Iya bun, Kalau sama org yg dia gak suka, bisa dikutuk2 tapi bun hahahhaha Lucky to have her in my life. Kadang lagi mumet, liat dia atau ngobrol sama dia, bisa bikin gw senyum2 sendiri, apalagi pas denger cerita lagi BT sama org heheheheh
Regards, Edy Haryanto Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Morningmoon <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 30 Sep 2011 09:41:16 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: ~ aga ~ Empati berarti tingkat empati nita ma gw udh tinggi yah, hohohohohoho ayo ayo yang lain, tiru kita yaaaah jiakakakakakakak * I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur expectations & u are not in this world to live up to mine. U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If not, it can't be helped The Gestalt prayer, FP* 2011/9/30 Edy Haryanto <[email protected]> > Sama seperti anita bun, > Kalau habis makan, mau dimanapun, pasti disusun jadi 1, dan di lap mejanya > sama dia. > Jadi nanti pelayan tinggal angkat aja piring kotor atau sampahnya. > Kadang kalo fastfood malah dibuang sendiri sama dia hehehehe > > > Regards, > Edy Haryanto > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > ------------------------------ > *From: * Morningmoon <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Fri, 30 Sep 2011 08:02:01 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: ~ aga ~ Empati > > percaya pa gak, gw ngelap loh meja tempat gw makan gw kalo makanan gw > tumpah ke meja, n semua sampah gw tarok di baki, jadi mereka tinggal buang > dari baki itu ajah, temen gw juga gitu, tapi baru kek gitu ajah seh, > hehehehehe > > laik dis artikel > > * I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur > expectations & u are not in this world to live up to mine. > U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If > not, it can't be helped > > The Gestalt prayer, FP* > > > > > 2011/9/29 aga madjid <[email protected]> > >> *EMPATI* >> >> *By: Andy F Noya* >> >> >> >> Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji >> dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah >> berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang >> memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap >> melayani.. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. >> >> Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada >> yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula >> yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. >> >> Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke >> hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika >> menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak >> terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. >> Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya >> terlalu asyik menyantap makanan. >> >> Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak >> terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa >> makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, >> mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut >> menjadi istimewa. >> >> Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang >> dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja >> bersantap di meja itu ? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang >> berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik >> perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas >> makanan. >> >> Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas >> meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi >> di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan >> remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. >> >> Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. >> Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah >> berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan >> yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang >> pelayan sekalipun. >> >> Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa >> makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak >> melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah >> melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan >> teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah >> keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah >> jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan >> terbatas karena tenaga kerja mahal. >> >> Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. >> Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa >> menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya >> akan besar sekali bagi para pelayan restoran. >> >> Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti >> besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan >> sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.. Karena setiap hari >> warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, >> lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu. >> >> Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak >> itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. >> Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, >> umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. >> Keteladanan >> kecil yang berdampak besar. >> >> >> Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap >> orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari >> itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa >> bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu >> seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal >> mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum. >> >> Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap >> membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di >> belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan >> merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia >> bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus >> kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya >> berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. >> >> Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang >> setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda >> puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada >> orang-orang di sekitarnya. >> >> Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata >> "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. >> Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat >> orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan >> orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita. >> >> Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, >> bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri >> saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir >> kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu >> kan tidak mengejar setoran ?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari >> sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan >> umum yang menyerobot seenak udelnya, >> saya segera teringat nasihat istri tersebut. >> >> Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat >> orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati >> pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan >> membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan >> pekerjaan pelayan restoran. >> >> Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah kita >> membayar, tentunya kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. >> Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang >> dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet. >> >> Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di >> antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka >> pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah >> ada orang lain di belakang kita ? Saya pribadi sering melihat orang yang >> membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang >> di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut. >> >> Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak >> memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari >> hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah >> sekarang juga. >> >> >> ------------------------------ >> >> >> >> -- >> *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! >> ...." >> * >> >> *- Aga Madjid -* >> >> -- >> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. >> to post emails, just send to : >> [email protected] >> to join this group, send blank email to : >> [email protected] >> to quit from this group, just send email to : >> [email protected] >> please visit to www.facebook.com/aga.madjid, >> add my Yahoo Messenger at [email protected] or >> add my twitter @aga_madjid >> thanks for joinning this group. >> > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
