mbak, maaf mau memberi kabar tidak enak... :) Mau mengingatkan aja, bahwa kita hidup di dunia yang tidak ideal. Dimana yang putih tidak bisa tampak betul betul putih dan yang hitam tidak bisa tampak betul betul hitam. Banyak putih yang jadi abu-bau dan hitam yang jadi abu-abu. Sialnya, ada banyak pihak yang memanfaatkan daerah abu-abu tadi.
Mengenai keunggulan suatu jenis produk dari produk lainnya, sepenuhnya terpulang pada kita selaku konsumen untuk mengambil keputusan. Apakah kita mau jadi konsumen yang pintar dan bijak, atau konsumen yang dibodohi produsen yang membodohi, sepenuhnya di tangan kita. Lalu apakah keputusan kita mau didasarkan pada apa kata pemerintah, atau pada apa kata iklan ? Rasanya kan enggak ya mbak.. Boro2 pemerintah mengurusi masalah "kecil" seperti ini mbak... Polio yang kembali mewabah, flu burung, adalah masalah kesehatan yang lebih penting untuk ditangani "sekedar" jenis2 susu atau regulasi suplemen. Seperti salah satu moms bilang, masalah ASI yang gratisan aja, masih jadi PR pemerintah. Masih terlibas promosi pihak lain yang kepentingan ekonominya lebih kuat. Yang kasian ya memang kita2 ini orang awam.... Tapi apakah kita mau menunggu campur tangan pemerintah dulu, baru memilih jadi konsumen yang pintar ? Ya kelamaan mbak.... Tapi kan disitulah gunanya internet dengan kemudahannya mencari informasi mbak..... Selama yakin betul sumber informasinya terpercaya... Soal media.... hm.... Saya pernah berkesempatan dekat dengan salah satu pendiri milis ini, dan saya diingatkan bahwa bagaimanapun media berusaha bersikap netral, kadang ada kekuatan yang lebih besar dari kenetralan itu sendiri, yaitu (lagi-lagi) kepentingan ekonomi. Media itu mbak, salah satu pendapatannya kan dari iklan. Nah balik lagi ke iklan susu UHT, iklan SuFor lainnya, iklan Stimuno, dll dsb.... Bukan saya menuduh. Tapi secara logika, ya memang berhubungan kok. Tapi.. betul mbak, itu usulan bagus buat redaksi Ayahbunda. Gimana, mbak Dany, mbak Marzyda ? :) Salam, Dini - mamanya Danisha & Dhafina --- In [email protected], oswald oswald <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbak Sita, > > thanks sudah menjawab. tapi kalo boleh memperpanjang diskusi kita : > > mungkin saya tidak mengikuti iklan yang di majalah, tetapi setahu saya iklan susu UHT yang di TV hanya menyebutkan kalo produk mereka penuh gizi dan kalsium dll, dll. jadi kita mengira produk tersebut hanya produk CAMILAN/ SAMPINGAN saja yang bukan mengandung vitamin. tapi bukan produk yang lebih bagus dan bisa menggantikan susu formula. > > padahal kalo memang UHT lebih kaya vitamin dari susu for, hrsnya dia khan dia bener2 menonjolkan keunggulannya tsb. spy produknya lebih laku. > "sudah murah, lebih terjamin vitaminnya"--- kayak iklan kartu telpon itu lho yg menyebutkan kelemahan kompetitornya. > > krn itulah saya juga menjadi ragu2 apakah perlu mengganti susu for menjadi susu UHT ??? (kebetulan kemarin saya ribut dgn suami masalah ini-- katanya dia tidak mau mengikuti hal yang tidak umum-- dokter juga tidak pernah menyebut hal ini). > > bukan saya menyalahkan pemerintah, tetapi kenapa juga tidak ada salah satu media yang membahas hal ini seperti tema ttg stimuno kemarin. (merusak ginjal) > > mungkin kalo ada teman yang punya teman di media , bisa mengusulkan untuk mengangkat masalah susu UHT ini di medianya. spy kita semua jadi ortu yang gak bodoh lagi. > > sekian.. > > mamanya wijaya >
