KUDA PRABOWO & RUMAH DUNIA

Oleh: Udo Yamin Majdi



Hari ini (Rabu, 20 Mei 2009) Kompas.com memberitakan bahwa cawapres Prabowo

Subianto mendaftarkan binatang peliharaan kuda berjumlah 84 ekor, yang

membuat dia menjadi cawapres terkaya dengan total harta Rp 1,7 triliun.

Mantan Panglima Kostrad itu mendaftarkan binatang peliharaan sebagai

harta kekayaan karena ternyata harganya melebihi mobil mewah.



Mobil sedan BMW 750Li saja berharga sekitar Rp 2,5 miliar, atau Mercedes Benz

terbaru, seri E300, sekitar Rp 1,3 miliar, sementara tiga kuda milik

Prabowo mencapai harga Rp 3 miliar per ekor. "Kuda itu harganya Rp 3

miliar per ekor. Tidak ada orang lain di Indonesia yang punya kuda

semahal itu. Bahkan, mungkin termahal di Asia," ungkap Emon, karyawan

Nusantara Polo Club saat ditemui Persda Network di Jagorawi Golf and

Country Club (JGCC), Bogor, Jawa Barat. 



Tidak ada yang salah dengan berita itu. Namun, serasa ada sembilu yang

merobek-robek hati saya, ketika saya teringat dengan  postingan Gola

Gong di beberapa milis, terutama milis Rumah Dunia. Dalam postingan

itu, Gola Gong minta bantuan sebab ingin memperlebar wilayah Rumah

Dunia dengan membeli lahan di samping timurnya seluas 2873 meter

persegi. Harga tanah Rp 250.000,-/M2, sehingga dana yang dibutuhkan

adalah: 2873 x Rp 250.000,- =  Rp  718.250.000, - (Tujuh Ratus
Delapan

Belas Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Sejak pembuatan proposal

tanggal 20 April 2009 hingga tanggal 17 Mei 2009, baru terkumpul dana

untuk membeli seluas 473 meter persegi. 



Bila Probowo melelang seekor kudanya, lalu hasil jual tersebut dia berikan

untuk Rumah Dunia, maka sepertiga uang itu sudah dapat membeli tanah

dan dua pertiga lagi untuk membangun fasilitas —WC Umum, Kios Seni,

Kios Jajanan Kampung, Lapangan Basket Mini, Gedung Kesenian, Panggung

Terbuka, Gedung Perpustakaan, dan Kantor Sekretariat— di atasnya.

Mungkinkah Prabowo mau melakukannya? 



Sampai unta masuk lubang jarum, kecil kemungkinan Prabowo akan melakukannya.

Mengapa saya pesimis seperti ini? Sebab, saya sudah terlalui sering

disuguhkan dengan ironi dan sikap para power elite —istilah ini berasal

dari C. Wright Mills yang mengatakan bahwa dalam masyarakat ada

kelompok penguasa yang menguasai alat-alat produksi dan politik,

sedangkan di bawah ada massa yang dikuasai oleh elite itu— kurang

berpihak kepada rakyat. 



Probowo dan Gola Gong potret keironian bangsa Indonesia. Probowo sebagai elit

memiliki kekayaan melimpah ruah, sedangkan Gola Gong, jangankan untuk

membeli tanah seluas 2873 m persegi itu, untuk biaya berobat saja,

beliau harus bekerja keras dulu menulis, baru ada uang. Saya tidak

menggugat kekayaan Probowo sebagaimana saya tidak mempermasalah

kemiskinan Gola Gong. Kaya dan miskin, dua hal yang wajar dan natural.

Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang melarang menjadi orang kaya

(aghniya). Al-Quran juga tidak menyalahkan kemiskinan; kesenjangan

natural atau kesenjangan alamiah, Al-Quran menyebutnya dengan istilah

adh-dhu'afa. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah melebihkan seseorang

di atas yang lain (baca: QS. Al-An'am [6]: 165). Dan Islam memberikan

solusi hubungan antara orang kaya dan miskin harmonis, dengan cara

zakat, shadaqah, dan infaq bagi orang kaya dan menahan diri dari

minta-minta bagi orang miskin. 



Yang menjadi masalah adalah ketidakadilan. Mengapa tidak adil? Betapa tidak,

80% kekayaan di muka bumi ini berputar hanya pada kalangan konglomerat

berjumlah 20%. Begitu juga di Indonesia.
Padahal dalam Al-Quran surat

At-Taubah [9]:34-35 ada larangan untuk mengedarkan kekayaan hanya di

kalangan orang kaya saja. Terjadilah apa yang tersebut dalam lirik lagu

Rhoma Irama: Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Kemiskinan ini bukan lagi natural lagi, melainkan kemiskinan yang

disengaja, atau kesenjangan struktural. Dalam Al-Quran menyebutnya

dengan istilah mustadh'afin (orang tertindas). 



Mereka miskin, bukan karena perbedaan pengetahuan, motivasi, keterampilan,

lokasi, dan mementum, melainkan mereka secara sengaja "dimiskinkan"

atau dibiarkan tetap miskin oleh sebuah sistim dan kebijakan. Mereka

bukan tidak mau meningkatkan tarap hidup, melainkan mereka secara

sistimatis tidak diberi peluang oleh pemerintah untuk melakukannya.

Bantuan, kemudahan, dan peluang itu tidak berpihak kepada mereka. 



Dan Gola Gong termasuk diantara mereka itu. Dalam bukunya, MENGGENGGAM

DUNIA: Bukuku, Hatiku (Dar Mizan, 2006), Gola Gong menceritakan bahwa

beliau sejak kecil bercita-cita menjadi guru seperti kedua orang

tuanya, namun kandas gara-gara rezim Soeharto banyak membuat peraturan

yang mendiskriditkan orang cacat. Karena tangan kiri beliau diamputasi

hingga siku, Gola Gong tidak diberi kesempatan menjadi guru, dan

akhirnya menjadi penulis. Dalam Pengantar Penulis di buku itu, Gola

Gong menuturkan: 



"Aku menjadi penulis karena perlakukan diskriminasi dari pemerintah,
karena

tubuhku cacat. Menulislah, satu jenis pekerjaan, yang tidak pernah

meminta persyaratan tentang seseorang harus tidak cacat atau cacat"

(hal. 16). 



Dan power elite --dalam konteks Indonesia,
elite politik dan elite bisnis--

bertanggungjawab atas terjadinya kesenjangan struktural itu. Konon,

sejak zaman Yunani kuno hingga kini yang sering menguasai negara adalah

militer dan/atau orang kaya. Sampai Allah mengabadikan kisah (baca QS.

Al-Baqarah [2]: 246-252) pengangkatan Thalut sebagai pemimpin,

terjadilah dialog antara pemuka Bani Israil dengan nabi mereka. 



Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat

Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah

kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya

sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak" Nabi (mereka)

berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan

menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah

memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah

Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 247) 



Sekarang kita perhatikan, siapakah capres dan cawapres Pemilu 2009? Bukankah

mereka adalah orang-orang kaya, sehingga KPK perlu memeriksa

"kekayaan", bukan "harta" mereka? Sayangnya, KPK hanya
mengklarifikasi

jumlah kekayaan, asal muasal kekayaan. Coba, kalau KPK memakai

pertanyaan Allah di akhirat nanti, sebagaimana disebutkan dalam sebuah

hadis: Tidak bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum

ditanya empat perkara; 1) tentang umurnya digunakan untuk apa, 2)

tentang masa muda dihabiskan untuk apa, 3) TENTANG HARTA DARI MANA IA

DAPATKAN DAN UNTUK APA IA GUNAKAN; dan 4) tentang ilmu sudahkah

diamalkan." (HR. Tirmidzi). 



Cobalah KPK bertanya kepada para capres dan cawapres itu: untuk apa kekayaan

Anda selama ini? Mungkin diantara mereka ada yang kebingungan, sebab

kalau mereka jujur mereka akan malu, dengan jawaban ini: "Saya

pergunakan untuk kampanye, meraih kekuasaan dan kalau udah berkuasa,

saya pakai untuk mempertahankan kekuasaan!" Sudah menjadi rahasia umum

para politisi itu jor-joran mengeluarkan uang untuk kampanye, misalnya

hanya beberapa menit di televisi tapi menghabiskan ratusan juta.

Bahkan, sebelum Pileg yang lalu, ada politisi mengeluarkan uang satu

milyar hanya untuk kampanye 15 menit di sebuah tempat. Luar biasa bukan? 



Mengapa mereka berani mengeluarkan uang sebanyak itu? Silahkan Anda tanya

langsung kepada mereka! Yang pasti, saya bisa memahami mengapa mereka

tidak mau membantu program seperti yang dilakukan oleh Gola Gong, sebab

secara politis dan bisnis, membantu Rumah Dunia tidak menguntungkan.

Berbeda dengan membantu ormas yang memiliki massa banyak. Hanya orang

yang murni berbuat baik, yang bisa membantu Rumah Dunia. Sebab, mereka

sadar betul dengan firman Allah ini: 



"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum
kamu

menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu

nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. " (QS. Ali Imran [3]: 

92) 



Siapkah Probowo menginfaqkan satu kuda saja dari 84 kuda yang dia cintai itu

untuk Rumah Dunia? Siapkah capres dan cawapres lainnya itu melakukan

hal yang sama? Jika tidak, jangan salahkan saya --mungkin juga jutaan

rakyat Indonesia-- bila saya mengalami --apa yang disebut oleh almarhum

Kuntowijoyo- - legitimation crisis, yaitu hilangnya kepercayaan bahwa

kaum elite akan mengurusi massa. Jangan salahkan pula, jika kami

berpikir bahwa ada persekongkolan antara elite politik dan elite bisnis

untuk menguasai rakyat. Sekali lagi jangan salahkan saya, bila saya

tidak percaya lagi dengan sila ke-5 Pancasila: :Keadilan bagi SELURUH

rakyat Indonesia.
Dan mohon ma'af bila saya berubah pikiran, tadinya

saya tidak setuju dengan Golput, akan Golput manakala calon pemimpin

itu tidak berpihak pada rakyat miskin. 



Dan yang lebih membuat hati saya terluka adalah setelah LAZ berhasil

menyejahtrakan sebagian rakyat miskin, tiba-tiba terdengar berita bahwa

pemerintah akan membuat undang-undang berisikan bahwa hanya pemerintah

saja yang mengurus zakat, sedangkan masyarakat tidak boleh

mengelolanya. Lucu bukan, mereka alergi dengan syari'at Islam dan

sering mengatakan urusan agama adalah privacy, namun giliran tentang

pengelola zakat dan haji mereka begitu bersemangat bahwa itu tugas

mereka? Dan di manakah nurani kita, jika kita lebih mendahulukan

membeli binatang seharga 3 milyar dibandingkan membantu orang-orang

yang dengan tulus untuk membantu mencerdaskan bangsa lewat dunia

kepenulisan dan perbukuan? Nah, menurut Anda, penting manakah antara

Kuda Prabowo dengan Rumah Dunia? 



Wallahu a'lam. 

Tafahna El-Asyraf Mesir, 20 Mei 2009



============ ========= ======

Tulisan ini saya buat tanpa bermaksud mencemarkan nama seseorang atau

memprovokasi orang lain untuk membenci pemerintah atau ajakan Golput,

melainkan saya tulis sebagai "curhat" sekaligus renungan bersama
untuk

memperbaiki bangsa Indonesia dengan cara apapun, tidak hanya lewat

politik. Dan salah satu caranya adalah membantu orang-orang yang ingin

mencerdaskan bangsa seperti yang dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah

Dunianya. Bagi siapa saja yang merasa tertarik membantu Rumah Dunia,

silahkan KLIK DI SINI: www.rumahdunia.net

 




      

Kirim email ke