Dear Moms,
Udh sering bgt beredar email dgn topik ini & biasanya yg paling sering muncul
berita soal kaitan antara imunisasi MMR & autisme. Kalo boleh saya share bhw
smp skrg blm ada satu pun penelitian yg menemukan hubungan
thimerosal(kandungannya ethil merkuri) dgn autisme.
Satu2nya "penelitian" dilakukan oleh teamnya Andrew Wakefield di Inggris tahun
1998, tapi banyak kelemahannya:
1. hanya meneliti 12 anak, sedangkan saat itu di Inggris, 90% anak di vaksin
MMR, jadi sudah dpt diduga sebelumnya diantara yg di MMR ada bbrp anak yg
mengidap autis...tapi itu hanya kebetulan, bukan sebab-akibat.
2. tdk ada group control, maksudnya tidak ada penelitian autis antara anak yg
diberi vaksin MMR dengan yg tidak diberi vaksin.
Setelah penelitian Wakefield yg sangat kontroversial itu, banyak sekali
penelitian ttg MMR/thimerosal dengan autis dan semuanya punya kesimpulan yg
sama, yaitu jumlah anak autis diantara anak yg di vaksin atau tidak di vaksin,
mempunyai persentase yg sama...artinya dengan tidak memberikan vaksin MMR atau
apapun juga, tidak menurunkan kemungkinan anak kita terkena autis, tapi dilain
pihak justru meningkatkan kemungkinan anak kita terkena penyakit2 yg sebenarnya
bisa dicegah oleh vaksin.
Soal thimerosal/ethil merkuri, beda dgn merkuri yg mencemari lingkungan yaitu
metil merkuri..dimana ethil merkuri adlh sejenis organik merkuri yg tdk
berbahaya & lbh cepat dibuang tubuh. Dan sebenarnya batas ethil merkuri dalam
vaksin di 6 bulan pertama masih jauh dibawah ambang batas yg ditentukan WHO utk
jangka waktu perminggunya. Jadi drpd takut sama ethil merkuri mendingan
mengkhawatirkan merkuri yg ada di dlm ikan dari Teluk Jakarta..masih ingat
artikelnya di Kompas?
Kalo memang thimerosal/ethil merkuri menyebabkan autis, berarti anak saya dan
jutaan anak lainnnya di dunia sdh autis dong...dan seharusnya sudah sejak lama
vaksin2 tsb ditarik dr peredaraan sama WHO, CDC, dan badan kesehatan lainnya.
FYI aja, anak saya Keishia-19 mos, udh imunisasi HIB 4x, Hepatitis B 3x & MMR
1x dan saya gak pernah minta scr khusus ke DSAnya utk pake yg tdk mengandung
thimerosal karena baca dari artikel dibawah, saya paste petikannya :
"Pada pertengahan 2000 vaksin hepatitis B dan meningitis bakterial yang bebas
timerosal tersedia luas. kombinasi vaksin difteri,pertusis, dan tetanus
sekarang juga tersedia tanpa timerosal. Vaksin MMR, cacar air, polio inaktif,
dan konjugasi pneumokok tidak pernah mengandung timerosal".
So no need to worry..imunisasi is an act of love..jadi, mau pilih yang mana?
keputusan ada ditangan masing2 orang tua...but please be smart and be wise,
saat ini memang sangat mudah memperoleh informasi....tapi juga sangat mudah
tersesat krn informasi2 yg salah.
Di bawah ada artikel dari www.sehatgroup.web.id mengenai fakta & mitos mengenai
imunisasi..Happy Reading..sorry kalo kepanjangan :)
cheers,
Dera-Mama Keishia
============
Fakta dan Mitos Mengenai Imunisasi
Sejak pemberian vaksinasi secara luas di Amerika Serikat, jumlah kasus penyakit
pada anak seperti campak dan pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari) turun
hingga 95% lebih. Imunisasi telah melindungi anak-anak dari penyakit mematikan
dan telah menyelamatkan ribuan nyawa. Saat ini beberapa penyakit sangat jarang
timbul sehingga para orang tua kadang mempertanyakan apakah vaksinasi masih
diperlukan.
