memang harus ada reformasi memperlakukan TOA masjid.....
saya pernah naek keatas masjid merubah arah TOA, gara2 takbiran sampe pagi 
dimana anak saya masih bayi yang butuh istirahat...
Mestinya lebih bijaksana menggunakan TOA masjid, cukup buat adzan dan Iqomat 
saja lahh.. kalopun perlu dibangunin sahur, sekali saja lah..ngga perlu diisi 
teriakan salawat ...bikin brisik...
 


--- On Mon, 8/25/08, Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Lawang bagja <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [WongBanten] Ramadhan dan Toa Masjid Kampung
To: [EMAIL PROTECTED], "wong" <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, August 25, 2008, 4:04 AM








Ramadhan sudah dekat. Entah kenapa saya selalu teringat lintasan-lintasan 
peristiwa sepanjang hidup dan semua terjadi saat Ramadhan. Menjadikannya begitu 
spesial lengkap dengan pernak-pernik kehidupan. Seperti penggalan kisah 
Ramadhan dan Toa Masjid Kampung di bawah ini:
 
Ramadhan dan Toa Masjid Kampung
 
Bagi saya, Ramadhan seperti sebuah jangkar (anchor) yang memutar kembali 
ingatan saya dan mengumpulkan pecahan-pecahan mozaik kehidupan yang selama ini 
berserak di putaran roda waktu. Setiap Ramadhan tiba maka saat itulah kenangan 
itu berputar dan terasa hangat di dada. Bagaimana saya masih ingat betul detil 
suara bariton bapak yang setia on air lewat toa masjid kampung depan rumah 
tepat jam 3 dini hari!. Kebiasaan disiplin militer bagi pensiunan memang masih 
berbekas. 
Almarhum bapak memang sudah inten di kegiatan masjid saat usinya menginjak 
sekitar 40 tahun. Operasi militer di Irian Barat, Sulawesi Selatan, Sepanjang 
deretan di pegunungan Jawa Barat, dan lainnya sudah dilewati. Sepertinya beliau 
ingin  menghabiskan sisa hidupnya di seputaran masjid. Keinginannya tentu 
disambut hangat warga kampung jika ada yang ingin bertobat bukankah harus 
difasilitasi? Maka jadilah beliau pengisi acara spesial di bulan Ramadhan 
khusus untuk acara " Bangun Sahur bersama Bang Kholid". 
Acara ini diberikan cuma-cuma tanpa saingan setelah melihat kriteria suara 
almarhum bapak yang memang cocok untuk bangunkan orang kampung sahur. Dimulai 
dari pukul 3:00 dini hari siaran bangun sahur sudah dimulai. Isi siarannya 
macam-macam. Mulai dari shalawatan dua bahasa, arab dan Indonesia, sampai ke 
soal mengabsen warga kampung agar tidak lupa sholat shubuh nanti berjamaah. 
Sayangnya acara bangun sahur ini tidak terima telepon hanya suara alamrhum 
bapak saja yang mengawang-awang dia angkasa. 
bagi saya semua tidak masalah. Karena sudah kesepakatan warga semoga ini jadi 
ibadah dan warga ikhlas diganggu tidurnya oleh bapak. Masalahnya corong 
masjid tepat menghadap ke rumah kami menjadi 'siksaan' pada waktu itu buat saya 
karena suara bapak yang lantang (maklum saja mantan babinsa) menghancurkan 
kenikmatan tidur saya. 
'Sahuuuurrr. ..!" teriak bapak waktu itu percis teriakan komandan pada anak 
buahnya waktu apel siaga. 
Sampai satu ketika kenakalan saya kambuh. Sebelum jam 3 pagi, saya sudah 
menyelusup ke dalam masjid. Tanpa diketahui oleh siapapun, saya ubah chanel 
toa/ speaker. Karena di masjid kami ada 2 channel speaker. Satu untuk di dalam 
ruangan satu untuk di luar ruangan. Biasanya di dalam hanya dipakai saat sholat 
jumat. Pagi itu, channel toa saya hubungkan khusus ke channel dalam masjid. 
Selesai melakukan misi, saya pulang ke rumah dan kembali bobo sambil menunggu 
waktu injury time untuk sahur. Karena sunnah sahur di akhir-akhir menjelang 
fajar datang. Misi yang semula impossible sudah kelar dilaksanakan tanpa harus 
meminta bantuan timnya Tom Cruise segala. 
 
Pukul 3 sudah lewat 15 menit! saya meringkuk di atas dipan sambil mencoba untuk 
tidur. Suara yang biasanya menggelegar oleh shalawatan dan teriakan sahur 
hampir tidak terdengar. Misi saya sukses!. Saya menyeringai senang karena semua 
berjalan lancar. Tinggal siap-siap berlayar ke pulau kapuk sambil nunggu waktu 
sahur karena biasanya umi (ibu) pasti dengan sabar membangunkan.
 
Saat kapal sudah siap-siap berlayar, tiba-tiba saya mendengar teriakan yang 
memanggil nama saya. Spontan saya loncat dan langsung tiarap. Wah gawat..! dari 
suaranya sudah bukan mirip suara bapak asli tapi sudah berubah mirip komandan 
peleton kopasus. Sesaat saya coba mengingat-ngingat apakah sidik jari saya 
tertinggal belum dibersihkan. Ah..sepertinya tidak. Semua sudah dilakukan 
sesuai skenario.  "aduuh..!" baru ingat ada yang tertinggal satu!.
Satu-satunya orang yang tahu tempat menyimpan kunci ruangan speaker masjid 
selain bapak cuma saya...
Sepertinya beliau berang karena tahu ada yang merubah channel speaker. Suara 
bariton mirip komandan peleton meraung-raung di dalam masjid bergema dan 
memantul dan berputar-putar di dalam ruangan masjid. Mungkin setelah 15 menit, 
beliau baru tersadar ada yang tidak beres. 
(memori Ramadhan)
 
 
 
 














      

Kirim email ke