berarti tingkat empati nita ma gw udh tinggi yah, hohohohohoho ayo ayo yang lain, tiru kita yaaaah jiakakakakakakak
* I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur expectations & u are not in this world to live up to mine. U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If not, it can't be helped The Gestalt prayer, FP* 2011/9/30 Edy Haryanto <[email protected]> > Sama seperti anita bun, > Kalau habis makan, mau dimanapun, pasti disusun jadi 1, dan di lap mejanya > sama dia. > Jadi nanti pelayan tinggal angkat aja piring kotor atau sampahnya. > Kadang kalo fastfood malah dibuang sendiri sama dia hehehehe > > > Regards, > Edy Haryanto > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > ------------------------------ > *From: * Morningmoon <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Fri, 30 Sep 2011 08:02:01 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: ~ aga ~ Empati > > percaya pa gak, gw ngelap loh meja tempat gw makan gw kalo makanan gw > tumpah ke meja, n semua sampah gw tarok di baki, jadi mereka tinggal buang > dari baki itu ajah, temen gw juga gitu, tapi baru kek gitu ajah seh, > hehehehehe > > laik dis artikel > > * I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur > expectations & u are not in this world to live up to mine. > U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If > not, it can't be helped > > The Gestalt prayer, FP* > > > > > 2011/9/29 aga madjid <[email protected]> > >> *EMPATI* >> >> *By: Andy F Noya* >> >> >> >> Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji >> dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah >> berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang >> memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap >> melayani.. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. >> >> Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada >> yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula >> yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. >> >> Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke >> hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika >> menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak >> terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. >> Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya >> terlalu asyik menyantap makanan. >> >> Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak >> terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa >> makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, >> mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut >> menjadi istimewa. >> >> Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang >> dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja >> bersantap di meja itu ? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang >> berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik >> perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas >> makanan. >> >> Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas >> meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi >> di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan >> remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. >> >> Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. >> Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah >> berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan >> yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang >> pelayan sekalipun. >> >> Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa >> makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak >> melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah >> melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan >> teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah >> keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah >> jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan >> terbatas karena tenaga kerja mahal. >> >> Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. >> Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa >> menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya >> akan besar sekali bagi para pelayan restoran. >> >> Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti >> besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan >> sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.. Karena setiap hari >> warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, >> lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. >> >> Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak >> itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. >> Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, >> umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. >> Keteladanan >> kecil yang berdampak besar. >> >> >> Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap >> orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari >> itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa >> bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu >> seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal >> mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. >> >> Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap >> membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di >> belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan >> merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia >> bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus >> kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya >> berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. >> >> Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang >> setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda >> puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada >> orang-orang di sekitarnya. >> >> Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata >> "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. >> Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat >> orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan >> orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. >> >> Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, >> bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri >> saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir >> kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu >> kan tidak mengejar setoran ?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari >> sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan >> umum yang menyerobot seenak udelnya, >> saya segera teringat nasihat istri tersebut. >> >> Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat >> orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati >> pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan >> membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan >> pekerjaan pelayan restoran. >> >> Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah kita >> membayar, tentunya kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. >> Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang >> dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet. >> >> Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di >> antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka >> pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah >> ada orang lain di belakang kita ? Saya pribadi sering melihat orang yang >> membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang >> di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. >> >> Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak >> memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari >> hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah >> sekarang juga. >> >> >> ------------------------------ >> >> >> >> -- >> *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! >> ...." >> * >> >> *- Aga Madjid -* >> >> -- >> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. >> to post emails, just send to : >> [email protected] >> to join this group, send blank email to : >> [email protected] >> to quit from this group, just send email to : >> [email protected] >> please visit to www.facebook.com/aga.madjid, >> add my Yahoo Messenger at [email protected] or >> add my twitter @aga_madjid >> thanks for joinning this group. >> > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