Anggapan yang keliru ini hanya salah satu dari kesalahpahaman mengenai
imunisasi. Kebenarannya adalah bahwa sebagian besar vaksin mampu mencegah
penyakit yang masih ada di dunia, walaupun angka kejadian penyakit tersebut
jarang. Vaksinasi masih sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan anak.
Bacalah lebih lanjut tentang imunisasi secara lebih jelas dalam uraian berikut!
Apa yang terjadi pada tubuh dengan imunisasi
Vaksin bekerja dengan mempersiapkan tubuh anak anda untuk memerangi penyakit.
Setiap suntikan imunisasi yang diberikan mengandung kuman mati atau yang
dilemahkan, atau bagian darinya, yang menyebabkan penyakit tertentu. Tubuh anak
anda akan dilatih untuk memerangi penyakit dengan membuat antibodi yang
mengenali bagian-bagian kuman secara spesifik. Kemudian akan timbul respon
tubuh yang menetap atau dalam jangka panjang. Jadi, ketika anak terpapar pada
penyakit yang sebenarnya, antibodi telah siap pada tempatnya dan tubuh tahu
cara memeranginya sehingga anak tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sebagai
imunitas (ketahanan tubuh terhadap penyakit tertentu).
Fakta dan mitos
Yang patut disayangkan, beberapa orang tua yang salah mendapatkan informasi
mengenai vaksin memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak mereka,
akibatnya risiko anak tersebut untuk jatuh sakit lebih besar.
Untuk lebih memahami keuntungan dan risiko dari vaksinasi, berikut ini beberapa
mitos umum yang ada di masyarakat dan faktanya.
Imunisasi akan menimbulkan penyakit yang seharusnya ingin dicegah dengan
vaksinasi pada anak saya
Anggapan ini timbul pada beberapa orang tua yang memiliki kekhawatiran besar
terhadap vaksin. Adalah suatu hal yang mustahil untuk menderita penyakit dari
vaksin yang terbuat dari bakteri atau virus yang telah mati atau bagian dari
tubuh bakteri atau virus tersebut. Hanya imunisasi yang mengandung virus hidup
yang dilemahkan, seperti vaksin cacar air (varicella) atau vaksin campak,
gondong, dan rubela (MMR), yang mungkin dapat memberikan bentuk ringan dari
penyakit tersebut pada anak. Namun hal tersebut hampir selalu tidak lebih parah
dari sakit yang dialami jika seseorang terinfeksi oleh virus hidup yang
sebenarnya. Risiko timbulnya penyakit dari vaksinasi amatlah kecil.
Vaksin dari virus hidup yang tidak lagi digunakan di Amerika Serikat adalah
vaksin polio oral (diberikan melalui tetes ke dalam mulut anak). Keberhasilan
program vaksinasi memungkinkan untuk mengganti vaksin virus dari virus hidup ke
virus yang telah dimatikan yang dikenal sebagai vaksin polio yang diinaktifkan.
Perubahan ini secara menyeluruh telah menghapuskan penyakit polio yang
ditimbulkan oleh imunisasi di Amerika Serikat.
Jika semua anak lain yang berada di sekolah diimunisasi, tidak ada bahaya jika
saya tidak mengimunisasi anak saya
Adalah benar bahwa kemungkinan seorang anak untuk menderita penyakit akan
rendah jika yang lainnya diimunisasi. Jika satu orang berpikir demikian,
kemungkinan orang lain pun akan berpikir hal yang sama. Dan tiap anak yang
tidak diimunisasi memberikan satu kesempatan lagi bagi penyakit menular
tersebut untuk menyebar. Hal ini pernah terjadi antara tahun 1989 dan 1991
ketika terjadi wabah campak di Amerika Serikat. Perubahan laju imunisasi pada
anak pra sekolah mengakibatkan lonjakan tinggi pada jumlah kasus campak, angka
kematian, serta jumlah anak dengan kerusakan menetap akibatnya. Hal serupa
pernah terjadi di Jepang dan Inggris pada tahun 1970 yaitu wabah pertusis
(batuk rejan/batuk seratus hari) yang terjadi saat laju imunisasi menurun.
