Assalamu'alaikum...
Menanggapi tulisan pak dokter Salamun, mohon dikoreksi...
Tentang "Menghapus Dosa", dalam
Islam ada ibadah-ibadah yang menjadi SEBAB dihapuskannya dosa. Di dalam
Islam, ibadah seseorang yang dilakukan dengan ikhlas liLLAAH dan Ittibaa-us
Sunnah
(untuk yang bentuknya ritual) akan mendapatkan ganjaran/pahala (jika
Alloh menghendaki). Bentuk ganjaran itu bermacam-macam; ada yang untuk
memberatkan timbangan amal, ada yang untuk meningkatkan derajat, meraih
cinta Alloh yang dengannya diraih cinta makhluk-Nya, dan ada juga yang
untuk menghapuskan dosa (seperti merangkai umrah ke umrah berikutnya,
berwudhu lalu shalat dua rakaat, dsb). Para ulama juga banyak yang
menulis tentang hal ini. Dalam Islam juga dianjurkan bertaubat untuk
memohon pengampunan dosa. Di surat Ali 'Imran ayat 135, Alloh Ta'ala
menyebutkan tentang orang-orang yang telah berbuat keburukan dan
kezhaliman lalu, fastaghfaruu lidzunuubihim, yaitu mereka beristighfar (memohon
ampun) atas dosa-dosa mereka.
Ada juga dalil lainnya, suatu saat ada seseorang yang akan masuk Islam dan
membai'at Nabi alaihish shalaatu was salaam. Ketika
tangannya hendak menjabat tangan Nabi, ia kembali menariknya. Lalu ia
memberi syarat agar dosa-dosanya yang lalu diampuni. Nabi pun
menjelaskan bahwa masuk Islam, hijrah, dan haji adalah amalan-amalan
yang dapat menghapuskan dosa. (HR. Muslim dari 'Amr bin 'Ash) Dan masih
banyak dalil-dalil lainnya.
Tentang "Pengakuan Dosa", wallaahu a'lam,
hal ini pun terdapat dalam Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh al-Bukhari dan Muslim tentang doa dan dzikir disebutkan tentang
pertanyaan Abu Bakar kepada Nabi 'alaihish shalaatu was salaam, "Wahai
Rasulullullaah, ajarkanlah kepadaku sebuah do'a yang akan aku akan
berdoa dengannya dalam shalatku." Beliau pun menjawab, Allaahuma innii zhalamtu
nafsi zhulman katsiira (Ya Alloh, sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan
kezhaliman yang besar/banyak) walaa yaghfirudz dzubuuba illa Anta... (dan tiada
yang dapat mengampuni dosa selain-Mu).. dst. Dalam doa tersebut terdapat
pengakuan dosa seorang hamba kepada Rabb-nya atas dosa-dosanya. Pengakuan dosa
ini juga didapati dalam doa Sayyidul Istighfaar
yang sudah kita hafal. Atau pada kisah seorang Shahabat yang bersetubuh
dengan isterinya di bulan Ramadhan lantas ia mengakui dosanya di
hadapan Nabi alaihish shalaatu was salaam, yang kemudian beliau memberikan
syari'at/amalan untuk menebus dosanya. Kiranya masih banyak dalil-dalil yang
lain.
Lebih kurangnya mohon dimaafkan.
Wassalamu'alaikum...
Abu Fadhli di Bogor