--- In [email protected], "Andrie Anne" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >ikutan sharing......... aku juga punya pengalaman dua kali salah pilih baby sitter. Yang pertama saat anak pertamaku ( Rama ) umur 7 bln, saat itu aku ambil dari yayasan, waktu itu Rama susah sekali makan dan setiap kali makan selalu diajak jalan2 keluar rumah sama susternya, gak lama kemudian dia udah pulang dan makannya habis, waktu aku tanya kok tumben cepet makannya ? kata susternya memang kalau sambil jalan begitu bisa cepet makannya. Suatu saat baby sitterku pulang kampung karena anaknya sakit, betapa kagetnya ternyata banyak tetangga yang bilang kalau dia sering buang makanan Rama sehingga kelihatan sudah habis, dan kebetulan dia nggak balik lagi karena alasan anaknya. Pengalamanku yang kedua waktu anak keduaku ( Rasya ) umur 5 bln, saat itu aku pakai baby sitter namanya Yuli juga ( jangan2 orang yg sama ). Suatu kali aku lihat Rasya muntah, aku tanya kenapa ? susterku bilang memang suka begitu kalau habis makan, aku jadi berfikir kenapa ya kok habis makan muntah. Pas hari libur aku denger Rasya nangis kejer saat lagi makan ( susternya selalu ajak makan sambil main di luar ) kaget setengah mati aku ngeliat Rasya lagi disumpel / dijejelin mulutnya sama nasi padahal mulutnya masih penuh, tanpa ampun aku ambil Rasya dari gendongan susternya dan aku banting tempat makan and sendoknya, aku marah besar dan saat itu juga aku suruh dia beres2 baju dan aku suruh pulang.
Sekarang aku memilih ambil pembantu dari kampung halamanku yang aku tahu latar belakang keluarganya dan bisa aku percaya, aku suruh dia mengawasi susternya anak2. Memang kita harus bener2 hati2 mom's kalau mau ambil pembantu or baby sitter. Salam - Bunda Rama & Rasya. > Dear Moms n Dads, > > Ada email dr milis sebelah.Tolong disebarin ya.Makasi. > > Anne > > From: Elizabeth [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, April 03, 2006 8:39 AM > Subject: Hati-hati !!!! > Importance: High > > Lewat email ini saya ingin berbagi perngalaman, terutama buat para orangtua > yang bekerja dan terpaksa menitipkan > anaknya berada dalam pengasuhan babysitter atau pembantu. > > Saya ibu dari 2 anak, bernama Bryan (2th 7bl) & > Brandon (4bl). Karena saya dan suami bekerja, kedua anak saya tinggalkan > dirumah, dan diasuh oleh > masing2 babysitter dan 1 orang pembantu. > > Babysitter Bryan bernama Yuli Haryanti, 20th, asal > dari Gondang Legi - Boyolali - Jateng, saya ambil dari sebuah Yayasan di > daerah Cinere - Depok. Telah bekerja dirumah saya sejak bulan Juli 2005 > (sebelumnya > bekerja di Grogol dan Bogor). Pada awalnya, terlihat > bahwa dia seorang yang cukup sopan, bersih, pandai, dan bisa mengajari > anak saya berbahasa Inggris maupun Mandarin. Anak saya pun terlihat sayang > dan cukup lengket dengan Yuli. Hal ini membuat saya cukup tenang > meninggalkan Bryan dibawah pengawasannya. > > Setelah 4 bulan bekerja, dia mengambil cuti lebaran,dan tetap kembali lagi > bekerja di tempat saya. Pada waktu dia pulang kampung pun, Bryan beberapa > kali mencari2 dan menanyakan Yuli, membuat saya tidak mengambil > babysitter baru sekalipun Yuli kembali dari kampung > cukup terlambat dari kesepakatan kami semula. > > Setelah kembali bekerja, giliran saya cuti