Walaupun angka laju vaksinasi cukup tinggi di Amerika Serikat, tidak dapat
dijamin bahwa anak anda hanya akan kontak dengan orang-orang yang telah
divaksinasi, apalagi sekarang banyak orang bepergian dari dan ke luar negeri.
Sepeti wabah ensefalitis pada tahun 1999 dari virus West Nile di New York,
suatu penyakit dapat menyebar ke belahan bumi lain dengan cepatnya akibat
perjalanan internasional. Cara terbaik untuk melindungi anak anda adalah dengan
imunisasi.
Imunisasi akan memberikan reaksi buruk pada anak saya
Reaksi umum yang paling sering terjadi akibat vaksinasi adalah keadaan yang
tidak berbahaya, seperti kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan,
demam, dan ruam pada kulit. Walaupun pada kasus yang jarang imunisasi dapat
mencetuskan kejang dan reaksi alergi yang berat, risiko untuk terjadinya hal
tersebut sangat kecil dibandingkan risiko menderita penyakit jika seorang anak
tidak diimunisasi. Setiap tahunnya jutaan anak telah divaksinasi secara aman,
dan hampir semua dari mereka tidak mengalami efek samping yang bermakna.
Sementara itu, penelitian secara terus menerus dilakukan untuk meningkatkan
keamanan imunisasi. The American Academy of Pediatrics (AAP) sekarang
menganjurkan dokter untuk menggunakan vaksin difteri, tetanus, dan pertusis
yang mengandung hanya satu bagian spesifik sel kuman pertusis dibandingkan
dengan yang mengandung seluruh bagian sel kuman yang telah mati. Vaksin
pertusis yang aselular (DtaP) dikaitkan dengan lebih kecilnya efek samping
seperti demam dan kejang.
Baru-baru ini telah disetujui untuk mengganti zat pengawet timerosal dari semua
vaksinasi, seperti yang direkomendasikan oleh The Advisory Commitee on
Immunization Practice (ACIP), American Academy of Pediatrics, dan United States
Public Health Service (USPHS).
Timerosal adalah produk dari etil merkuri dan telah digunakan sebagai pengawet
vaksin sejak 1930. Jumlah timerosal yang terkandung dalam vaksin sangat rendah,
pada kadar yang tidak berhubungan dengan keracunan merkuri. Namun USPHS
sekarang merekomendasikan untuk meminimalkan semua paparan terhadap merkuri,
tidak peduli berapapun sedikit kadarnya, hal ini termasuk pula penggunaan
termometer kaca yang mengandung merkuri.
Pada tahun 1999, The Centre for Disease Cintrol (CDC) Amerika Serikat menunda
penggunaan vaksin baru rotavirus setelah beberapa orang anak menderita sumbatan
di usus yang mungkin dicetuskan oleh vaksin tersebut. Walaupun hanya beberapa
kasus yang dilaporkan, CDC menghentikan pemberian vaksinasi karena adanya
kekhawatiran mengenai keamanannya. Setelah dilakukan penelitian, vaksin
rotavirus tidak diberikan lagi.
Ada rumor yang dikuatkan, banyak diantaranya yang diedarkan melalui internet,
menghubungkan beberapa vaksin dengan multipel sklerosis, sindrom kematian
mendadak pada bayi (SIDS), autisme, dan masalah kesehatan lainnya. Namun
beberapa penelitian gagal dalam menunjukkan hubungan antara imunisasi dengan
keadaan tersebut. Angka kejadian sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS)
telah menurun lebih dari 50% beberapa tahun ini, padahal jumlah vaksin yang
diberikan tiap tahun semakin meningkat.
Anak saya tidak perlu diiimunisasi karena penyakit tersebut telah dimusnahkan
Penyakit yang jarang atau tidak terjadi lagi di Amerika Serikat, seperti polio
dan campak, tetap berkembang di belahan bumi lain. Dokter melanjutkan pemberian
vaksin untuk penyakit tersebut karena penyakit tersebut sangat mudah ditularkan
melalui kontak dengan penderita melalui perjalanan. Hal tersebut termasuk
orang-orang yang mungkin belum diimunisasi masuk ke Amerika Serikat, seperti
halnya orang Amerika yang bepergian ke luar negeri.
Jika laju imunisasi menurun, penyakit yang dibawa oleh seseorang yang datang
dari negara lain dapat menimbulkan keadaan sakit yang berat pada populasi yang
tidak terlindungi dengan imunisasi. Pada tahun 1994 polio telah terbawa dari
India ke Kanada, namun tidak menyebar karena banyak masyarakat yang telah
diimunisasi. Hanya penyakit yang telah diberantas tuntas dari muka bumi,
seperti cacar (smallpox), yang aman untuk dihentikan pemberian vaksinasinya.
Anak saya tidak perlu diimunisasi jika ia sehat, aktif, dan makan dengan baik
Vaksinasi dimaksudkan untuk menjaga anak tetap sehat. Karena vaksin bekerja
dengan memberi perlindungan tubuh sebelum penyakit menyerang. Jika anda menunda
samapi anak anda sakit akan terlambat bagi vaksin untuk bekerja. Waktu yang
tepat untuk memberikan imunisasi pada anak anda adalah saat ia dalam keadaan
sehat.
Imunitas hanya bertahan sebentar
Beberapa vaksin, seperti campak dan pemberian beberapa serial vaksin hepatitis
B, dapat menimbulkan kekebalan seumur hidup anda. Vaksin lainnya, seperti
tetanus, bertahan sampai beberapa tahun, membutuhkan suntikan ulang dalam
periode waktu tertentu (booster) agar dapat terus memberi perlindungan untuk
melawan penyakit. Dan beberapa vaksin, seperti pertusis, akan semakin berkurang
namun tidak memerlukan suntikan ulang (booster) karena tidak berbahaya pada
remaja dan dewasa. Penting untuk menyimpan catatan pemberian suntikan imunisasi
anak anda sehingga anda tahu kapan ia membutuhkan suntikan ulang (booster).
Fakta bahwa penelitian tentang vaksin masih terus berlanjut dan diperbaiki
menunjukkan bahwa pemberiannya belum aman
Pusat pengawas obat dan makanan merupakan badan milik pemerintah yang
bertanggung jawab untuk mengatur tentang vaksin di Amerika Serikat. Bekerja
sama dengan CDC dan The National Institutes of Health (NIH) mereka meneruskan
penelitian dan memonitor keamanan dan keefektifan pemberian vaksin.
Surat ijin bagi vaksin baru dikeluarkan setelah dilakukan penelitian
laboratorium dan percobaan klinis, dan pengawasan keamanan tetap berlanjut
walaupun vaksin telah disetujui. Telah dilakukan dan akan terus dilakukan
perbaikan (misalnya seperti yang berlaku pada DtaP dan vaksin polio) yang akan
meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi dan untuk menjamin standar
keamanan yang terbaik.
Informasi tambahan
Jelaslah bahwa vaksin adalah satu dari alat terbaik yang kita miliki agar anak
sehat, namun keberhasilan dan program imunisasi bergantung pada ketersediaan.
Anda bisa mendapatkan vaksin dengan harga murah atau gratis melalui klinik
kesehatan masyarakat dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), dan pada
kampanye vaksinasi anak (misal pekan imunisasi anak).
Anda dapat mengunjungi situs-situs kesehatan lain untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai vaksinasi. Sumber informasi lainnya adalah dokter anak anda. Bersama,
anda dapat menjaga anak anda sehat dan ceria.
