Kita tidak bisa memungkiri bahwa setiap produk/jasa PASTI mengalami
lifecycle produknya. birth --> growth --> decline --> dead Tidak
terkecuali warnet. Jangan kan industri, negara pun ada life cycle nya
kok, sebagai contoh, Eropa adalah salah satu bangsa yang mengalami
decline. Silahkan merujuk pada penelitian Internasionalnya Michael
Porter "Diamond's Porter Models". 

Jika ingin memprediksi apakah bisnis warnet akan mati, saya kita
asosiasi perlu menelaah lebih lanjut, beberapa tools yang sering
dipakai oleh para praktisi/pengamat adalah 5's Porter + CEF (Critical
Environmental Factors) untuk mengukur lifecycle suatu produk atau
industri. JAdi... Jangan terlalu mudah mengklaim "Warnet is Dead" atau
"warnet will survive" Itu bukan pertanyaan dengan jawaban yang mudah. 

Bisnis Wartel boleh dibilang mati (meskipun masih ada beberapa yang
tetap survive hingga sekarang) karena industri mereka (industri lho
yah bukan bisnis secara personal) tidak mampu berevolusi atau
melakukan diversifikasi produk/jasa yang ditawarkan. Industri yang
tidak mampu berevolusi sudah pasti perusahaan yang bergerak dibidang
itu pun tidak mampu survive. 

Bisnis Wartel Mengalami decline karena ketergantungan dengan telkom,
no choice... Selain itu, mereka tidak punya power untuk merubah
kondisi itu. Mereka tidak kompak untuk mendesak pihak telkom untuk
efisiensi biaya operasional. Bagaimana asosiasinya? Anggotanya sangat
banyak, tapi apa yang mereka bisa lakukan dengan kuantitas anggota mereka?

besar kecilnya lifecycle produk tergantung pada karakteristik produk
juga. Bisnis makanan, bisnis perumahan, bisnis pakaian lifecycle
produknya boleh dikata nyaris growth --> landai ---> growth, sangat
kecil kemungkinan mengalami decline apalagi dead. Karena itu berkaitan
 dengan kebutuhan pokok. 

Kondisinya beda dengan jasa internet, bukan menjadi kebutuhan pokok.
Mengapa di luar negeri warnet (Internet Cafe) masih berkembang? Karena
di luar negeri nyaris menjadi kebutuhan pokok. Indonesia? Saya kira
perlu ada data survei atau data statistik yang valid. 

Selain itu, mati hidupnya suatu industri tergantung pada "orang-orang"
yang ada di dalam industri itu sendiri. Seberapa kreatif mereka
mendiversifikasi usahanya. Namun bagaimana mau kreatif, sementara
perhatian warnet lebih terpaku pada "perang harga". Silahkan perang
harga, namun ingat, tidak ada yang diuntungkan dalam jangka panjang.
Konsentrasi pemikiran lebih terpaku pada bagaimana menawarkan harga
semurah-murahnya. Jangan lupa, perang harga punya konsekuensi margin
laba yang rendah. Margin laba yang rendah akan membatasi kreatifitas
kita. % Margin laba yang rendah (>20%), meski secara nilai rupiah
besar, tapi secara feasibility study, tidak layak untuk
diinvestasikan. Kenapa? Karena bisnis yang marginnya dibawah 20%
sensitif terhadap perubahan faktor eksternal. 

Mati hidupnya bisnis warnet tergantung pada bagaimana komunitas warnet
itu sendiri dalam bersikap. 


Hasanuddin
Torajanet




Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke