Pak Firman,

Adalah hal yang sangat wajar kalau anak umur 1.5thaun sangat aktif bergerak
kesana-kemari karena memang dia sedang ada di usia/tahap explorasi. Dia akan
ingin tau dengan dunianya sementara dia belum tahu akan bahaya. Justru kalau
anak kita diam2 saja itu kita harus cemas :) Coba bapak cek ke buku
perkembangan anak apakah secara garis besar sama dengan di buku, atau kalau
bapak penasaran, mungkin tidak ada salahnya anak bapak dibawa ke dsa untuk
dilihat apakah perkembangan.

Sementara untuk istri bapak, saya bukan psikolog, tapi dari cerita bapak
mungkin istri bapak mengalami post partum depresiion ya? Kalau saya nggak
salah ciri2nya adalah kecemasan yang berlebihan, serta merasa tidak sanggup
mengerjakan apapun. Coba deh pak, komunikasi lagi sama istrinya sebetulnya
kecemasannya apa, kenapa enggan dengan tenaga pembantu, kalau perlu
konsultasi dengan ahlinya seperti ke psikolog. Kadang2 ada ibu yang merasa
kalau menggunakan pengasuh atau pembantu berarti dia bukan ibu yang baik.
atau mungkin istri bapak terlalu sering mendengar cerita tentang
pengasuh/pembantu yang kejam terhadap anak sehingga takut untuk
mengambilnya.

Jangan putus asa ya pak dan tetap jaga komunikasi dengan istri bapak.

semoga sukses.

salam,
sita


On 1/10/08, Firman Juliansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Anaknya sangat aktif, ibunya putus asa.
>
>
> Saya punya putra 1.5 tahun. Sangat aktif, hanya diam ketika tidur. Bulan
> oktober, November kami baru pindah ke Jakarta. Di Jakarta, kami tinggal
> bersama kakak kandung saya yang (kebetulan) menempati rumah yang cukup besar
> (delapan kamar tidur, plus ruang tengah, dapur, dan pekarangan yang luas)
> berlantai dua. Meskipun ke kakak, kami juga berusaha membiayai makan dan
> tinggal sewajar mungkin. Di sana, Anak saya sering manjat tralis jendela
> hingga ketinggian dua meter dari lantai, naik motor yang diparkir, dan
> segera kabur kalo pintu depan terbuka sedikit saja. Alhasil istri saya
> tertekan karena dihantui kecemasan atas keselamatan putra kami. Pernah saya
> usulkan untuk meng-hire pengasuh, istri saya cenderung menunda. Di luar jam
> kerja, saya juga selalu membantu segala hal a-z mengurus dan mengasuh anak.
> Tapi tampaknya istri saya masih saja dirundung kecemasan. Padahal di rumah
> kakak saya, ada banyak orang yang bisa dititipi mengasuh (barang 30
> menitan).
>
> Akhirnya dia meminta izin saya untuk sementara tinggal di ibunya (mertua
> saya) di sebuah kabupaten di Jabar. Istri saya yakin hal itu akan membuat
> saya dan dia lebih dapat beristirahat. Putra kami pun akan lebih aman dan
> terurus. Saya setuju saja, apalagi mertua dan kakak ipar saya di sanasangat 
> baik, pengertian, dan mendukung keputusan kami.
>
> Sebulan sudah berjalan. Terakhir ibunya mengeluh karena merasa putus asa
> dalam mengurus putra kami. Dia seakan menyatakan ketidaksanggupannya
> mengurus putra kami. Dia merasa sudah terlalu banyak memusingkan mertua
> saya. Semuanya diungkapkan dengan ketulusan dan kesadaran, tidak ada
> percekcokan. Bahkan dia menyarankan saya untuk mencari istri lagi. Waduuh,
> piyye iki…?? Dia juga mau kembali ke Jakarta namun ingin mengontrak rumah
> sendiri (yang saya agendakan baru dua bulan lagi).
>
> Kemungkinan yang saya akan ambil adalah, istri saya tinggal di Jakarta,
> masih bersama kakak saya, dan menyewa pengasuh; baru jika istri saya betul2
> butuh tempat sendiri, mungkin satu-dua bulan ke depan kami akan mengontrak
> rumah.
>
> Apa yang harus saya lakukan untuk istri saya?
> Apa yang harus saya lakukan untuk putra saya?
>
>
> Firman Juliansyah
>
>
> ------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your 
> homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
>
> 
>



-- 
"Iqra, Iman, Ilmu, Amal"
Civilization is defined by the presence of cats - Unknown

agatogata.multiply.com
agatogata.blogspot.com

Kirim email ke