selama 3bulan karena melahirkan > Brandon. Dalam masa cuti saya itulah, mulai terlihat beberapa keanehan > dalam diri Yuli. Ternyata, biarpun ada saya, dia terlihat kurang sabar > dalam mengasuh anak, beberapa kali terlihat diam > saja jika ditanya oleh Bryan. Bahkan saya perhatikan dia seolah2 lebih > menyukai Brandon (mungkin > karena masih bayi dan belum bisa merepotkan). > Beberapa kesalahan kecil dari Yuli masih saya diamkan saja, hanya beberapa > kali saya tegur jika > menyangkut anak. Mulai terlihat juga kemalasan dia > dalam bekerja, seperti malas mencuci baju Bryan, malas mengajari (dengan > alasan Bryan tidak mau > belajar kalau saya ada dirumah). Hal2 seperti inilah > yang sering membuat saya menegur dia, karena saya lihat beberapa kali baju > Bryan tidak dicuci, > malah dipakai lagi keeseokan harinya dengan alasan > masih bersih. > > Setelah saya kembali bekerja, saya makin menemukan > berbagai keanehan setiap kali saya pulang kerumah. Saya lihat Bryan > semakin nakal, semakin rewel dan justru semakin lengket ke saya dan > papanya, dan kadang sama sekali tidak mau dengan Yuli.Kalau malam, Bryan > sering mengigau menangis2. > Karena keanehan2 itulah pada hari Minggu, 26 Maret > 2006 yang lalu pembantu dan suster Brandon saya panggil, saya tanyakan > mengenai dia. Saat itulah > mereka baru berani bercerita bahwa setiap saya & > suami saya tidak dirumah, Bryan selalu dibentak2 dan dimarahi. Hanya > keterangan itu yang berhasil > saya dapatkan, dan ketika Yuli saya panggil, dia > mengakui perbuatannya (malah menambah bahwa dia pernah memukul pelan > Bryan). Dia bilang bahwa dia memang sedang ada banyak masalah sehingga > kurang > sabar, serta meminta maaf kepada saya dan suami, dan berjanji akan > memperbaiki sikapnya. Setelah berunding dengan suami, kami mencoba memaafkan > dan memberi > kesempatan kepadanya. > > Hari Selasa, 28 Maret 2006, secara iseng saya > mencoba bertanya lagi kepada pembantu saya, apakah ada lagi perbuatan Yuli > yang belum diceritakan kepada saya. Dengan takut2, pembantu saya akhirnya > bercerita bahwa Bryan tidak hanya dibentak dan dipukulin, tapi juga pernah > DIIKAT kaki dan tangannya karena tidak mau belajar. Pernah juga DITAMPAR > pipinya. Mendangar cerita itu, kemarahan saya meledak. Saya panggil > ketiga2nya (Yuli, babysitter Brandon dan pembantu saya). Saya minta mereka > berdua untuk melaporkan apa2 saja yang mereka ingat, dan ternyata Yuli > mengakui SEMUANYA. Malam itu juga saya minta Yuli membereskan barang2nya, > kemudian keesokan harinya (Rabu, 29Maret 2006 dia DIANTARKAN suami saya ke > Grogol, karena dia akan ke rumah saudaranya ke daerah situ). > Seujung rambutpun saya tidak menyentuh dia, juga tidak membiarkan dia > pulang begitu saja, karena saya masih punya rasa manusiawi!!! Gaji pun saya > bayarkan sampai > hari terakhir dia bekerja, bahkan saya tambahkan ongkos. > > Sorenya, ketika saya & suami pulang kerumah, pembantu & babysitter Brandon > baru berani terang2an bercerita (selama ini mereka takut, karena selalu > diancam oleh Yuli), kalau ternyata perbuatan Yuli tidak hanya sampai > disitu. Daftar perbuatannya begitu panjang, saya > coba menuliskan beberapa > : > > 1. Memukul Bryan (alasannya, Bryan, anak berusia > 2.5th lebih dulu memukul dia) > 2. Mengikat kaki & tangan Bryan karena tidak mau > belajar > 3. Membungkam mulut Bryan dengan wash lap kalau > Bryan menangis > 4. Jarang memberi Bryan sarapan, jika Bryan kelaparan dan minta makan, > justru Ditampar! > 5. Membentak2 Bryan, bahkan mengata2i bego, goblok > dsb terutama kalau Bryan salah memakai sandal > 6. Memaksa Bryan memakai Pampers kalau siang > (padahal saat ini, malam pun Bryan sudah tidak memakai Pampers) > 7. Memaksa Bryan memakai celana sendiri, bahkan > kadang dibiarkan saja dia sampai menangis2 karena tidak bisa > 8. Melarang Bryan tidur siang, biarpun Bryan sudah > sangat mengantuk supaya malam tidurnya cepat (dia malas repot kalau Bryan > tidur terlalu malam) > > Dan masih BANYAK lagi hal2 yang justru membuat saya > hanya bisa menangis dan menyesali kebodohan saya, karena membiarkan anak > saya selama ini > berada di bawah pengawasan orang seperti dia. > Seandainya saya tahu sejak kemarin, pasti saya akan laporkan ke polisi. > > Saya coba cek ke tetangga2 depan, kanan dan kiri, > juga ke sekolah Gymboree, dan miss yang selalu mangantar jemput Bryan ke > sekolah. Ternyata > mereka selama ini sudah tahu semuanya, hanya saja > tidak berani menceritakan kepada kami. > > Karena tidak terima, suami saya menelepon ke HP > Yuli, menanyakan semuanya, dan ternyata Yuli MENGAKUI semua perbuatan dia. > Kami > ancam dia untuk melaporkan ke polisi, dan dia sangat ketakutan,memohon2 > ampun kepada kami. Bahkan ibunya dari kampung juga sampai menelepon kami, > minta2 maaf. > > Bagi kami, permohonan maaf sebenarnya tidak cukup > untuk mengobati trauma Bryan yang sudah dialami beberapa bulan, akan tetapi > kami (dengan susah > payah) berusaha untuk mengampuni dia. Kami hanya > punya syarat, tidak mengijinkan dia menjadi suster lagi, di YAYASAN > MANAPUN (Yayasan tempat dia sudah kami lapori, dan dia dikeluarkan dari > situ). Cukup Bryan menjadi korban terakhir (sebelumnya, dia mengaku juga > sering membentak2 anak asuhnya, tapi belum sampe memukul karena majikannya > ada dirumah). > > Dia sudah membuiat surat pernyataan diatas meterai,juga segala > pengakuannya sudah kami rekam sebagai bukti2 jika suatu hari nanti dia > ingin kembali lagi bekerja sebagai babysitter.Saat ini, keinginan kami hanya > supaya Bryan terbebas dari traumanya. Perlu diketahui, sejak Yuli keluar, > semua tetangga berkomentar bahwa Bryan > berubah 180 derajat. Saat ini dia kembali periang,aktif dan tidak rewel. > Dan sekalipun Bryan TIDAK PERNAH menanyakan "Suster Yuli"-nya. Sejak saat > itu Bryan saya titipkan ke tetangga2 yang tidak bekerja, juga ke kepala > sekolah Gymboree. Surat pernyataan Yuli dan KTP-nya saya fotokopi, saya > serahkan ke security Kota Wisata tempat kami tinggal, supaya tidak terjadi > hal2 jelek di kemudian hari. > > Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran > buat kami, juga bagi semua yang membaca, agar hati2 dan lebih selektif > dalam memilih babysitter. Hati2 karena kelakuan mereka di depan dan > dibelakang kita > kadang berbeda, atau malah sangat bertolak belakang!!! > > Saya sertakan juga foto dari Yuli, agar semua pembaca berhati2 terhadap > orang ini. > > Terima Kasih. Tuhan memberkati kita semua! > > Salam, > Elizabeth Arsiani > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
