saya ikutan urun rembug ya
  tapi kalau tidak berkenan diabaikan saja.
   
  Saya setuju dengan pendapat mbak Fita.
  Mbak Jovanka sudah memberikan yang terbaik buat adiknya.
  dan jika dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri..
  saya rasa mbak harus merelakan dia...
  Mungkin ini jalan yang terbaik buat dia untuk merasakan
  hidup mandiri (setelah selama ini selalu dalam 'perlindungan' mbak Jovanka)
   
  Dan, mbak Jovanka
  jangan juga 'mengemis' (mengambil istilah mbak Fika)
  kok kayaknya gak 'apik' gitu....
  memaksakan keinginan untuk minta dia kembali...
  Sudah mbak Jovankan...relakan saja.
  ini sudah kemauan dia, dan kita juga harus menghargai.
   
  Kalau soal mbak nya yang ngancam pulang mulu...
  saya rasa ini mungkin dampak dari mbak Jovanka meminta adiknya
  kembali terus..dan dia mendengar..sehingga dia berpikir bahwa
  mbak Jovanka orangnya 'lemah' ..pasti kalau diancam seperti itu
  gak akan berani juga untuk menjawab ancaman dia..
  Kalau dia ngancam lagi...mbak harus bisa bersikap tegas dan keras
  *ada saat dimana kita juga harus bisa tegas dan keras kan?*
   
  be tough mbak......
  kalau soal kesepian..kan ada sikecil
  diajak main terus aja mbak...
  saya kalau main sama anak saya..bisa sampe lupa waktu..
  anakku (10 bulan)..udah bisa diajak main macam2..
  sampe pernah saking capeknya kita main...kita bisa ketiduran
  sambil berpelukan...lucu dehh...
   
  Mbak pasti punya banyak teman yang lain
  yang saya rasa bisa jadi teman curhat juga..
  atau bisa curhat di ayahbunda online ini juga kan...
  hehehehehe...
   
  salam 
  Riries
  

Fita Moeslichan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          You've gotta move on...., Life goes on
Lebih baik mikirin untuk masa depan daripada harus melihat ke 
belakang terus.
Kalo dia udah ga mau balik ya sudah, jangan dipikirin lagi apa yang 
udah kita kasih buat dia dan sebaliknya. Apalagi dia lebih 
mementingkan ego dan gaji yang lebih besar. Jangan ngemis2lah..... 
pertahankan harga diri. Perempuan harus kuat, kalo kita ga kuat 
kasian dong perjuangan ibu kartini..... hehe
Lebih banyaklah bersyukur dengan apa yang kita punya, misalnya suami 
yang baik, anak yang lucu, materi yang cukup dan berharap jangan 
sampai anak2 kita nanti bersifat seperti dia.
Dengan melihat lebih banyak orang lain yang hidupnya lebih susah 
walaupun dengan sebab yang lain2, pasti akan membuat kita lebih 
bersyukur dengan apa yang kita punya.
Semua itu ada hikmahnya.
Maaf kalo terlalu menggurui, cuman kayaknya salah aja kalo terlalu 
larut dalam kekecewaan. BE TOUGH, mom.........

--- In [email protected], Jovanka Cynthia 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear All,
> 
> Saya mau share nich. 4 tahun lalu mama saya memperkerjakan maid di 
rumah berasal dari kupang. Waktu itu dia baru berumur 17 thn, masih 
muda, polos dan benar2 kampung banget deh. Selama itu dia dekat 
dengan saya, saya ajak kemana2, saya ajarin dia make up, dandan, 
berpakaian yang bersih, rapi, saya ajarin dia bahasa inggris, saya 
ajarin dia macam2 yang baik2 deh. Anaknya baik, manis dan rajin 
sekali, juga bersih. Lama kelamaan, dia sudah dianggap sama keluarga 
saya sebagai keluarga, adik saya sendiri. Kelemahannya cuma dia 
selalu ingin punya pacar, dan selama ini teman2nya bukan dari 
kalangan yang baik2, apalagi saudaranya yang kebetulan juga di 
jakarta (perempuan) malah sudah kumpul kebo segala. Terang saja saya 
melindungi dia dari cowok2 bengal teman2nya itu. Dia banyak punya 
pacar dan semua tidak lolos seleksi saya, dan dia tahu bahwa saya 
benar. dan dia menurut apa kata saya. (Memang sempat ada cowoknya 
yang saya bentak2.hehehehe.habis dia diporotin sama tuh cowok sih)
> Adek saya ini selalu menjadi teman saya diwaktu saya baru menikah 
dan langsung ditinggal suami kerja di luar kota berbulan2, nemani 
saya tidur di waktu saya hamil, nemani saya waktu saya habis 
melahirkan,setiap malam gantian jaga dedek, nemani saya kemana2, 
pokoknya dimana ada saya ada dia deh. 
> Suatu saat dia berantem hebat sama abang saya yang akhirnya dia 
meninggalkan keluarga saya. Saya sudah membujuk dengan segala macam 
cara, kerjanya cuma untuk saya dan anak saya, gaji dinaikkan, tapi 
tetap aja gak ngaruh. Alasannya dia capek dan dia mau bebas. 
Duh....!!!!Dan sekarang dia kerja di tempat lain, di rumah orang 
kaya, dengan gaji yang lebih besar dan di sana pembantunya ada 4. 
Berulang kali saya telp dia untuk kembali sama saya karena saya 
lebih percaya anak saya diasuh sama dia daripada sama mbaknya yang 
baru yang kerjanya cuma ngancam mulu pgn pulang kalo disuruh macam2. 
cuma dia gak mau, yang buat saya sakit hati banget. 
> so all.....bagaimana yah cara menghilangkan perasaan kehilangan 
ini? Saya susah banget untuk hilangkan rasa sakit hati, kecewa juga 
sedih atas kepergian adik saya itu dari rumah saya. Susah 
ngebayangkan bahwa apa yang selama ini saya lakukan sama dia (lebih 
sebagai adik daripada pembantu) cuma dianggap angin lalu sama adik 
saya. kenapa bisa begitu yah. Terus terang saya kesepian karena 
selama ini di rumah cuma dia teman saya.hiks...hiks...hiks...
> 
> Terima kasih atas share2nya.
> 
> Salam,
> Jovanka
> 
> Send instant messages to your online friends 
http://uk.messenger.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



         

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke