betul bro.............liat yang sudah jelas aj.............yg sudah terbukti aj
.......
----- Original Message -----
From: JHON DOE
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 10, 2009 8:31 AM
Subject: Bls: ~ aga ~ SBY Lanjutkan, Indonesia Bangkrut
JK juga neo lib, wong selama ini juga dia di pemerintahan
GOLKAR Neolib 100 %, waktu jaman soeharto kita juga rajin berhutang...
so pihak JK munafik banget pake isue Neolib untuk menjegal SBY.....
Boediyono walaupun Gubenur BI tapi kekayannya lebih kecil dibanding
Prabowo, artinya orangnya jujur, pekerja sejati bukan politikus yang mikirin
bagaimana membuat partainya menang....
besannya SBY aja bisa diadili, coba dulu jaman GOLKAR...gak akan ada
yang berani sentuh keluarga Cendana...lihat kan bedanya..
yang kita butuhkan adalah pemimpin yang jujur , sederhana, tegas, sopan
dan menghormati hukum. mikirin bangsa bukan hanya partainya aja...
yang 100% anti neo-lib adalah komunis, tapi coba kalau ditanya komunis
atau bukan pasti jawabnya plintat-plintut kayak Wiranto.....
prinsip ekonomi itu jangan dikategorikan secara saklak liberal atau
sosialis, sebab pada prakteknya, pemerintah manapun di dunia akan melakukan
kedua-duanya tergantung situasi dan kondisi negara. yang membedakan cuma
persentase titik beratnya, negara2 sosialis pasti presentae ekonomi sosialisnya
lebih besar.
pertannyaannya, negara kita ini negara sosialis bukan? apakah Soekarno
mempraktekan sosialisme? apakah Soeharto dan GOLKAR juga mempraktekean
sosialisme?
--- Pada Sel, 9/6/09, Reporter Milist <[email protected]>
menulis:
Dari: Reporter Milist <[email protected]>
Topik: ~ aga ~ SBY Lanjutkan, Indonesia Bangkrut
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 9 Juni, 2009, 1:23 AM
SBY Lanjutkan, Indonesia Bangkrut
Oleh : Muslimin B. Putra
http://muslimindaen glalo.blogspot. com/2009/ 06/sby-lanjutkan
-indonesia- bangkrut. html,
Slogan SBY pada pemilu presiden 2009 adalah “Lanjutkan”. Dalam
masyarakat intelektual yang relatif paham akan kinerja pemerintahan SBY yang
pro neoliberalisme berkonotasi sebagai inisiatif melanjutkan mengutang pada
lembaga keuangan multilateral. Bila masa pemerintahan Megawati mengobral
penjualan BUMN dalam skema privatisasi, maka pemerintahan SBY melanjutkan dan
kian menambah utang-utang negara.
Pada 2008, posisi utang Indonesia tercatat US 149,47 miliar dollar
atau setara dengan Rp 1.548 triliun dengan asumsi Rp 10.360 per US dollar.
Posisi ini mengalami kenaikan US 8,6 miliar dollar pada tahun 2004 yang hanya
tercatat US 139,86 miliar dollar. Maka sejak 2001 hingga 2008, posisi utang
Indonesia telah mencapai Rp 2.648 triliun. Posisi utang tersebut diperkirakan
mencapai 30 persen dari GDP.
Posisi Utang Pemerintah
Bila menggunakan data Tim Indonesia Bangkit yang disampaikan Rizal
Ramli pada Selasa (01/04/09), total utang pemerintah sebesar Rp 1.667 triliun
atau mengalami peningkatan sebesar 31 persen dalam lima tahun terakhir. Tim
Indonesia Bangkit menghitung posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275
triliun, dan membandingkan posisi utang pemerintah pada bulan Januari 2009
sebesar Rp. 1.667 triliun atau mengalami kenaikan kurang lebih sebesar Rp 392
triliun. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar Indonesia sepanjang
sejarah.
Tim Indonesia Bangkit juga menghitung jumlah utang per kapita
Indonesia yang pasti turut meningkat. Jika pada 2004, utang per kapita
Indonesia sebesar Rp 5,8 juta per kepala, maka pada Februari 2009 melonjak
menjadi Rp 7,7 juta per kepala. Hal ini bertolak belakang dengan iklan
pemerintah SBY yang mengatakan utang semakin turun.
