Mas Guswandi Yth,

Terima kasih untuk tanggapannya. Saya setuju ITB tidak akan hancur
hanya sebuah kritik kecil. ITB itu punya tradisi intelektual yang
baik. Dan saya berharap, akan semakin baik.

Tentang generalisasi...
Saya kutip tulisan tentang Paul B. Farrel saat mengkritisi perilaku
para politisi. Katanya begini:

"Voters are irrational ... leaders stealing our tax money"

Pertanyaannya:
Apa ada yg menangkap pernyataan Paul Farrel itu bahwa Paul Farrel
benar2 menganggap/berpendapat bahwa "semua pemilih itu tidak rasional
dan semua pemimpin itu maling duit rakyat"???

Saya pikir Mas Guswandi sepakat dengan saya bahwa itu bukan
generalisasi. Itu adalah gaya bahasa.

Sama dengan sebuah judul menulis: 
Indonesia memukul telak Cina dalam kejuaran Thomas Cup. 

Kenyataannya yang memukul telak kan mungkin cuma si Taufik Hidayat,
dkk. dan yang dipukul kan cuma pemain bulu tangkis Cina. Jadi, tidak
semua bangsa Indonesia memukul telak bangsa Cina.

Pertanyaannya: Ini generalisasi atau gaya bahasa yang lumrah digunakan
saat menulis? :)

Salam hangat,

Ferizal Ramli 

--- In [email protected], "guswandi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Aswrwb,
> 
> Sebetulnya Alumni ITB ga perlu marah dengan Kritikan tersebut. Biasa 
> aja lah, untuk intropeksi. Terlepas dari kasus ini, semua institusi 
> di Indonesia 'kan seharusnya memperbaiki diri. Saya, yang seorang 
> dosen, menganggap kritikan tersebut sebagai masukan berharga agar 
> universitas2 memperbaiki manajemennya agar efektif dan efisien, 
> serta memuaskan tenaga kerjanya, termasuk dosen dan cleaning 
> service. Tidak mungkin lah reputasi ITB yang besar itu bakal jatuh 
> karena ada kritik. ITB tetap institusi pendidikan besar.
> 
> Buat pengeritik, nt sebaiknya menggunakan bahasa yang lebih baik dan 
> tidak men-generalisasi terlalu berlebihan. 
> 
> Salam
> 
> Guswandi
> --- In [email protected], Sp Saprudin <udarider@> wrote:
> >
> > Pak Ferizal, jangan melihat satu sisi bahwa ITB bersikap tidak 
> fair terhadap Prof. Tjia May On. Lalu mengenai ITB mengklaim 
> keberhasilan prestasinya dalam satu bidang, lalu Pak Ferizal 
> menjudge ITB sebagai salah satu institusi yang yang tidak tahu balas 
> budi. 
> > Pak Ferizal untuk urusan apa yang ITB berikan kepada Prof. TMO. 
> Lho bukankah ITB telah membesarkan nama Prof. TMO. 
> > Bung, untuk urusan pengabdian dan dedikasi bukankah tidak 
> mengenal istilah balas jasa? Harusnya anda lihat almamater UPNVY. 
> Bukankan rektoratnya orang2 dari LEMHANAS?
> > 
> > Â 
> > 
> > 
> > 
> > ----- Pesan Asli ----
> > Dari: Ferizal Ramli <framliz@>
> > Kepada: [email protected]
> > Terkirim: Rabu, 27 Agustus, 2008 21:27:52
> > Topik: [WongBanten] Re: ITB: Institut Tidak-tahu Budi - 
> Klarifikasi Almamater
> > 
> > 
> > Salam semua....
> > 
> > Mengingat banyaknya email yang masuk dari alumni ITB ke saya 
> melalui
> > japri yang saya rasa kurang pas maka dengan ini saya perlu 
> klarifikasi:
> > 
> > Mohon dipahami bahwa kritik saya terhadap ITB tidak ada hubungannya
> > dengan institusi. Saya mengkritisi ITB karena bentuk kecintaan 
> saya ke
> > ITB meskipun dengan cara yang unik dan tidak romatis sama sekali. 
> tapi
> > cinta suci itu tidak harus romantis.
> > 
> > Dan saya tidak sedang menfitnah. Data saya jelas, tidak 
> terbantahkan.
> > Masalah bagaimana anda membaca data itu adalah persepsi kita. Data
> > saya tidak bisa disangkal oleh ITB. Dan saya mencantumkan nama 
> jelas
> > saya tanpa embel-2 institusi karena saya tidak mau bias.
> > 
> > Sayang ada beberapa email Japri dari alumnus ITB dan beberapa 
> diantara
> > punya reputasi nasional yang me-peta-kan secara berhadap-hadapan
> > antara ITB dengan UPNVY.
> > 
> > Mungkin karena dari googling ada sebuah signature yang menyatakan 
> saya
> > dari UPNVY. Lalu beberapa alumni ITB (sebagian mengutip dari 
> postingan
> > saya di IASI dan PPI Jerman) menganggap ini adalah persoalan ITB 
> dan
> > UPNVY.
> > 
> > Perlu saya beritahukan bahwa ini keliru. Ini tidak ada hubungannya
> > dengan institusi almamater saya.
> > 
> > Selain itu almamater saya itu tidak cuma UPNVY tapi juga 
> Universitas
> > GADJAH MADA (UGM), Universitas TERBUKA (UT), Universitas FURTWANGEN
> > dan Universitas HAMBURG. Akankah ini juga akan dikutsertakan dalam
> > tema ini?
> > 
> > Himbuan saya ke semua. Kritik saya ke ITB adalah tanggung jawab 
> saya
> > pribadi. Ini tidak ada hubungannya dengan UGM, UPNVY, UT atau
> > alammater saya yang lain.
> > 
> > Semoga temen-2 alumni ITB yang japri ke saya setelah email ini 
> dapat
> > memaknai kritikan saya dengan baik.
> > 
> > Salam,
> > Dari Lembah Sungai Spree
> > 
> > Ferizal Ramli
> > SAP Senior Consultan and Project Manager
> > 10179 Berlin
> > 
> > ---
> > From:
> > "mediacare" <[EMAIL PROTECTED] net.id>
> > Add sender to Contacts
> > To:
> > media-jabar@ yahoogroups. com
> > Cc:
> > "Ferizal Ramli" <[EMAIL PROTECTED] com>
> > 
> > Dear Detriana
> > 
> > Sepertinya Bung Ferizal itu alumnus UGM bukan UPN Yogyakarta.
> > 
> > salam,
> > 
> > radityo
> > 
> > 
> > 
> > ----- Original Message -----
> > From: [EMAIL PROTECTED] co.id
> > To: media-jabar@ yahoogroups. com
> > Sent: Wednesday, August 27, 2008 7:39 AM
> > Subject: Fw: [media-jabar] Re: [mediacare] ITB: Institut
> > Tidak-tahu Budi -->respon
> > 
> > --- On Mon, 8/25/08, egi suarga <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> > 
> > From: egi suarga <[EMAIL PROTECTED] com>
> > Subject:Fw: [media-jabar] Re: [mediacare] ITB: Institut
> > Tidak-tahu Budi
> > To: dago_permai@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, August 25, 2008, 3:24 PM
> > 
> > Sudah diposting di milis IA, dan direspon :
> > ============ ========= ========= ======
> > Rekan-rekan Alumni ITB,
> > Alhamdulillah ada suara dari Mas Pekik A. Dahono, PhD ,
> > dosen Elektro ITB untuk kasus ITB: "Institut Tidak-tahu Budi" ,
> > istilah yang dilansir pertama kali oleh Sdr. Ferizal Ramli, SE
> > (alumnus UPN Veteran, Yogyakarta, yang sekarang sedang studi di
> > Jerman) pada mailist PPI Jerman. Saya sendiri sudah menulis secara
> > pribadi kepada penulisnya tetapi belum dapat jawaban tentang 
> kebenaran
> > perlakuan terhadap Prof. Tjia May On dan Onno W. Purbo, PhD ini.
> > Memang betul ITB sedang kesulitan ruangan. Ketika
> > mewawancarai Prof.Ir. Sri Widiyantoro, PhD , untuk buku yang sedang
> > saya susun menyambut "Tahun Emas ITB pada 2009", ruangan Guru Besar
> > Geofisika ITB ini sangat sempit sekali. Sungguh tak sebanding 
> dengan
> > prestasi kelas dunia yang berhasil dicetak oleh Profesor yang
> > terbilang muda ini. Prof. Sri Widiyantoro ini merupakan ilmuwan ITB
> > yang 23 cited articles -nya telah dimuat di jurnal-jurnal ilmiah
> > kelas dunia seperti Nature, Science dsb telah di- cited time 
> sebanyak
> > 970 kali oleh para ilmuwan-ilmuwan kelas dunia pula di berbagai 
> jurnal
> > ilmiah internasional. Ilmuwan ITB ini adalah yang terbanyak dirujuk
> > karya ilmiahnya, bahkan termasuk dari sedikit jajaran ilmuwan di 
> dunia
> > yang begitu banyak karyanya dirujuk seperti versi Web of Science 
> (UK).
> > Para alumni ITB memang terkadang "jahil" mengomentari
> > tentang apa yang sedang terjadi di kampus almamaternya. Bahkan 
> kadang
> > sangat didramatisir, dibesar-besarkan. Sehingga pihak ITB merasa
> > diadili secara tidak fair (trial by press) oleh para alumninya
> > sendiri. Tapi saya yakin, kritikan itu sebagian besar datang dari 
> hati
> > yang tulus akan kecintaannya kepada almamater.
> > Yang perlu lebih arif didengar oleh ITB adalah bagaimana
> > memperlakukan para mantan "dosen pahlawan tanpa tanda jasa" secara
> > lebih manusiawi. Sebab seperti terkesan ITB ini "terlalu kasar",
> > terlalu formal dalam setiap berhubungan secara personal dengan para
> > mantan gurunya sendiri. Jadi ini soal "human relations" yang
> > diharapkan lebih baik lagi. Bisa saja juga para mantan Profesor
> > mengidap penyakit "post power syndrom" , tapi ini hendaknya 
> diabaikan
> > dulu. Saatnya ITB melayani. Saatnya ITB berkomunikasi.
> > Salam hangat penuh semangat ITB,
> > Cardiyan HIS
> > 
> > --- On Sun, 8/24/08, Pekik A. Dahono < [EMAIL PROTECTED]
> > ee.itb.ac. id > wrote:
> > From: Pekik A. Dahono < [EMAIL PROTECTED] ee.itb.ac. id >
> > 
> > Subject: Re: [IA-ITB] Fw: [ppijerman] ITB: Institut
> > Tidak-tahu Budi
> > To: [EMAIL PROTECTED] com
> > Date: Sunday, August 24, 2008, 6:27 PM
> > - Hide quoted text -
> > 
> > Saya nggak membela ITB, tetapi saya berharap para alumni
> > melihat semua
> > masalah dalam frame yang lebih luas, jangan
> > sepotong-potong. Soal profesor
> > yang tidak "dihormati" oleh ITB, juga mesti dilihat lebih
> > luas lagi.
> > Kalau ada profesor atau dosen yang berjasa ke ITB, tetapi
> > sudah pensiun,
> > perlu disediakan ruang nggak ya?
> > ITB lagi krisis ruangan lho, semester ini ada kuliah saya
> > yang belum dapet
> > ruangan.
> > Kalau ITB butuh dosen dengan prestasi X, tetapi si dosen
> > berprestasi Y (yang
> > mana prestasi semacam ini tidak dibutuhkan oleh ITB),
> > bagaimana sebaiknya
> > sikap ITB?
> > Salam
> > 
> > ************ ********* ********* ********* **
> > Flexi-Gratis bicara sepanjang waktu se-Jawa Barat,
> > Banten dan DKI Jakarta.
> > Speedy-Gratis Internetan unlimited dari Pkl. 20.00
> > s/d 8.00 se-Jabodetabek, Banten, Karawang dan
> > Purwakarta.
> > ************ ********* ********* ********* **
> > 
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, "Ferizal Ramli" <framliz@ > 
> wrote:
> > >
> > > Betul kang...
> > > 
> > > Tulisan saya itu sebagai bentuk cintai saya (meskipun bukan 
> orang ITB)
> > > ke ITB kok. 
> > > 
> > > Paling tidak semoga banyak orang baik di ITB akan mengkritisi
> > > kebijakan oknum ITB sehingga menjadi semakin baik...
> > > 
> > > Salam,
> > > 
> > > FR
> > > 
> > > --- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, das albantani <dasalbantani@ 
> > wrote:
> > > >
> > > > sabar kang....
> > > > yang tidak tahu budi tuh bukan ITB NYA... tapi org2 yg ad di
> > dlmnya....
> > > > 
> > > > --- On Sat, 23/8/08, Ferizal Ramli <framliz@> wrote:
> > > > 
> > > > From: Ferizal Ramli <framliz@>
> > > > Subject: [WongBanten] ITB: Institut Tidak-tahu Budi
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> > > > Date: Saturday, 23 August, 2008, 6:03 AM
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > ITB: Institut Tidak-tahu Budi
> > > > 
> > > > Saya terkejut membaca sebuah artikel dari Website resmi ITB.
> > > > http://www.itb. ac.id/news/ 2197.xhtml
> > > > ITB yang dengan bangga tanpa malu-malu membangga-banggakan 
> Prof. Tja
> > > > May On sebagai intelektual Fisika terbaik di Indonesia. Bagi 
> saya,
> > > > Yang Terhomat Prof. Tja May On pantas menerima penghargaan 
> itu. Yang
> > > > tidak pantas adalah, ITB bangga atas prestasi Prof. Tja May On.
> > > > 
> > > > Mari kita lihat, perlakukan apakah yang telah diberikan ITB 
> terhadap
> > > > Prof. Tja May On? Sungguh perlakukan yang tidak pantas. Sebuah 
> sumber
> > > > dari salah satu dosen muda berbakat ITB mengatakan bahwa Prof. 
> Tja May
> > > > On pernah diusir dari ruang kerjanya. Tiba-2 ruang kerja beliau
> > > > dikunci sehingga beliau harus pindah ke ruang sesak dan tidak 
> terurus.
> > > > Belum lagi tekan-2 lain yang diterima oleh Prof tua yang penuh
> > > > dedikasi dan pengabdian itu.
> > > > 
> > > > Untunglah idialisme dan dedikasi sang Prof. Tja May On berada 
> dalam
> > > > batas istimewa yang terlalu sulit untuk dicari bandingnya. 
> Beliau
> > > > tetap mengabdi pada ITB. Hanya betapa wagu-nya, tapi malu-2 
> njelehi
> > > > ITB meng-klaim bahwa prestasi dan dedikasi tulus beliau itu 
> adalah
> > > > milik ITB. Apa yang telah ITB berikan pada Prof. Tja May On? 
> Apa?
> > > > Sebaliknya, sementara yang diberikan Prof. Tja May On adalah 
> sebuah
> > > > prestasi tulus tanpa pamrih dengan penuh dedikasi….
> > > > 
> > > > ITB itu Institut Tidak-tahu Budi. Pantesan saja orang baik 
> seperti
> > > > Prof. Onno W. Purbo juga minggat dari kampus itu. ITB harus 
> merubah
> > > > kultur arogansinya. ITB itu besar karena pengabdian tulus dari 
> tokoh-2
> > > > idialis model Prof. Tja May On atau Prof. Onno W. Purbo. 
> Perlakuan
> > > > tidak pantas terhadap mereka dari institusi sebesar ITB tidak 
> hanya
> > > > memalukan tapi juga membuat efek trauma terhadap intelektual- 2
> > idialis
> > > > lainnya yang ingin mengabdi pada ITB.
> > > > 
> > > > Mereka pasti berpikir logis. Jika orang-2 sekaliber Prof. Tja 
> May On
> > > > diperlakukan tidak layak, atau Prof. Onno Purbo bisa tidak 
> betah di
> > > > ITB maka bagaimana nasib para intelektual muda?
> > > > 
> > > > ITB memang harus berubah khususnya para pemegang kebijakan 
> kampus.
> > > > Salah satu cara berubahnya, ndak perlulah syarat untuk jadi 
> Rektor ITB
> > > > itu harus lulusan Lemhanas. Ini bukan jaman ORBA lagi bung!
> > > > 
> > > > Semua sudah berubah. Fakta menunjukan sampeyan (ITB) saat ini 
> bukanlah
> > > > nomor satu seperti klaim sampeyan selama ini. Jika sampeyan 
> tidak
> > > > berubah maka sampeyan akan menjadi dinosaurus. Sejarah 
> mencatat,
> > > > betapapun besarnya kita, pasti akan masuk museum jika tidak 
> berubah
> > > > menjadi semakin baik…
> > > > 
> > > > Salam,
> > > > Dari tepian lembah Sungai Spree
> > > > 
> > > > Ferizal Ramli
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > Get your preferred Email name!
> > > > Now you can @ymail.com and @rocketmail. com. 
> > > > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
> > > >
> > >
> > 
> >  
> > 
> > 
> >       
> _____________________________________________________________________
> ______
> > Dapatkan alamat Email baru Anda!
> > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
> > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
> >
>


Kirim email ke