Nimbrung nih:
1. assets negara yang dikuasai asing harus dikuasai kembali lewat
nasionalisasi, negosiasi ulang, atau apalah namanya. Memang diperlukan
keberanian seorang pemimpin. Siapa? SBY sudah terbukti peragu (baca: penakut).
Nur Wahid? Amien Rais? Marwan Batubara? Din Syamsuddin? Atau siapa tahu ada
jawara dari Banten....
2. Ahmadiyah tidak ada alasan untuk dibubarkan (atas nama kebebasan
beragama); FPI biarkan hidup karena setiap orang bebas berserikat dan
berkumpul.
3. Yang melakukan penganiayaan, kekerasan, dari organisasi mana pun, tangkap
dan diproses secara hukum.
Sp Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Gimana cara melawannya?
Saya setuju terhadap jawaban dari Ustad Sarwat, bahwa kita sudah didominasi
oleh pikiran-pikiran barkley si Amrik yang sudah jadi main stream thouhghts
dunia. Beranikah kita melawan main stream thought itu?
Saya ragu...karena dampaknya adalah bisa-bisa Indonesia kena embargo atau
diisolasi. Beranikah bangsa kita menghadapi segala konsekuensinya, jika kita
berani melawan pemikiran-pemikiran barkley group (mafia ekonominya).
Bagi orang-orang yang sudah dicuci otaknya di barkely group (komprador
asing), mereka tidak rela, jika kita nekad melawan pemikiran-pemikiran yang
sudah jadi dogma dan doktrin main stream thouhgth. Apa alasan mereka, katanya
buang2 energi, biarkan yang sudah berjalan secara normal, tentram dan damai,
biarkan dominasi si Amrik berkiprah secara kontinu.........
Menjengkelkan emang!!!
Kita membutuhkan pemimpin yang kuat didukung oleh para elit politik, para
intelektual yang mampu membentuk opini publik untuk melawan dominasi pikiran
mainstream yang menjadi aturan, dogram, doktrin dan konvensi yang sudah
membelenggu nusantara, dan siap menanggung segala konsekuensinya. Lawan brur!!!
Untuk kasus FPI, saya secara pribadi menyatakan : bubarkan Ahmadiyah !!!.
Jika ada yang mengatakan bahwa pembubaran Ahmadiyah adalah melanggar
konstitusi. Karena negara kita bukan negara berdasarkan agama.
Jika negara kita bukan negara berdasarkan agama, lantas negara kita
berdasarkan apa? Jika demikian, coba kita tengok dan baca preambul UUD
diawali dengan kalimat "Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa". Bukankah kalimat
preambul tsb. mensiratkah bahwa negara kita berlandaskan agama?
Maaf Brur, itu hanya pendapat pribadi saya, jangan ditanggapi!!
Wallau'alam!
----- Pesan Asli ----
Dari: uus bustami <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 9 Juni, 2008 21:31:19
Topik: Bls: [WongBanten] Re: PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING
belum terlambat,
kita mesti cepat berbenah dan mulai bangkit
mulailah memikirkan bagaimana caranya untuk melawan, tentu saja caranya tidak
gedebak-gedebuk.
tapi mohon maaf kang,
postingan "PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING" ini, topik utamanya adalah
pembelajaran bagi kita untuk bangkit melawan dominasi asing atau "pembelaan
pada FPI" ?
saya melihat yang kedua walau lebih sedikit uraiannya, tapi lebih mendapat
penekanan.
kemarin, di milis ini saya membaca postingan dari Anita Sofana <[EMAIL
PROTECTED] com> "tentang FPI, JIL dan pengalihan isu" yang katanya pengakuan
dari Nong Darol Mahmada (anggota JIL-katanya) , yang memaparkan bahwa ada
skenario JIL dari Komunitas Utan Kayu dalam kerusuhan di Monas 1 Juni 2008 yang
lalu.
saya sangsi pada pengakuan itu, karena ketika saya menonton TV, saya melihat M.
