mungkin bisa jadi bahan pertimbangan untuk nyontreng, atau.......dan atau 
..........
maaf kalou dobel.
hhd.

--- On Mon, 5/18/09, bungaran <[email protected]> wrote:

From: bungaran <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Jejak rekam SBY
To: [email protected]
Date: Monday, May 18, 2009, 8:53 AM











    
            
            


      
      Kajian Dr George Junus Aditjondro: Jejak rekam SBY   



JEJAK REKAM SBY, CAPRES PARTAI DEMOKRAT:



• Jejak rekam SBY di bidang lingkungan sangat tersembunyi, sebab SBY `hanya' 
berperan sebagai pelindung berbagai kelompok bisnis besar, terutama kelompok  
Artha Graha (AG). T.B. Silalahi, penasehat presiden di bidang pertahanan, juga 
eksekutif kelompok AG dbp Tomy Winata. Melalui mitra bisnisnya di Sumut, AG 
mengelola perkebunan kelapa sawit PT First Mujur Plantation di Tapanuli Selatan

dan Labuhan Batu.



• Artha Graha juga milik Sugianto Kusuma (`Aguan'), pemilik PT Agung Sedayu 
Permai, holding company Agung Sedayu Group.



• Artha Graha dan Agung Sedayu Permai banyak membangun gedung perkantoran & 
perumahan elit, yang tiap hari diiklankan di layar televisi.



• Kurang disadari dampak lingkungan properti-properti mewah itu, yaitu:



• (a) pembukaan lahannya menggusur rakyat kecil yang terpaksa bermukim di 
pinggir kali yang sangat tidak sehat;



• (b) sangat rakus air tanah (membuat rakyat kecil tergantung pada air 
kemasan); dan



• (c) ikut menyemburkan udara panas yang menaikkan suhu udara kota Jakarta.



• Berlindung di balik nama SBY ada dua yayasan, yakni (1) Yayasan Puri Cikeas & 
(2) Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam.



• Orang-orang dekat SBY menjadid pembina atau pengawas yayasan-yayasan itu.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas = Jero Wacik, Menteri Pariwisata dalam 
Kabinet Indonesia Bersatu. Ketua Pengawas Yayasan Nurussalam = Brigjen Kurdi 
Mustofa, Sekpri SBY.



• Adik ipar (Hartanto Eddie Wibowo) dan anak bungsu SBY (Eddy Baskoro 
Yudhoyono) menjadi fungsionaris Yayasan Nurussalam. Hartanto, bendahara, 
Baskoro, sekretaris.



• Sejumlah pengusaha era Orde Baru menjadi fungsionaris kedua yayasan itu, 
seperti Sukamdhani dan putera mahkotanya, Hariadi Sukamdani (Sahid Group), 
serta Tanri Abeng dan anaknya, Emil Abeng, serta Aziz Mochdar (Bimantara). 
Sukamdhani dan Tanri Abeng di Yayasan Cikeas, sedangkan Aziz Mochdar (ipar 
Yayuk Habibie,adik bungsu BJ Habibie) di Yayasan Nurusalam.



• Ada juga pengusaha yang berlindung di balik fungsionaris Yayasan Nurussalam, 
seperti Gunawan Yusuf (Makindo), kompetitor Salim Group dalam perkebunan tebu 
di Lampung.



• Menteri Lingkungan era SBY, Rachmat Witoelar, memberikan label hijau kepada 
beberapa konglomerat perusak lingkungan, yakni RGM, Sinar Mas, dan Freeport 
Indonesia, Inc.



• Ekspansi konglomerat- konglomerat yang dekat dengan pernah sama-sama jadi 
penggalang dana, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, Hartati Murdaya) 
ikut berekspansi di era SBY, walaupun di tahun-tahun pertama kejatuhan Soeharto 
mereka masih berhutang besar pada bank-bank negara.



• Kelompok Medco yang 60% milik keluarga Arifin Panigoro (40% milik Mitsui & 
Mitsubishi) berkembang dari migas (Sulteng, Aceh), PLT panas bumi di Sarulla 
(Sumut), kelapa sawit (Kalteng, Papua), paper dan pulp di Merauke (Papua), s/d 
rencana PLTN di Jepara (Jateng).



• Namun blunder terbesar kroni-kroni SBY adalah ekspansi bisnis keluarga Bakrie 
di bidang energi (Mega Energi Persada, Bumi Resources, Kondur Petroleum) yang 
mengakibatkan tragedi Lapindo bagi rakyat Jawa Timur, malapetaka lingkungan 
paling kurang ajar selama rezim SBY!




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke