian, Dirjen Pemasaran dan 
Perdagangan, dan jabatan penting lainnya adalah tempat yang paling 
strategis untuk menjalankan agenda kolonialisme Amerika modern di 
negeri kita.
> Untuk itu, semua pejabatnya harus orang-orang yang sangat mengabdi 
buat kepentingan Amerika, setidaknya harus sudah dicuci otaknya di 
berbagai perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu.
> Sebagian pengamat mengatakan bahwa Istilah PELITA dan REPELITA 
yang akrab di telinga kita sejak masa rezim Soeharto, adalah hasil 
godokan team ini.
> Keberadaan mafia Berkeley ini merupakan bentuk implementasi dari 
ungkapan Ricahrd Nixon, Presiden Amerika di tahun 1967 tentang 
Indonesia yang sedang dinikmati hasil jarahannya. Nixon mengatakan 
bahwa Indonesia adalah "The Greates Prize", Indonesia adalah 
anugerah terbesar buat Amerika.
> Anugerah?
> Ya, anugerah yang terbesar untuk dijarah, karena tanpa perlawanan 
apapun, tanpa repot mengirim pasukan, tanpa ba dan bu, para 
pejabatnya siap mempersembahkan semua kekayaan alam kepada 
kepentingan komprador negeri Paman Sam itu. Termasuk pada akhirnya 
mengobral murah 44 BUMN yang dengan susah payah dibangun oleh putera 
puteri terbaik bangsa ini.
> Prestasi mafia ini memang luas biasa. Salah satu jerih payah 
mereka antara lain adalah kontrak-kontrak kerja yang sangat 
merugikan bangsa. Nyaris tidak ada kekayaan alam negeri ini yang 
disisakan lagi.
> Entah bagaimana ceritanya, di Papua ada emas sebesar gunung yang 
kemudian tiba-tiba menjadi milik Amerika 100%. Indonesia tidak dapat 
apa-apa kecuali remah-remah roti buat para pejabatnya yang konon 
semakin kaya saja.
> International Nickel tiba-tiba berhasil mendapatkan hak eksklusif 
di Sulawesi. Harta terpendam bangsa Indonesia itu tiba-tiba jadi 
milik asing, kita tidak disisakan sedikit pun.
> Alcoa juga mendapat jatah yang lain, yaitu hak untuk menjarah 
hasil alam Indonesia berupa bauksit.
> Weyerhaeuser, International Paper, Biose Cascade dan perusahaan 
kayu dari Jepang, Korea, dan Pilipina menebangi kayu-kayu di hutang 
Kalimantan, Sumatera, dan Irian.
> Namun hadiah terbesar adalah minyak bumi. Pada tahun 1969, 23 
perusahaan minyak telah mengajukan proposal untuk mendapatkan hak 
melakukan eksplorasi, eksploitasi dan menjual minyak di bawah laut 
perairan Indonesia. Dari 23 perusahaan itu, 19 di antaranya 
perusahaan Amerika.
> Mental Terjajah
> Semua kegagalan bangsa di atas berikut kebangkrutannya itu, tidak 
akan terjadi kalau mental bangsa ini, termasuk penguasanya, tidak 
terjajah. Tetapi sayangnya, itulah realita mental kita dan juga 
mental para penguasa kita. Tidak berani bilang tidak, ketika dipaksa-
paksa bilang iya.
> Sebagai perbandingan, tidak ada salahnya kalau kita melirik 
tetangga kanan kiri. Beberapa negara miskin lainnya sebenarnya 
bernasib tidak jauh beda dengan kita. Bedanya, mereka tidak terlalu 
lama tidur, ada waktunya mereka bangkit dan menegakkan kepala, lalu 
bilang kepada para penjarah internasional itu sebuah kata tegas: 
TIDAK!!!.
> Malaysia
> Malaysia kini telah bangkit perekonomiannya, setelah sebelumnya 
mau di-Indonesia- kan. Pak Mahathir, lepas dari urusan politik dalam 
negerina, boleh dibilang sangat banyak jasanya dan patut dicontoh 
untuk urusan menolak penjarahan asing.
> Malaysia patut ditiru ketika mereka tidak mau tunduk kepada dukun 
palsu IMF, World Bank atau WTO, bahkan termasuk Soros, si lintah 
darat itu. Dan hasilnya luar biasa.
> Angka kemiskinan menurun drastis dari 25% hingga kini tinggal 5%. 
Penghasilan perkapita meninggak tiga kali lipat. Kini sekitar 10 
ribu dolar. Industri dalam negeri mereka maju. Bahkan sudah punya 
produk mobil nasioal yang 100% murni, bukan seperti kita yang konon 
namanya mobil nasional, ternyata turun dari kapal sudah bisa hidup 
mesinnya.
> Bolivia
> Setelah menasionalisasi semua aset negara, pendapatan Bolivia di 
tahun 2006 melonjak 6 kali dari sebelumnya di tahun 2002.
> Akhirnya para penguasa negeri di Amerika Latin itu bangun dari 
tidurnya. Mereka menyadari betapa selama ini mereka dikibuli habis-
habisan oleh penjarah dari Amerika dan negeri asing lainnya.
> Akhinya dengan semua keberanian dan kelelakian, semua perusahaan 
asing yang bercokol di negeri itu, seperti Exxon Mobile, Total milik 
Perancis, Repsol milik Spanyol, termasuk British Petrolium dan 
lainnya hanya diberi pilihan, ikut aturan baru mereka atau silahkan 
pulang kampung.
> Maka perusahaan asing itu tidak bisa bilang apa-apa. Mereka tahu 
siapa yang jadi bos: Whos The Boss. Ternyata bukan mereka tapi 
penguasa negeri itu yang jadi bos. Mereka harus taat, patuh dan 
tunduk kepada kebijakan jantan penguasa negeri itu, kalau masih mau 
hidup. Luar biasa bukan?
> Ecuador
> Yang juga perlu ditiru adalah tindakan berani Presiden Ecuador, 
Rafael Careera, yang tidak memperpanjang kontrak pangkalan militer 
Amerika di Manta tahun 2009.
> Perhatikan syarat yang diajukan pak Careera itu. Kalau Amerika 
masih mau berpangkalan militer di Ecuador, silahkan saja. Asalkan 
Amerika juga harus rela wilayah negerinya juga dijadikan pangkalan 
militer Ecuador di Miami, wilayah Amerika Serikat.
> Jadi seimbang, sederajat, setara dan resiprokal. Tidak berat 
sebelah sebagaimana kebijakan para peabat kita yang membolehkan 
militer Singapura masuk ke wilayah kedaulatan kita.
> Asal tahu saja, negara kita telah menandatangani perjanjian sangat 
tidak seimbang dengan Singapura, sehingga tentara negeri agen Zionis 
itu bebas main perang-perangan dengan peluru tajam di Indonesia, 
seperti Wilayah Alfa I, Alfa II, Bravo, dan Baturaja. Bahkan 
dibolehkan mengundang pihak ketiga dari negara lain. Gila kan?
> Apa Kabar Presiden Kita?
> Jadi kalau kita mau pilih Presiden lagi nanti, itu pun kalau masih 
mau, satu saja syaratnya. Apakah si calon presiden itu berani bilang 
TIDAK kepada Amerika dan penjajah asing? Beranikah dia mengusir 
pergi semua perusahaan asing yang kerja menjarah itu? Beranikah dia 
bubarkan mafia Berkeley di pemerintahannya?
> Apa pun janji-janji gombalnya, selama masih membungkuk-bungkuk dan 
mencium jempol kaki Amerika yang bau itu, percuma saja kita punya 
pemerintahan baru. Kita hanya akan kejeblos di lubang yang sama. 
Apesnya, bukan untuk yang kedua kalinya, tapi untuk yang kesekian 
kalinya. Kebodohan yang selalu saja berulang. Bodoh atau memang 
gila, agak kurang jelas memang.
> Menggebuk FPI: Order Pihak Asing
> Kalau sekarang FPI lagi digebuki, diprovokasi, lalu pecah bentrok, 
kemudian ditangkapi, jelas sekali semua itu adalah order dari pihak 
asing. Jelas ada banyak kepentingan di dalamnya. Mulai dari masalah 
Ahmadiyah yang memang sangat dilindungi oleh zionis dan Amerika, 
hingga urusan ketaatan para penguasa terhadap penguasa asing.
> Bahkan yang paling menyedihkan, order itu masuk juga ke pihak 
media di negeri ini. Ingat-ingatlah, sejak kejadian Ahad di Monas 
pekan lalu, nyaris semua TV nasional di negeri ini secara ijma' dan 
muttafaqun alaihi, kompak, se-iya sekata, untuk menyalah-nyalahkan 
FPI.
> Siapa saja yang menonton TV selama sepekan ini, kalau otaknya 
kurang cerdas akan berkesimpulan sederhana: Pokoknya FPI itu biang 
kerok, pokoknya FPI itu harus dibubarkan, pokoknya aktifisnya harus 
ditangkap. Dan seribu pokoknya yang lain.
> Padahal sangat jelas semua itu pesanan asing. Dan yang paling 
konyol serta menyakitkan hati, masih ada saja oknum dari bangsa kita 
sendiri yang mau-maunya diperintah melakukan kekejian hanya sekedar 
membuktikan bahwa dirinya adalah anjing yang setia kepada tuannya. 
Naudzubillah tsumma naudzu billah.
> Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
wabarakatuh, 
> Ahmad Sarwat, Lc
> 
> -- 
> http://www.learnnet marketing. com
> http://www.webhosti ngfree.co. cc
> 
> Whatever you give to life, it gives you back. Do not hate any 
body. The hatred which comes out from you will someday come back to 
you. Love others. And love will come back to you
>


________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.  


      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang 
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke