namanya Hotman Paris Hutapea dan Meriam Bellina On 5/22/09, halim hd <[email protected]> wrote: > > > > ada advokad punya mobil sport > ferarri, reganya 6 miliar!! dan hanya > untuk pergi ke ancol sama bininya !! > > --- On *Thu, 5/21/09, gongmedia cakrawala <[email protected]>* wrote: > > > From: gongmedia cakrawala <[email protected]> > Subject: [WongBanten] Kuda Prabowo dan Rumah Dunia > To: "wong banten" <[email protected]>, "Banten Bangkit" < > [email protected]> > Date: Thursday, May 21, 2009, 4:50 PM > > KUDA PRABOWO & RUMAH DUNIA > Oleh: Udo Yamin Majdi > > Hari ini (Rabu, 20 Mei 2009) Kompas.com memberitakan bahwa cawapres Prabowo > Subianto mendaftarkan binatang peliharaan kuda berjumlah 84 ekor, yang > membuat dia menjadi cawapres terkaya dengan total harta Rp 1,7 triliun. > Mantan Panglima Kostrad itu mendaftarkan binatang peliharaan sebagai > harta kekayaan karena ternyata harganya melebihi mobil mewah. > > Mobil sedan BMW 750Li saja berharga sekitar Rp 2,5 miliar, atau Mercedes > Benz > terbaru, seri E300, sekitar Rp 1,3 miliar, sementara tiga kuda milik > Prabowo mencapai harga Rp 3 miliar per ekor. "Kuda itu harganya Rp 3 > miliar per ekor. Tidak ada orang lain di Indonesia yang punya kuda > semahal itu. Bahkan, mungkin termahal di Asia," ungkap Emon, karyawan > Nusantara Polo Club saat ditemui Persda Network di Jagorawi Golf and > Country Club (JGCC), Bogor, Jawa Barat. > > Tidak ada yang salah dengan berita itu. Namun, serasa ada sembilu yang > merobek-robek hati saya, ketika saya teringat dengan postingan Gola > Gong di beberapa milis, terutama milis Rumah Dunia. Dalam postingan > itu, Gola Gong minta bantuan sebab ingin memperlebar wilayah Rumah > Dunia dengan membeli lahan di samping timurnya seluas 2873 meter > persegi. Harga tanah Rp 250.000,-/M2, sehingga dana yang dibutuhkan > adalah: 2873 x Rp 250.000,- = Rp 718.250.000, - (Tujuh Ratus Delapan > Belas Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Sejak pembuatan proposal > tanggal 20 April 2009 hingga tanggal 17 Mei 2009, baru terkumpul dana > untuk membeli seluas 473 meter persegi. > > Bila Probowo melelang seekor kudanya, lalu hasil jual tersebut dia berikan > untuk Rumah Dunia, maka sepertiga uang itu sudah dapat membeli tanah > dan dua pertiga lagi untuk membangun fasilitas —WC Umum, Kios Seni, > Kios Jajanan Kampung, Lapangan Basket Mini, Gedung Kesenian, Panggung > Terbuka, Gedung Perpustakaan, dan Kantor Sekretariat— di atasnya. > Mungkinkah Prabowo mau melakukannya? > > Sampai unta masuk lubang jarum, kecil kemungkinan Prabowo akan > melakukannya. > Mengapa saya pesimis seperti ini? Sebab, saya sudah terlalui sering > disuguhkan dengan ironi dan sikap para power elite —istilah ini berasal > dari C. Wright Mills yang mengatakan bahwa dalam masyarakat ada > kelompok penguasa yang menguasai alat-alat produksi dan politik, > sedangkan di bawah ada massa yang dikuasai oleh elite itu— kurang > berpihak kepada rakyat. > > Probowo dan Gola Gong potret keironian bangsa Indonesia . Probowo sebagai > elit > memiliki kekayaan melimpah ruah, sedangkan Gola Gong, jangankan untuk > membeli tanah seluas 2873 m persegi itu, untuk biaya berobat saja, > beliau harus bekerja keras dulu menulis, baru ada uang. Saya tidak > menggugat kekayaan Probowo sebagaimana saya tidak mempermasalah > kemiskinan Gola Gong. Kaya dan miskin, dua hal yang wajar dan natural. > Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang melarang menjadi orang kaya > (aghniya). Al-Quran juga tidak menyalahkan kemiskinan; kesenjangan > natural atau kesenjangan alamiah, Al-Quran menyebutnya dengan istilah > adh-dhu'afa. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah melebihkan seseorang > di atas yang lain (baca: QS. Al-An'am [6]: 165). Dan Islam memberikan > solusi hubungan antara orang kaya dan miskin harmonis, dengan cara > zakat, shadaqah, dan infaq bagi orang kaya dan menahan diri dari > minta-minta bagi orang miskin. > > Yang menjadi masalah adalah ketidakadilan. Mengapa tidak adil? Betapa > tidak, > 80% kekayaan di muka bumi ini berputar hanya pada kalangan konglomerat > berjumlah 20%. Begitu juga di Indonesia . Padahal dalam Al-Quran surat > At-Taubah [9]:34-35 ada larangan untuk mengedarkan kekayaan hanya di > kalangan orang kaya saja. Terjadilah apa yang tersebut dalam lirik lagu > Rhoma Irama: Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. > Kemiskinan ini bukan lagi natural lagi, melainkan kemiskinan yang > disengaja, atau kesenjangan struktural. Dalam Al-Quran menyebutnya > dengan istilah mustadh'afin (orang tertindas). > > Mereka miskin, bukan karena perbedaan pengetahuan, motivasi, keterampilan, > lokasi, dan mementum, melainkan mereka secara sengaja "dimiskinkan" > atau dibiarkan tetap miskin oleh sebuah sistim dan kebijakan. Mereka > bukan tidak mau meningkatkan tarap hidup, melainkan mereka secara > sistimatis tidak diberi peluang oleh pemerintah untuk melakukannya. > Bantuan, kemudahan, dan peluang itu tidak berpihak kepada mereka. > > Dan Gola Gong termasuk diantara mereka itu. Dalam bukunya, MENGGENGGAM > DUNIA: Bukuku, Hatiku (Dar Mizan, 2006), Gola Gong menceritakan bahwa > beliau sejak kecil bercita-cita menjadi guru seperti kedua orang > tuanya, namun kandas gara-gara rezim Soeharto banyak membuat peraturan > yang mendiskriditkan orang cacat. Karena tangan kiri beliau diamputasi > hingga siku, Gola Gong tidak diberi kesempatan menjadi guru, dan > akhirnya menjadi penulis. Dalam Pengantar Penulis di buku itu, Gola > Gong menuturkan: > > "Aku menjadi penulis karena perlakukan diskriminasi dari pemerintah, karena > tubuhku cacat. Menulislah, satu jenis pekerjaan, yang tidak pernah > meminta persyaratan tentang seseorang harus tidak cacat atau cacat" > (hal. 16). > > Dan power elite --dalam konteks Indonesia , elite politik dan elite > bisnis-- > bertanggungjawab atas terjadinya kesenjangan struktural itu. Konon, > sejak zaman Yunani kuno hingga kini yang sering menguasai negara adalah > militer dan/atau orang kaya. Sampai Allah mengabadikan kisah (baca QS. > Al-Baqarah [2]: 246-252) pengangkatan Thalut sebagai pemimpin, > terjadilah dialog antara pemuka Bani Israil dengan nabi mereka. > > Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat > Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah > kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya > sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak" Nabi (mereka) > berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan > menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah > memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah > Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 247) > > Sekarang kita perhatikan, siapakah capres dan cawapres Pemilu 2009? > Bukankah > mereka adalah orang-orang kaya, sehingga KPK perlu memeriksa > "kekayaan", bukan "harta" mereka? Sayangnya, KPK hanya mengklarifikasi > jumlah kekayaan, asal muasal kekayaan. Coba, kalau KPK memakai > pertanyaan Allah di akhirat nanti, sebagaimana disebutkan dalam sebuah > hadis: Tidak bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum > ditanya empat perkara; 1) tentang umurnya digunakan untuk apa, 2) > tentang masa muda dihabiskan untuk apa, 3) TENTANG HARTA DARI MANA IA > DAPATKAN DAN UNTUK APA IA GUNAKAN; dan 4) tentang ilmu sudahkah > diamalkan." (HR. Tirmidzi). > > Cobalah KPK bertanya kepada para capres dan cawapres itu: untuk apa > kekayaan > Anda selama ini? Mungkin diantara mereka ada yang kebingungan, sebab > kalau mereka jujur mereka akan malu, dengan jawaban ini: "Saya > pergunakan untuk kampanye, meraih kekuasaan dan kalau udah berkuasa, > saya pakai untuk mempertahankan kekuasaan!" Sudah menjadi rahasia umum > para politisi itu jor-joran mengeluarkan uang untuk kampanye, misalnya > hanya beberapa menit di televisi tapi menghabiskan ratusan juta. > Bahkan, sebelum Pileg yang lalu, ada politisi mengeluarkan uang satu > milyar hanya untuk kampanye 15 menit di sebuah tempat. Luar biasa bukan? > > Mengapa mereka berani mengeluarkan uang sebanyak itu? Silahkan Anda tanya > langsung kepada mereka! Yang pasti, saya bisa memahami mengapa mereka > tidak mau membantu program seperti yang dilakukan oleh Gola Gong, sebab > secara politis dan bisnis, membantu Rumah Dunia tidak menguntungkan. > Berbeda dengan membantu ormas yang memiliki massa banyak. Hanya orang > yang murni berbuat baik, yang bisa membantu Rumah Dunia. Sebab, mereka > sadar betul dengan firman Allah ini: > > "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum > kamu > menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu > nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. " (QS. Ali Imran [3]: > 92) > > Siapkah Probowo menginfaqkan satu kuda saja dari 84 kuda yang dia cintai > itu > untuk Rumah Dunia? Siapkah capres dan cawapres lainnya itu melakukan > hal yang sama? Jika tidak, jangan salahkan saya --mungkin juga jutaan > rakyat Indonesia-- bila saya mengalami --apa yang disebut oleh almarhum > Kuntowijoyo- - legitimation crisis, yaitu hilangnya kepercayaan bahwa > kaum elite akan mengurusi massa. Jangan salahkan pula, jika kami > berpikir bahwa ada persekongkolan antara elite politik dan elite bisnis > untuk menguasai rakyat. Sekali lagi jangan salahkan saya, bila saya > tidak percaya lagi dengan sila ke-5 Pancasila: :Keadilan bagi SELURUH > rakyat Indonesia . Dan mohon ma'af bila saya berubah pikiran, tadinya > saya tidak setuju dengan Golput, akan Golput manakala calon pemimpin > itu tidak berpihak pada rakyat miskin. > > Dan yang lebih membuat hati saya terluka adalah setelah LAZ berhasil > menyejahtrakan sebagian rakyat miskin, tiba-tiba terdengar berita bahwa > pemerintah akan membuat undang-undang berisikan bahwa hanya pemerintah > saja yang mengurus zakat, sedangkan masyarakat tidak boleh > mengelolanya. Lucu bukan, mereka alergi dengan syari'at Islam dan > sering mengatakan urusan agama adalah privacy, namun giliran tentang > pengelola zakat dan haji mereka begitu bersemangat bahwa itu tugas > mereka? Dan di manakah nurani kita, jika kita lebih mendahulukan > membeli binatang seharga 3 milyar dibandingkan membantu orang-orang > yang dengan tulus untuk membantu mencerdaskan bangsa lewat dunia > kepenulisan dan perbukuan? Nah, menurut Anda, penting manakah antara > Kuda Prabowo dengan Rumah Dunia? > > Wallahu a'lam. > Tafahna El-Asyraf Mesir, 20 Mei 2009 > > ============ ========= ====== > Tulisan ini saya buat tanpa bermaksud mencemarkan nama seseorang atau > memprovokasi orang lain untuk membenci pemerintah atau ajakan Golput, > melainkan saya tulis sebagai "curhat" sekaligus renungan bersama untuk > memperbaiki bangsa Indonesia dengan cara apapun, tidak hanya lewat > politik. Dan salah satu caranya adalah membantu orang-orang yang ingin > mencerdaskan bangsa seperti yang dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah > Dunianya. Bagi siapa saja yang merasa tertarik membantu Rumah Dunia, > silahkan KLIK DI SINI: www.rumahdunia. net <http://www.rumahdunia.net/> > > > > > >
-- "lebih baik menyalakan lilin, daripada mencela kegelapan"