Pada periode Januari-Oktober 2008, SBY “berhasil” melanjutkan dan
meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri sebesar US$ 2,335 miliar.
Peningkatan utang luar negeri akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap tiga
valuta asing utama, yakni dollar AS, euro dan yen Jepang. Penyebab
meningkatnya beban pembayaran utang karena pada saat yang sama terjadi
penguatan nilai tukar yen terhadap dollar AS, sementara rupiah melemah terhadap
dollar AS. Portofolio pinjaman luar negeri sangat dipengaruhi oleh tiga valuta
asing utama (dollar AS, Yen Jepang dan Euro) yang mempengaruhi outstanding
pinjaman luar negeri pemerintah.
Berdasarkan data September 2008, utang dalam bentuk US dollar
mencapai 29 persen dari total pinjaman luar negeri. Utang dalam yen sebesar 44
persen, sedang utang dalam Euro sebesar 16 persen terhadap total pinjaman luar
negeri. Data Departemen Keuangan per 31 Oktober 2008, nilai outstanding
pinjaman luar negeri mencapai US 62,103 milliar dollar. Utang dalam mata uang
Yen menduduki komposisi terbesar sekitar US 27,325 milliar dollar. Akibat
penguatan mata uang Yen jepang terhadap US dollar, pembayaran utang dalam Yen
pemerintah SBY melonjak. Setiap penguatan yen terhadap US dollar sebesar 1
persen, maka akan mempengaruhi peningkatan pinjaman seniali 0,4 persen
ekuivalen US dollar. Outstanding pinjaman membengkak karena setiap utang yen
dibayar dengan US dollar sementara pemerintah tidak memiliki stok Yen dalam
jumlah besar. Adapun dana dalam bentuk valas terbesar yang dimiliki pemerintah
dalam denominasi US dollar..
Data Depkeu per 14 November 2008, tercatat pembayaran utang luar
negeri telah mencapai Rp 22,6 triliun atau 78 persen dari pagu dalam APBN
Perubahan (APBN-P) 2008 yang ditetapkan sekitar Rp 28,97 triliun. Pembayaran
utang dalam negeri berupa utang pokok dan bunga atas obligasi negara mencapai
Rp 51,4 triliun atau 78 persen terhadap pagu pada APBN-P 2008 yakni sekitar Rp
65,897 triliun. Dengan total utang sebesar US 2,335 milyar dollar, bila tingkat
bunga sekitar 5 persen, maka jumlah bunga yang dibayar pemerintah berkisar US
116,7 miliar dollar. Untuk membayar bunga sebesar itu tidak cukup karena
cadangan devisa hanya US 51 miliar dollar.
Kenaikan pembayaran bunga utang pemerintah pada 2009 sebesar Rp 8,1
triliun atau 0,2 persen dari PDB diakui oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani
Indrawati pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Selasa (27/01/09).
Penyebab kenaikan oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan perubahan asumsi dalam
APBN-P dari Rp 9.400/US$ menjadi Rp. 11.000/US$. Sedang untuk postur belanja
pada APBN 2009, pemerintah memperkirakan anggaran belanja akan turun sebesar
1,3 persen dari PDB. Penurunan terjadi karena subsidi yang turun Rp 43,54
triliun atau 0,8 persen dari PDB seiring turunnya harga minyak dunia yang
mempengaruhi penurunan harga BBM dan tariff listrik dalam negeri. Anggaran
transfer ke daerah juga ikut menurun menjadi Rp 16,9 triliun atau 0,3 persen
dari PDB, meski anggaran belanja kementerian dan Lembaga serta anggaran
pendidikan besarannya tidak berubah atau tetap sebesar Rp 207,4 triliun atau
lebih dari 20 persen dalam APBN 2009. Penghematan yang didapat dari penurunan
subsidi dan transfer ke daerah sebesar Rp 63,2 triliun.
Pada bulan Juni 2009, utang pemerintah banyak yang jatuh tempo dari
total utang didalam pembukuan pemerintah yang mencapai Rp 1.500 triliun lebih.
Berdasarkan jangka waktu temponya, utang luar negeri jangka panjang mendominasi
dengan persentase sebesar 90,2 persen, sedangkan utang jangka pendek sebanyak
9,8 persen. Berarti utang-utang yang jatuh tempo pada Juni tahun ini berasal
dari utang-utang jangka panjang sejak rezim Orde Baru yang tak kunjung
dibereskan oleh rezim SBY.