Guntur Romli yang kita tahu dari Komunitas Utan Kayu yang ikut hadir saat
kejadian di Monas mukanya babak belur dan harus dilarikan ke rumah sakit. Aneh,
pihak yang bikin skenario kok ikut babak belur. malahan, Akhir-akhir ini saya
lihat kabar, Nong Darol Mahmada "asli" mambantah menyebarkan berita seperti
itu.
saya melihat, dua postingan isu itu berlawanan, dan saya yakin kita semua bisa
menilai lah. Saya tidak pro pada JIL dan Komunitas Utan Kayu, sama seperti
tidak pro-nya saya saat melihat perusakan-perusakan yang dilakukan oleh massa
FPI ketika mereka beraksi. Saya tetap menganggap mereka-mereka itu saudara
kita sebangsa.
sayang, kita masih berkutat dalam isu-isu keagamaan seperti itu.
saya belum melihat lagi seperti dulu, isu pure tentang kebangsaan &
ketertindasan diangkat untuk dijadikan dasar untuk "melawan" penjajahan pihak
asing.
kita menunggu isu kebangkitan yang murni 'didalangi' oleh rakyat bangsa ini.
bangkitlah, sebelum kita hancur...!
ada ungkapan "addinu lilahi al-waton lil jami"
saya cenderung setuju dengan ungkapan itu.
salam - UUS
----- Pesan Asli ----
Dari: ozanku <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Senin, 9 Juni, 2008 19:38:02
Topik: [WongBanten] Re: PEMIMPIN YANG TAKUT KEPADA PIHAK ASING
Sepertinya bukan cuma kata: TIDAK!!! yang mesti kita teriakan tapi
juga 1 kata : LAWAN!!! mesti kita lakukan.
salam Najo.
--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Toni Iskandar <toni_wawat@ ...>
wrote:
>
> FYI
>
>
>
>
> Pemimpin yang Takut kepada Pihak Asing
> Senin, 9 Jun 08 08:32 WIB
> Kirim teman
> Assalamualaikum wr. wb
> Pak ustadz yang budiman, berkenaan dengan keadaan terakhir bangsa
ini, di mana pemerintah seenaknya menaikkan BBM, membiarkan
ahmadiyah, menangkapi lasykar dan pimpinan FPI, menghancurkan kampus-
kampus, menjual 44 BUMN, dan kebobrokan lainya.
> Pertanyaan saya, bagaimana kami sebagai rakyat kecil yang merasa
terzalimi harus bersikap? Apakah mereka didikte oleh kekuatan asing?
Apakah mereka takut berhadapan dengan kekuatan asing itu?
> Sebelumnya saya ucapkan terimakasih pak ustadz mau menjawab.
> Wassalamualaikum wr.wb
> Ahmad S
> Jawaban
> Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> Tekanan pihak asing pada semua kebijakan pemerintahan kita tidak
hanya terjadi pada hari ini. Tekanan ini adalah bagian utuh dari
rangkaian pola dan modus penjajahan (kolonialisme) asing terhadap
negeri Islam yang belum selesai-selesai juga sampai sekarang.
> Kalau kita berpikir bahwa tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah
sepenuhnya merdeka, maka silahkan kecewa. Karena kenyataannya,
kemerdekaan itu tidak bulat seutuhnya. Kemerdekaan itu hanya pada
tataran formal dan juridis saja. Bedak dan lipstiknya memang
merdeka. Tapi isi perutnya masih saja terjajah. Ya, pada hakikatnya
negeri kita tercinta ini masih dijajah.
> Hanya modusnya memang beda. Belanda dan kekuatan asing itu memang
hengkang secara fisik dari negeri ini. Tidak ada tentara asing
berkeliaran di negeri kita. Secara formal kita punya bendera, lagu
kebangsaan, batas wilayah, bahkan punya pemerintahan.
> Tapi,
> Apalah artinya semua itu kalau mentalitas para penguasanya hanya
boneka dan budak yang kerjanya setiap hari membungkukkan badannya
kepada kekuatan asing itu?
> Apalah artinya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan kalau
para pejabatnya sibuk menjual semua asset bangsa?
> Kelemahan kita pada hakikatnya pada mentalitas sebagian penguasa
lokal, yang entah bagaimana caranya, seolah bekerja demi kepentingan
asing. Entah apa motivasinya, apakah takut, ataukah karena memang
mentalnya mental inlander. Rasanya, alasan kedua ini yang lebih
dominan.
> Mentalitas Inlander
> Kalau kita kembali kepada sejarah bangsa ini, sejak awal mula
penjajahan ketika dahulu VOC masuk dan merampas kekayaan alam lewat
permainan dagang yang curang, kita sudah menyaksikan banyak pihak
yang bermental inlander ini.
> VOC tidak akan 'sukses' menjajah negeri ini kalau tidak dibantu
oleh para pamong dan penguasa lokal yang ikut memberi jalan masuk
bagi para penjarah, demi sekedar mendapat keuntungan yang sangat
kecil.
> Belanda tidak akan menjajah kita sampai 3, 5 abad kalau tidak
karena adanya kacung-kacung lokal yang mau saja diperdaya, diperalat
dan dijadikan kaki tangan penjajah. Mereka, para kacung itu, memang
dibutuhkan, bahkan kalau perlu diternakkan, agar nantinya siap
bermitra dengan para penjarah.
> Setidaknya menjadi jaminan atas langgengnya upaya kecurangan para
penjajah. Mental-mental semacam inilah yang hari ini terjadi lagi
sebagai pengulangan sejarah.
> Memang benar dahulu kita punya pemimpin besar sekelas Bung Karno
yang masyhur dengan jargonnya, "Go to hell with your aid." Tapi pada
akhirnya dia malah terjungkal oleh konspirasi kekuatan asing.
> Mafia Berkeley
> Salah satu sumber masalah buat negeri kita ini adalah adanya mafia
di level para penentu kebijakan poitik dan ekonomi. Di antaranya
yang disebut dengan mafia Berkeley.
> Mafia ini memang diciptakan oleh para penjarah di Amerika berupa
pusat pendidikan dan perguruan tinggi. Antara lain Universitas
Berkeley, Cornell, MIT (Massachusette Institute of Technology),
Harvard dan lainnya. Berbagai perguruan tinggi yang menjadi favorite
ini ternyata merupakan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-
ilmu liberal. Termasuk menjadi pusat untuk meng-Amerika- kan para
mahasiswa yang datang ke negeri itu (termasuk Indonesia) dan
menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika yang setia.
> Bahkan sebenarnya menurut David Ransom, bebagai perguruan tinggi
itu pada hakikatnya hanya kedok saja. Isinya tidak lain adalah wadah
bagi CIA untuk melakukan cuci otak. Luar biasa bukan?
> Para mahasiswa jebolan Berkeley dan yang lainnya, setelah mendapat
gelar Phd dan sejenisnya, kemudian pulang negeri kita dan berkerumun
di sekitar pusat kekuasaan dan menguasai berbagai Fakultas Ekonomi.
Tujuannya, selain menjadi penyambung lidah Amerika, memelintir cara
berpikir bangsa, juga mengambil alih kebijasanaan negara dalam
masalah ekonomi.
> Mafia ini kemudian duduk menjadi pejabat yang paling menentukan
arah langkah kebijakan ekonomi di negeri ini. Semua jabatan menteri
di bidang perekonomian dikuasai, siapa pun yang jadi presidennya.
Jabatan Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Bapenas, Penanaman
Modal Asing, Menteri Perindustrian, Dirjen Pemasaran dan
Perdagangan, dan jabatan penting lainnya adalah tempat yang paling
strategis untuk menjalankan agenda kolonialisme Amerika modern di
negeri kita.
> Untuk itu, semua pejabatnya harus orang-orang yang sangat mengabdi
buat kepentingan Amerika, setidaknya harus sudah dicuci otaknya di
berbagai perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu.
> Sebagian pengamat mengatakan bahwa Istilah PELITA dan REPELITA
yang akrab di telinga kita sejak masa rezim Soeharto, adalah hasil
godokan team ini.
> Keberadaan mafia Berkeley ini merupakan bentuk implementasi dari
ungkapan Ricahrd Nixon, Presiden Amerika di tahun 1967 tentang
Indonesia yang sedang dinikmati hasil jarahannya. Nixon mengatakan
bahwa Indonesia adalah "The Greates Prize", Indonesia adalah
anugerah terbesar buat Amerika.
> Anugerah?