Salah Paham Mengenai Imunisasi
Timerosal mengakibatkan Autisme
Beberapa ilmuwan telah melemparkan wacana bahwa kandungan merkuri dalam vaksin
merupakan penyebab autisme dan anak yang menderita autisme dianjurkan untuk
menjalani terapi kelasi (chelation therapy, pemberian zat khusus sebagai upaya
"mengikat" merkuri agar tidak dapat bereaksi dengan komponen sel tubuh) untuk
detoksifikasi. Beberapa kasus telah dijadikan perkara hukum yang disidangkan
dan beberapa pengacara menyebarkan informasi di internet untuk mendapatkan
klien. Situasi ini semakin berkembang karena sampai sekarang beberapa vaksin
masih mengandung timerosal, zat pengawet yang mengandung merkuri yang tidak
digunakan lagi. Ada beberapa alasan mengapa kecemasan mengenai timerosal dalam
vaksin sebenarnya merupakan informasi yang menyesatkan:
Jumlah merkuri yang terkandung sangat kecil
Tidak ada hubungan merkuri dan autisme yang terbukti
Tidak ada alasan yang masuk akal untuk mempercayai bahwa
autisme terjadi karena sebab
keracunan
Timerosal telah digunakan sebagai pengawet pada makhluk hidup dan vaksin sejak
tahun 1930 karena dapat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur, terutama pada
tabung yang digunakan untuk beberapa kali pemakaian. Pada tahun 1999, FDA (Food
and Drug Administration) memeriksa catatan bahwa dengan bertambahnya jumlah
vaksin yang dianjurkan pada bayi, jumlah total merkuri pada vaksin yang
mengandung timerosal dapat melebihi batas yang dianjurkan oleh badan pengawas
lain (1). Jumlah merkuri yang ditentukan oleh FDA memiliki batas aman yang
lebar, dan belum ada informasi mengenai bayi yang sakit akibatnya. Meski
demikian untuk berhati-hati, US Public Health Service dan the American Academy
of Pediatrics meminta dokter untuk meminimalkan paparan terhadap vaksin yang
mengandung timerosal dan kepada perusahaan pembuat vaksin untuk menghilangkan
timerosal dari vaksin sesegera mungkin (2). Pada pertengahan 2000 vaksin
hepatitis B dan meningitis bakterial yang bebas timerosal tersedia
luas.kombinasi vaksin difteri,pertusis, dan tetanus sekarang juga tersedia
tanpa timerosal. Vaksin MMR, cacar air, polio inaktif, dan konjugasi pneumokok
tidak pernah mengandung timerosal.
Sebelum adanya pembatasan, paparan maksimal kumulatif merkuri pada anak dalam 6
bulan pertama kehidupan dapat mencapai 187,5 mikrogram (rata-rata 1
mikrogram/hari). Pada formula vaksin yang baru paparan maksimal kumulatif
selama 6 bulan pertama kehidupan adalah tidak lebih dari 3 mikrogram (3). Tidak
ada penelitian yang menunjukkan bahwa batasan maksimal keduanya memiliki efek
toksik (keracunan).
Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit (CDC) telah membandingkan angka
kejadian autisme dengan jumlah timerosal yang ada dalam vaksin. Hasil
menunjukkan bahwa tidak ada perubahan relatif angka kejadian antara autisme
dengan jumlah timerosal yang diterima anak dalam 6 bulan pertama kehidupan
(dari 0-160 mikrogram). Hubungan yang lemah ditemukan antara asupan timerosal
dan beberapa kelainan pertumbuhan saraf (seperti gangguan pemusatan perhatian)
pada satu penelitian saja, namun tidak terbukti pada penelitian selanjutnya
(4). Penelitian lain yang direncanakan sepertinya juga tidak akan menunjukkan
hubungan bermakna.
Komite Intitute of Medicine (IOM) yang telah menyebarkan luaskan laporannya
pada bulan Oktober 2001 menemukan tidak ada bukti hubungan antara vaksin yang
mengandung timerosal dan autisme, ggangguan pemusatan perhatian, keterlambatan
bicara dan bahasa, atau kelainan perkembangan saraf lainnya (5)
Penggunaan terapi kelasi untuk penanganan anak yang menderita autisme sama
sekali tidak berhubungan.
[Non-text portions of this message have been removed]
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/