Untuk tahun 2009, pemerintah berencana membayar utang luar negeri
sebesar US 10,1 miliar dollar yang terdiri atas utang pokok sebesar US 7,1
miliar dollar dan bunga utang sebanyak US 3,0 miliar dollar. Pendanaan
pembayaran dibebankan pada APBN 2009. Sementara pada sisi inflow APBN 2009,
biaya yang akan digunakan pembayaran utang luar negeri berasal dari penarikan
pinajamn baru sebesar US 9,1 miliar dollar. Pinjaman itu berasal dari kredit
multilateral dan bilateral dalam bentuk pinjaman program dan proyek sebesar US
5,8 miliar dollar dan US 3,3 miliar dollar diperoleh dari SUN (Surat Utang
Negara) dan sukuk valuta asing. Berarti pemerintah SBY membayar utang dengan
cara mengutang lagi sehingga negeri ini tidak pernah lepas dari jeratan utang.
Sementara itu utang luar negeri swasta sangat dipengaruhi kondisi
krisis keuangan global. Pada tahun 2008, penarikan utang luar negeri swasta
mengalami kenaikan sebesar 33,1 persen dari tahun 2007 yakni dari US 27,8
miliar dollar menjadi US 37,08 miliar pada 2008. Pada 2009, posisi utang luar
negeri swasta sebesar US 60,6 miliar dollar yang akan jatuh tempo tahun ini
sebesar US 17,4 miliar dollar terdiri dari utang pokok dan bunga. Kewajiban
pembayaran utang didominasi oleh pembayaran utang luar negeri non bank atau
korporasi sebsar US 14,3 miliar dollar atau 82,2 persen, sedang sisanya sebesar
US 3,1 miliar dollar (17,8 persen) merupakan kewajiban pembayaran bank.
Meningkatkan aktifitas penarikan utang luar negeri swasta disebabkan
meningkatnya komitmen baru yang diterima pihak swasta Indonesia.
Indonesia Bangkrut
Soal Indonesia menuju kebangkrutan, SBY sendiri pernah melontarkan
pernyataan “government is broke”, saat membuka Sidang Pleno I Himpunan
Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta pada Selasa (10/03/09) lalu. Jika
Government is broke, mengapa terus menambah utang? Selama lima tahun
kepemimpinan Presiden SBY, kembali menaikkan utang menjadi 392 triliun rupiah.
Dengan keinginan kembali SBY melanjutkan kepemimpinannya sebagai
presiden periode kedua berarti SBY ingin melanjutkan kebangkrutan pemerintah
disebabkan utang-utang yang terus menumpuk untuk diteruskan kepada generasi
anak-cucu bangsa. Nampaknya SBY tidak memiliki rasa malu dihadapan rakyat
banyak dan tidak memiliki suri tauladan yang mulia sebagai pemimpin.
Pemerintahan SBY yang pro-neoliberalisme juga tidak berpihak kepada
kepentingan rakyat banyak. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2004-2009 kelihatan bahwa rezim SBY adalah rezim anti-subsidi. Pada
2004, jumlah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari PDB, namun sampai pada 2009
jumlah subsidi kepada kepentingan rakyat banyak terus dikurangi menjadi tinggal
0,3 persen dari PDB.
Ketidakmauan dan ketidakmampuan pemerintahan SBY untuk keluar dari
ketergantungan pada utang yang kian membesar menunjukkan pemerintahan SBY sudah
pada tahap ketagihan pada utang. Sebenarnya SBY bisa melakukan pengurangan
utang dengan cara merombak belanja negara, menggenjot penerimaan negara
(utamanya penerimaan pajak), dan mengurangi stok utang secara signifikan serta
keberanian politik untuk menyatakan stop utang kepada lembaga-lembaga agen
neoliberalisme seperti World Bank, IMF dan ADB.
--
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber
terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang murah dengan prospect yang
besar, Berminat Hubungi [email protected]
=============================
(Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com
=============================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
=============================
revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive"
hubungi Dieler Suzuki terdekat
http://suzuki.co.id/
============================
Space Iklan
=============================
------------------------------------------------------------------------------
Cepat, Bebas Iklan, Kapasitas Tanpa Batas - Dengan Yahoo! Mail Anda bisa
mendapatkan semuanya.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---