Hallo Mb Dewi,
Salam kenal...Salluuuutttt banget ama perjuangan mb...insya Allah bayinya
tambah sehat terus dan ibunya juga cepet pulih stlh oprasi cesar...terus asi
eksklusif ya Mba...krn memberikan asi mrpkn moment yg paling 'amazing' buat
kita dan bayinya...salluuuuttt bgt sama mb...may God bless You and your
family...
Cheers,
Ai
dewi citrowati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kisah Buah Hati dan Buah Dada (sebuah perjuangan pemberian ASI Eksklusif)
Tanggal 10 September 2007 saya melahirkan bayi perempuan melalui
operasi Caesar di RSIA Hermina, yang kami beri nama Sarah Aliya
Rusydi. Sarah lahir dengan keadaan ngga sehat, karena paru parunya
kemasukan air ketuban saya yang sudah berwarna hijau karena tercemar
mekoneum. Akibatnya Sarah kesulitan napas dan mesti dirawat di NICU
dengan selang ventilator (mesin pembantu napas) di mulutnya yang
membuat dia ngga bisa dikasi makanan atau minuman.
Dua hari setelah melahirkan, payudara saya mulai produksi ASI tapi
sulit keluar karena ngga ada hisapan bayi. Rasanya mules banget
Sarah
jg belum bisa dikasi minuman, cuma infus aja. Padahal saya ngga sabar
banget pengen kasi dia ASI.
Hari ketiga dokter bilang Sarah udah boleh minum ASI sedikit
sedikit. Saya coba perah payudara pake tangan tapi susah bgt
keluarnya, saya kumpulin setetes demi setetes tapi cuma dapet kira
kira 1 sendok makan. Saya jadi pesimis, mana bisa diminumin kalo cuma
sesendok? Waktu saya jenguk Sarah, saya cerita ke suster dan suster
bilang bawa aja ASInya meski sedikit karena porsi ASI Sarah waktu itu
emang masi sedikit, 3 ml. Akhirnya ASI perahan susah payah yang masi
berupa kolostrum itu disuntikin langsung ke lambungnya lewat selang di
mulut Sarah. Anehnya, ASI hasil perahan saya waktu itu ternyata pas
banget dengan porsi minum dia, 3ml! Subhanallah
Rasanya lega bgt ada
kolostrum masuk ke tubuh Sarah, karena saya yakin pasti bisa banyak
bantu pemulihan dia.
Sejak masuk ASI, pemulihan Sarah makin cepat, porsi ASI juga ditambah
terus sama dokternya ke 5ml, 10ml, 15ml, dst
sampe sampe saya dan
suami mesti kejar tayang memerah ASI. Untung banget dibantu sama
suster suster di RSIA Hermina yang mengajari bagaimana pijat
payudara dan bagaimana memerah ASI pake tangan. Saya juga dipinjami
pompa ASI paling canggih, Medela Lactina Plus. Bener bener ngebantu
deh
Buat pompa ASI Sarah, saya dibantu sama sekaligus 3 orang anggota
keluarga, karena sulitnya ASI keluar. Alhamdulillah, hasil gotong
royong kami sukses memasok kebutuhan ASI Sarah.
Di hari ke 5, saya menemui ujian baru buat perjuangan ASI Eksklusif
saya. Dokter bilang saya sudah boleh pulang ke rumah, sementara Sarah
masi harus tinggal di rumah sakit buat dirawat. Saya harus memompa ASI
lebih banyak lagi buat stok kebutuhan Sarah sementara saya ngga ada di
rumah sakit. Saya dan suami harus beli pompa ASI baru dan bolak balik
rumah sakit buat delivery ASI Sarah. Kami beruntung karena suster2 di
RSIA Hermina supportive banget sama program ASI Eksklusif. Sejak awal
saya sudah bilang saya mau Sarah hanya diberi ASI. Sejak itu di papan
namanya ditulisi ASI Eksklusif, warna merah. Mereka ngga berani kasi
susu formula meski stok ASI saya habis. Setiap ASI hampir habis,
suster telepon saya buat kasi tau, jadi kami buru buru ke rumah
sakit buat bawain ASI, meski jam 3 pagi (pas banget lagi bulan
Ramadhan, sekalian suami saya bangun sahur). Dalam sehari, bisa sampai
3 kali kami ke rumah sakit demi mengantar ASI. Masa masa ini adalah
masa yang paling sulit, karena kebutuhan ASI Sarah makin banyak
sementara stok ASI saya hampir habis terus. Hampiiiiiiir saja saya
menyerah pakai susu formula. Sampai sudah sempat tanya tanya susu
formula yang bagus merek apa. Untunglah suami saya berusaha menguatkan
saya buat terus kasi ASI, suster di RSIA Hermina juga meyakinkan saya
bahwa ASI tetap yang terbaik, jadi saya semangat lagi.
Sampai suatu hari saya ditelepon suster yang mengabari saya sudah bisa
menyusui langsung. Wah senangnyaaaaaaaaa
Rasanya sulit digambarkan
bagaimana pertama kali saya memberi ASI langsung dari payudara saya,
setelah lebih dari seminggu saya bahkan tidak bisa menggendongnya.
Alhamdulillah
. Sejak saat itu selain mengirim stok ASI, kami juga
tinggal di rumah sakit untuk menunggu saat Sarah sudah butuh ASI lagi,
supaya bisa menyusu langsung dari saya. Setiap hari kami dua kali ke
rumah sakit, "nongkrong" selama sekitar 4 jam lalu pulang (jadi sekali
dating 2 kali menyusui langsung), kadang2 bisa sampai jam 1 pagi.
Semua demi memenuhi kebutuhan ASI Sarah.
Berkat perjuangan kami, sampai Sarah benar2 sehat dan boleh pulang ke
rumah (12 hari di rumah sakit) dia ngga pernah kebobolan susu formula.
Sekarang Sarah sudah di rumah, ASInya 100ml sekali minum, badannya
juga sudah mulai montok. Beruntung sekali ASI saya lancar, sampai bisa
stok di freezer buat masa2 saya kembali ke kantor nanti.
Alhamdulillah
Saya benar - benar berterima kasih pada Allah yang
telah memberi kekuatan dan ASI yang melimpah kepada saya. Saya juga
berterima kasih kepada suami yang selalu menguatkan dan mendukung
saya, juga suster - suster dan dokter di RSIA Hermina yang banyak
membantu program ASI Eksklusif saya. Semoga membuahkan hasil yang baik
buat Sarah sampai ia besar nanti. Amin...................
--
Dewi Citrowati
www.cinnamoniac.multiply.com
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV. Watch previews, get listings,
and more!
[Non-text portions of this message have been removed]