> Ya, anugerah yang terbesar untuk dijarah, karena tanpa perlawanan
apapun, tanpa repot mengirim pasukan, tanpa ba dan bu, para
pejabatnya siap mempersembahkan semua kekayaan alam kepada
kepentingan komprador negeri Paman Sam itu. Termasuk pada akhirnya
mengobral murah 44 BUMN yang dengan susah payah dibangun oleh putera
puteri terbaik bangsa ini.
> Prestasi mafia ini memang luas biasa. Salah satu jerih payah
mereka antara lain adalah kontrak-kontrak kerja yang sangat
merugikan bangsa. Nyaris tidak ada kekayaan alam negeri ini yang
disisakan lagi.
> Entah bagaimana ceritanya, di Papua ada emas sebesar gunung yang
kemudian tiba-tiba menjadi milik Amerika 100%. Indonesia tidak dapat
apa-apa kecuali remah-remah roti buat para pejabatnya yang konon
semakin kaya saja.
> International Nickel tiba-tiba berhasil mendapatkan hak eksklusif
di Sulawesi. Harta terpendam bangsa Indonesia itu tiba-tiba jadi
milik asing, kita tidak disisakan sedikit pun.
> Alcoa juga mendapat jatah yang lain, yaitu hak untuk menjarah
hasil alam Indonesia berupa bauksit.
> Weyerhaeuser, International Paper, Biose Cascade dan perusahaan
kayu dari Jepang, Korea, dan Pilipina menebangi kayu-kayu di hutang
Kalimantan, Sumatera, dan Irian.
> Namun hadiah terbesar adalah minyak bumi. Pada tahun 1969, 23
perusahaan minyak telah mengajukan proposal untuk mendapatkan hak
melakukan eksplorasi, eksploitasi dan menjual minyak di bawah laut
perairan Indonesia. Dari 23 perusahaan itu, 19 di antaranya
perusahaan Amerika.
> Mental Terjajah
> Semua kegagalan bangsa di atas berikut kebangkrutannya itu, tidak
akan terjadi kalau mental bangsa ini, termasuk penguasanya, tidak
terjajah. Tetapi sayangnya, itulah realita mental kita dan juga
mental para penguasa kita. Tidak berani bilang tidak, ketika dipaksa-
paksa bilang iya.
> Sebagai perbandingan, tidak ada salahnya kalau kita melirik
tetangga kanan kiri. Beberapa negara miskin lainnya sebenarnya
bernasib tidak jauh beda dengan kita. Bedanya, mereka tidak terlalu
lama tidur, ada waktunya mereka bangkit dan menegakkan kepala, lalu
bilang kepada para penjarah internasional itu sebuah kata tegas:
TIDAK!!!.
> Malaysia
> Malaysia kini telah bangkit perekonomiannya, setelah sebelumnya
mau di-Indonesia- kan. Pak Mahathir, lepas dari urusan politik dalam
negerina, boleh dibilang sangat banyak jasanya dan patut dicontoh
untuk urusan menolak penjarahan asing.
> Malaysia patut ditiru ketika mereka tidak mau tunduk kepada dukun
palsu IMF, World Bank atau WTO, bahkan termasuk Soros, si lintah
darat itu. Dan hasilnya luar biasa.
> Angka kemiskinan menurun drastis dari 25% hingga kini tinggal 5%.
Penghasilan perkapita meninggak tiga kali lipat. Kini sekitar 10
ribu dolar. Industri dalam negeri mereka maju. Bahkan sudah punya
produk mobil nasioal yang 100% murni, bukan seperti kita yang konon
namanya mobil nasional, ternyata turun dari kapal sudah bisa hidup
mesinnya.
> Bolivia
> Setelah menasionalisasi semua aset negara, pendapatan Bolivia di
tahun 2006 melonjak 6 kali dari sebelumnya di tahun 2002.
> Akhirnya para penguasa negeri di Amerika Latin itu bangun dari
tidurnya. Mereka menyadari betapa selama ini mereka dikibuli habis-
habisan oleh penjarah dari Amerika dan negeri asing lainnya.
> Akhinya dengan semua keberanian dan kelelakian, semua perusahaan
asing yang bercokol di negeri itu, seperti Exxon Mobile, Total milik
Perancis, Repsol milik Spanyol, termasuk British Petrolium dan
lainnya hanya diberi pilihan, ikut aturan baru mereka atau silahkan
pulang kampung.
> Maka perusahaan asing itu tidak bisa bilang apa-apa. Mereka tahu
siapa yang jadi bos: Whos The Boss. Ternyata bukan mereka tapi
penguasa negeri itu yang jadi bos. Mereka harus taat, patuh dan
tunduk kepada kebijakan jantan penguasa negeri itu, kalau masih mau
hidup. Luar biasa bukan?
> Ecuador
> Yang juga perlu ditiru adalah tindakan berani Presiden Ecuador,
Rafael Careera, yang tidak memperpanjang kontrak pangkalan militer
Amerika di Manta tahun 2009.
> Perhatikan syarat yang diajukan pak Careera itu. Kalau Amerika
masih mau berpangkalan militer di Ecuador, silahkan saja. Asalkan
Amerika juga harus rela wilayah negerinya juga dijadikan pangkalan
militer Ecuador di Miami, wilayah Amerika Serikat.
> Jadi seimbang, sederajat, setara dan resiprokal. Tidak berat
sebelah sebagaimana kebijakan para peabat kita yang membolehkan
militer Singapura masuk ke wilayah kedaulatan kita.
> Asal tahu saja, negara kita telah menandatangani perjanjian sangat
tidak seimbang dengan Singapura, sehingga tentara negeri agen Zionis
itu bebas main perang-perangan dengan peluru tajam di Indonesia,
seperti Wilayah Alfa I, Alfa II, Bravo, dan Baturaja. Bahkan
dibolehkan mengundang pihak ketiga dari negara lain. Gila kan?
> Apa Kabar Presiden Kita?
> Jadi kalau kita mau pilih Presiden lagi nanti, itu pun kalau masih
mau, satu saja syaratnya. Apakah si calon presiden itu berani bilang
TIDAK kepada Amerika dan penjajah asing? Beranikah dia mengusir
pergi semua perusahaan asing yang kerja menjarah itu? Beranikah dia
bubarkan mafia Berkeley di pemerintahannya?
> Apa pun janji-janji gombalnya, selama masih membungkuk-bungkuk dan
mencium jempol kaki Amerika yang bau itu, percuma saja kita punya
pemerintahan baru. Kita hanya akan kejeblos di lubang yang sama.
Apesnya, bukan untuk yang kedua kalinya, tapi untuk yang kesekian
kalinya. Kebodohan yang selalu saja berulang. Bodoh atau memang
gila, agak kurang jelas memang.
> Menggebuk FPI: Order Pihak Asing
> Kalau sekarang FPI lagi digebuki, diprovokasi, lalu pecah bentrok,
kemudian ditangkapi, jelas sekali semua itu adalah order dari pihak
asing. Jelas ada banyak kepentingan di dalamnya. Mulai dari masalah
Ahmadiyah yang memang sangat dilindungi oleh zionis dan Amerika,
hingga urusan ketaatan para penguasa terhadap penguasa asing.
> Bahkan yang paling menyedihkan, order itu masuk juga ke pihak
media di negeri ini. Ingat-ingatlah, sejak kejadian Ahad di Monas
pekan lalu, nyaris semua TV nasional di negeri ini secara ijma' dan
muttafaqun alaihi, kompak, se-iya sekata, untuk menyalah-nyalahkan
FPI.
> Siapa saja yang menonton TV selama sepekan ini, kalau otaknya
kurang cerdas akan berkesimpulan sederhana: Pokoknya FPI itu biang
kerok, pokoknya FPI itu harus dibubarkan, pokoknya aktifisnya harus
ditangkap.. Dan seribu pokoknya yang lain.
> Padahal sangat jelas semua itu pesanan asing. Dan yang paling
konyol serta menyakitkan hati, masih ada saja oknum dari bangsa kita
sendiri yang mau-maunya diperintah melakukan kekejian hanya sekedar
membuktikan bahwa dirinya adalah anjing yang setia kepada tuannya.
Naudzubillah tsumma naudzu billah.
> Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,
> Ahmad Sarwat, Lc
>
> --
> http://www.learnnet marketing. com
> http://www.webhosti ngfree.co. cc
>
> Whatever you give to life, it gives you back. Do not hate any
body. The hatred which comes out from you will someday come back to
you. Love others. And love will come back to you
>
---------------------------------
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
---------------------------------
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.